The Billionaire Twin'S Baby

The Billionaire Twin'S Baby
Buka Puasa




"Kenapa, Sayang?" Tanya Galaksi dengan cemas.


Mata pria itu terus menatap wajah wanita yang beberapa jam lalu sudah sah menjadi istrinya. Galaksi terlihat khawatir karena mendengar rintihan dari mulut istrinya. 


"Sayang," panggil Galaksi lagi saat tak mendapat jawaban.


Galexia menunduk. Namun, perlahan dia mendudukkan tubuhnya di kursi pelaminan. Lalu tangannya membuka sedikit gaunnya ke atas untuk menunjukkan sesuatu pada suaminya itu.


"Ya tuhan." Galaksi terkejut. 


Matanya membelalak saat melihat kaki istrinya lecet. Tanpa kata, dia semakin menjauhkan sepatu itu dari kaki Galexia hingga membuat perempuan itu begitu bingung.


"Kenapa dilepas semua?" Tanya Galexia menatap suaminya.


"Kakimu sudah sangat lecet dan kamu ingin memakainya?" Tanya Galaksi membalas tatapan istrinya.


"Tapi bukankah acaranya belum…." 


"Jangan pedulikan acaranya, Sayang. Kakimu lebih berharga dari semua ini." 


Entah kenapa perkataan Galaksi membuat kedua sudut bibir Galexia terangkat ke atas. Dia begitu senang dengan perhatian suaminya. Apalagi jelas terlihat jika tatapan pria itu begitu khawatir akan kondisinya.


"Kenapa senyum-senyum?" 


Galexia tersadar saat merasakan hembusan nafas menerpa kulit wajahnya. Hingga tanpa diduga, wajah Galaksi sudah sedekat itu dengan dirinya.


"Kenapa hmm?" Galaksi menuntut. Dia menatap wajah ayu Galexia yang tak pernah berubah.


Bahkan walau istrinya itu sudah melahirkan sapasang anak kembar. Penampilan dan bentuk tubuhnya masih tetap sama seperti sebelum hadirnya mereka.


Galexia mengangkat tangannya. Dia meletakkannya di pipi Galaksi dan mengelusnya dengan lembut.


"Tetaplah seperti ini, Kak. Aku suka perhatianmu." 


"Tentu. Jangan salahkan aku jika kamu tak akan bisa pergi dari diriku sedikitpun," sahut Galaksi begitu percaya diri.


Galexia hanya mampu tertawa. Namun, dia menganggukkan kepalanya pertanda setuju dengan ucapan suaminya. Dia benar-benar tak masalah jika Galaksi begitu posesif. Menurutnya sikap suaminya itu sejak dulu ya seperti ini. Namun, bedanya jika sekarang perasaan mereka dan restu orang tua Galaksi begitu mendukung. 


"Lengket terusss! Plis lah ada jomblo disini, tau jarak dong," sindir suara seseorang yang membuat pasangan pengantin baru itu menoleh.


"Leo." Galaksi dan Galexia serentak berucap. 


Mereka melihat pria dengan setelan jas berwarna hitam dan kemeja putih berjalan ke arahnya. Tubuhnya yang tegap dan wajah tampannya pasti membuat siapapun terpesona. Tanpa mereka semua tahu, dibalik itu semua ada sikap gemulai dan cerewet dalam diri pria itu.


"Aduhh." Sia mengaduh saat dirinya berusaha berdiri.


Hal itu tentu membuat Leo berjalan dengan cepat ke arah istri sahabatnya.


"Pelan-pelan saja, Sayang," kata Galaksi membantu Sia berdiri.


"Sayang, uhh…" Leo memutar matanya jengah. 


Dia berekspresi seperti ingin muntah saat melihat kebucinan Galaksi pada istrinya.


"Sekarang aja panggil sayang. Dulu-dulu nyakitin." 


"Heee cerewet." Galaksi tak terima. Dia membalas ocehan sahabat gilanya itu. "Lo kalau ngoceh mulu, gue tendang keluar."


"Hee, Galak! Berani-beraninya usir gue," sungut Leo begitu kesal. "Seharusnya Lo kasih gue hadiah karena bisa bersatu sama Galexia lagi." 


"Gue usaha sendiri." 


"Tanpa brand gue, mereka gak bakal ke negara kita," balas Leo tak mau kalah.


"Lo." Galaksi kalah. Dia selalu kalah kata jika bersama sahabatnya ini.


Galexia yang melihat perdebatan kita hanya mampu tertawa sambil geleng-geleng kepala.


"Sejak dulu kalian berdua gak pernah berubah." 


"Dia duluan," ujar keduanya bebarengan.


"Yayayaya. Udah-udah," ucap Galexia menengahi. Perlahan dia menatap Leo yang juga sedang menatapnya. "Makasih udah dateng ke nikahan kita yah." 


"Ohh, My Baby Sweety," kata Leo dengan air muka terharu.


Dia mendekat dan membuka kedua tangannya, siap memeluk Galexia. Namun, dengan sigap Galaksi menerima pelukan itu hingga membuat Leo memukul punggung sahabatnya itu.


"Ngapain Lo meluk gue?" Sungut Leo dengan memberengut.


"Lo buka tangan, ya gue terima, 'kan?" 


"Tapi gue mau meluk Galexia, Galak!" 


"Why?" 


"Galexia hanya untukku," sahut Galaksi sambil menarik pinggang istrinya. "Dan gak boleh ada pria yang memeluknya selain gue." 


