The Billionaire Twin'S Baby

The Billionaire Twin'S Baby
Duo Dakjal




Terlalu fokus akan ketakutannya, hingga Cressida tak sadar jika dua sosok itu berjalan ke arahnya. Sampai saat dirinya hendak berbalik, tiba-tiba tangannya ditarik kuat dan membuatnya tersadar. 


"Papa," panggil Cress dengan wajah penuh ketakutan. 


"Kemana saja kamu, hah?" seru seorang pria paruh baya dengan mata mendelik tak suka. "Kamu tau, gara-gara kamu Madam marah dan meminta uang hasil penjualan harus kembali." 


"Maafkan aku, Pa. Tapi aku tak mau ada disana," kata Cress dengan air mata mulai merebak di kedua matanya.


"Jangan banyak alasan. Ingat! Kamu harus kembali kepada mereka," serunya penuh penekanan.


"Waw. Tenang, Tuan Castor. Bukankah saya mengundang Anda untuk menyampaikan sesuatu. Kenapa menjadi seperti ajang pembalasan dendam?" kata Riksa menarik tangan Castor dan menjauhkannya dari lengan Cressida.


Castor menoleh. Pria paruh baya itu menatap memicing ke arah Riksa. Meneliti dari penampilannya yang rapi dan berkelas membuat dirinya berpikir dalam diam.


"Lebih baik kita duduk dan saling berbincang. Bukan begitu, Cress?" tanya Riksa menatap lembut ke arah wanita yang mulai menangis.


Tanpa mereka sadari, jika tangan Riksa yang masih menggantung sudah mengepal kuat. Dirinya bukan tak mendengar. Namun, dia pura-pura tak tahu karena menjaga nama baik Cressida. Tapi melihat perlakuan pasangan suami istri yang begitu kasar, tentu membuat Riksa yakin jika kehidupan Cressida selama ini jauh dari kata kehangatan dalam keluarga.


"Ayo." Riksa menggenggam tangan Cress dan membawanya duduk di sebuah kursi yang ada disampingnya. 


Lalu diikuti oleh pasangan suami istri, Castor dan Carina dibelakangnya. Setelah semuanya duduk dengan tenang, Riksa mengangkat tangan untuk memanggil pelayan. Dirinya ingin melayani sosok dua manusia yang merupakan orang tua dari wanita yang dia selamatkan.


"Jangan malu-malu. Kalian boleh makan apapun itu," kata Riksa tersenyum miring.


Perkataan pria tampan itu membuat Castor dan Carina saling memandang. Keduanya sama-sama begitu penasaran siapa sosok pria yang ada di samping putrinya ini. Namun, untuk melihat seberapa kaya pria itu, baik Castor dan Carina memesan makanan yang paling mahal. Bahkan keduanya tanpa malu memilih lebih dari satu menu.


"Kau yakin bisa membayar semuanya?" tanya Castor setelah pelayan tersebut pergi membawa kertas pesanan mereka.


Riksa tersenyum. Dia meletakkan kedua tangannya di atas meja dan sedikit mencondongkan dirinya. 


"Jika kalian ingin membeli restaurant ini pun, bisa saya kabulkan sekarang juga," katanya dengan seringai sombong. 


Bukannya tertawa, Castor dan Carina saling mengepalkan kedua tangannya. Dia merasa sedang direndahkan oleh sosok pria yang baru saja mereka temui ini. Namun, tetap saja kedua orang itu menahan segenap gejolak amarah untuk melihat seberapa kaya pria yang ada di hadapannya ini. 


"Sombong sekali. Jangan menangis jika pulang dari sini, kau akan menangis karena tabunganmu habis."


"Mama," kata Cressida yang tak tahan akan hinaan kedua orang tuanya.


Sungguh sebagai sosok wanita yang telah ditolong oleh Riksa, tentu dirinya merasa malu melihat kelakuan kedua orang tuanya. Benar-benar keduanya tak ada rasa penyesalan atau khawatir setelah melihat kedatangannya. Sungguh Cressida benar-benar tak habis pikir, adakah manusia lain yang sifatnya seperti Castor dan Carina di dunia ini? 


"Jangan ikut campur, Anak sialan," seru Castor menatap tajam ke arah Cressida. "Kau selalu merepotkan kedua orang tuamu ini." 


Tak ada lagi rasa sakit di hati Cressida. Dia bahkan sudah mati rasa akan hinaan yang terlontar dari mulut kedua orang tuanya. Bahkan menurut dirinya, semua makian itu tak sebanding dengan rasa sakit yang dirasakannya selama ini.


Tapi berbeda dengan Riksa. Pria itu sudah begitu murka. Bahkan bisa dia rasakan jika tekanan jantungnya mulai berpacu. Aliran darahnya semakin cepat dan menandakan jika dirinya benar-benar begitu emosi. 


