
Waktu terus berjalan. Musim kemarau di Indonesia tentu membuat waktu yang mulai beranjak siang terasa begitu panas. Akhir-akhir ini tentu saja pemberitaan di media massa atau elektronik ramai dengan kasus Atlas. Pria yang diketahui seorang pengusaha besar dan merupakan ayah kandung seorang model terkenal di New York tentu menjadi sasaran empuk pemberitaan.
Apalagi, identitasnya sebagai saudara kandung Altair, ayah dari Galaksi semakin membuat wartawan semangat mencari beritanya. Sungguh berita tentang harta warisan menjadi berita yang akan menggemparkan para netizen di luar sana.
Saat kedua kaki Galexia dan keluarganya turun dari mobil, tubuh mereka sudah menjadi sasaran empuk kilatan kamera. Para wartawan tentu begitu ingin mengorek informasi sedikit. Namun, tetap saja baik keluarga Sia ataupun Galaksi tetap tutup mulut. Mereka seakan enggan untuk membeberkan masalah keluarga yang begitu besar ini.
Tak lama setelah keluarga Sia masuk ke dalam, mobil tahanan berhenti di depan gedung pengadilan. Pintu mobil terbuka dan dua orang polisi segera turun dan membawa Atlas yang tangannya terborgol rapat.
Tepat pukul 10.00 ruang sidang mulai padat. Para Hakim Ketua dan Anggotanya mulai memasuki ruangan dan segera menuju kursi kebesarannya. Diikuti jaksa penuntut dan pengacara Atlas menempati tempat masing-masing.
"Sidang Pengadilan Negeri Kota Jakarta, yang memeriksa perkara pidana nomor 018910 atas nama Atlas pada hari Jumat tanggal 17 September 2021 dinyatakan dibuka dan terbuka untuk umum," ucap Hakim ketua lalu mengetukkan palu sebanyak tiga kali.
"Terdakwah Atlas dipersilahkan masuk!"
Dua orang polisi membawa seorang pria berpakaian tahanan dengan tubuh lebih kurus dari sebelumnya. Mereka mulai membawa Atlas ke tempatnya dan membuka borgol yang mengikat kedua tangannya.
"Terdakwah Atlas, apa Anda telah siap menjalani sidang hari ini?" tanya Hakim Ketua.
"Saya siap, Yang Mulia," sahut Atlas dari tempatnya berdiri.
"Pihak pembela, apa Anda ingin menyampaikan pembelaan untuk Terdakwa Atlas atau menyanggah dari semua tuduhan jaksa penuntut?" tanya Hakim Ketua pada Pengacara Atlas.
"Tidak, Yang Mulia," sahut pengacara itu dengan kepala tertunduk.
Atlas mengepalkan kedua tangannya. Dia tak menyangka jika pengacara yang disewa terlihat begitu menyerah dan putus asa. Bahkan pria bodoh itu tak mau mengangkat kepalanya sedikitpun.
"Pihak penuntut, apa ada lagi yang Anda ingin ajukan di sidang hari ini?"
"Ada, Yang Mulia," sahut Jaksa tersebut dengan tegas.
"Silahkan!"
Jaksa penuntut Galaksi beranjak berdiri. Dia berjalan ke arah Hakim Ketua dan menyerahkan berkas.
"Disana, ada bukti jelas dimana Saudara Atlas yang melakukan kerusakan pada pesawat hingga terjatuh dan menewaskan banyak korban. Niat awal Saudara Atlas hanya ingin menyingkirkan Tuan Galaksi. Namun, karena klien saya menaiki pesawat komersial, maka dia menghancurkannya sekaligus," kata Jaksa penuntut dengan tegas.
Dia lalu berjalan menuju Atlas, pria yang wajahnya sudah pucat pasi seakan tak mendapatkan oksigen terlihat begitu menyedihkan. "Apa yang saya katakan betul, 'bukan?"
Atlas hanya diam. Pria itu merasa tangannya berkeringat dingin. Sungguh impiannya untuk bisa lolos dan keluar dari sini sepertinya makin kecil.
"Jawab, Saudara Atlas. Apa benar?"
"Tidak!"
Jaksa penuntut tersenyum miring. Dia lalu berjalan kembali ke tengah dan menatap Hakim Ketua.
"Saya masih memiliki satu bukti saksi mata keterlibatan Saudara Atlas, Hakim Ketua dengan kejadian ini. Bagaimanapun saya harus membantu hak-hak keluarga lain yang dihancurkan olehnya," kata jaksa penuntut dengan tegas.
"Tunjukkan!"
Jaksa penuntut menganggukkan kepalanya. Dia mulai memberikan dokumen yang dia miliki pada Hakim Ketua dan menyuruh saksi mata yang ia miliki untuk masuk.
Semua mata tertuju pada pintu masuk. Mereka sama-sama menunggu dengan jantung berdebar. Terutama Galexia, wajah wanita itu begitu penasaran. Entah kenapa dirinya merasa gelisah sejak tadi. Apalagi menunggu siapa lagi saksi yang akan muncul demi hak sang calon suaminya.
Mengingat calon suami, Galexia menyadari sampai detik ini jasad Galaksi belum ditemukan. Dirinya sudah tak bisa menahan, saat memejamkan mata bersamaan dengan itu air matanya menetes. Tapi tak sampai dia menghapus air mata dan membuka matanya, suara riuh membuatnya terpaksa membuka matanya.
Seketika penglihatannya sedikit buram. Dia usap air mata itu hingga terlihatlah wajah seorang pria tampan yang memasuki ruang sidang. Tubuh Galexia mematung, dengan tetesan air mata yang semakin banjir.
