The Billionaire Twin'S Baby

The Billionaire Twin'S Baby
Kesepakatan Ayah dan Anak




Keesokan harinya, suasana GG Entertainment begitu ramai. Banyak sekali kegiatan dan wara wiri para media yang ingin bekerja sama dengan artis mereka. Apalagi melihat kualitas dari artis yang diterbitkan oleh GG, membuat mereka tak main-main untuk mengeluarkan kocek yang banyak demi mendapatkan kepuasan kerja sama mereka.


Dari arah pintu masuk, terlihat seorang pria tampan berjalan dengan gagah diikuti pria yang tak kalah tampan di belakangnya. Siapa lagi jika bukan Galaksi dan Star. Pria itu tak main-main dalam perkataanya. 


Setelah kepulangannya kemarin, hari ini dia langsung masuk ke agency. Galaksi ingin menyelesaikan pekerjaan yang terhambat karena ia kecelakaan dan melakukan pembicaraan penting demi merekrut artis yang baru untuk dibawa ke agencynya.


Galaksi segera masuk ke dalam ruangannya. Dia mendudukkan dirinya dengan tenang lalu segera menyibukkan diri. Sungguh kepalanya masih terasa pusing. Namun, dia tak bisa hanya diam di rumah. Apalagi mengingat anak-anaknya ingin sekali Galaksi segera menemuinya. 


Tapi semua itu ditahannya karena dia mengingat ucapan sang istri kemarin. Benar memang apa yang Sia katakan padanya, sebelum dirinya mengejar kedekatan Mars dan Venus. Galaksi harus membereskan urusannya dengan sang Mama.


Dia tak mau kehadiran Mamanya yang seperti kemarin akan merusak pendekatannya dengan sang anak. Apalagi ucapan Pandora yang pedas dan menghina, membuatnya yakin jika ada sesuatu yang aneh dalam diri mamanya itu.


Hampir tiga jam Galaksi berkutat dengan berkas kerja sama. Suara ketukan di pintu membuat fokusnya terpecah.


"Masuk!" 


Perlahan pintu itu terbuka diringin tubuh sang asisten yang menyembul. Seketika Galaksi meletakkan berkas itu di meja dan memilih menyandarkan punggungnya.


"Ada kabar apa yang kau bawa, Star?" tanya Galaksi menatap sang asisten tajam.


Star tak menjawab. Namun, dia malah mendekat dan menyodorkan sebuah ponsel kepadanya.


"Apa ini?" tanyanya dengan kening berkerut.


"Itu video yang pasti mengejutkan Anda, Tuan," ucap Star ambigu.


Galaksi segera menyalakan video itu. Dia melihat apa yang terjadi disana hingga sesuatu hal membuat tangannya menggenggam erat benda pipih tersebut. Matanya membulat penuh dengan wajah merah padam. Sebuah video yang membuat dirinya melakukan hal bodoh itu ternyata adalah sebuah rencana yang sudah diatur oleh seseorang.


Suatu hal yang ditutupi darinya selama ini dan menjadikannya pria paling bodoh dan gila di dunia ini. Bahkan, jika dunia menyebutnya sebagai suami tak becus, dia hanya bisa menerimanya, karena memang itulah kenyataannya. 


"Apa semua ini asli?" tanyanya mendongakkan kepala menatap asistennya dengan mata memerah. 


Sungguh Galaksi ingin sekali menangis. Bahkan dia tak menyangka jika sosok yang selama ini dia hormati ternyata biang dari segalanya. 


"Bawa mereka semua kesini dan satu lagi, Star!" ucapnya sambil beranjak berdiri. 


"Semua yang ada disana, sudah dalam perjalanan kesini, Tuan." 


"Bagus." Galaksi mengangguk. "Jangan sampai dia tahu kalau kita sudah mengetahui akal bulusnya. Kau paham?" 


"Paham, Tuan." 


"Kau boleh keluar," ucap Galaksi dengan menunjuk pintu keluar.


"Tapi ada lagi, Tuan. Saya juga membawa kabar yang mungkin akan membuat anda lebih syok lagi," 


"Apa itu?" 


"Semua anak buah Anda adalah utusan dari orang yang sama dengan peristiwa itu. Jadi, selama ini dia sudah menyusupi dan merusak Anda dari dekat." 


Suara pecahan gelas terdengar santer. Galaksi sudah tak bisa menahan kemarahannya lagi. Dia sungguh tak mengira jika wanita yang dulunya begitu baik berubah menjadi seorang iblis sekarang. Tingkahnya, sifatnya dan semua yang ada pada dirinya sungguh berbeda jauh dengan dia yang dulu.


"Cari semua bukti itu, Star. Bongkar sampai akar-akarnya. Aku tak akan segan menghancurkannya walaupun dia adalah…" jedanya dengan nafas naik turun.


"Ibuku sendiri," lanjutnya dengan menginjak bekas pecahan gelas yang ia lemparkan.


Galaksi langsung keluar dari ruangan ini. Dia merasa udaranya begitu mencekik dan pikirannya semakin kalut. Bayang-bayang video itu jelas memutar di otaknya hingga Galaksi tak habis pikir. 


"Lihat saja, Ma! Misteri apa lagi yang sedang kau sembunyikan dariku!" 


Galaksi berlalu seorang diri. Dia berjalan ke depan gedung agency, hingga seorang bodyguard miliknya mendekat, dan membukakan pintu belakang.


Sebelum dirinya masuk, Galaksi memukul wajah pria itu dengan kuat hingga membuatnya terhuyung ke belakang dan terjatuh. Hidungnya langsung berdarah karena terlalu kuatnya pukulan itu.


