
Suasana di dalam pesawat begitu tenang. Sebagian orang mulai terlelap menyelami alam mimpi. Begitu pula dengan si kembar. Keduanya sudah tertidur sejak pesawat baru saja terbang. Namun, sepertinya kedamaian yang Galaksi dan Galexia rasakan, akan segera berakhir.
Sepasang mata mulai bergerak terbuka. Diiringi suara lenguhan dari bibir mungilnya membuat perhatian sosok sang ibu yang ada di sampingnya beralih. Elusan lembut dia berikan di kepalanya hingga membuat mata yang baru saja mengerjap terlihat berbinar.
"Apa kita sudah sampai, Mama?" tanya Venus dengan mengusap kedua matanya.
Rambutnya yang tak diikat sudah berantakan. Wajah bantalnya begitu menggemaskan dan mampu mengundang Galexia untuk mendaratkan kecupan di kedua pipi bulat putrinya.
"Belum, Sayang," sahutnya sambil tersenyum gemas. "Kenapa Venus bangun?"
"Lapel, Ma. Pelut Venus bunyi telus," rengeknya dengan gerakan tangan mengusap perut.
Galexia tertawa kecil kemudian dia mengangguk. Namun, tawa itu ternyata mengundang perhatian Galaksi yang belum tertidur. Pria itu menatap kedua wanita yang menempati hatinya dengan perasaan bahagia.
Galaksi tak tahu harus mengatakan apa. Dia merasa bersyukur karena kejadian ini, bisa membuatnya berkumpul dengan mantan istri dan kedua anaknya.
"Venus bangun?" tanya Galaksi pada Sia.
"Iya, Om. Venus lapel," sahut Venus menyela sang Mama.
"Oh. Om panggilkan pramugarinya, 'yah?"
Saat Sia hendak mencegah. Pria itu sudah beranjak dari duduknya. Melangkah ke sebuah tirai yang tertutup tempat para pramugari berada.
Tak sampai lima menit, Galaksi sudah kembali diikuti oleh seorang pramugari yang membawa makanan. Dengan sopan dia meletakkan nampan berisi makanan itu di hadapan Venus dengan pelan.
"Selamat makan, Nona kecil," ucap pramugari itu dengan tersenyum.
Venus mengangguk. Lalu dia meminta sang mama untuk membukakan kotak makanan itu hingga isinya mulai terlihat.
Sebotol minuman dengan dua roti terlihat disana. Namun, sebuah ide jahil kembali hadir di kepalanya. Mata imutnya menatap sang papa dengan begitu lucu.
"Venus gak mau ini, Om," serunya diiringi gelengan kepala.
"Venus mau makan apa, Nak?" tanya Sia dengan sabar.
"Nasi, Ma."
"Tapi…." Galexia hendak menolak.
Namun, Galaksi lebih dulu menjawab. Dia meminta pramugari itu kembali dan membawakan putrinya makanan. Ah sikap bossy pria itu jangan lupakan. Dimanapun dia berada, pasti Galaksi selalu bersikap, apa yang dia inginkan harus dituruti.
Tak lama, pramugari itu kembali dan Sia membantu sang anak membukanya. Namun, saat sesuap nasi mulai masuk di bibir mungilnya. Venus langsung mengernyitkan alisnya.
"Ini tak enak, Mama. Venus gak suka," celotehnya tanpa rasa bersalah.
Dia menutup mulutnya sambil menjauhkan sendok itu dari hadapannya. "Venus gak mau," rengeknya dengan suara yang tertutup mulut.
Sia meringis. Dia merasa tak enak hati dengan pramugari yang masih setia berdiri disana. Namun, rengekan-rengekan Venus yang mengatakan ingin makan enak membuat Galaksi menyuruh pramugari itu kembali dan menyiapkan makanan yang enak untuk putrinya.
Pramugari itu dengan sabar mengambilkan lagi makanan untuk Venus. Hingga menu terakhir yang disediakan bersama sebuah puding membuat perhatian si kecil tertuju pada makanan itu.
Beberapa penumpang yang masih terjaga, merasa terganggu dengan rengekan Venus. Namun, saat melihat sosok Galaksi yang begitu terkenal di majalah bisnis. Membuat mereka hanya bisa diam. Siapa yang berani mengusik pria itu, pria yang dikenal dingin dengan segala kesuksesannya selama ini.
"Venus mau itu, Mama." Akhirnya Sia bernafas lega.
Venus menerima makanan itu dengan wajah bahagia. Tanpa mereka semua tahu, jika kebahagiaan itu terjadi karena dia berhasil mengerjai semua orang. Wajahnya dengan lahap memakan puding itu. Meski ya rasanya lebih enak milik sang mama, tapi dia begitu menikmati hasil ulahnya kali ini.
Saat Galaksi meminta pramugari membereskan makanan yang ditolak Venus. Mulut Venus yang penuh dengan makanan mulai ia telan sekuat tenaga.
"No!" tolak Venus membuat Galexia dan Galaksi bingung.
"Kenapa, Sayang?" tanya Sia pada sang putri.
"Mama pelnah bilang, 'kan, kalau buang makanan itu mubazil. Benel?" tanya Venus dengan mata lucunya menatap sang mama.
