
Kabar tentang eksekusi mati Atlas tentu sudah sampai di telinga keluarga. Tak ada ekspresi apapun yang ditampilkan. Bukan rasa bahagia yang mereka dapatkan, melainkan rasa iba. Sampai akhir hayatnya, Atlas tak memiliki niatan untuk menelpon keluarga Galaksi dan meminta maaf.
Hal itulah yang membuat mereka tak habis pikir. Menurutnya orang yang dihukum pasti akan jera dan menyesal. Namun, sepertinya perkataan itu tidak berguna untuk seorang Atlas. Pria yang sudah digerogoti rasa dendam dan iri hati karena harta dan cinta pasti akan membutakan segalanya.
Hingga kabar proses pemakaman selesai, keluarga Galaksi mengadakan kajian untuk kirim doa almarhum. Sebenci-bencinya mereka, sejahat-jahatnya Atlas, tapi tak membuat Pandora dan yang lain membalasnya dengan kejahatan.
Mereka semua berusaha ikhlas memaafkan. Mereka semua berusaha melakukan yang terbaik di detik-detik akhir hidup Atlas. Toh percuma menaruh dendam pada orang yang sudah meninggal. Lebih baik kita doakan saja, semoga segala dosa yang dia lakukan di dunia bisa diampuni oleh Tuhan.
Hari pernikahan tentu semakin dekat. Semua persiapan sudah mulai selesai. Dari gaun pernikahan, cincin, dekorasi, catering, kue pernikahan, dan yang lainnya sudah tercatat dan siap direalisasikan. Hanya tinggal menunggu hari H saja mereka semua begitu siap.
Semakin menjelang pernikahan, jantung kedua calon pengantin terus berdebar kencang. Keduanya juga tak bisa bertemu karena dipingit. Berulang kali Galaksi merengek pada mamanya untuk bertemu Sia tapi tak berhasil.
Padahal dia sudah mengatakan jika ini pernikahan kedua mereka, 'bukan?
Lalu kenapa harus memakai adat seperti ini. Namun, kembali lagi. Permintaan dari sang baginda ratu tetap tak bisa ditolak dan diabaikan.
"Tenanglah, Nak. Hanya tinggal dua hari lagi. Setelah itu kamu bisa menemui Sia sampai puas," kata Pandora setelah membujuk kesekian kalinya.
Saat ini keduanya ada di ruang tamu. Galaksi sedang tiduran di atas sofa dengan wajah ditekuk. Lagi-lagi permintaannya ditolak oleh sang Mama. Dirinya tak bisa menemui sang pujaan hingga membuat rasa rindunya semakin menggunung.
"Lebih baik, kamu siap-siap. Sebentar lagi ada tamu penting yang akan datang."
"Siapa, Ma?" kata Galaksi dengan malas.
"Seseorang," ucap Pandora sebelum melangkahkan kakinya.
Dia meninggalkan Galaksi yang wajahnya terlihat ogah-ogahan. Bahkan pria itu masih tak bergeming dari posisinya. Seakan perkataan mamanya tak diindahkan. Sampai tanpa sadar, Galaksi yang terlalu lelah dan malas mulai memejamkan matanya hingga nafas calon suami Sia itu mulai teratur yang menandakan jika dia tertidur.
****
Sedangkan ditempat lain, lebih tepatnya di sebuah kamar, terdapat tiga orang perempuan dengan satu perempuan kecil yang berbeda usia sedang melakukan perawatan kulit dan tubuh. Mereka adalah Sia, Cressida dan Venus.
Saat ini gadis kecil itu berada di tengah-tengah mama dan tantenya. Mereka sedang melakukan pijat agar tubuh dan otot yang tegang mulai kendur. Bahkan kulit mereka juga diberikan body scrub untuk mengangkat sel-sel kulit mati di kulit mereka.
Mata ketiganya terpejam. Seakan begitu menikmati setiap pijatan dan usapan di daerah tubuh mereka. Hingga membuat otot yang awalnya tegang mulai terasa lemas dan mengenakkan. Hampir dua jam mereka melakukan kegiatan ini, hingga satu persatu orang yang memijat ketiganya mulai meninggalkan kamar.
Mereka sedang memberikan waktu agar body scrub merasuk dalam kulit dan membuatnya menjadi bersih dan lembut ketika dibilas.
"Ustt, Kakak," panggil Cressida pelan agar tak membangunkan Venus yang tertidur.
Sia yang hampir saja ketiduran mulai membuka matanya. Dia menoleh ke samping sampai pandangannya langsung tertuju pada wajah sang adik.
"Ada apa, hm?"
"Apa yang Kakak rasain saat ini?" tanya Cressida begitu penasaran. "Apa Kakak takut, malu atau resah karena bingung harus apa di malam pertama?"
Gadis cerewet dengan wajah yang memiliki kecantikan seperti Sia itu begitu penasaran. Bahkan pikirannya melayang dimana bagaimana jika dia dan Riksa sudah menikah. Mereka akan berbagi ranjang, kamar tidur dan segalanya di antara keduanya.