Dirinya tak habis pikir dengan mulut pedas dua manusia paruh baya ini. Bahkan dengan entengnya keduanya mengatakan jika Cressida adalah sosok anak sialan. Dengan gampangnya mereka mengatakan itu tanpa melihat bagaimana perasaan seorang Cressida. Riksa menoleh, dia tak bisa membaca pikiran wanita disampingnya ini karena ekspresi wajahnya datar-datar saja. Namun, dia yakin, jika di sudut hati wanita itu pasti merasakan sakit yang luar biasa.


"Apa kalian tak punya malu? Berteriak dan memaki anak kalian sendiri di hadapan publik?" tanya Riksa mengangkat alisnya.


Pria itu berusaha menahan segenap emosinya. Dia menetralkan degup jantungnya yang terus berpacu dan ingin setenang mungkin untuk menghadapi dua manusia dajjal ini. 


"Oh, silahkan duduk, Nyonya. Apa Anda tak tahu adab makan malam yang benar?" kata Riksa tersenyum miring. "Anda harus tetap diam di meja makan sebelum kita makan dan selesai. Jadi, silahkan duduk!" 


Perkataan Riksa yang tegas dan penuh penekanan semakin membuat Carina terbakar emosi. Namun, dia tak mau semakin dipermalukan. Dengan kesal, dirinya kembali duduk dan meletakkan tasnya dengan kasar.


Tak lama, para pelayan mulai berdatangan membawa pesanan mereka. Satu persatu makanan itu mulai ditata hingga meja besar itu terlihat begitu penuh. Hingga hal itu tentu semakin membuat Cressida tak enak hati.


"Kenapa Mama dan Papa pesan sebanyak ini?" tanyanya mengutarakan isi hatinya.


"Diam!" seru Carina menunjuk anaknya.


"Sudahlah, Cress. Lebih baik kau makan makananmu itu," kata Riksa dengan tersenyum penuh arti. "Biarkan kedua orang tuamu makan dengan lahap malam ini. Mungkin selama kau pergi, mereka tak makan dengan benar." 


Akhirnya tanpa mengindahkan tatapan tajam dua paruh baya itu, baik Riksa ataupun Cress mulai memakan makanannya dengan tenang. Bahkan keduanya terlihat begitu elegan dan memakan dengan lahap. 


Hingga acara makan malam itu mulai berakhir. Kedua menu di piring Riksa dan Cressida pun habis tak bersisa. Keduanya dengan pelan menenggak minuman mereka dengan mata melirik ke arah Castor dan Carina yang berusaha menelan makanan mereka.


Sampai suara dentingan gelas bersentuhan dengan meja. Menandakan jika Riksa sudah menyelesaikan makan malamnya.


"Jangan dipaksakan jika kalian sudah tak kuat. Biarkan saja, saya pasti tetap membayarnya," kata Riksa menatap datar pasangan suami istri itu. 


Dengan menahan malu, Carina dan Castor meletakkan sendok garpu mereka dan menenggak minumannya. Setelah itu para pelayan mulai membawa semua bekas piring itu dan meletakkan makanan penutup di meja mereka.


"Sebenarnya apa yang kau inginkan?" kata Castor dengan menatap Riksa tajam. "Aku yakin tujuanmu bukan hanya untuk makan malam, 'bukan?" 


Riksa tersenyum miring. Dia menghentikan tangannya yang sedang menyendok puding lalu menatap pria paruh baya tersebut. "Anda begitu pintar, Tuan." 


"Cepat katakan apa tujuanmu!" 


"Aku kesini ingin melamar anak kalian yaitu Cressida untuk menjadi istriku." 


Degup jantung Cressida berdegup kencang. Dia menatap Riksa tak percaya. Seakan dia merasa jika semua ini adalah mimpi. Namun, tiba-tiba dia tersentak kaget. Tangannya yang di genggam lembut oleh pria di sampingnya, membuat Cress yakin jika ini bukan mimpi.


Bergantian Castor yang tersenyum miring. Dia meletakkan kedua tangannya di atas meja dan mencondongkan tubuhnya agar lebih dekat dengan Riksa.


"Memangnya kau punya apa untuk diberikan kepada kami, hah?" tanya Castor dengan sombong. "Kami sudah banyak menghabiskan uang untuk membesarkan dirinya." 


Sakit! 


Itulah yang dirasakan oleh Cressida. Bahkan tanpa sadar genggaman tangannya pada Riksa semakin erat. Dirinya tak menyangka jika kedua orang tuanya akan secinta itu dengan uang daripada dirinya.


"Aku punya uang. Sebutkan saja berapa yang kalian minta agar aku bisa menjadikan Cressida sebagai istriku?" 


~Bersambung~


Hiyaa tebak berapa nominal yang diminta dua dakjal ini? aku kok gemes sama pasangan ini yah.


Kesel bet pen nabok online, haha.


Jangan lupa klik like, komen dan vote ya sebagai bentuk apresiasi karya ini.


Like yang banyak biar aku cepet up lagi!