Jika sudah seperti ini, Sia yakin akan ada hal yang dilakukan oleh putrinya yang jahil. Selama mereka bersama, Galexia dan Mars sudah sering dijahili oleh putri mungilnya ini. Jadi, dua orang itu, tentu tahu gerak-gerik Venus yang mencurigakan.
"Jadi makanan ini jangan dikasihkan ke Mbak itu, Ma," tunjuk Venus pada pramugari yang menunggu di dekat Galaksi.
"Terus makanan ini?" tanya Galaksi yang belum paham maksud anaknya.
"Om Galaksi yang makan," celetuknya membuat mulut Galaksi menganga lebar.
Matanya membulat penuh tak menyangka dengan permintaan putrinya. Dia menatap beberapa nampan yang ada disana dengan menelan ludahnya paksa. Jika masih satu nampan saja, mungkin dia mampu. Tapi jika 5 nampan, apa dia bisa memakannya sendiri.
"Kenapa, Om? Apa Om gak mau?" tanya Venus dengan mata berkaca-kaca.
Spontan Galaksi gelagapan. Dia menatap wajah putrinya yang siap menumpahkan tangisannya hingga membuat dirinya mau tak mau menggeleng. Namun, wajahnya yang menunjukkan keengganan membuat Galexia merasa kasihan.
"Kalau papa yang makan. Gak bakal habis, Nak," bujuk Sia mengelus kepala putrinya.
"Halus habis. Cuma sedikit kok, Om," ucapnya sambil menunjuk nampan itu dan menghitungnya. "Cuma lima aja kok."
Kedua wajah manusia itu saling berpandangan. Galaksi menatap Sia dengan pandangan memelas. Dia yakin jika mantan istrinya ini bisa membujuk putri mungilnya itu.
"Sayang…." Venus langsung menggeleng dan menandakan jika dia tak menerima penolakan.
"Ayo, Om. Dimakan!"
Akhirnya Galaksi hanya bisa meratapi nasibnya. Dia meminta pramugari itu pergi dan mulai meraih sebuah nampan yang berisi omelet. Dengan pelan dia mulai memakan makanan itu. Wajah memelasnya tentu membuat Venus tertawa. Sungguh dirinya berjanji akan menguji kesabaran sang papa. Dia ingin melihat perjuangan Galaksi menghadapi dirinya dan sang Abang. Apakah pria itu mampu atau dia akan menyerah dengan keadaan ini.
*****
Akhirnya perjalanan panjang yang ditemani perasaan lega mulai berakhir. Alula tersenyum bahagia saat kaki jenjangnya mulai menuruni tangga pesawat. Dirinya merasa nyaman saat sudah keluar dari negara itu. Dia merasa Galaksi tak akan menemukan keberadaannya. Dia akan bersembunyi di balik sang kekasih dan membuatnya selamat dari ancaman penjara.
Pakaiannya yang seksi tentu membuat perhatian semua orang tertuju padanya. Namun, Alula yang selalu percaya diri, dia berjalan dengan santai. Matanya tertutupi kaca mata besar dengan bibirnya yang terbalut lipstik merah semakin membuatnya yakin untuk meliukkan tubuhnya yang seksi ketika berjalan.
Hingga saat dirinya baru saja keluar dengan tangan menarik koper. Matanya langsung tertuju pada seorang pria berpakaian hitam yang membawa tulisan namanya. Senyumnya semakin lebar ketika dia berhasil keluar dengan selamat dan bertemu pria bawahan milik sang kekasih.
"Nyonya Lula?" tanya pria yang memakai kacamata hitam.
"Benar."
"Silahkan masuk, Nona. Tuan sudah menyiapkan sebuah rumah untuk, Anda," katanya menggiring Alula menuju sebuah mobil suv hitam.
Wanita itu tak banyak bicara. Dia segera memasuki mobil tanpa rasa curiga. Alula duduk dengan tenang tanpa bertanya apapun.
Hingga hampir lima menit dia duduk. Tanpa Alula sadari ada seorang pria muncul dari belakang tubuhnya. Dia memegang sebuah jarum suntik dan tanpa kata langsung menusuk leher Alula dengan sekali gerakan.
"Akhh!" teriak Alula memberontak.
Namun, perlahan tubuhnya melemah hingga tak butuh lama matanya mulai terpejam dengan nafasnya yang teratur.
"Beres," kata pria yang menyuntikkan jarum suntik itu.
"Ikat tangan dan kakinya!" seru temannya yang menyetir mobil. "Kita akan membawanya ke tempat yang diminta, Tuan."
~Bersambung~
Kira-kira Alula ketemu sama yang mana yah? Ketemu anak buahnya Galaksi atau pria misterius?
Venus juga lanjutin jahilnya ya, Nak. Nanti yang lebih parah lagu buat, Si Galak. Author dukung loh! hahaha.
Jangan lupa klik like, komen dan vote sebagai bentuk apresiasi kalian sama novel si kembar.
Tembus 250 like aku update lagi. Aku usahain hari ini masalah si Pandora palsu selesai.
Mangkanya like yok, hihi.