The Billionaire Twin'S Baby

The Billionaire Twin'S Baby
Aksi Galaksi




Suara tangisan memenuhi kendaraan roda empat itu. Saat ini mereka sedang dalam perjalanan ke rumah Flora. Ya, Galexia membuat keputusan. Dia meminta suaminya mengantar dia dan Tania ke rumah Flora karena panggilan itu tak kunjung tersambung.


Hal itu tentu membuat hati Galexia tak beraturan. Dia takut terjadi sesuatu pada ibu dari teman anaknya itu. Dirinya benar-benar berpikiran tentang perkataan Flora saat di rumah sakit. Perkataan itu seakan terus berputar dan semakin menambah ketakutan pada dirinya. 


"Tenanglah, Sayang. Lihatlah! Jika kamu terus menangis, Tania akan semakin sedih," kata Galaksi sambil terus menatap ke depan.


"Maafkan aku, Kak." Galexia memeluk tubuh Tania yang terus menangis memanggil mamanya. 


Bocah itu seakan begitu khawatir pada keadaan Flora. Dia takut, ya lebih tepatnya trauma dengan tingkah laku papanya. 


"Jangan menangis, Sayang," bujuk Sia sambil mencium kepala Tania. "Kita berdoa semoga Mama baik-baik saja." 


"Tania takut, Mama." 


"Percaya sama Mama Sia. Mama Flo akan baik-baik saja," kata Galexia dengan harapan yang tinggi.


Entah apapun yang terjadi. Galexia yakin jika tetangga yang baru saja menjadi temannya itu pasti baik-baik saja. Ibu dari si kembar masih mencoba meyakinkan diri jika Flora mungkin sedang sibuk.


Sampai mobil yang membawa mereka mulai memasuki halaman rumah Flora. Mata mereka semua membelalak. Keadaan rumah benar-benar macau balau.


Kaca-kaca itu sudah tak berbentuk. Pecahan kaca dan pot bunga sudah berceceran. Jangan lupakan, suara makian dan lontaran terdengar jelas yang semakin membuat Tania meronta.


"Mama," panggil Tania mencoba keluar.


"Jangan, Nak. Jangan!" Galexia mengeratkan pelukannya.


Tanpa dirinya masuk. Galexia bisa membayangkan apa yang terjadi di dalamnya. 


"Kamu mau kemana, Kak?" kata Sia saat melihat suaminya hendak membuka pintu mobil.


"Aku akan keluar dan melihat ke dalam."


"Nggak." Galexia menggeleng. Dia memegang tangan suaminya dengan erat karena takut sesuatu terjadi padanya. "Jangan kemana-mana."


"Sayang."


"Aku takut. Papanya Tania benar-benar menakutkan," kata Sia dengan suara lirih.


Matanya berkaca-kaca. Bayangan bagaimana kelakuan Papa Tania yang kasar dan suka memukul. Tentu sangat diingat oleh Sia. 


"Aku akan baik-baik saja."


"Nggak. Kakak gak kasihan sama anak-anak." 


Galaksi menghela nafas berat. Dia tak boleh gegabah. Namun, mendengar suara teriakan dari dalam rumah, membuat pria itu juga merasa tak tahan untuk cepat masuk.


"Sia," panggil Galaksi dengan lembut. "Percayalah padaku, Sayang."


"Tapi…"


"Apa kamu mau anak sekecil dia, kehilangan ibunya?" 


Deg.


Jantung Galexia mencelos. Matanya spontan menatap Tania yang masih menangis sambil memanggil ibunya. Tentu jiwa keibuannya seakan keluar. Ibu dari si kembar tak mampu membayangkan jika perkataan suaminya benar-benar terjadi. 


"Aku mohon, Sayang. Demi nyawa seseorang dan kebahagiaan seorang anak." 


Galexia menatap mata suaminya. Dia menggenggam tangan itu dan menciumnya.


"Aku mohon jaga diri, Kak. Kembalilah dengan selamat." 


"Tentu," sahut Galaksi dengan mengangguk.


Lalu dia segera keluar dari mobil. Namun, sebelum menutup pintu, dia menyerahkan ponselnya dan membuat Sia bingung.


"Segera telepon polisi!" 


Sia menerima ponsel itu dengan hati yang berat. Lalu matanya terus menatap punggung sang suami yang berlari masuk ke dalam rumah. Tak tinggal diam, Sia segera menghubungi nomor polisi yang diberitahukan oleh suaminya. 


Dia benar-benar tak tahu apa-apa tentang negara ini. Tapi yang pasti, dia percaya yang namanya penegak hukum akan membantu mereka sebentar lagi.


