
Di sebuah ruangan pengap dan gelap. Terdapat dua orang anak yang saling memunggungi dengan tangan dan kaki yang diikat. Kedua mulut mereka sama-sama ditutup agar tak berisik. Sedangkan mata mereka sudah terbuka sejak kedatangannya disini.
Sebuah rumah yang sudah lama ditinggali, menjadi tempat mereka menyekap Mars dan Venus. Dua bocah yang tak banyak tingkah itu hanya bisa menurut. Tak ada raut wajah takut, melainkan keduanya hanya memberikan ekspresi datar. Tanpa mereka semua tahu, jika otak keduanya mulai bekerja sama.
Keadaan di ruangan ini sepi dan sunyi. Serta bau bekas barang-barang yang sudah lama ditinggalkan begitu menyengat. Namun, semua itu tak membuat hati si kembar takut. Keduanya saling menggenggam tangan mereka meyakini bahwa mereka tak sendirian.
Sampai tiba-tiba perhatian Mars dan Venus tertuju pada pintu yang terbuka. Diikuti sosok pria berbadan besar yang merupakan pemimpin penjahat. Dia datang bersama dua anak buahnya yang membawa sekantong kresek hitam di tangannya.
"Buka mulut mereka!" titahnya yang langsung dijalankan.
Tanpa basi-basi keduanya membuka plester yang melekat dengan kasar. Hingga menimbulkan suara yang kencang dan bekas kemerahan di area bibirnya.
"Makan ini!" kata pemimpin itu dan melemparkan dua buah bungkus roti ke arah si kembar.
"Bagaimana kita mau makan. Tangan kami aja diikat," celetuk Venus sambil memperlihatkan tangannya yang diikat di belakang tubuhnya.
"Merepotkan," gerutu pemimpin itu dengan mata mendelik tak suka. "Ikat tangannya ke depan dan biarkan mereka makan!"
Akhirnya dua anak buahnya itu membenarkan posisi tangan mereka. Yang semula ada di belakang, sekarang sudah ada di depan meski dalam keadaan diikat. Setelah semuanya selesai, mereka juga melempar sebotol air mineral dan segera meninggalkan si kembar ke ruangannya lagi.
Hingga akhirnya suasana kembali sunyi. Namun, Mars malah mendekatkan tubuhnya dan mengulurkan tangan untuk mengusap pipi Venus.
"Adek gak apa-apa?" tanya Mars dengan raut wajah khawatir.
"Adek baik-baik aja, Abang," sahutnya dengan mengusap perutnya.
"Adek lapar?"
Venus mengangguk. Jujur pagi tadi dia tidak sarapan karena ingin makan di pinggir jalan. Tapi, siapa yang menyangka jika akan ada kejadian itu dan membuat keduanya ada di tempat ini.
Mars menggeser tubuhnya. Lalu dia meraih roti yang dilempar tadi dan mengecek apakah bersegel atau tidak. Setelah memutar roti itu dan menelitinya. Akhirnya dia membuka bungkus roti dan menyodorkan ke mulut sang adik.
"Aman, Bang?" tanya Venus dengan mata yang sama menatap ke arah roti itu.
"Aman. Ini masih baru kok," sahut Mars lalu dia mulai menyuapi sang adik dengan hati-hati.
Walau tangan mereka saling terikat. Namun, baik Mars dan Venus saling menolong. Keduanya sama-sama saling membantu sampai perut keduanya sudah kenyang hanya dengan roti dan air putih.
Setelah mereka selesai. Mars semakin merapatkan tubuhnya agar bisa merencanakan sesuatu dengan sang adik.
"Apa Venus ingat jalan kesini?" tanya Mars berbisik.
"Ingat! Kenapa, Bang?"
"Kita harus bisa keluar dari sini. Mama dan Papa pasti bingung nyariin kita berdua," bisiknya yang diacungi jempol oleh Venus.
Mereka segera menatap ke sekeliling. Tak ada jendela atau celah untuk mereka keluar. Jalan satu-satunya ya hanya pintu tadi yang dipakai penjahat keluar masuk.
"Kita halus buka ikatan ini dulu, Bang," seru Venus menunjuk tangannya.
"Ulur tangannya, Dek!" perintah Mars yang langsung dituruti oleh sang adik.
Dengan penuh kehati-hatian, Mars mencoba membuka tali ikatan di tangan sang adik. Dia berusaha semaksimal mungkin meski agak susah dengan tangannya yang sama-sama terikat. Namun, jalan utama mereka harus berhasil mewujudkan rencananya ini. Mereka harus membuka tali ikatan tangan dan kaki lalu setelah itu memikirkan cara mereka keluar.
"Yes. Belhasil," pekik Venus bahagia dengan tali yang sudah terlepas dari pergelangan tangannya.
Tanpa mau menunda waktu lagi. Venus segera membuka ikatan tangan sang kakak dengan cepat. Lincahnya jari-jari mungil itu berhasil membuat tangan Mars terlepas. Akhirnya mereka sama-sama melepaskan ikatan talinya dan segera beranjak berdiri.
"Setelah ini apa, Bang?" tanya Venus setelah matanya menatap sekitar.
