
"Loh Om kok masih disini?" tanya Sia yang baru saja keluar dari kamar.
Orion yang baru saja menghubungi anak buahnya spontan berbalik. Dia berjalan mendekati Sia dengan wajah penuh kekhawatiran.
"Mana Galaksi?" tanya Sia yang mencari keberadaan mantan suaminya itu.
"Galaksi berangkat dulu. Dia…."
"Sendirian?" sela Sia dengan jantung yang berdebar.
Dia berharap apa yang ada di pikirannya tak benar. Namun, lagi-lagi dia dipatahkan dengan anggukan kepala Orion. Yang menandakan jika mantan suaminya berangkat sendirian untuk menyelamatkan kedua anaknya.
Rasa khawatir dan takut semakin menjadi satu saat ketiga orang yang begitu penting dalam hidupnya sama-sama berada dalam bahaya. Hal itu, tentu membuat Sia tak mau ada disini hanya duduk diam. Dengan segera dia meraih tangan Orion dan menatapnya penuh harap.
"Om ingin menyusul Galaksi?"
"Tentu saja, Sia. Aku akan berangkat," sahut Orion menatap mantan istri anak majikannya ini.
"Aku ikut, Om. Kumohon izinkan aku ikut," ucap Sia dengan mata berkaca-kaca.
"Disana berbahaya, Sia. Lebih baik kamu disini," tolak Orion yang tak mau mengambil resiko.
"Aku tak bisa hanya duduk diam menunggu mereka, Om. Sedangkan kedua anakku dan ayahnya sedang berjuang untuk saling menyelamatkan."
Sia terus saja memohon. Bahkan dia sampai mengatupkan kedua tangannya dengan air mata yang menetes karena terlalu khawatir. Dia ingin segera menyusul ketiganya. Entah kenapa perasaannya begitu gelisah hingga Orion yang melihat akhirnya mengalah.
Keduanya langsung masuk ke dalam mobil dan meluncur ke lokasi yang sudah ditandai. Sepanjang perjalanan, Sia benar-benar tak bisa tenang. Bahkan jantungnya terus berdebar kencang dengan tangan yang berkeringat dingin.
Tolong selamatkan mereka, Tuhan. Aku tak mau kehilangan salah satu di antara ketiganya, batinnya menjerit dengan air mata yang terus mengalir.
****
Perjalanan yang jauh ditempuh dengan kecepatan tinggi akhirnya berakhir. Dari jauh, Sia bisa melihat sosok Galaksi yang sedang melawan tiga orang pria berpakaian hitam. Doa terus dia panjatkan hingga dirinya melihat mantan suaminya berhasil melumpuhkan ketiga penjahat itu.
Senyumannya semakin lebar. Dia langsung membuka pintu mobil dan menatap ketiganya dengan penuh kerinduan. Namun, saat dirinya hendak berjalan ke arah mereka, mata Sia terbelalak saat melihat moncong pistol dari salah satu penjahat yang masih sanggup membuka matanya diarahkan ke arah anak dan mantan suaminya.
Dor!
"Papa!"
"Kakak!" teriak Sia dengan tubuh mematung.
Dia merasa seperti kehilangan separuh jiwanya. Apalagi saat pandangannya bertemu dengan Galaksi, dirinya masih bisa melihat sebuah senyuman yang tersemat di sudut bibirnya. Namun, tak lama tubuh pria tampan itu jatuh telungkup dengan luka tembak di punggungnya.
Sia merasa dunianya runtuh, tapi dirinya memaksa tubuhnya bergerak untuk mendekati tubuh mantan suaminya yang sudah tak bergerak. Kedua anak-anaknya sudah menangis di dekat tubuh Galaksi, sedangkan Orion dia segera mengamankan tiga penjahat yang salah satunya menembak anak dari tuannya itu.
"Kakak, bertahanlah," ucap Sia membalikkan tubuh Galaksi dan memangku kepalanya.
Dia mengusap wajah tampan itu dengan lelehan air mata yang terus mengalir. Dirinya tak pernah menyangka jika Galaksi benar-benar senekat ini. Melindungi kedua anaknya dengan mempertaruhkan nyawanya sendiri.
"Papa…Papa…." Venus mengguncang lengan Galaksi.
Gadis kecil itu tak kalah kalut dengan Galexia. Air mata terus menetes dengan bibir yang menggumamkan nama sang ayah kandungnya. Dirinya baru saja merasakan kebahagiaan. Melihat ayahnya menjadi super hero untuk menyelamatkan hidupnya. Namun, ternyata dibalik itu semua, ada nyawa yang sedang dipertaruhkan. Hingga membuat semua orang tentu merasa ketakutan yang begitu mendalam.
"Kita bawa ke rumah sakit, Sia!" seru Orion dengan cekatan.
Dia dibantu oleh anak buahnya menggotong tubuh Galaksi dan membawanya ke dalam mobil. Sedangkan Sia, dia dengan cepat menggandeng tangan kedua anaknya dan menyusul sang ayah yang sudah didudukkan di kursi belakang.
Galaksi ternyata masih sadar. Bahkan matanya sedikit terbuka dengan memanggil nama Mars dan Venus bergantian.
"Ini kami, Papa," kata Venus memeluk lengan Galaksi.
Sedangkan Sia, perempuan itu memeluk tubuh mantan suaminya dari sebelah kanan. Dia meletakkan kepala Galaksi di atas dadanya dengan tangan kiri menekan luka tembak yang ada dibelakang punggung kokoh itu. Sungguh keadaan seperti ini membuatnya takut. Bahkan yang ada dalam pikirannya saat ini hanya bagaimana caranya mereka segera sampai ke rumah sakit.
