
Galexia terus merenung sepanjang lampu operasi masih hidup. Seakan dirinya dipenuhi rasa penyesalan yang melekat. Pikirannya masih mengingat betul ketika dokter mengatakan jika mantan suaminya akan mengalami kelumpuhan.
"Tapi dengan berat hati saya harus mengatakan, jika…." ucapnya sambil menghela nafas lelah. "Pasien bisa mengalami kelumpuhan pada kedua kakinya setelah operasi ini selesai dilakukan."
"Bagaimana mungkin?" tanya Sia dengan menuntut jawaban sang dokter.
"Ini hanya efek dari tembakan yang hampir mengenai jantung, Nona. Ini juga masih diagnosa. Semua bisa dilihat ketika selesai operasi," kata Dokter dengan menatap wajah Sia.
"Tapi apakah itu akan selamanya, Dok?" tanya Orion yang mulai sadar akan keterkejutannya.
"Hanya sementara. Nanti kita melakukan terapi, maka pasien bisa berjalan kembali."
"Jangan dipikirkan, Nak. Ini semua bukan salahmu," kata Mama Pandora mengelus lengan mantan menantunya yang membuat Sia tersadar akan lamunannya.
Perempuan itu menoleh. Dia menghapus air mata yang hampir menetes dan mencium kedua tangan mantan mertuanya.
"Aku berjanji akan membantu Kak Galak jika diagnosa itu benar, Mama. Aku akan selalu ada untuknya," ucap Sia sungguh-sungguh.
Pandora menganggukkan kepalanya. Jujur dia bersyukur di setiap kejadian yang menimpa putranya. Dirinya selalu meyakinkan dalam hati, jika apa yang terjadi mungkin sebagai obat pelipur lara dari kesakitan yang Sia rasakan selama ini. Mungkin ini hukuman dari Tuhan kepada anaknya yang sudah menyakiti hati seorang perempuan. Pandora hanya berharap, semoga putranya itu, bisa memetik keberkahan dari setiap ujian yang menimpa dirinya.
Keduanya menunggu dengan tenang di depan ruang operasi. Mars dan Venus terpaksa diantar oleh Orion ke rumah, karena mereka tak mungkin menginap di rumah sakit. Hingga akhirnya, lampu operasi pun padam.
Sia dan Pandora bersyukur ketika dokter keluar dan mengatakan jika operasinya sukses. Mereka hanya tinggal menunggu Galaksi sadar dan melihat reaksinya. Mantan suaminya itu segera dipindahkan ke ruangan khusus setelah operasi selesai. Dia menatap wajah Galaksi dari balik kaca. Mata terpejam dengan tarikan nafas teratur yang menandakan jika tidurnya begitu tenang.
"Apapun keadaanmu, aku akan ada di sampingmu, Kak," kata Sia pelan sambil membelai kaca seakan itu adalah wajah Galaksi.
****
Di sebuah ruangan yang begitu tenang. Terdapat seorang pria tampan yang terbaring lemah diatas ranjang. Mata yang awalnya terpejam perlahan bergerak menyesuaikan cahaya yang masuk. Lenguhan kecil lolos dari bibirnya ketika merasakan punggungnya sakit bukan main.
Tak lama pandangannya yang buram akhirnya terlihat jelas. Manik matanya menatap sekeliling dan dia baru menyadari jika dirinya sendirian. Perlahan, dia paksa tubuhnya untuk duduk. Meski ia harus menahan sakit yang luar biasa di punggung bagian atas, tapi dirinya sudah tak peduli.
Pergerakan yang terjadi di dalam ruangan itu, tentu dipantau oleh suster dan dokter. Mereka segera masuk ketika melihat pasiennya sudah sadarkan diri.
"Kenapa kakiku tak bisa digerakkan?" kata Galaksi saat Dokter menyuruhnya untuk berbaring.
"Lebih baik anda berbaring, Tuan. Kami akan memeriksa…."
"Kenapa kakiku tak bisa digerakkan?" bentak Galaksi hingga suaranya menggelegar.
Rasa takut perlahan mulai menyusup dalam hatinya. Dia menggelengkan kepalanya untuk menolak kenyataan jika apa yang ada dipikirannya benar-benar terjadi. Sungguh dirinya tak akan sanggup menjadi pria cacat yang hanya duduk di kursi roda sepanjang hidupnya. Dirinya tak mau itu terjadi kepadanya.
"Tenanglah, Tuan. Ini hanya sementara," kata Dokter mencoba menenangkan.
"Jangan membual, Dokter. Jangan coba-coba membodohiku!" hardiknya dengan nafas yang memburu.
"Saya serius, Tuan. Kalau anda tak percaya, anda bisa tanya kepada perempuan yang berdiri di balik kaca itu." Pandangan Galaksi segera beralih.
Dia bisa melihat sosok wanita yang begitu dia cintai sedang menatapnya dengan mata penuh air mata. Galaksi bisa melihat bagaimana mantan istrinya itu begitu mengkhawatirkannya. Sungguh ingin sekali dirinya merengkuh tubuh itu, memberikan ketenangan dan mengatakan jika dirinya baik-baik saja.
"Lebih baik Anda berbaring dulu, Tuan. Biarkan kami memeriksa, Anda," kata Dokter yang ajaibnya langsung dipatuhi oleh Galaksi.
Pria itu terus menatap pada sosok Sia yang setia berdiri menghadapnya. Dirinya tak peduli dengan apa yang dilakukan oleh Dokter kepada tubuhnya. Yang ada dalam pikiran Galaksi, hanya wajah mantan istrinya saat ini. Dia mencoba tersenyum dan melakukan gerakan menghapus air matanya yang langsung diikuti oleh Sia. Perempuan itu mengangguk seakan paham dengan apa yang diminta oleh dirinya.
