
Kabar yang dibawa oleh Leo benar-benar mengejutkan. Sia begitu terkesiap saat mendengarnya. Bahkan dia masih mengingat saat Galaksi mengantarkan kedua anaknya. Keadaan pria itu begitu baik-baik saja.
Dengan ragu, akhirnya Sia segera berangkat ke rumah sakit. Rengekan dan ajakan Leo dan Venus tentu saja membuat Sia tak tega untuk menolaknya. Hingga akhirnya, mereka ada disini. Di dalam mobil yang dikendarai oleh Leo dengan Venus yang masih menangis.
"Papa kenapa, Mama?" tanya Venus di sela-sela isak tangisnya.
"Mama gak tau, Sayang. Tapi doakan Papa semoga baik-baik saja." Venus mengangguk.
Gadis kecil itu ketakutan. Walau dia tak mau memanggil Papa pada Galaksi secara terang-terangan. Namun, jiwa sebagai seorang anak tentu ada dalam dirinya. Apalagi saat dia baru saja bertemu dengan ayah kandungnya, membuat Venus begitu bahagia. Namun, menyadari ayahnya sakit, pasti dia merasa takut. Venus tak ingin kehilangan ayahnya lagi. Dia tak mau orang-orang kembali menyebutnya sebagai anak haram.
Sedangkan Mars, pria kecil kembaran Venus itu terlihat begitu murung. Meski dia berusaha menetralkan ekspresinya. Namun, perasaan khawatir tentu ada dalam dirinya. Mars mengingat kejadian kemarin saat dia membuat mobil Galaksi kacau. Tapi papanya itu benar-benar tak marah sama sekali. Malahan Galaksi menanggapinya dengan wajah lesu lalu kembali ceria saat sudah selesai mengantarkan mereka kembali ke apartemen dengan selamat.
Akhirnya perjalanan itu berakhir. Mereka semua segera masuk ke rumah sakit dan mencari ruang rawat Galaksi. Hingga pandangan mata Leo tertuju pada seorang perempuan yang menghubunginya.
"Bu Na?" tanya Leo hingga perempuan yang dipanggilnya berbalik.
Seketika mata Sia terbelalak lebar. Dia menutup mulutnya tak percaya. Sosok yang begitu menyayanginya saat di Jakarta berdiri di depannya. Tubuhnya yang sudah tua terlihat begitu segar dan sehat.
"Ibu," panggil Sia dengan mata berkaca-kaca.
"Non Sia." Dua wanita itu saling berpelukan.
Mereka seakan melepas rindu yang menumpuk karena perpisahan saat itu. Wajah keduanya dipenuhi rona bahagia. Mereka berdua memang saling menyayangi. Bahkan Sia sendiri tak pernah menganggap Bu Na sebagai pelayan, melainkan dia sudah seperti ibu untuk Sia.
"Apa kabar, Bu," tanya Sia melepaskan pelukannya.
"Ibu baik. Non sendiri?"
"Seperti yang ibu lihat," jawab Sia dengan senyuman.
Hingga perhatian Bu Na tertuju pada dua anak kecil yang berada di dekat Sia. Mata tuanya membulat penuh saat melihat wajah anak-anak Sia.
"Ini…."
"Anakku dan Galaksi, Bu," kata Sia dengan air mata menetes.
Bu Na mengangguk, "Ibu sudah mendengar cerita dari Tuan Galaksi, Non. Ibu ikut bahagia mendengarnya. Ibu juga percaya kalau mereka memang anak-anak Tuan Galaksi."
Sia mengangguk lalu dia meminta Mars dan Venus mencium punggung tangan Bu Na dan mengenalkan dirinya.
"Mars, Nek," kata Mars dengan sopan.
"Kalau aku, Venus, Nek. Halo," sapanya dengan wajah ceria.
Bu Na mengangguk. Dia mengelus kepala mereka bergantian dan mengusap pipinya dengan pelan.
"Wajah mereka begitu mirip dengan Tuan Galaksi, Nona," celetuk Bu Na yang dijawab anggukan oleh Sia.
Tak lama suara pintu terbuka membuat Leo dan Bu Na segera mendekat. Sia hanya tetep duduk diam dengan kedua anaknya. Dia merasa tak memiliki hak untuk bertanya karena dirinya tak ada hubungan dengan sang mantan suami.
Sia hanya menatap mereka dengan ekspresi yang tak bisa dijabarkan. Jujur dirinya ingin membuang sikap yang mudah peduli pada orang. Tapi saat mengingat jika dia adalah ayah kandung kedua anaknya, rasa tak tega selalu muncul hingga membuat hati Sia selalu bimbang.
