
Riksa hanya mampu tertawa terbahak-bahak. Seakan tawanya begitu lepas dan tanpa beban. Entah kenapa menjahili wanita yang belum dia tahu namanya begitu mengasyikkan. Apalagi melihat wajahnya yang jutek tentu membuat Riksa semakin bersemangat untuk menggodanya.
"Cepat mandi, lalu keluarlah dari apartemenku!" usir Riksa sebelum dirinya benar-benar keluar dari kamar.
Meninggalkan wanita yang masih berwajah bantal tapi dengan ekspresi begitu panik. Tanpa kata, dia meloncat dari ranjang dan berlari mengejar Riksa. Namun, dirinya yang terlalu bersemangat hingga akhirnya tanpa sadar menabrak tubuh Riksa yang saat itu masih berdiri didepan pintu.
"Awww," adu wanita itu sambil memegang pantatnya yang sakit.
Kedua orang itu terjatuh dengan posisi saling duduk berhadapan. Keningnya sama-sama berkerut menahan sakit yang begitu terasa di pantatnya.
"Dasar ceroboh!" dengus Riksa kesal. "Untuk apa kau lari-lari di apartemen begini, hah?"
"Aku...aku…." Perempuan itu gelagapan. Dia menggaruk rambutnya yang tak gatal lalu mengikuti tubuh Riksa yang perlahan mulai beranjak berdiri. "Aku tak mau pergi dari sini!"
"Apa!" seru Riksa dengan terbelalak. "Maksudmu apa?"
"Aku mau disini," kata perempuan itu dengan begitu percaya diri.
"Sinting kau yah?" seru Riksa sambil menggelengkan kepalanya.
Dia tak mau menggubris wanita itu lagi. Daripada menanggapi ocehan yang tak berguna, lebih baik dirinya berlalu menuju dapur untuk melihat apakah ada bahan makanan tau tidak. Namun, sebelum Riksa berhasil pergi, tangannya ditarik oleh wanita itu hingga membuatnya berbalik.
"Aku serius. Aku mau disini!" tegas wanita itu hingga membuat Riksa menatapnya dengan heran.
"Untuk apa kau mau disini?" tanya Riksa sambil mendekatkan tubuhnya. "Kita tak saling kenal. Bahkan namamu saja aku tak tahu. Jadi, cepat mandi dan keluar!"
Tanpa mau mendengar apapun lagi. Dia menepis tangan wanita itu. Berniat melanjutkan langkahnya menuju dapur hingga teriakan dari bibirnya membuat Riksa spontan mematung.
"Aku dijual oleh orang tuaku di club malam."
Degup jantung Riksa berpacu cepat. Bahkan dirinya sampai menahan nafas ketika mendengar suatu hal yang menurutnya begitu menyakitkan. Tubuhnya spontan berbalik dan menatap wajah wanita yang mengganggu dirinya sejak semalam.
"Aku tak mungkin kembali ke rumah. Jika aku kesana, sudah pasti aku akan diberikan kepada wanita-wanita itu," ucapnya putus asa dengan wajah menunduk.
Sungguh hidupnya seperti ada di neraka. Tak ada kasih sayang orang tua yang didapatkan dirinya sejak kecil. Dia dipaksa bekerja dan menghidupi keluarganya yang begitu gila harta. Hingga perlahan matanya menatap sepasang kaki yang dibalut sandal di depan kakinya. Spontan dia mendongak dan melihat posisi pria yang baru saja ia temui semalam sudah berdiri tepat di hadapannya.
"Mereka orang tua kandungmu?" tanya Riksa menatap wanita itu dengan tajam.
Dirinya tak menyangka jika ada orang tua seperti itu di dunia ini. Sosok yang seharusnya menjadi panutan dan contoh baik, rela menjual anaknya ke club malam hanya untuk kesenangannya sendiri.
Wanita itu mengangguk. Untuk apa dirinya menutupi semuanya. Toh sekarang, dia berharap jika pria di depannya ini bisa membantunya keluar dari jurang kepahitan.
Riksa memalingkan wajahnya. Dia menyugar rambutnya ke belakang lalu segera berbalik tanpa mengatakan apapun. Pikirannya masih bingung harus menjawab apa pada wanita itu. Hingga membuatnya memilih diam dan melanjutkan tujuannya.
"Kenapa pria itu hanya diam? Apa dia tak percaya pada ceritaku?" tanyanya pada dirinya sendiri dengan tatapan mengarah pada punggung tegap Riksa.
"Hey!" teriaknya mengikuti langkah Riksa.
