The Billionaire Twin'S Baby

The Billionaire Twin'S Baby
Kecelakaan




Sebuah langkah kaki sedang berpacu cepat berlari menuju ruangan yang tadi diberitahukan kepadanya. Jas yang membalut tubuhnya sudah dibuka karena membuatnya semakin sesak nafas. Sungguh kabar yang baru saja disampaikan kepadanya membuatnya begitu khawatir. 


Dibukanya pintu tempat sosok dua orang yang dia sayangi berada. Matanya melebar ketika menyadari jika wanita yang memenuhi hatinya masih tak sadarkan diri. Segera di berlari mendekat dan mencium kening Mars lembut.


"Percaya sama, Om Riksa. Mama pasti baik-baik saja," katanya setelah menghapus air mata yang menetes dari kedua mata pria kecil tersebut. 


Tanpa menunggu siapapun, Riksa segera menggendong Sia keluar dari sana. Dia akan membawa wanita tersebut ke rumah sakit. Pikiran-pikiran buruk hinggap di otaknya yang semakin membuatnya kalang kabut. 


Setelah memasukkan Sia dan Mars ke dalam mobil. Riksa mengucapkan terima kasih kepada semua orang yang sudah membantunya. Tanpa banyak bicara, dia segera mengemudikan kendaraan miliknya agar sampai ke rumah sakit dengan cepat.


"Apa yang sebenarnya terjadi, Mars? Bukankah Mama Sia tadi baik-baik saja?" tanya Riksa sambil matanya menatap dari kaca kecil ke arah belakang. 


Mars hanya diam. Bahkan pria kecil itu tak tahu harus mengatakan apa. Jika dirinya bercerita, Mars takut akan semakin menimbulkan masalah. Akhirnya dia memilih diam sambil tangannya mengusap rambut sang mama. 


Tak lama mobil yang dikendarai Riksa berhenti di depan pintu darurat. Saat itu juga dari dalam rumah sakit, keluar sebuah brangkar dengan para perawat. Riksa segera membopong Sia dan meletakkannya ke atas brangkar. Lalu dia meraih Mars ke dalam gendongannya dan mengikuti langkah para suster yang membawa Sia.


****


Sudah hampir tiga puluh menit, Riksa menunggu di depan ruang IGD. Terlihat dua orang pria berbeda usia itu saling duduk berdampingan di kursi tunggu. Terlihat sekali di raut wajah keduanya penuh kekhawatiran dengan kondisi Sia.


"Apa Mama akan baik-baik saja, Om?" tanya Mars menatap wajah Riksa yang duduk di sampingnya.


Riksa mengangguk. Lalu dia mengelus kepala Mars dengan lembut. "Om yakin Mama Sia akan baik-baik saja, Nak." 


Bersamaan dengan itu, pintu ruang IGD terbuka dan keluarlah seorang perempuan dengan pakaian bersneli putih mendekat ke arah keduanya.


"Bagaimana, Dokter?" tanya Riksa sambil tangannya menggandeng tangan mungil Mars.


"Sepertinya pasien mengalami shock berat. Bahkan dia juga merasa tertekan dengan suatu hal. Ditambah dia kelelahan mengakibatkan tekanan darahnya rendah dan dia pingsan."


"Tekanan?" ulang Riksa yang dijawab oleh dokter. 


Pria itu spontan menatap Mars yang malah membuang pandangannya. Dia mengerutkan keningnya curiga dan meyakini jika ada suatu hal yang membuat Sia pingsan.


"Terus bagaimana keadaannya sekarang, Dokter?" tanya Riksa dengan serius. 


"Kita tunggu pasien sadar dan melakukan pemeriksaan lebih lanjut. Sekarang pasien akan saya pindahkan ke ruang rawat." 


Riksa hanya bisa mengiyakan. Lalu dia segera menarik Mars ketika dokter tersebut berlalu menjauh dari mereka. Riksa tak bertanya karena dia bisa menebak jika Mars hanya akan diam.


Hingga tak lama, saat mereka menunggu, suara panggilan dari ponsel Riksa membuat perhatiannya teralih. Dia segera mengangkat panggilan itu saat melihat nama Leo disana.


"Ya, Leo?" sahut Riksa setelah mengangkat panggilan tersebut.


"Kau dan Sia ada dimana? Aku ada di gedung pernikahan tapi kenapa tak menemukan kalian?" tanya Leo dengan nada suara kesal. 


"Apa! Kirimkan alamatnya. Aku kesana sekarang," katanya sebelum menutup panggilan. 


