
Galexia membawa Tania ke ruang makan. Dia mendudukkan anak itu disana lalu dirinya berjalan ke arah lemari penyimpanan makanan. Wajahnya sumringah, melihat makanan sudah siap disana.
Galexia segera mengambil makanan itu dan dia hangatkan sendiri.
"Sayang," panggil Galaksi yang baru saja menyusul istrinya. "Ingat kata Dokter, kamu gak boleh kecapekan."
Galexia tersenyum. Dia menoleh lalu mengusap pipi suaminya dengan lembut.
"Aku tau, Kak. Aku hanya ingin meletakkan makanan ini di kotak makan. Apa Kakak tak merasa kasihan pada anak sekecil itu yang sudah kelaparan?"
Galexia memegang wajah suaminya dan menolehkan ke arah Tania yang sedang berbincang dengan Mars dan Venus. Wajah anak itu seakan menahan sakit di perutnya dengan tangan memegang perutnya terus.
Pemandangan seperti itu membuat Galexia sangat mengerti bagaimana laparnya Tania.
"Apa Kakak tega melihatnya seperti itu hmm? Aku tak bisa membayangkan jika Venus yang seperti itu."
"Sayang!" tegur Galaksi menggeleng. "Aku tak akan membiarkan anak-anakku merasakan kelaparan."
"Itu hanya perumpaan, Kak. Toh kita berbuat baik pasti kebaikan kita akan kembali pada kita sendiri," ujar Sia yang membuat Galaksi tak bisa membantah.
"Baiklah. Cepat selesaikan semua itu dan segera istirahat," kata Galaksi dengan sedikit cemberut.
Sia terkekeh. Dia memberikan kecupan mesra di pipi suaminya yang membuat ayah dua anak itu menoleh.
"Biar gak ngambek mulu," kata Sia lalu meneruskan kegiatannya.
Akhirnya setelah makanan sudah selesai dihangatkan. Galaksi membantu istrinya memindahkan di dalam kotak-kotak bekal. Dirinya tak pernah meragukan kebaikan Galexia.
Istrinya itu adalah wanita yang lembut sekaligus kuat. Dia memiliki kepekaan yang tinggi dan tak tegaan pada hal-hal yang menyedihkan.
"Nah, selesai," kata Sia lalu membawanya ke meja makan. "Ini, Sayang."
Tania mengangkat wajahnya. Bibirnya tersenyum lebar saat melihat tiga kotak bekal dengan sebotol minuman ada disana.
Sia bisa merasakan anak itu begitu bahagia. Dia ikut tersenyum melihat bagaimana rapuhnya anak sekecil ini yang dipaksa kuat oleh keadaan.
Keadaan dimana seharusnya Tania yang bahagia melewati masa-masa kecilnya. Sosok yang seharusnya masih manja dan bermain seperti anak kecil yang lain. Akhirnya harus dipatahkan oleh keadaan.
"Ini buat aku sama Mama, Tante?"
"Ya, Sayang," sahut Sia sambil mengusap pipi Tania. "Kamu ke rumah sakit dianter supirnya Mars sama Venus, 'kan?"
Tania mengangguk. "Iya, Tante."
"Yaudah. Ayo Tante antar ke depan," ujar Sia lalu membantu Tania turun dari kursi makan.
Namun, saat mereka hendak melangkah. Dress rumah yang dipakai oleh Sia ditarik hingga membuat ibu dua anak itu menghentikan langkahnya.
Sia membalikkan badannya dan melihat putranyalah yang menjadi tersangka.
"Ada apa, Abang?"
Mars terlihat ragu untuk mengutarakan keinginannya. Hal itu membuat Sia akhirnya memilih berjongkok di hadapannya.
"Kenapa?"
"Apa Abang boleh ikut Tania, Ma? Abang mau temenin Tania anter makanan ke rumah sakit?" pamitnya sambil menatap wajah ibunya.
Galexia dan Galaksi menahan tawanya. Namun, mereka mengangguk memberikan izin putra mereka menemani Tania ke rumah sakit.
"Venus ikut juga, Ma!" pekik anak itu memohon.
"Venus mau Venus mau!" ujarnya lagi yang mbuat bibir Mars cemberut.
Galexia beralih. Dia menatap putrinya dan mengusap wajahnya.
"Mama sama Papa gak ikut. Kalau Venus ikut, nanti kasihan Abang yang jagain kalian berdua. Gimana kalau Venus sama Mama di rumah saja?" tawar Sia dengan hati-hati.
