
Suara kicau burung begitu terdengar. Suasana di pagi hari tentu berbeda dengan biasanya. Meja makan yang biasanya hanya terisi dua orang, akhirnya kembali penuh. Ditambah, ocehan dari si kecil Venus, semakin menambah kehangatan di rumah besar Galaksi.
Semua orang begitu menikmati sarapan pagi mereka. Saling berbagi antara satu dengan yang lain. Senyuman bahagia tentu tak pernah luntur di bibir mereka. Seakan momen seperti ini tentu jarang sekali akan terjadi jika tidak melalui insiden yang begitu dramatis.
Hingga akhirnya sebuah pepatah mengatakan jika di balik ujian pasti ada hikmah yang menanti dan inilah hasilnya. Ketika satu per satu ujian datang menerpa keduanya, ternyata takdir memberikan waktu untuk mereka bersatu kembali setelah sekian lama berpisah. Memberikan kesempatan kedua dari kesempatan pertama yang pernah dihancurkan, tentu menjadi langkah awal mereka menjemput kebahagiaan. Hal itulah yang begitu diharapkan oleh seorang Galexia.
Dia ingin mengikhlaskan semua kejadian di masa lalu. Merelakan apa yang pernah terjadi kepadanya dan mulai menerima kembali sosok pria di antara hidupnya dan si kembar. Mungkin jika orang lain melihat, mereka akan mengatakan Galexia adalah perempuan bodoh. Namun, pernahkah kalian mencoba ada di posisinya?
Seorang ibu yang tak memiliki ibu. Seorang ibu yang berusaha menjadi orang tua untuk Mars dan Venus tapi dirinya tak pernah mendapatkan kasih sayang orang tua kandung. Bagaimana?
Apa bisa kalian merasakan menjadi sosok Galexia?
Dia ada di persimpangan. Trauma yang mencekik dirinya, tapi dia juga takut bila kedua anaknya akan hidup seperti dirinya. Galexia hanya mengusahakan yang terbaik, walau dia harus menekan dan merelakan semua kesakitan yang ia rasakan, hanya untuk kebahagiaan Mars dan Venus.
Hidup sendirian tanpa kedua orang tua tentu pernah dirasakan oleh Sia. Pahit manisnya hidup pernah dijejaki hingga membuatnya tak mau kedua anaknya bernasib sama dengan dirinya.
Apa salahnya memberikan kesempatan kedua pada sosok pria yang ada di depannya ini. Sosok yang sedang memegang pundaknya sebagai penguat agar dirinya bisa berlatih berjalan. Tak ada salahnya dia kembali ke pelukan seorang Galaksi, jika pria itu pun juga berusaha untuk merubah dirinya dan menjadi yang terbaik.
"Pelan-pelan saja, Kak," kata Sia sambil menopang kedua tangan mantan suaminya.
Galaksi meringis. Namun, dia berusaha untuk bisa menggerakkan kedua kakinya walau sulit. Wajahnya terlihat begitu kesakitan, keringat tentu sudah membasahi dahinya tapi dia tak putus asa.
Hampir tiga puluh menit, Sia memberikan pemanasan dan memegang tubuhnya, perlahan kaki itu mulai bisa menapak meski terasa lemah. Bahkan jari-jarinya juga mulai bisa bergerak walau dengan perlahan. Hal itu tentu membuat Galaksi bahagia. Dia tersenyum dengan mata berkaca-kaca karena usahanya untuk berjalan tentu membuahkan hasil.
Tubuhnya mulai lelah hingga Sia mulai membantu Galaksi untuk duduk di kursi rodanya kembali dengan nafas naik turun.
"Bagus banget, Kak. Kalau kakak semangat gini, aku yakin sebentar lagi Kakak bisa berjalan kembali," kata Sia sambil mengusap keringat di dahi mantan suaminya.
Galaksi sedang mengatur nafasnya. Namun, bibirnya tak henti untuk tersenyum ketika melihat mantan istrinya begitu bersemangat untuk membantunya agar bisa berjalan. Dia meraih tangan Sia, lalu menggenggamnya erat dan menghadiahi sebuah kecupan disana.
"Terima kasih. Terima kasih telah memberikan aku kesempatan kedua. Terima kasih sudah mau kembali pada pria bodoh sepertiku dan terima kasih karena mau membantuku disaat keadaanku seperti ini," kata Galaksi menatap mata coklat sang istri.
"Sama-sama, Kak. Aku hanya ingin keluar dari jurang rasa sakitku di masa lalu, dan aku yakin jika hanya Kakak yang bisa menarikku keluar dari sana."
"Tentu," sahut Galaksi yakin. "Jurang itu aku yang membuatnya, maka aku akan berusaha menarikmu dan menutup jurang itu agar kamu tak terjatuh lagi di jurang yang sama."
Galexia tersenyum, kepalanya mengangguk sebagai jawaban jika dirinya setuju dengan apa yang dikatakan oleh Galaksi. Matanya berkaca-kaca saat dirinya mulai menerima masa lalu akan hidupnya. Beban dalam dirinya mulai berkurang dan dirinya yakin jika ini adalah cara terbaik untuk dia dan kedua anaknya meraih kebahagiaan.
