The Billionaire Twin'S Baby

The Billionaire Twin'S Baby
Kisah Baru Cressida Antariksa




Entah berapa lama Riksa duduk diam di ruang tamu sambil mengerjakan pekerjaannya. Tiba-tiba suara gesekan dan ketukan peralatan dapur membuatnya terganggu. Dia segera meletakkan ponselnya di atas meja lalu mulai menurunkan kakinya dan berdiri untuk menuju ke sumber suara.


Saat dirinya mulai berjalan, matanya membulat penuh. Dia menatap tak percaya ke arah wanita yang sedang menikmati sebuah mie instan miliknya. Riksa bahkan tanpa sadar berjalan ke arah wanita itu dan langsung menepuk pundaknya.


"Astaga!" Perempuan itu memegang dadanya.


Dia menatap ke belakang dengan mulut yang penuh akan mie instan. Bibirnya tiba-tiba tersenyum kaku dengan badan yang berbalik dan tangan menutupi mulutnya.


"Apa kau mencari sesuatu?" tanya wanita yang baru saja selesai menelan mie instan di dalam mulutnya.


"Kau masih lapar, hah?" Bukannya menjawab, Riksa malah bertanya hal lain.


Dia sungguh tercengang dengan porsi makan wanita ini. Padahal baru saja dia menghabiskan sepiring nasi goreng dan sebagian sisa nasinya. Lalu sekarang ditambah mie instan dua bungkus.


Astaga! Benar-benar wanita luar binasa, batin Riksa menjerit. 


"Hehehe." Wanita tertawa kaku. Dia menggaruk kepalanya yang tak gatal dan mengangguk. "Maafkan kelancanganku. Perutku masih lapar dan aku menemukan mie instan. Jadi aku memasaknya." 


Riksa hanya bisa menghela nafas lelah. Tanpa menjawab dia segera berbalik dan meninggalkan wanita yang masih menundukkan kepalanya. Entah kenapa ada perasaan bersalah di dalam sudut hatinya. Dia merasa sudah begitu lancang pada sosok pria itu hingga membuatnya mengekori Riksa lalu menarik tangannya.


"Maafkan aku," ucapnya dengan menggenggam tangan kanan Riksa.


Riksa menepis genggaman tangan itu. Dia memberikan tatapan tajam pada wanita itu hingga membuat rasa bersalah begitu bercokol di hatinya.


"Jangan pernah memegang tanganku semaumu!" seru Riksa menunjuk wanita itu. "Aku paling tak suka dipegang dahulu."


"Maafkan aku." Wanita itu tetap bersikeras. Dia menatap wajah Riksa dengan pandangan menyesal hingga membuat hati pria itu berdebar kencang.


"Bersihkan dapur jika kau selesai makan," ucap Riksa menatap tegas pada wanita itu. "Aku tak suka tempatku berantakan dan aku tak marah padamu." 


Wanita itu menatap tak percaya ke arah Riksa. Dia sungguh tak menyangka jika pria itu tak marah sedikitpun pada dirinya. Padahal menurutnya dia sudah terlalu lancang. Namun, ekspresi pria itu hanya biasa saja seakan apa yang dia lakukan bukanlah masalah besar. 


"Baik. Aku akan membersihkan dapur sampai bersih," kata wanita itu cepat. 


"Bagus," sahut Riksa mengangguk. "Lalu sampai kapan kau akan menumpang di apartemenku?" tanya Riksa dengan melipat kedua tangannya di depan dada.


Pria itu tak mau menahan wanita di depannya ini terlalu lama. Dia tak mau jika ini semua diketahui oleh Mama Alya yang mampu membuatnya ada dalam masalah. Dia yakin mamanya akan berpikiran buruk jika melihat semua ini, atau yang paling berat bisa-bisa dia ditendang dari kartu keluarga. 


Mamanya sangat menjunjung harga diri wanita. Bahkan dari dulu, Riksa selalu diajarkan untuk tidak merendahkan harga diri seorang wanita. Maka dari itu, sampai saat ini pria itu tak pernah menikmati apa itu indahnya surga dunia. Dia benar-benar menurut akan nasehat mamanya dan akan melalui itu semua dari proses yang sesuai. 


"Aku tidak tau," ucap wanita itu dengan tatapan bingung.


"Kau tak bisa tinggal selama itu di sini. Aku tak mau mamaku salah paham akan keberadaanmu," kata Riksa jujur.


Wanita itu semakin menatap kagum ke arah Riksa. Dia begitu kagum akan keberanian dan kejujuran pria itu. Bahkan sikapnya yang tak kurang ajar dan  mengambil kesempatan di saat dia mabuk, membuatnya semakin percaya jika pria itu sungguh begitu baik. Hingga perlahan, ada sebuah perasaan bahagia dan ingin mengenal pria itu semakin dalam.