"Iya, Sayang. Mama tahu. Venus sama Mama saja nanti ke rumah sakit. Sekarang, biarkan Abang jagain Tania sebentar. Gimana?"
Venus tak menjawab. Dia menatap sosok abangnya dan Tania bergantian. Melihat bagaimana Tania baik kepadanya entah kenapa membuat kepala mungil itu mengangguk.
"Yaudah. Abang harus jagain Tania yah! Gak boleh lecet. Ntal Venus nyusul sama Mama," kata Venus memberikan titah pada Mars.
"Oke."
...🌴🌴🌴...
Akhirnya dua anak itu mulai memasuki mobil. Galexia juga meminta salah satu ART yang dekat dengan Mars dan Venus untuk ikut dan menjaga keduanya.
"Kalau ada apa-apa, telfon Mama ya, Abang," kata Sia sambil menyembulkan wajahnya di jendela mobil.
"Iya, Mama."
"Hati-hati."
Setelah mengatakan itu, akhirnya mobil mulai melesat meninggalkan halaman rumah Galaksi. Suasana di dalam kendaraan roda empat itu masih sunyi sepi.
Hanya suara mesin dan lalu lalang kendaraam lain yang terdengar. Tania benar-benar merasa malu. Bahkan dia beberapa kali mencuri pandang dengan melirik sosok lelaki kecil yang selalu ia banggakan.
"Ada apa, Tania?" tanya Mars yang memergoki Tania meliriknya secara diam-diam.
"Emm gak apa-apa," sahut Tania sambil menggeleng.
Anak itu menatap ke depan sekarang. Tania sudah tak sabar untuk bertemu mamanya. Dia khawatir pada sosok yang saat ini terbaring di atas ranjang rumah sakit.
Hanya Mama Flo yang ia punya. Hanya Mama Flo yang selalu ada untuknya dan Tania tak mau kehilangannya.
Bayangan papanya yang jahat dan memukul mamanya membuat Tania meneteskan air mata. Anak itu masih merasakan sakit dalam dirinya. Masih merasakan takut dan trauma.
Hal itu tentu membuat Mars yang ada di sampingnya lekas menoleh. Dia segera meraih pundak Tania agar menoleh kepadanya.
"Ada apa, Tania?"
"Aku teringat Papaku," kata Tania sambil menangis.
Mars yang masih kecil tak tahu harus melakukan apa. Namun, yang ia ingat. Mamanya selalu mengatakan kepadanya, jika Venus sedih. Mars harus memeluk adiknya agar perasaannya tenang.
Akhirnya tanpa diduga, pria kecil itu menarik Vensu dalam pelukannya. Dia mengusap punggung kecil itu seperti yang selalu dilakukan Mamanya untuk menenangkan Venus yang menangis.
"Kata Mama, jangan terlalu dipikirkan hal-hal yang menyakiti hati kita, Tania. Mama selalu bilang, apa yang kita lalui sekarang, itu untuk tabungan kebahagiaan di masa depan."
Perkataan itu memang pernah dikatakan Galexia pada Mars. Saat mereka masih tinggal bertiga dulu. Galexia selalu mengajarkan anak-anaknya untuk memahami kondisi dan situasi mereka.
Ujian seberat apapun tak boleh ditangisi karena itu adalah salah satu bukti cinta Allah kepada hambanya.
"Tapi, Tania sayang Mama. Tania gak mau Mama sakit terus. Tania mau Mama sembuh dan bisa main sama Tania lagi."
Mars mengangguk. "Tante Flo pasti sembuh. Dia pasti semangat sehat karena punya Tania."
Interaksi keduanya dilihat oleh ART Galaksi. Dia menatap bangga anak majikannya itu. Lalu pandangannya tertuju pada supor si kembar yang ikut dibawa mereka kemari.
"Ajaran orang tua memang penting, 'kan, Pak? Lihatlah, Nyonya Sia berhasil mendidik putranya."
"Kamu benar. Sosok ibu adalah madrasah utama anak-anaknya. Jika mereka pandai mengajarkan dan mendidik putra putri mereka. Maka, bibitnya akan seperti Tuan Muda Mars."
~Bersambung
Ya memang itu kenyataan. Sosok Ibu itu berperan besar pada psikis dan mental anak-anak mereka. Di dunia nyata, hal seperti ini sangat penting.
Terima kasih, kalian yang udah ngasih tau obat-obat buat mules. Aku bakalan cobain satu-satu. Soalnya diapet aja gak mempan.
Jangan lupa klik like, komen dan vote. Biar author semangat ngetiknya.