"Kemarilah." Galaksi merentangkan kedua tangannya hingga membuat Galexia dengan mudah masuk ke dalam pelukannya.
Keduanya merupakan dua orang yang beruntung di dunia ini. Setelah mereka saling berpisah ternyata Tuhan masih memberikan mereka kesempatan untuk bersama dengan ditambah kehadiran dua orang anak. Baik Galaksi maupun Galexia hanya bisa berharap, semoga ini adalah awal yang baik untuk mereka berdua dan menjadi gerbang bahagia untuk mereka bersama kedua anaknya.
****
Sedangkan di Negara New York dengan waktu yang berbeda.
Terdapat seorang perempuan dengan penampilan begitu anggun terlihat baru saja selesai dirias. Wajahnya yang cantik semakin terlihat memukau ketika mendapatkan sentuhan tipis make up di sana. Apalagi gaun mewah yang membalut tubuhnya semakin membuatnya seperti seorang bidadari yang baru saja disulap oleh seorang perias handal.
Perempuan itu tak menjawab. Dirinya masih terpaku dengan pantulan wajahnya yang ada di cermin. Dia menatap tak percaya jika wajahnya bisa berubah begitu drastis. Hanya dengan make up tipis saja, wajah yang biasanya berpenampilan natural terlihat begitu segar.
"Mari saya antar keluar, Nona! Mobil jemputan sudah menunggu, Anda," kata perias itu hingga membuat dia tersadar akan perubahan wajahnya.
"Mobil jemputan?"
"Iya, Nona. Tuan Riksa mengatakan pada saya untuk menyiapkan dan mengantarkan Anda sampai masuk ke dalam mobil dengan selamat."
Wanita itu tak bisa membantah apapun. Seakan malam ini dirinya menjadi boneka yang menurut. Bahkan mulut yang biasanya begitu cerewet seakan mendapatkan lem agar tetap diam.
Tanpa mengatakan apapun lagi, dia segera berbalik. Berjalan keluar kamar mengikuti langkah perias itu.
"Ini sepatu dan tas Anda, Nona Cress," kata perias tersebut hingga membuat Cressida hanya bisa menghela nafas lelah.
Dirinya tak tahu ada apa malam ini. Acara tentang apa itu, dia juga tak tahu. Yang Cressida ingat dari perkataan Riksa jika dia harus menurut dan jangan membantah apapun yang diperintahkan oleh wanita di depannya ini.
Akhirnya mobil yang membawa Cressida mulai melesat pergi meninggalkan gedung apartemen. Dirinya hanya bisa duduk dengan perasaan gelisah. Berulang kali, Cress membenarkan tali gaunnya agar tak jatuh yang membuatnya semakin merasa gugup.
Perempuan cantik itu berusaha menormalkan detak jantungnya. Dia menarik nafas begitu dalam hingga tanpa sadar mobil yang membawanya sudah berhenti tepat di sebuah restaurant mewah yang ada di New York.
"Silahkan, Nona!"
Mata Cressida berkaca-kaca. Selama hidupnya baru kali ini dia merasa dihargai oleh seseorang. Baru kali ini dia bisa merasakan bagaimana tidak dipandang sebelah mata oleh semua orang dan semua itu tentu berawal dari sosok pria yang baru ditemui dan dirinya kenal.
Dia adalah Antariksa.
Pria yang menjadi penyelamatnya itu membawa banyak perubahan. Hingga entah kenapa semakin dirinya melangkah masuk, jantungnya terasa berdebar karena menunggu kejutan apa lagi yang akan dia lihat. Hingga tatapannya tertuju pada sebuah meja panjang yang ada di tengah-tengah ruangan. Lilin-lilin indah dan banyak makanan berjejer rapi disana yang semakin membuat matanya tak henti untuk berkedip.
Tak lama pandangannya bersitatap dengan sosok pria yang dicarinya. Sosok pria yang terlihat begitu luar biasa berdiri di sana dengan jas hitam melekat di tubuhnya yang semakin membuatnya terlihat begitu tampan.
Namun, tak lama senyuman yang tadinya terpencar indah perlahan menyurut. Langkah kakinya melambat saat menatap dua wajah manusia yang begitu membuatnya takut. Mereka adalah manusia yang menjualnya dan tak memiliki hati nurani hingga membuatnya menggelengkan kepala dengan kaki yang perlahan melangkah mundur.
"Nggak mungkin. Nggak...nggak," kata Cressida dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
~Bersambung~
Hiyaa kabur aja, Cress. Kubantu loh, gimana mau?
Batal gak yah acara iuiunya hehe.
Awal perjuangan dari sini. Yang satu berusaha jalan, yang satu berusaha menemui dua manusia dakjal. hahaha.
Tim mana dulu nih yang sukses? Ca-Ce Couple atau Gal-Gal Couple?
Jangan lupa like, komen dan vote yah. Tembus 250 like aku update lagi!