****


Baru saja langkah kaki itu masuk ke rumah yang begitu asing di matanya. Bibir itu tersenyum miris. Tak ada lagi keindahan di dalamnya. Semua barang terlihat hancur lebur tak beraturan. Kursi yang berantakan seperti bekas tendangan dan darah.


Ya, disana ada tetesan darah di setiap lantai menuju atas. Tanpa menunda Galaksi spontan berlari. Telinganya tentu mendengar suara tangisan, rintihan seorang perempuan dan makian serta umpatan dari pria yang belum dia tahu wajahnya. 


Galaksi mengintip. Dia melihat dari tangga, apa yang terjadi di lantai dua. Tangannya spontan terkepal saat melihat pria yang baru dia temui, sedang menyiksa wanita yang merupakan ibu dari Tania.


Benar-benar biadab pria seperti ini.


Galaksi benar-benar tak habis pikir. Menurutnya kekejaman KDRT hanya ada di televisi. Namun, dengan mata kepalanya sendiri, dia melihatnya secara langsung sekarang.


Apalagi keadaan ini benar-benar sangat keji. Disana, pria yang merupakan ayah dari Tania menggauli Flora dengan liar. Ah bukan menggauli lebih tepatnya memperkosa istrinya sendiri. 


Keadaan Flora benar-benar tak berdaya. Tangannya terikat dengan kuat, rambutnya dijambak dengan tekanan kuat di punggungnya yang semakin membuatnya tak bisa bergerak.


"Lepaskan aku, Brengsek! Kamu memang manusia binatang," seru Flora dengan tatapan tajam.


"Mulutmu itu memang kasar, Flo. Tapi aku semakin bergairah melihatmu." 


Galaksi tak bisa membiarkan. Dia mencoba tak menimbulkan suara. Perlahan tapi pasti, langkah tiap langkah Galaksi lakukan. Posisi pria itu yang membelakangi Galaksi membuatnya tak tahu jika ada orang lain disana. 


Dengan pelan, Galaksi meraih sebuah tongkat bisbol yang entah dari mana asalnya. Namun, melihat bekas darah di sana, dia berpikir pasti benda ini telah dipakai oleh pria gila itu.


Dengan sekali ayunan, bugh!


"Aghh." Pria itu memegang kepala belakangnya. 


Dia berhenti bergerak sampai tubuhnya oleng ke samping dan pingsan.


Flora tentu segera berbalik. Dia menatap wajah Galaksi yang sedang mengecek kondisi suaminya itu.


"Kamu baik-baik saja, Flo?" tanya Galaksi sambil melepas kemejanya.


Dia memakaikan kemeja itu agar tubuh Flora yang pakaiannya sudah rusak tak terlihat.


"Terima kasih banyak, Tuan." 


"Jangan panggil aku Tuan, Flo. Kita adalah tetangga dan kamu teman istriku." 


Flora mengangguk. Perhatian keduanya lalu beralih saat mendengar suara anak kecil memanggil. 


"Mama."


"Taniaku." 


"Kakak." Galexia mendekat.


Dia mengecek tubuh suaminya dengan khawatir. 


"Aku baik-baik saja, Sayang."


"Lalu dia?" tunjuk Sia pada sosok pria yang tak sadarkan diri.


"Aku memukulnya agar melepas Flora dari perlakuan biadabnya." Galaksi bergerak, dia merobek kaos dalamnya dan menjadikan sebuah tali untuk tangan ayah dari Tania.


Tak lama, polisi mulai datang dan segera meringkus pria itu dan membawanya keluar dari rumah. Galaksi dan Galexia mengikuti langkah mereka. Dia ingin memastikan pria itu tak kabur.


"Saya akan mengirimkan orang kepercayaan saya, kesana. Tolong kasus ini bawa sampai dia dipenjara!" 


Setelah kepergian para polisi. Galexia memeluk tubuh suaminya. Dia bersyukur polisi itu tak datang terlambat. Pikirannya sejak tadi sudah tak tenang dengan apa yang terjadi di rumah itu.


"Kakak benar-benar baik-baik aja, 'kan?" 


"Iya, Sayang. Aku baik-baik saja," kata Galaksi dengan yakin. "Kenapa wajahmu seperti itu?" 


"Aku khawatir, Kak." 


"Aku disini disampingmu, Sayang."


"Jangan tinggalin aku. Paham!" 


"Aku tak akan meninggalkanmu sampai kapanpun," sahut Galaksi mengelus kepala istrinya.


"Janji." 


"Promise, Honey."


~Bersambung 


Masih selamat Mama Flo. Demi pembaca budiman nih, hihi.


Inget yah! Season 1 tamat gak sampai si kembar dewasa. Ini kan novelnya baby twins. Jadi sik kicik-kicik.


Jangan lupa klik like, komen dan vote.