Dia tak mau kembali ke neraka itu lagi. Dirinya bertekad untuk berusaha membuat pria yang membantunya ini memberikan waktu untuknya tinggal disini sampai dia mendapatkan pekerjaan.
"Kenapa kau hanya diam?" tanya wanita itu sambil mengikuti Riksa yang masuk ke area dapur. "Aku serius mengatakan itu. Aku tak mau pergi dari sini."
Ternyata Venus yang cerewetnya minta ampun, ada sosok yang menandingi bocah tersebut. Kepalanya saat ini masih sakit dan dia butuh makan dan minum untuk menenangkan segala pikirannya.
"Karena aku takut kau mengusirku," serunya dengan berkacak pinggang.
Riksa menahan senyum. Wajah wanita itu begitu imut. Pipi yang digembungkan dengan muka bantalnya, tentu semakin membuatnya terlihat begitu menggemaskan. Ingin sekali Riksa mencubit pipi itu tapi dia segera menggelengkan kepalanya.
Ah wanita cerewet ini membuatku gila, jerit Riksa dalam hati.
"Hey!" teriaknya lagi yang membuat mata Riksa melotot.
"Lebih baik kau mandi daripada berkicau seperti burung yang kelaparan."
"Apa!" pekik wanita itu kesal setengah mati.
Dia mengepalkan kedua tangannya dengan nafas memburu. Jika bukan karena kebaikan pria itu, mungkin dirinya sudah memberikan tendangan maut di pantatnya. Tanpa berkata apapun, dia segera berbalik dan kembali masuk ke dalam kamar. Meninggalkan Riksa yang tertawa penuh kemenangan melihat ketidak berdayaan wanita itu.
"Dia cerewet seperti Venus, tapi wajahnya menggemaskan sekali," ucapnya sambil mengingat ekspresi wanita yang sejak tadi berdebat dengannya.
Namun, sesaat dia tersadar dengan tujuannya. Perutnya sudah meronta minta diisi dan membuat Riksa dengan cepat bergerak lincah mengolah bahan makanan yang ia temukan di kulkas.
Akhirnya setelah lima belas menit berkutat dengan peralatan dapur, sepiring nasi goreng dengan telur mata sapi diatasnya terlihat begitu cantik. Dia menghidangkan makanan itu diatas meja makan dan melihat pintu kamar yang masih terbuka.
Tak mau dianggap kurang ajar. Riksa memilih menunggu di meja makan. Namun, sampai lima menit dia hanya duduk diam, tak ada pergerakan apapun. Akhirnya dengan wajah kesalnya setengah mati, dia berjalan ke dalam kamar. Tatapannya melihat pintu kamar mandi yang masih setia tertutup.
Dengan segera dia mendekatkan telinganya hingga keningnya berkerut. Tak ada suara apapun, seakan di dalamnya benar-benar kosong. Dirinya yang sudah diliputi rasa penasaran dan kesal karena rontaan perutnya akhirnya memilih mengetuk pintu itu dengan tak sabaran.
"Heyy!" Tangannya terus mengetuk pintu itu, hingga terdengar suara sahutan dari dalam.
Tak lama pintu itu terbuka dan menyembul wajah wanita itu tanpa rasa bersalah. "Ada apa?"
"Kau mati yah?"
"Apa maksudmu?" sahut wanita itu dengan nada ketus.
"Sejak tadi aku menunggumu untuk makan tapi kau tak muncul-muncul. Aku kira kepalamu terkatuk dan mati di dalam sana," kata Riksa dengan ocehannya pedasnya.
"Apa!" seru wanita itu dengan kesal. Tanpa sadar dia keluar dari kamar mandi dengan hanya memakai handuk sepanjang lututnya. "Kau menyumpahiku mati?"
"Ya," sahut Riksa menantang.
"Kau!" Wanita melotot tajam. Namun, tangannya yang hendak memukul wajah Riksa spontan dia hempaskan pada angin.
"Jangan banyak membantah! Cepat mandi dan segera ke meja makan. Jika sampai lima menit kau tak ada disana!" tunjuknya ke arah benda persegi panjang dengan empat kursi di sekeliling dan diatasnya terdapat dua piring makanan. "Jangan harap kau bisa makan dan tinggal disini."
~Bersambung~
Ahhh aku seneng ngetik bab ini. Lucu aja Abang Riksa yang gila lawan cewek yang sama cerewetnya. Hahaha.
Maaf aku baru update yah, dari pagi riweh sama anakku.
Jangan lupa klik like, komen dan vote yah sebagai bentuk apresiasi kalian sama novel ini. Tembus 250 like aku update lagi!