"Kau kupecat mulai hari ini. Cepat pergi dari sini, sebelum aku memanggil polisi!" serunya hingga membuat dua orang pria berpakaian hitam itu berlari menjauh dari Galaksi. 


Seperti kabar yang diberikan sahabatnya si gemulai. Jika hari ini Galexia akan keluar dari rumah sakit. Hal itu tentu membuatnya ingin pergi kesana. Dia ingin melihat dan membantu mantan istrinya pulang dan mengetahui dimana selama ini mereka tinggal selama disini.


Sebelum dia melanjutkan perjalanannya ke rumah sakit. Galaksi membelokkan stir kemudi ke sebuah market. Dia membeli buah untuk buah tangan serta cemilan untuk si kembar.


"Semoga kalian mau menerima kehadiranku lagi. Aku sungguh menyesal, Sia. Aku benar-benar pria bodoh yang tak berguna," ucapnya saat melanjutkan perjalanannya dengan menggenggam setir kemudi dengan erat. 


Tak sampai dua puluh menit, akhirnya Galaksi sudah sampai di rumah sakit. Dia segera menuju ke ruang rawat Sia dengan membawa dua kantong kresek di tangan kanan kirinya.


Denting lift terdengar dan dia segera keluar dengan semangat. Sungguh kerinduannya pada Mars dan Venus begitu besar. Bahkan dia ingin kedua anaknya selalu ada di dekat dirinya. Namun, Galaksi sadar, jika apa yang dia inginkan harus melalui perjuangan yang panjang. 


Sayup-sayup telinga Galaksi mendengar suara gelak tawa anak-anaknya disana. Bibirnya ikut melengkung saat menyadari jika hanya mendengar suaranya saja, dia merasa begitu senang. Rasa lelah dan sakit dalam dirinya seketika terlupakan saat menyadari jika hanya dengan bayang-bayang wajah Mars dan Venus, dia kembali bersemangat.


Saat Galaksi baru saja sampai di depan pintu, sebuah pemandangan menyakitkan membuat tubuhnya mematung. Lidahnya terasa keluh saat melihat jika tawa dari bibirnya anaknya karena seorang pria yang berada disana.


Tentu pemandangan ini membuat hatinya berdenyut sakit dan matanya memanas. Baru saja dia merasa bahagia, seketika Galaksi terhempas saat menyadari jika Mars dan Venus terlihat begitu nyaman dengan sosok Riksa daripada dirinya.


Sepertinya Galaksi lupa jika Riksa adalah sosok yang menjadi pahlawan Mars dan Venus selama ini. Bahkan sepertinya Galaksi mendadak amnesia, jika sejak pertemuan pertamanya dengan si kembar, Riksa lah yang selalu menemani mereka.


"Om Galak," panggil Venus membuat lamunan Galaksi buyar.


Dia melihat semua orang menatapnya hingga membuat Galaksi salah tingkah. Perlahan dia masuk dan berdehem pelan untuk menetralkan rasa gugupnya. Matanya menatap ke arah Sia yang wajahnya sudah memperlihatnya sinarnya. Dia tersenyum melihat kesehatan mantan istrinya itu semakin membaik.


Riksa yang menyadari kehadiran Galaksi langsung pamit keluar. Dia tak ingin Galaksi menjadi canggung karena keberadaan dirinya. 


"Halo, Venus," panggil Galaksi lalu mengelus kepala Venus.


"Halo, Om." 


"Hy, Jagoan," ujarnya menatap Mars yang sedang menidurkan kepalanya dipangkuan sang mama.


Mars hanya diam. Namun, perlahan dia mendudukkan dirinya dan menatap sosok ayahnya ini. "Jangan berpikir jika kami sudah menerima dan memaafkan Om setelah mengetahui semuanya." 


Sakit? 


Tentu saja. Bahkan Galaksi tak menyangka jika putranya ternyata belum memaafkannya. Dia kira, pelukan kemarin dan curahan hati putranya sebagai tanda jika dia sudah diterima kehadirannya. Namun, ternyata semua itu salah.


Kehadirannya belum mendapatkan pintu terbuka dan kedua anaknya masih menutup hati untuk dirinya. "Apa yang harus Om lakukan untuk mendapatkan maaf dari kalian?" 


"Perjuangkan Mama sampai benar-benar mendapatkan maafnya, dan buktikan jika Om benar-benar serius dan sayang pada kami berdua. Setuju?" ucap Mars sambil menyodorkan kepalan tangannya.


Pria kecil itu menatap wajah anaknya serius. Lalu dia menjulurkan kepalan tangannya dan bertos ria sebagai tanda setuju dari kesepakatan anaknya sendiri. 


"Setuju."


Mars mengangguk, lalu Galaksi memberikan barang bawaannya pada Sia dan langsung diterimanya. Hingga tak lama, bersamaan dengan itu getaran di ponselnya membuat Galaksi langsung mengambilnya.


Star :


Semua nama calon artis yang ingin kita tarik ke agency kita, sudah saya kirimkan pada Anda, Tuan. 


Setelah membaca pesan singkat itu. Galaksi segera membuka email itu dengan cepat. Matanya meneliti satu persatu hingga sebuah nama membuat jantungnya berdetak kencang.


Alexia Sia.


Ternyata Tuhan masih memberikan kesempatan untukku mengejarmu, Sayang? kita diizinkan bekerja dalam atap yang sama, Batinnya sambil menatap wajah Sia dan kedua anaknya yang tengah memakan cemilan darinya dengan wajah bahagia.


~Bersambung~


Ahh detik-detik nendang si peyot, uhuyy.


Semangat pen ngetik, meski ya waktunya kejar-kejaran sama jaga bocil, hehe.


Jangan lupa klik like, komen dan vote sebagai tanda apresiasi dengan karya si kembar.


Tembus 250 like lagi, aku update. Yok gas!