
Tak terasa waktu terus berganti. Detik berganti menit. Menit berubah menjadi jam dan hari mulai menjadi minggu. Tak terasa satu bulan sudah, waktu berlalu begitu cepat.
Setelah kejadian na'as itu, hubungan kedua keluarga itu semakin dekat. Bahkan, Tania tak pernah absen untuk bermain di rumah Venus dan Mars.
Ketiga anak itu sudah seperti saudara kandung jika dilihat. Keharmonisan yang dijaga dan bagaimana akurnya mereka, membuat Flora maupun Sia begitu bersyukur.
Mereka juga berharap semoga hubungan pertemanan ketiganya, bisa sampai dewasa. Apalagi jika melihat bagaimana Mars memperlakukan Tania, hal itu terkadang membuat Sia berharap jika bocah itu menjadi menantunya suatu hari nanti.
Hari ini, ketika waktu masih begitu pagi. Suara ketukan pintu dan salam membuat semua orang yang baru saja menyelesaikan sarapannya lekas menoleh. Tanpa menunggu, Venus yang tahu siapa pelakunya langsung turun dan berlari ke arah pintu masuk.
"Pagi," sapa Tania dengan senyuman lebar.
Kebahagiaan anak itu sudah mulai kembali. Bahkan menurut Flora, kali ini Tania tak malu lagi untuk mengungkapkan keinginannya. Ketidak hadiran sosok papa di hidupnya, tak membuat Tania terbebani. Lantas anak itu semakin merasa bahagia.
"Pagi, Tania," sahut Venus lalu menyuruh temannya masuk. "Kamu sudah salapan?"
"Udah. Mama memasak nasi goreng yang enak," kata Tania dengan membuntuti adik dari Mars.
"Wah. Venus mau," sahut Venus menghentikan langkahnya.
"Yaudah. Ayo ke rumahku!" Ajak Tania dengan semangat.
Saat keduanya hampir berbalik. Sebuah suara yang memanggil mereka membuat Venus dan Tania mengurungkan niatnya.
"Mau kemana?" Tanya Sia yang berjalan ke arah putrinya.
"Venus mau ke lumah Tania, Ma."
"Mau ngapain?"
"Kata Tania, Tante Flo masak nasi goleng enak. Venus jadi mau," sahut anak itu diiringi cengiran di bibirnya.
"Kamu, 'kan, sudah makan," kata Mars menatap adiknya datar.
"Ya gakpapa," sahut Venus dengan cuek. "Boleh ya, Ma?"
Venus menatap penuh harap ke arah mamanya. Entah kenapa mendengar nasi goreng enak, pikirannya sudah melayang. Wajar saja, anak seusia Venus pasti hanya memikirkan makanan yang menurutnya menggiurkan.
"Boleh, tapi jangan sampai merepotkan Tante Flora. Mengerti?"
"Mengelti, Mama."
Setelah berpamitan, Venus segera menarik tangan Tania untuk lekas pergi ke rumahnya. Namun, tatapan antara anak dari Flora dan Mars, membuat langkahnya terhenti.
"Ayo, Tania!" Ajak Venus tak sabaran.
"Abang gak mau ikut?" Tawar Tania pada Mars dengan malu-malu.
Galexi menahan tawanya. Sungguh tingkah dua anak ini begitu menggemaskan.
"Abang ikut ya, Ma?"
"Boleh. Jagain Adek yah."
Akhirnya ketiganya segera berlalu keluar rumah. Mereka berjalan melewati jalan samping rumah dengan Venus yang berada di depan. Sedangkan dibelakangnya, ada Mars dan Tania yang berjalan bersama.
"Tania mau sekolah dimana?" Tanya Mars setelah mereka berdua sama-sama diam.
"Gak tau." Tania menggelengkan kepalanya. "Mama belum bilang sama Tania."
"Mau sekolah sama Abang?"
Tania spontan menoleh. Dia menatap penuh bimbang ajakan anak laki-laki di sampingnya itu.
"Tania terserah Mama, Bang. Tania takut Mama gak punya uang buat aku sekolah," lirihnya dengan menunduk.
Saat Mars hendak menjawab. Suara panggilan Venus yang kencang membuat perkataan Mars harus ditahannya.
"Ayo, Tania. Ayo, Abang! Cepetan."
****
Sedangkan Galexia, setelah kepergian anak-anaknya. Dia kembali ke meja makan. Disana, masih ada suaminya yang menunggu kehadirannya sejak tadi.
"Anak-anak kemana?" Tanya Galaksi yang baru saja selesai meneguk minumannya.
"Ke rumah Tania, Kak. Venus ingin makan nasi goreng buatan Flo, katanya," ukar Sia menjelaskan.
