
Sejak pembicaraannya dengan Riksa tadi pagi. Sikap dan tingkah laku Sia begitu berbeda. Wanita itu lebih banyak diam dan sering melamun. Perubahan sikap itu ditangkap oleh Mars atau pun Venus.
Keduanya seakan mencari alasan apa yang membuat Mamanya terlihat begitu murung. Bukankah tadi pagi sikap Mamanya masih wajar. Lalu kenapa sekarang berubah dengan cepat. Seakan ada beban berat yang dipikirkannya hingga membuatnya tak fokus.
"Mama," panggil Venus kesekian kalinya sambil menggerakkan daster rumahan yang dipakai Sia.
Sia berjingkat kaget sampai tak sadar menjatuhkan spatula yang ia pakai.
"Awas, Nak." Sia menggeser tubuh anaknya agar tak terkena jatuhan benda keras itu.
Sia terengah-engah. Dia menatap sosok putrinya lalu meneliti apa ada bagian tubuh Venus yang terluka.
"Venus baik-baik aja, Ma," ujar Venus membuat Sia bernafas lega.
Dipeluknya tubuh bocah kecil itu erat dengan perasaan tak menentu. Pikiran dan hatinya sedang kacau saat ini. Namun, ternyata sikapnya yang seperti ini bisa membahayakan anak-anaknya juga.
"Maafkan Mama, Nak. Maafkan, Mama."
Venus hanya mengangguk lalu perlahan pelukan mereka terlepas.
"Venus butuh sesuatu?" tanya Sia pelan menatap kedua bola mata anaknya.
"Iya, Ma. Venus haus pengen minum susu," ujarnya yang dibalas anggukan oleh Sia.
"Oke. Mama buatin. Kak Mars minum susu juga?" tanya Sia yang dibalas gelengan oleh Venus.
"Baiklah. Tuan Putri tunggu di ruang tamu yah. Mama akan bawakan pesanan Putri Venus dengan cepat," ujar Sia berlagak seperti berbicara dengan seorang majikan.
Venus terkekeh. Namun, dia memberikan jempolnya lalu menghadiahi sebuah kecupan di pipi Galexia.
"Terima kasih. Mama yang terbaik," kata Venus sebelum berlalu.
Mendengar perkataan putrinya, tentu membuat sudut hatinya menghangat. Tanpa sadar air mata menggenang dan siap tumpah. Namun, Galexia menahannya dengan menatap langit-langit apartemen yang menjadi tempat tinggalnya selama 1 hari ini.
Anak-anakmu begitu luar biasa, Kak, batin Sia menjerit.
****
Di ruang tamu.
Terlihat Mars sedang fokus menyusun puzzle yang baru dibelikan oleh Riksa tadi siang. Bocah tampan itu memang lebih suka bermain sendiri dengan puzzle, rubik, buku mewarnai dan mainannya. Seakan ia bisa lebih fokus dan mudah belajar dari barang yang mereka gunakan daripada bermain dalam keramaian dan banyak orang.
Galexia yang baru saja datang, segera memberikan segelas susu coklat pada putrinya. Lalu dia beralih menatap Mars yang juga sedang menatapnya.
"Ada apa, Nak?"
"Mama baik-baik saja?" tanya Mars dengan mata yang memandang lekat Mamanya.
Galexia tersenyum. Dia memilih duduk di depan putranya sambil memberikan senyuman manis.
"Tentu saja, Nak."
Dia harus melakukan ini dengan tenang. Ibu anak dua ini tak pernah lupa jika memiliki dua orang anak yang begitu peka dengan keadaan. Bahkan baik Mars atau pun Venus pintar sekali menebak situasi yang selalu dia lewati sendirian.
Tanpa aba-aba, Mars segera melepaskan puzzle di tangannya dan berpindah di pangkuan sang Mama. Ia memeluk Galexia dengan erat sambil tangan mungilnya mengelus punggung halus sang Mama.
"Mama jangan sedih. Di sini ada Mars sama Venus yang selalu ada buat Mama."
Galexia tersenyum. Sekuat tenaga dia menahan air matanya agar tak tumpah. Tangannya terulur membalas pelukan sang anak dengan mata terpejam. Sungguh kehadiran putra putrinya adalah obat terbaik dari kesakitan masa lalu. Seakan apa yang ia lalui selama ini adalah hadiah terindah dari segala sakit yang pria itu torehkan.
"Venus mau ikut pelukan juga." Bocah cantik dengan wajah kebulean itu, langsung berlari ke arah kakak dan mamanya. Dia ikut menikmati pelukan hangat keluarga yang hanya diisi mereka bertiga.
Tak ada yang kurang dan tak ada yang pernah bertanya. Baik Mars maupun Venus sama-sama terfokus pada sosok mamanya saja. Mereka seakan paham ketika bertanya tentang keberadaan sang papa dan mamanya enggan menjawab, maka keduanya tak menanyakan lagi.
"Baiklah. Mari kita tidur. Besok kita harus bangun pagi untuk ikut Om Riksa, 'bukan?"
****
Suasana Galeri di pagi hari, ternyata tak sepi seperti bayangan Galexia. Dia berpikir, mereka datang ketika belum ada banyak orang. Namun, ternyata praduganya salah.