Mars masih diam. Dia hanya meneliti ruangan itu dengan cermat dan mulai melangkahkan kakinya menuju perabotan yang sudah lama ditinggalkan.
"Abang mau kemana?" bisik Venus menarik baju sang abang.
Kedua anak kecil itu mulai menyusuri ruangan itu. Tak ada raut wajah takut atau jijik. Keduanya benar-benar dengan tenang dan pelan mencari semua benda yang bisa digunakan untuk melawan. Mereka akan mencoba terlepas dari belenggu si jahat. Meski jika dilihat dari otot, keduanya akan kalah. Tapi, pemikiran keduanya yang jenius membuat mereka lebih mementingkan akal daripada fisik.
****
Sedangkan di rumah Galaksi.
Terlihat semua orang sudah berkumpul. Mereka sama-sama menunggu hasil yang akan dibawa oleh Orion tentang tempat si kembar berada.
Sejak tadi, Galexia tak henti-hentinya menangis. Dia terus meneteskan air mata tanpa peduli dengan lukanya. Sungguh hatinya benar-benar kacau memikirkan ada dimana anak-anaknya. Apakah mereka baik-baik saja atau ada yang luka. Semua bersemayam dalam otaknya.
Begitulah hati seorang ibu. Mereka akan lemah jika sudah berurusan dengan putra putrinya. Namun, mereka juga bisa kuat jika ada seseorang yang ingin mengusik kebahagiaannya dengan anak-anaknya.
"Tenanglah, Nak. Mama yakin si kembar akan baik-baik saja," ucap Mama Pandora sambil memeluk mantan menantunya.
"Ini semua salahku, Ma. Aku yang memaksa mereka pulang hingga akhirnya kejadian ini terjadi," kata Sia dengan sesenggukan. "Coba saja aku tak egois, maka mereka akan tetap ada disini bersama kita."
Sia benar-benar begitu kalut. Penampilannya masih sama seperti tadi. Lukanya belum dibersihkan karena dia tak mau. Hingga hal itu membuat Galaksi sama-sama bingung.
Saat semua orang semakin di luar kendali. Kedatangan Orion yang tergesa tentu membuat mereka yang menunggu sama-sama beranjak berdiri mendekati tangan kanan sang ayah.
"Bagaimana, Om? Dimana anak-anakku?" desak Sia sambil menarik kerah baju Orion.
Pikiran Sia benar-benar tak terkendali. Dia hanya ingin anak-anaknya kembali sekarang juga. Dirinya tak mau terjadi sesuatu hal dengan si kembar, hingga penampakan itu tentu membuat Galaksi tak tega melihat keadaan mantan istrinya.
Dengan lembut, Galaksi melepaskan tangan Sia dari baju Orion. Dia menarik perempuan itu dalam pelukannya dan mengelus punggungnya.
"Tenanglah, Sia. Kamu harus percaya jika anak-anak kita hebat. Aku yakin mereka pasti baik-baik saja," ucap Galaksi dengan nada yakin.
"Aku takut, Kak. Bawa pulang anak-anak kita. Kumohon!" pinta Sia menatap Galaksi penuh harap.
Galaksi mengangguk. Tangannya merapikan rambut Sia yang berantakan dan turun untuk menghapus air mata yang terus mengalir.
"Mandi dan bersihkan dirimu. Obati semua lukamu agar tak semakin infeksi," nasehat Galaksi dengan tersenyum.
"Tapi…."
"Tak ada penolakan," sela Galaksi cepat dengan menyematkan sebuah senyuman di bibirnya. "Kamu harus terlihat cantik untuk menyambut kehadiranku dan kedua anak kita."
Entah kenapa perkataan Galaksi seperti sihir. Hati Sia menjadi lebih tenang dan dia percaya jika mantan suaminya akan membawa kedua anaknya kembali. Akhirnya, Pandora membawa Sia ke kamar tamu yang digunakannya semalam untuk membersihkan diri.
Keduanya meninggalkan Galaksi dan Orion yang masih setia berdiri saling berhadapan.
"Dimana kedua anakku, Om?"
"Mereka ada di sebuah rumah kosong yang letaknya di pinggiran kota."
"Kirimkan alamatnya sekarang juga. Aku akan kesana," ucap Galaksi tegas yang membuat Orion menarik lengannya.
"Jangan gegabah, Galaksi. Kita belum tahu musuh kita siapa," kata Orion yang langsung dijawab gelengan kepala oleh putra dari Altair.
"Aku tak peduli siapa mereka, Om. Aku hanya ingin menjemput anakku," kata Galaksi tak terbantahkan.
"Tapi, Galaksi…."
"Percayalah padaku, Om. Lebih baik Om kirimkan alamatnya sekarang dan nanti segera menyusul jika aku sudah melihat keadaan disana."
~Bersambung~
Semangat Bang Galak. Aku ada untukmu yeyy. Besok aksi si kembar juga aku tampilkan oke.
Akhirnya bisa 3 bab hari ini. Aku merasa bahagia lihat komen dari kalian semua. Support dan semangat dari pembacaku luar biasa.
Thankyuu semuanya. Kita sama-sama berjuang yah.