Sampai sebuah timpukan di kepalanya menyadarkan Cress dari pikirannya yang mulai nakal.
"Jangan mikir aneh-aneh. Kepalamu itu sudah terdoktrin mesumnya si Riksa," protes Sia dengan kesal.
Cressida mendelikkan matanya. "Aku gak mikir aneh-aneh ya, Kak."
Pipi Cressida memerah menahan malu. Dia tak menyangka jika Kakaknya itu mengetahui apa yang dia pikirkan. Entah kenapa gadis itu memang takut akan malam pertama. Dia teringat teman-temannya pernah mengatakan jika awal-awal pasti merasakan sakit.
"Kakak."
"Hmm?"
"Dulu malam pertama Kakak apa sakit?" Pertanyaan Cressida yang absurd membuat Sia spontan menolehkan kepalanya lagi.
"Maksudnya, kata temen-temenku dulu awal ngelakuin itu sakit. Apa sakit banget, Kak?"
Sia tersenyum jahil. Dalam hati dia ingin membuat adiknya itu tak berpikiran hal-hal tentang ini lagi. Akhirnya ibu dari Venus itu memiringkan tubuhnya dengan pelan. Lalu menyangga kepalanya agar bisa menatap wajah adiknya itu.
"Malam pertama itu sakit," kata Sia dengan wajah pura-pura serius. "Bahkan ada gadis yang sampai menjerit ketika pertama kali suaminya berusaha merasukinya karena sangking sakitnya."
Cressida menelan ludahnya paksa. Spontan wajah yang awalnya dipenuhi rasa penasaran mulai berubah. Gadis itu ketar-ketir takut saat mendengar cerita kakaknya ini.
"Menurut Dokter juga, ada yang sampai pingsan kalau gak kuat."
"Apa!" Cressida terkejut. Bahkan tanpa sadar perempuan itu menjerit sangking takutnya.
Dia seperti kesusahan untuk menelan ludahnya. Perasaannya tak menentu dan dirinya begitu ketakutan. Bagaimanapun Cressida bertanya karena hendak menikah. Namun, dia tak menyangka jika cerita teman-temannya adalah kebenaran.
Melihat adiknya yang sukses ketakutan membuat Sia menahan tawanya dengan puas. Dirinya tak menyangka jika pernyataan yang dibuat-buat berhasil membuat otak adiknya tak mesum lagi. Namun, sangking lucunya wajah Cressida membuat Ibu dari si kembar tak lagi menahan tawanya.
Dia tertawa begitu terbahak hingga mengejutkan Cressida yang melamun. Gadis itu mulai menatap sang Kakak dan menyadari jika sedang ditipu. Hingga hal itu membuat calon istri dari Riksa itu beranjak duduk dan melemparkan bantal ke arah sang Kakak.
"Kakak menipuku yah?" sungut Cressida kesal.
Sia tak berhenti tertawa. Bahkan perempuan itu sampai duduk dan memegang perutnya. Sungguh wajah calon istri Riksa itu begitu lucu menurutnya. Apalagi ketika Cress melamun dan ketakutan semakin membuat Sia tak tega untuk terus menjahilinya.
"Kakak," rengek Cress sebal.
"Hahaha...oke...oke." Galexia mengangguk.
Dia mulai mengatur nafasnya dan mencoba menghentikan tawanya. Tingkahnya yang baru ini, sepertinya akan menjadi hobi terbarunya.
"Malam pertama memang sakit, tapi…." jeda Sia dengan menatap wajah Cressida dengan lekat. "Suami kita pasti bisa mengalihkan bagaimana sakit itu tak akan menyakitkan. Percayakan saja semuanya pada Riksa. Kakak yakin dia akan memperlakukanmu dengan lembut."
Cressida terdiam. Namun, otaknya terus meresapi setiap apa yang dikatakan oleh sang Kakak. Posisi keduanya saat ini duduk berhadapan dan terhalangi tubuh Venus yang berbaring di antara mereka. Tanpa keduanya sadari, canda tawa yang tadi meledak ternyata membangunkan Venus.
Gadis kecil itu tentu mendengar apa yang dikatakan oleh sang Mama. Hingga tubuh mungilnya itu dia paksa berbalik dan bibir nya mengeluarkan pertanyaan yang membuat kedua wanita dewasa disana tercengang.
"Malam peltama itu apa, Ma? Kenapa Mama sama Tante bilang sakit? Apa Mama sama Tante bakalan pelang sama Papa dan Om Liksa?"
~Bersambung~
Iya, Nak. Mama sama Papamu mau perang biar tambah personil. Hahaha.
Kaburrr, otaknya jan mesomm woy.
Aku bakalan ngetik lagi yah. Tapi nunggu pulang vaksin.
Jangan lupa klik like, komen dan vote. Terima kasih.