Kehadiran dua anak kembar yang begitu cantik dan tampan, tentu menjadi pusat perhatian semua orang. Bahkan tingkah laku mereka yang menggemaskan membuat semua orang begitu ingin mencubit pipi Mars atau pun Venus. Namun, sayang sekali. Tak ada yang berani mendekat, karena melihat dua bocah kecil itu enggan berdekatan dengan orang asing.
"Dimana Tuan Leo?" tanya Riksa sambil menggendong tubuh Venus.
"Tuan Leo sedang mengurus gaun pernikahan, Tuan. Jadi beliau tak bisa hadir di sini." Riksa mengangguk lalu dia meminta Mars dan Galexia untuk masuk ke dalam ruang khusus dan meminta mereka duduk di sofa yang sudah disediakan.
"Lalu bagaimana sekarang?"
"Agenda hari ini tetap terjadi, dan saya yang akan mewakilkan keberadaan Tuan Leo atas perintah beliau sendiri." Riksa tak menolak. Dia tahu bagaimana Leo temannya yang begitu sibuk.
Hingga akhirnya dia mulai meminta pakaian mana yang akan dicoba oleh Mars dan Venus. Karena Riksa begitu paham, bila dua bocah itu terlalu tak suka dengan situasi dan kondisi asing untuk mereka. Setelah mendapatkannya, Riksa segera membawa dua pakaian itu menuju Galexia yang duduk tenang dengan si kecil Mars.
"Ini untuk Mars dan ini untuk Venus," ucap Riksa pada Galexia yang langsung diterima oleh wanita itu.
"Apakah Anda butuh bantuan, Nona?" tanya salah satu pelayan dengan menggunakan bahasa inggris yang ditugaskan membantu Galexia untuk mengurus calon model cilik mereka.
"Tidak perlu. Saya bisa, Mbak," sahut Galexia sopan.
Pelayan itu pergi dan Sia mengalihkan tatapannya pada Riksa. "Saya titip Venus sebentar boleh, Pak?"
Riksa tersenyum. "Bisakah kamu memanggil dengan bahasa santai, Sia? Bukankah kita disini sedang bersantai?"
"Tapi saya…saya…" Galexia terbata. Dia begitu tak nyaman untuk mengubah panggilan formal mereka ketika bekerja. Menurutnya, jika berada di jam kerja, maka sikap profesionalnya akan keluar.
Riksa menarik nafasnya begitu dalam dan menghembuskannya. Dia begitu paham watak wanita di depannya ini. "Kamu ganti baju Mars di tempat itu. Biar Venus bersamaku di sini," sela Riksa ketika melihat raut tak nyaman di wajah Sia.
Sia segera mengangguk dan pergi bersama Mars. Namun, tak berselang lama, Riksa merasa tak nyaman pada area perutnya.
"Venus disini sebentar, boleh? Om Riksa ingin ke kamar mandi," pamitnya pada bocah kecil yang masih asyik dengan rubik kecil di tangannya.
"Oke, Om."
Selepas kepergian Riksa. Perhatian Venus yang tadinya tertuju pada rubik akhirnya teralihkan. Dia melihat susunan gaun mungil cantik yang begitu menarik perhatiannya.
Rasa penasaran dan ketertarikan yang tinggi, membuat Venus meletakkan rubiknya di sofa dan turun dari sana. Dia berjalan meninggalkan ruangan dan berkeliling ke sana ke mari.
Sungguh gaun gaun dan pakaian yang bagus membuat gadis kecil itu terkesima. Hingga bola mata birunya, tanpa sengaja menatap sebuah gaun berwarna biru seperti gaun milik Elsa di film Frozen.
Tanpa melihat sekitar. Venus segera berlari menuju patung kecil itu. Hingga tanpa sadar, tubuh mungil itu menabrak seseorang yang baru saja datang hingga membuatnya terjatuh.
Tabrakan yang cukup kuat ditambah perbandingan tubuh tak seimbang, membuat pantat Venus sakit. Gadis kecil itu mengaduh sambil mengusap area tubuhnya yang sakit dan tak menyadari ada sepasang mata yang menatapnya dengan intens.
"Benel 'kan kata Mama. Kalau lali pasti jatuh," ucap Venus sambil berusaha untuk beranjak berdiri.
Saat tubuhnya berhasil berdiri. Matanya tak sengaja menatap sepatu hitam yang berada di depannya. Dengan spontan, kepala kecilnya mendongak hingga tatapan keduanya terpaut.
Tubuh Venus mematung. Dia menatap pria dewasa yang sama-sama sedang menatapnya. Hingga fokus Venus tertuju pada sesuatu. Sesuatu yang sama-sama ia miliki di tubuhnya.
"Om mata bilu."
~Bersambung~
Tetott, hayoo gimana apa sudah ketebak? Siapa Leo Collection? Siapa lagi ini Om Mata Bilu? hahaha.
BTW dialog mereka aku langsung bahasa indonesia yah. Sebenarnya mau ku bahasa inggris karena latar New York. Tapi kok kalau ku kasih inggris + indo buang-buang kata banyak. Jadi aku langsung indonesia aja yah.
Jangan lupa di like dan komen yah. Dua hal ini buat support karya author biar popnya naik.
Untuk bonus bab akan muncul ketika ada vote koin masuk, hehe. Terima kasih~~