"Dasar bucin!" 


"Bodo!" 


Akhirnya perdebatan itu berakhir ketika dari arah belakang muncul tamu yang lain untuk bersalaman dengan pengantin. Hal itu tentu semakin membuat Leo kesal. Namun, pria itu tak lupa memberikan doa terbaik untuk kedua sahabatnya agar pernikahan mereka langgeng sampai maut memisahkan. 


Hingga satu kalimat dari Leo terakhir membuat Galexia dan Galaksi begiti terkejut.


"Jangan lupa berikan gue jodoh terbaik yah. Anak kalian mungkin akan menjadi jodoh gue di masa depan." 


Gila. Bener-bener gila bukan? 


****


Akhirnya satu persatu rangkaian acara berakhir. Para tamu pun perlahan pulang meninggalkan rumah besar Jericho. Tentunya sepasang pengantin baru itu pun sama-sama bisa kabur dari hadapan kedua anaknya. Itu adalah rencana Galaksi.


Pria itu merengek seperti bayi ketika Galexia izin untuk melihat anak-anaknya. Galaksi tak mau harinya dirusak oleh putri dan putranya saat ini. Galexia hanya untuk dirinya sebelum besok diambil alih oleh kedua penerusnya.


"Kak." 


"Biarkan mereka tidur bersama kakek dan neneknya," ujar Galaksi saat tangannya baru saja menutup pintu kamar istrinya. "Ayah dan Ibu saja mau untuk menjaga mereka berdua malam ini." 


"Aku tau, Kak. Tapi aku takut Venus akan rewel jika tak bertemu denganku." 


"Hanya malam ini. Aku sudah lama menunggu momen ini, berdua denganmu tanpa gangguan anak-anak kita. Aku benar-benar merindukanmu." 


Galexia bisa melihat tatapan penuh harap dari suaminya itu. Jika Galaksi seperti ini, tentu saja Galexia tak akan tega. Akhirnya ibu dari si kembar itu mengangguk dan meminta suaminya untuk mandi. 


Galaksi tak membantah. Namun, sebelum dia masuk ke kamar mandi. Dirinya mencuri satu kecupan di bibir milik Galexia hingga membuat kedua pipi wanita itu memerah. 


"Pemanasan."


Setelah itu Galaksi langsung pergi membersihkan diri. Galexia hanya mampu tertawa lalu dia segera berjalan menuju meja rias dan membersihkan riasannya sekaligus melepaskan beberapa aksesoris. 


Selang 30 menit, Galexia bergantian dengan suaminya. Dia membersihkan diri di kamar mandi dan membiarkan suaminya mengeksplor kamarnya selama berada disini. 


Setelah selesai mandi. Galexia menatap sekeliling. Dia lupa membawa baju ganti dan hanya membawa jubah mandi yang begitu pendek. Saat dia memakainya, paha mulusnya begitu terpampang hingga membuat bulu kuduknya merinding saat membayangkan hal yang tidak-tidak. 


Namun, dirinya tak mungkin diam disini. Dia perlahan keluar dari kamar mandi. Dahinya berkerut saat lampu kamarnya padam. Saat dirinya masih berpikir, tiba-tiba tangannya ditarik kuat hingga menempel di sesuatu yang begitu hangat. 


"Kakak." 


"Hmm." Galaksi berdehem. 


Di kegelapan seperti ini, Galexia tak mampu melihat. Namun, dia bisa merasakan sebuah elusan di pahanya yang membuat matanya spontan terpejam.


"Merindukanku, hmm?" bisik Galaksi tepat di telinga istrinya.


Dia menyapu daun telinga itu dengan lidahnya hingga membuat tubuh Galexia bergetar.


"Kak." 


"Katakan bahwa kamu merindukanku!" 


Galexia kalah. Jika seperti ini dia selalu lemah di tangan Galaksi.


"Aku merindukanmu." 


Bersamaan dengan itu, Galaksi mengangkat tubuh Galexia dan menggendongnya seperti koala. Entah siapa yang memulai, lidah keduanya sudah beradu dengan gesit. Mereka seakan tak ada hari esok untuk mempertemukannya lagi. 


Perlahan keduanya sudah berada di atas ranjang. Galaksi benar-benar begitu lembut meletakkan tubuhnya. Bahkan entah tangan siapa yang begitu lihai, tubuh keduanya sudah sama-sama polos. 


Hingga saat Galaksi sudah siap untuk berbuka puasa. Suara gedoran pintu yang begitu kuat serta tangisan yang kencang membuat pergerakan pria itu terhenti. 


"Itu Venus, Kak" 


"Biarkan, Sayang," sahut Galaksi berusaha tetap fokus.


"Sayang," kata Sia mencoba tenang. "Venus akan terus menangis sebelum dia mendapatkan keinginannya."


Benar memang yang dikatakan istrinya. Hal itu membuat Galaksi menyingkir dan menjatuhkan tubuhnya di samping sang istri. Wajahnya memberengut saat lampu kamar mulai menyala. Namun, perlahan dia merasakan sebuah kecupan di bibir dan pipinya serta sebuah bisikan yang membuat rasa kesalnya menguap hilang entah kemana.


"Jangan ngambek, Sayang. Nanti aku bakalan kasih yang lebih panas." 


~Bersambung~


Wahahaha ketipu yeyyy. Puasa dulu ye belum waktunya lohh!


Mau buka puasa? like yang banyak sama komentar dulu dong hahaha.