"Ijinkan dia masuk, Dokter," pinta Galaksi setelah dokter selesai memeriksa.
"Ini ruangan khusus, Tuan. Hanya kami yang bisa masuk," kata Dokter yang membuat wajah Galaksi diliputi kekecewaan. "Tapi Anda bisa menemui mereka di ruang rawat, Tuan. Kami akan pindahkan Anda sekarang juga."
Akhirnya wajah Galaksi yang semula muram perlahan berbinar. Dia menganggukkan kepalanya setelah mendengar penjelasan dokter. Matanya menatap ke arah istrinya dan menyampirkan sebuah senyuman untuk wanita itu.
Hingga tak lama, apa yang dikatakan dokter memang benar. Brankar miliknya mulai didorong menuju ruang rawat di rumah sakit itu. Matanya tak pernah berpaling dari wajah Sia yang berjalan di sampingnya. Dia begitu bersyukur, insiden ini membuatnya bisa kembali dengan wanita itu.
"Jangan banyak bergerak dulu, Tuan. Lebih baik Anda istirahat," kata suster sebelum pergi.
Rasa gugup menjalar dalam hati Sia saat mata itu terus memandangnya penuh intens. Menelan ludahnya paksa, Sia menepis rambutnya yang hampir menutupi sebagian wajahnya.
"Istirahatlah, Kak," kata Sia lalu mendekati ranjang.
Dia menarik selimut lalu membalut tubuh kekar itu dengan kain hangat ini. Saat Sia hendak menjauhkan tangannya, Galaksi dengan sigap menarik dan menggenggam tangan itu. Hingga pandangan keduanya bertemu dan membuat Sia tak menyadari jika ada tangan yang membelit pinggangnya dan mendekatkan tubuhnya hingga dia terjatuh di atas tubuh Galaksi.
"Aduh," ringis Galaksi saat tubuh bagian atas mantan istrinya mengenai dadanya.
"Astaga. Apa yang Kakak lakukan. Lepasin gak?" kata Sia menahan kedua tangannya diatas dada Galaksi.
"Biarkan seperti ini dulu, Sia," rengeknya semakin membelit tubuh mantan istrinya ke dalam sebuah pelukan.
Sia ingin memberontak. Namun, jika dirinya banyak bergerak, ia takut luka di punggung bagian atas Galaksi akan terbuka. Akhirnya dengan segala kepasrahan dia meletakkan kepalanya di dada Galaksi. Menyelami kehangatan dengan suara detak jantung mantan suaminya yang berdebar kencang.
Tanpa pria itu sadari, Sia tersenyum saat menyadari jika bukan dirinya saja yang gugup. Melainkan pria yang ada dibawahnya ini tak kalah gugup dari dirinya. Saat keduanya asyik menyelami indahnya sebuah pelukan. Suara pintu yang terbuka kasar dengan teriakan seorang perempuan membuat keduanya dengan tak rela melepaskan pelukannya.
"Apa yang kalian lakukan?" teriak suara perempuan yang sangat keduanya kenali.
Galaksi menghembuskan nafas berat. Kedua tangannya mengepal saat melihat sosok yang begitu tak ingin dia lihat.
"Dasar wanita murahan! Kau ingin mengambil Galaksi dariku?"
"Inggrid!" seru Galaksi dengan murka.
Pria itu berusaha bangun. Namun, ditahan oleh Sia.
"Tidurlah, Kak."
"Tapi…." sela Galaksi yang langsung ditolak oleh Sia.
"Kakak harus sembuh jika ingin cepat menikahiku."
Senyuman di bibir Galaksi melebar. Tubuh yang awalnya hendak bangun, akhirnya kembali tidur. Dia begitu menuruti perkataan manis mantan istrinya itu dan tak menggubris keberadaan Inggrid.
Setelah melihat Galaksi tenang. Sia segera mendekati perempuan yang memiliki mulut sepedas bon cabe. Dirinya sudah bertekad ketika menerima Galaksi kembali, maka dia harus menjauhkan ayah milik anak-anaknya itu, dari serangga kecil seperti Inggrid.
"Aww. Lepaskan!" seru Inggrid saat tangannya ditarik oleh Sia begitu kencang dan membawanya keluar dari ruangan Galaksi.
Tanpa kata, Sia menghempaskan tubuh wanita itu hingga membuat Inggrid sedikti oleng.
"Dasar ******!"
Bersamaan dengan kata yang keluar, sebuah tamparan jatuh di pipi wanita bermulut pedas itu. Hingga membuat wajahnya menoleh dengan perih di sudut bibirnya.
"Sepertinya Anda harus diajarkan sopan santun, Nona," seru Sia menatap wajah Inggrid dengan tajam.
Sia baru menyadari jika dirinya tak boleh lemah. Apalagi perihal Galaksi, dia harus tegas dan berani untuk menyingkirkan siapapun yang ingin merebut dan mendekati ayah kandung Mars dan Venus.
"Camkan ini! Jangan pernah dekati Galaksi sedikitpun, karena dia…." jeda Sia sambil mencengkram dagu Inggrid hingga wajah kedua wanita itu saling berpandangan.
"Calon suamiku."
~Bersambung~
Huaa ya, 'kan!
Mama Sia udah garang begini, demi kedua anaknya. Hahaha.
Maaf baru update ya aku baru selesai anter anakku imunisasi.
Jangan lupa like, komen dan vote ya sebagai tanda apresiasi kalian dengan novel ini. Tembus 250 like, aku update lagi!