Prianya, calon suaminya, Galaksinya ada disana. Ya saksi itu adalah pria yang dia kira sudah meninggal. Berjalan memasuki ruang sidang dengan keadaan baik-baik saja. Bahkan kedua tangannya menggandeng kedua anaknya dengan sikap tenang.
Pikiran Galexia tentu bertanya-tanya. Bagaimana bisa Galaksi bersama Mars dan Venus. Bahkan dua bocah itu begitu tenang dan seakan tak terkejut. Namun, belum hilang keterkejutannya, Galaksi berhenti tak jauh darinya. Menatapnya sambil tersenyum dan membuat gerakan menghapus air mata.
Lalu entah apa yang dibicarakan dengan kedua anaknya. Mars dan Venus hanya mengangguk lalu memberikan ciuman di pipi papanya. Setelah itu, dua anak kembar tersebut berjalan ke arah Mama mereka yang masih merasa shock.
"Mama," panggil keduanya saat Sia terus saja memperhatikan sang papa sampai Galaksi sampai di tempatnya.
"Bagaimana kalian bisa bersama, Papa?" tanya Sia penasaran saat kedua anaknya duduk disamping kanan kirinya.
"Saudara Galaksi, benarkah jika waktu itu Anda ada jadwal penerbangan ke New York secara mendadak?" kata Jaksa penuntut kepada kliennya.
"Benar. Waktu itu saya mendapatkan panggilan dari asisten saya. Dia mengatakan jika salah satu artis saya mengalami skandal dan membuat agency ikut terguncang," sahut Galaksi dengan jujur.
"Lalu?"
"Saya langsung mencari tiket penerbangan waktu itu. Tapi, pikiran saya tetap merasa janggal. Artis-artis saya adalah orang yang dipilih begitu ketat. Jadi untuk kasus seperti itu bukanlah hal wajar. Jadi saya menyuruh asisten dan detektif saya untuk mengusut semuanya sebelum saya berangkat."
"Apakah mereka menemukan petunjuk?"
"Ya, tentu saja. Artis saya yang terkena skandal mengatakan jika dia disuruh oleh seseorang. Dia terpaksa melakukan itu, jika tak menurut, maka dia akan dibunuh," kata Galaksi dengan mata terus menatap ke arah Atlas.
Tubuh suadara kembar Altair tentu gemetaran. Bahkan dia merasa jika posisinya tak baik.
"Apakah ada bukti tentang itu?" tanya Jaksa penuntut.
Galaksi merogoh saku jasnya, lalu dia menyerahkan sebuah ponsel miliknya.
"Didalam sana ada rekaman suara artis tersebut sekaligus siapa yang mengancamnya."
Jaksa penuntut meminta protokol untuk menyambungkan dengan sound disana. Lalu perlahan rekaman itu diputar hingga terdengar di seluruh telinga semua orang. Isi rekaman itu tentu sama persis dengan apa yang dikatakan oleh Galaksi, hingga sebuah nama yang begitu jelas keluar dari sana membuat semua mata tertuju pada seorang terdakwah yang kepalanya semakin menunduk.
"Baiklah, Tuan Galaksi. Terima kasih atas pengakuannya. Silahkan Anda kembali duduk!"
Galaksi akhirnya berjalan dengan mata terus menatap ke arah Atlas. Pria itu juga menatap begitu marah ke arahnya. Dua mata saling menyalurkan kebencian tentu begitu terasa. Sampai sebuah gerakan yang Galaksi berikan seperti pistol menembak ke arah Atlas, semakin membuat tangan pria paruh baya tersebut mengepal.
Galaksi tersenyum miring. Lalu dia mengalihkan pandangannya dan menatap wajah wanita yang begitu dia rindukan.
"Cintaku," bisiknya pelan sambil duduk tepat disamping Galexia.
"Apa maksud semua ini, Kak?" todong Sia tanpa mengindahkan ucapan Galaksi.
"Kamu gak kangen sama aku. Tanyain kabar dulu atau cium dulu lah. Ini malah tanya hal lain," gerutunya dengan cemberut.
"Bukan begitu, Kak. Tapi…."
"Kamu ingin tahu kenapa aku disini?" sela Galaksi menatap manik mata coklat itu penuh cinta.
Spontan kepala Galexia mengangguk.
"Dengarkan!" tunjuknya ke arah Jaksa penuntut miliknya.
"Saya masih memiliki satu saksi lagi, Yang Mulia. Ini kasus terakhir dari terdakwah," kata Jaksa penuntut.
"Tuan Atlas melakukan pembunuhan dengan meledakkan sebuah mobil yang didalamnya terdapat kedua orang tua yang menjaga salah satu putri dari Tuan Jericho dan Nyonya Rhea. Tuan Atlas membunuhnya karena kunci kebusukannya juga ada pada mereka."
Atlas menatap tak percaya. Dia semakin merasa tersudut dan tak yakin bisa keluar dari sini. Semua bukti dan kasus tentu memberatkannya. Apalagi pengacaranya sendiri saja sudah tak bisa membelanya.
"Bawa kemari saksi mata itu!" kata Hakim Ketua dengan tegas.
Jaksa penuntut mengangguk. Lalu perlahan pintu itu terbuka dan muncullah sosok yang begitu tak disangka. Bahkan mata Cressida begitu melotot saat melihat wajah pria yang satu minggu ini menghilang dan tak memberikannya kabar sedikitpun.
"Riksa."
~Bersambung~
Wahaha yang dicari dah nongol semua, 'kan?
Udah bisa bobok belum?
Yang tebakannya bener siapa hayoo? Babang Galak masih idup, Babang Riksa noh nongol juga.
Aku hari ini sengaja up dua bab yah, soalnya besok sidang putusan. Mau dihukum apa si Atlas hayoo?
Jangan lupa like, komen dan vote ya biar aku makin semangat ngetiknya.