"Bukannya putri kita barusan makan?" Tanya Galaksi dengan heran.
"Dia tak terbantahkan, Sayang," sahut Galaksi dengan cepat.
Apa yang dikatakan keduanya memang benar. Selama sebulan bersama dan tinggal di New York, membuat Galaksi tahu betul kesukaan dan tingkah laku putra putrinya.
Dari Venus yang suka makan serta Mars yang lebih suka bermain rubik atau mainan menguras pikiran daripada keramaian.
Sebulan itu, Galaksi benar-benar belajar mengetahui tentang anak-anaknya. Bahkan tanpa malu dia bertanya pada Riksa kesukaan kedua anaknya dan apa yang tidak disuka.
"Kakak gak berangkat?" Tanya Sia sambil membereskan piring.
"Sepertinya aku akan libur," sahut Galaksi dengan enteng.
"Apa!" Galexia terbelalak. Dia menatap suaminya dengan kening berkerut. "Kakak gak salah, 'kan?"
"Memangnya kenapa?"
"Kakak sudah pakek pakaian rapi begini dan libur?" Tanya Sia dengan heran.
Galaksi mengangguk polos. Dia memegang kedua tangan istrinya yang sejak tadi membereskan meja makan. Lalu dengan sekali gerakan, dia menggendong tubuh Sia hingga wanita itu terpekik kaget.
"Kakak mau apa?" Tanya Sia dengan jantung berdegup kencang.
Galaksi tersenyum misterius. Dia menundukkan kepalanya sampai wajah keduanya berdekatan.
"Aku ingin memakanmu."
"Hah!" Sia terkejut. Dia memukul lengan suaminya hingga membuat Galaksi mengaduh.
"Ini masih pagi, Kak. Semalam juga kita kan sudah melakukannya," seru Sia begitu kesal.
"Tapi aku ingin lagi, Sayang," rengek Galaksi penuh harap.
"Nanti anak-anak?"
"Aku akan menghubungi Flora untuk menjaga anak-anak sebentar."
Akhirnya pagi itu. Sepasang suami istri itu menghabiskan waktunya di kamar. Keduanya seakan menikmati waktu kebersamaan tanpa hadirnya kedua anaknya. Entah kenapa tak ada rasa bosan dalam diri Galaksi ketika bermanja dan menggauli istrinya.
Menurutnya, Sia itu bagai candu untuknya. Ketika berjauhan dia akan merasa rindu padanya. Namun, ketika berdekatan, dia ingin terus bersama tanpa adanya jarak.
Nafas keduanya masih terengah-engah. Baik Galaksi ataupun Sia saling berlomba menghirup udara di sekitar mereka. Kegiatan yang baru saja selesai membuat tulang-tulang Sia seakan remuk.
Entah kenapa baru satu ronde, Sia merasa lelah. Bahkan dia merasa seperti melakukannya berulang kali. Padahal biasanya, walau sampai dua ronde, Sia masih sanggup. Namun, sekarang, satu ronde saja membuat dirinya capek luar biasa.
"Maafin aku, Yang. Kamu pasti capek banget, 'kan?" Kata Galaksi saat melihat istrinya memejamkan mata.
"Gakpapa, Kak. Aku baik-baik saja." Sia berusaha membuka matanya.
Dia meyakinkan suaminya itu jika tak ada yang harus dikhawatirkan. Hingga saat dirinya kembali menutup mata, sebuah bayangan makanan terlintas di pikirannya dan membuat Sia meneguk ludahnya.
Matanya dia buka dengan lebar. Rasa kantuk yang sempat menyerangnya seakan menghilang ketika dia membayangkan makanan itu sampai di lidahnya.
Dia harus makan itu. Sesuatu di dalam dirinya sangat menginginkannya.
"Kak," panggil Sia membuat Galaksi yang hampir tidur spontan membuka matanya.
"Hmm," sahutnya dengan tangan mengelus kepala Sia yang ada di atas dadanya.
"Aku ingin sesuatu, Kak," ucap Sia dengan pelan.
Dia mengangkat kepalanya lalu menatap wajah suaminya yang hampir memejamkan matanya kembali.
"Ingin apa? Katakan, aku akan mengabulkannya selagi itu bisa," sahut Galaksi dengan yakin
"Aku ingin makan siomay."
~Bersambung
Wahaha di New York cari siomay, Bang.
Btw ada yang udah mampir ke cerita baruku belum?
Judul : Berbagi Cinta : Hasrat Terlarang Suamiku.
Yang belum yuk mampir.
Jangan lupa klik like, komen dan vote yah. Terima kasih