Setelah panggilan terputus, Riksa segera mengirimkan alamat rumah sakit dan meletakkkan ponselnya kembali. Lalu bersamaan dengan itu ranjang pasien Sia mulai didorong keluar. Riksa dan Mars segera mengikutinya dari belakang. Mereka sama-sama menatap wajah Sia yang terlihat begitu pucat. Namun, satu hal yang masih bergelut dalam pikiran Riksa, tentang apa yang sudah terjadi disana.


Terlalu fokus dan tak peduli sekitar, tanpa Riksa dan Mars ketahui, ada seseorang yang mengikuti mereka sejak keluar dari gedung pernikahan. Pria dengan kemeja putih tersebut, menutupi wajahnya dengan masker. 


Dia adalah Galaksi, pria yang sudah diusir oleh Sia tersebut ternyata tak juga pergi. Dia lebih memilih bersembunyi hingga mengikuti sampai ke rumah sakit. Jujur saat melihat Sia dibopong oleh pria lain, dirinya merasa cemburu. Bahkan melihat pancaran kekhawatiran dari matanya, mampu membuat Galaksi menebak jika pria itu mencintai mantan istrinya. 


Namun, fokus utama Galaksi saat ini hanya keselamatan Sia. Ingin sekali dia menggendong dan membawanya ke dalam pelukan. Tapi, mengingat reaksi Sia membuatnya harus mengurungkan niatnya. 


Setelah melewati beberapa lantai, akhirnya Galaksi bisa melihat dimana ruang rawat Galexia. Dia mengingat dengan jelas agar bisa mengunjungi wanita itu ketika Sia sudah siuman. Saat Galaksi hendak menuju lift, matanya membulat ketika melihat sosok sahabatnya keluar dari sana. Dengan cepat dia bersembunyi dibalik di dinding saat melihat Leo berjalan ke arahnya.


"Mau kemana dia?" tanyanya pada dirinya sendiri.


Galaksi tetap memantau, hingga matanya semakin terbelalak saat melihat sahabatnya masuk ke ruangan yang sama dengan Sia tempati.


"Apa maksud semua ini? Apa Leo sudah tahu dimana selama ini Sia berada?" gumamnya dengan tangan terkepal kuat.


Sungguh dia merasa dikhianati oleh sahabatnya sendiri. Dia merasa menjadi orang bodoh saat bercerita dengan Leo saat di ruangannya. Hingga ingatannya kembali memutar dan menebak apakah selama ini sahabatnya itu memang menyembunyikan keberadaan Sia darinya.


"Itu berarti saat aku bicara dengan Leo di ruangannya, dia sudah tahu jika Mars adalah anak Sia dan mereka ada disini?" 


Tak ingin emosinya semakin memuncak, Galaksi segera pergi dari sana. Dia membawa mobilnya dengan kecepatan tinggi sambil pikirannya melayang entah kemana. Sungguh dia masih merasa khawatir akan kesehatan Sia, apalagi dia belum bisa melihatnya langsung dengan mata kepalanya sendiri. Namun, kebenaran yang baru saja dia lihat. Rasanya Galaksi ingin memukul wajah sahabatnya itu.


"Sejak kapan Leo tahu dimana Sia berada?" tanya Galaksi dengan tangan semakin mencekram kuat setir kemudi.


Hingga akhirnya lamunan Galaksi terputus saat mendengar suara klakson nyaring hingga membuatnya membanting setir kemudi dan menabrak pembatas jalan. 


Nafasnya terengah-engah dan kepalanya terasa sakit hingga tak lama Galaksi merasakan cairan basah mengalir dari dahinya. Namun, dalam keadaan seperti ini, dia sudah tak peduli dengan keadaannya. Melainkan, Galaksi menyandarkan punggungnya di kursi kemudi dengan mata terpejam. Tapi sebelum kesadarannya hilang. Dia masih memikirkan satu hal yang selalu membuat pikirannya kacau.


"Jika Mars adalah anak Sia. Apakah dia memang anakku?" 


~Bersambung~


Pakek cemburu lagi, emang lo siapanya Sia woy? astaga!


Mangkanya kalau nyetir juga, jangan sambil ngelamun. Bang. Banting setir kan kalau begini, dasar tukang ngerepotin, hihi.


Maaf baru update yah. Baru selesai ngetik dan revisi. Hari ini si kecil rada rewel dan gak mau lepas dari emaknya.


Jangan lupa like dan komennya ya. Dari lihat komen dan like kalian, semangat updateku semakin tinggi.


Thankyuu..