****
Keesokan harinya, ruangan Galaksi terlihat begitu ramai. Sejak pria itu sadar, si kembar selalu berada di dekatnya. Tak ada obrolan memang. Namun, Venus dan Mars hanya diam menemani Galaksi yang terlihat begitu pucat.
Sedangkan Sia, perempuan itu mengobrol dengan Bu Na dan Leo. Dia pura-pura tak tahu jika Galaksi sejak tadi menatapnya dari jauh. Sia tak ingin jatuh pada lubang yang sama. Dia ingin memberikan waktu pada hatinya untuk sembuh dari rasa sakit yang masih ada.
Hingga tiba-tiba perhatian semua orang tertuju pada pintu yang dibuka. Kemudian muncullah empat orang pria yang berpakaian rapi dan mendekat ke arah ranjang.
"Apa yang kalian dapatkan?" tanya Galaksi dengan suara dinginnya.
Sebelum Star menjawab. Sia segera mengajak kedua anaknya untuk turun. Namun, dengan segera Mars dan Venus menolak. Mereka ingin tetap berada di sini hingga Galaksi akhirnya bersuara.
"Biarkan saja, Sia. Mars dan Venus tak akan menggangguku," ucapnya menegur hingga membuat Sia mengalah.
Setelah Sia kembali ke kursi. Akhirnya Galaksi menatap Star yang sudah menunggu perhatiannya.
"Katakan!"
Star mengangguk. Lalu dia meminta tiga orang di belakangnya untuk menyampaikan apa yang sudah mereka lakukan.
"Kami sudah menemukan semua yang ingin Anda cari, Tuan. Sekaligus seseorang yang pasti membuat Anda akan terkejut," kata salah satu pria yang berdiri disana dengan rambutnya yang lurus.
"Siapa?" tanya Galaksi dengan jantung berdegup kencang.
"Masuk!"
Suara ketukan sepatu mulai terdengar hingga muncullah sosok yang membuat Galaksi membulatkan matanya. Dirinya menatap pria itu dari atas sampai bawah hingga jarak mereka berdekatan.
"Pagi, Nak," sapanya hingga menyadarkan Galaksi jika pria itu nyata berada di depannya.
"Om Rion?" sahut Galaksi tergagap dengan wajah tak percaya.
"Ya. Ternyata kamu masih mengenaliku dengan baik, Nak?"
"Tentu saja, Om," sahut Galaksi setelah dia tersadar dari keterkejutannya.
Dia masih mengingat betul sosok pria di depannya ini. Orion adalah kaki kanan Papanya, Altair. Pria itu juga menjadi bodyguard dan mata-mata Mama Pandora jika keluar sendirian. Hingga kabar mengejutkan dulu diterima mereka. Seminggu setelah Orion menghilang, rumah Galaksi mendapatkan surat yang mengabarkan jika Orion meninggal. Namun, apa ini, bagaimana bisa pria yang sudah meninggal masih berdiri di depannya dengan keadaan sehat.
"Bagaimana bisa?" tanyanya pada detektif pribadinya.
"Biarkan Om yang akan menjelaskan semuanya, Galak," pinta Rion yang langsung diangguki oleh Galaksi.
"Kalian boleh pergi," kata Galaksi yang membuat keempat pria tadi menunduk hormat. "Terima kasih atas usaha kalian saya menemukan dan bisa membuktikan semuanya."
Star dan tiga pria itu terperangah. Mereka tak menyangka jika bos mereka bisa mengatakan hal sakral itu. Dengan cepat mereka menganggukkan kepalanya lalu segera meninggalkan ruangan Galaksi. Hingga pintu akhirnya tertutup dan membuat pria itu menatap Om Rion dengan binar penuh harap.
"Apa yang sebenarnya terjadi, Om? Bisakah Om ceritakan semuanya kepadaku?"
"Apa kamu sudah tahu jika Pandora…."
"Dia bukan Mamaku."
Pyarr.
~Bersambung~
Aku bakalan kupas tuntas loh. Gimana kejadian tu Pandora palsu bisa nongol, siapa dia, dan latar belakangnya, hehe.
Kupas tuntas.
Terima kasih semua atas like, komen dan vote kalian. Jujur aku bener-bener bahagia liat dukungan kalian sama karya ini. Walau ya tadi pagi dibuat kecewa sama level, tapi aku sadar mungkin belum rejekiku.
Insya allah aku bakalan terus ngetik karya ini sampai tamat. Lalu setelah itu aku melipir ke sebelah kayaknya, hehe.
Mau update lagi? Tembusin 250 like dulu yuk, hehe.