"Kenapa kau malah tersenyum sambil menatapku?" kata Riksa dengan memicingkan matanya. "Jangan bilang kau suka padaku dan baru menyadari jika aku tampan."


Astaga! Pria ini terlalu percaya diri, gerutu wanita itu dalam hati.


"Jangan menggerutu dalam hati," tebak Riksa yang tepat sasaran.


"Siapa yang menggerutu?" tanya wanita itu dengan ekspresi dia buat setenang mungkin.


"Cepat bersihkan dapur itu dan pikirkan berapa lama kau akan disini," seru Riksa sekali lagi.


Mereka masih berdiri berhadapan. Seakan di antara keduanya masih belum rela untuk saling memutuskan pembicaraan ini. Seakan pembicaraan mereka yang selalu dilalui dengan perdebatan menjadi sebuah kesenangan di antara keduanya.


"Bagaimana jika aku bekerja denganmu?" tawar perempuan itu setelah keduanya sama-sama diam. "Aku tak tahu harus kemana jika bukan disini." 


"Aku tak mau kembali pada keluargaku. Aku takut akan dijual lagi atau lebih parahnya akan dijadikan pelacur hanya untuk mendapatkan uang. Kumohon bantu aku!" 


"Tapi kehadiranmu akan menjadi bumerang jika masih ada disini. Mamaku tak akan percaya jika melihat kita tinggal satu apartemen dan bisa-bisa dia mengira kita sudah melakukan hal yang lebih jauh lagi." 


"Apa!" Perempuan itu terkejut. Dia menatap tak percaya ke arah pria itu hingga membuat otaknya begitu buntu. 


"Ya. Maka dari itu kau harus berpikir bagaimana langkahmu selanjutnya," kata Riksa dengan tegas.


"Aku belum tahu. Aku masih baru ada disini," kata wanita itu jujur.


"Maksudmu?" 


"Dulu aku tinggal di Indonesia. Lalu sampai satu bulan yang lalu, orang tuaku mengajak pindah kesini." 


Riksa semakin dibuat terpanah akan cerita wanita itu lagi. Dia tak percaya jika wanita itu lahir dan besar di negara yang sama dengannya.


"Jadi kau?" 


"Ya. Aku murni orang Indonesia," sahut wanita itu cepat.


"Tapi wajahmu?" 


"Mungkin aku masih ada keturunan bule. Walau ya jujur wajah orang tuaku tak ada yang kebule-bulean," kata wanita itu dengan perasaan ragu. 


Riksa hanya diam. Namun, di dalam pikirannya tersimpan banyak praduga yang muncul ketika satu persatu kehidupan wanita itu mulai diketahui olehnya. 


"Aku bahkan ragu jika diriku adalah anak mereka. Wajah saja tak ada kesamaan dan mereka rela menjualku hanya demi uang," katanya dengan tertawa sumbang. "Hidupku seperti cerita novel, 'bukan?" 


Riksa berdecak, dia menatap remeh ke arah wanita yang terlihat putus asa itu. "Berkhayal saja isi otakmu itu." 


"Ya kenyataannya memang seperti itu, 'kan?" 


"Jangan bicara yang aneh. Lebih baik katakan saja siapa namamu?" tanya Riksa dengan rasa penasarannya yang tinggi. "Jangan bilang kau lupa dengan namamu itu." 


"Enak saja." Wanita itu mendengus sebal. "Aku bukannya hilang ingatan." 


Wanita itu mengulurkan dirinya. Dia menatap Riksa dengan pandangan berbinar. 


"Namaku Cressida, yang bermakna cantik dan cerah," katanya dengan senyuman indah yang tersemat di sudut bibirnya.


Perlahan kedua sudut bibir Riksa sama-sama tertarik ke atas. Dia menerima uluran tangan itu dan menjabatnya dengan erat.


"Antariksa." 


Tanpa keduanya sadari, dari perkenalan itulah jalan takdir keduanya akan dimulai. Sebuah pertemuan yang tak biasa hingga pertolongan dan kedua sifat yang sama akan menjadi sebuah jalan awal untuk keduanya memulai cerita yang baru. Cerita yang entah akan berakhir dengan indah atau akan berakhir dengan perpisahan.


Hingga saat keduanya masih asyik bersalaman. Bunyi bel apartment membuat perhatian keduanya beralih. Riksa melepas jabat tangan mereka dan melihat siapa gerangan yang bertamu di tempatnya ini dari lubang pintu apartment.


"Mama."


~Bersambung~


Hiyaa hahaha Mama Alya datang disaat yang tidak tepat.


Maafkan aku baru update, aku baru bangun tidur siang. Efek cuaca mendung jadinya suka rebahan aja terus.


Jangan lupa klik like, komen dan vote yah, sebagai tanda apresiasi kalian.


Mau up lagi yuk tembus 250 like. Aku bakalan up lagi.