"Jangan memejamkan matamu, Kak. Kamu mengerti!" seru Sia mengguncang bahu ayah dari anak-anaknya itu.
"Gak boleh," ketus Sia dengan mengeratkan pelukannya. "Kamu harus temani anak-anak kita mengobrol."
"Iya, Papa. Apa papa tak mau belcanda dengan kami?" tanya Venus dengan memegang lengan ayahnya.
Kepala Galaksi semakin berdenyut. Bahkan punggungnya semakin terasa sakit hingga membuatnya ingin sekali memejamkan matanya.
"Papa." Mars yang sejak tadi diam akhirnya bersuara. "Papa mau tidur, Ma."
"Kalau Kakak sampai tidur. Aku bakalan menikah dengan pria lain," ucap Sia dengan nada yakin.
"Siapa yang berani menikahimu selama aku masih hidup, hah?" seru Galaksi dengan mata berusaha untuk terbuka lebar. "Dia akan kuberi pukulan jika berani menggantikanku."
Sia menahan tawanya yang ingin keluar. Tentu ini adalah caranya untuk menarik perhatian Galaksi dari rasa sakitnya. Sikap dan sifat sang mantan suami yang posesif tentu membuat Sia begitu paham bagaimana mengontrol pria itu.
"Memang dalam keadaan sepeti ini, Kakak kuat memukul orang?" tanya Sia dengan nada mengejek.
"Tentu sa…." Suara Galaksi terputus. Dia mengalami batuk-batuk hingga membuat pria itu semakin merasa tubuhnya melemah.
"Biarkan aku tidur sebentar, Sia. Aku mengantuk," mohon Galaksi dengan mata yang sudah terbuka dan terpejam.
Sungguh pemandangan ini semakin membuat tubuh Sia mulai gemetar takut. Dia menggelengkan kepalanya dengan tangan yang mulai terasa basah menandakan jika kain sebagai penahan luka itu mulai basah karena darah.
"Kalau Kakak tidur, aku gak mau kembali sama, Kakak," ancam Sia yang membuat kepala Galaksi sedikit mendongak.
"Coba katakan lagi!" pintanya dengan suara yang lemah.
"Kalau kakak tidur, Sia gak mau kembali sama, Kakak." Tegasnya dengan sama-sama menundukkan wajahnya agar bisa menatap rupa tampan mantan suaminya.
Senyum tipis tertarik di kedua sudut bibir Galaksi. Dia membuka matanya sekuat dirinya dengan semangat hatinya yang berkobar.
"Apa itu pertanda jika kamu mau menikah denganku lagi?" tanya Galaksi dengan mata menatapnya penuh harap.
Mata Sia berkaca-kaca. Dirinya bisa melihat cinta yang besar di mata mantan suaminya itu. Bahkan ada setitik air mata yang hendak menetes di sudut matanya yang membuat Sia yakin jika apa yang dia katakan adalah hal benar.
Pernyataan ini bukan hanya untuk keselamatan Galaksi. Melainkan untuk keselamatan dan penjagaan kedua anaknya. Dengan kejadian ini, Sia menyadari jika dirinya tentu membutuhkan seorang kepala keluarga yang mampu menjaga mereka dari segala mara bahaya.
Apalagi kebahagiaan kedua anaknya menjadi bertambah jika keinginan mereka dikabulkan olehnya. Sia tak mau menjadi sosok ibu yang egois lagi. Meski hatinya masih takut, tapi demi kebahagiaan semua orang. Dia berusaha akan menjalani itu dengan ikhlas.
"Iya aku mau."
Senyuman lebar begitu terlihat di wajah Galaksi. Dirinya merasa bahagia bisa kembali dengan wanita yang begitu dia cintai. Meski dari balik kebahagiaannya ini, dia harus menukarkan keselamatannya. Namun, semua itu terbayarkan dengan sebuah rasa cinta yang begitu besar.
Mereka seakan kembali merasakan cinta yang dulu kembali berkobar dengan ditambah kehadiran dua orang anak yang semakin menguatkan cinta keduanya.
"Hoee. Kita bisa tinggal selumah," teriak Venus yang ikut bahagia.
Wajah dua anak itu tentu sama-sama berbinar. Akhirnya keinginan yang selama ini mereka pendam, bisa terwujud sekarang juga. Keduanya bisa merasakan kehadiran sosok papa dan mamanya dalam satu rumah dan tak akan merasa iri dengan teman-temannya yang lain.
"Tapi bukankah ini termasuk lamaran paling gila?"
Galaksi mengangguk. Dia semakin mengeratkan pelukannya di pinggang Sia dengan wajah yang tak bisa menyembunyikan rasa bahagianya.
"Hal gila sekalipun. Jika itu membuatmu kembali padaku, akan kulakukan."
~Bersambung~
Bisa ae lu, Bang. Tanpa aku dirimu tak akan bisa kembali. Haha.
Udah tau keadaan genting terluka, malah dibikin adegan romantis yang gak seberapa ini. Hahaa.
Hayoo ada yang seneng liat mereka kembali? yang kemarin nyemangatin biar rujuk, yang gak sabar mereka nikah lagi. Awas aja gak like, tak sentil pipinya haha. Canda yah.
Jan lupa klik like, komen dan vote ya sebagai bentuk apresiasi kalian.
Tembus 250 like aku update lagi, eyakk!