The Billionaire Twin'S Baby

The Billionaire Twin'S Baby
Kepindahan




Setelah semua koper dan barang yang akan dibawa ke New York telah siap. Mereka semua segera bergegas menuju bandara. Galaksi benar-benar memboyong semua keluarganya. Bukan hanya mertua dan mama kandungnya. Orion, yang notabenenya orang kepercayaan papanya sekaligus sudah dianggap sebagai omnya sendiri juga ikut dia bawa.


Galaksi benar-benar tak mau keluarganya berpisah. Bahkan tak tanggung-tanggung, pria itu membeli rumah di sekitar tempat tinggalnya hanya untuk mertua dan adik iparnya. Untuk mama dan Orion, atas keinginan sang istri akan tinggal bersama mereka.


Setelah hampir satu jam mereka menuju Bandara. Akhirnya mobil yang ditumpangi mereka mulai terparkir rapi. Semua segera mengeluarkan kopernya masing-masing dan dibantu beberapa pelayan yang diajak Galaksi untuk pindah. 


Entah kenapa istrinya itu tak mau memiliki pelayan baru. Menurutnya mencari yang nyaman itu sangat susah. Akhirnya Galaksi hanya menurut. Toh yang berada di dalam rumah lebih lama adalah istrinya. Jadi ia akan mengikuti saran Galexia agar wanita itu nyaman berada di rumah.


"Sini Papa bawakan koper milik Venus," kata Galaksi saat anaknya berusaha menarik koper kecil miliknya.


Kepala bocah itu menggeleng. Dia begitu kekeh ingin menariknya sendiri.


"Nanti Venus capek bagaimana?" 


"Venus bisa sendili, Papa." 


"Baiklah." Akhirnya Galaksi menyerah. 


Namun, pria itu tak lekas meninggalkan putrinya. Dia berjalan di belakang Venus dan melihat putrinya yang berusaha menarik kopernya sendiri. 


Wajah semua orang terlihat begitu bahagia. Mungkin karena perpisahan tak akan terjadi di antara mereka.


"Apa Papa baik-baik saja?" tanya Cressida saat melihat Jericho berjalan dengan pelan.


"Papa baik-baik saja, Sayang. Papa hanya sedang menunggu Mama," kata Jericho dengan tersenyum.


"Memang Mama kemana?" 


"Mama sedang mengambil barangnya yang ketinggalan di mobil," sahut Jericho dengan tenang. 


"Baiklah. Aku akan menemani, Papa." 


Jericho hanya mengangguk. Dia mengelus kepala putri keduanya dengan sayang. Sungguh pria dengan umur tak lagi muda itu begitu bersyukur. Dia masih diberi kesempatan untuk bertemu kedua anaknya, menjadi wali nikah dan hidup bersama di sisa hidupnya. 


****


Akhirnya perjalanan yang begitu panjang itu berakhir. Mereka langsung disambut oleh mobil jemputan yang sudah disiapkan oleh Star, pria jomblo yang sangat mengabdi pada suami dari Galexia.


"Bagaimana kabarmu, Star?" tanya Galaksi dengan menepuk pundak orang kepercayaannya itu. 


"Saya baik, Tuan," sahut Star dengan cepat. "Apakah Anda langsung ingin pulang?" 


"Ya, Star. Keluargaku pasti sangat lelah," ucap Galaksi sebelum memasuki mobil.


Sepanjang perjalanan, Galexia tak henti-hentinya menatap ke luar. Dia tersenyum kala mengingat jika di negara inilah dirinya bisa bertemu dengan pria disampingnya itu. Sosok pria yang sangat dia benci, ternyata memiliki takdir lucu dengannya. 


Takdir tuhan itu benar-benar nyata. Ketika apa yang kita inginkan ternyata tak sesuai maka disitu campur tangan tuhan mulai bekerja. Namun, Galexia tak pernah marah atas takdirnya. Bahkan dia bersyukur karena Tuhan mampu membolak-balikkan hatinya yang dulu pernah membenci dan berakhir dengan saling mencintai.


"Memikirkan apa, hmm?" bisik Galaksi lalu meletakkan dagunya di pundak sang istri. 


Dia mengabaikan keberadaan asisten dan supirnya. Di dalam mobil itu memang hanya ada empat orang saja. Kedua anaknya memilih bersama kakek neneknya daripada dengan mereka berdua. 


"Di negara ini kita mulai ditakdirkan bertemu, Kak," jeda Galexia sambil menghela nafas pelan. "Mungkin jika aku tak menerima ajakan Riksa, kita tak akan pernah bertemu." 


"Usttt." Galaksi menyela. Dia membalikkan tubuh sang istri hingga keduanya saling bersitatap. "Itu sudah menjadi takdir Tuhan, Sayang. Perpisahan, pertemuan dan bersatunya kita, semua atas campur tangan Tuhan." 


"Kakak benar dan aku sangat bersyukur akan hal itu."


"Seperti?" tanya Sia dengan kening berkerut. 


"Cara agar benihku segera hadir disini." Tangan Galaksi sambil mengelus perut Sia. 


Pipi Galexia bersemu merah. Entah kenapa dia merasa malu dengan tingkah suaminya. Dia memukul tangan Galaksi hingga membuat pria itu menatapnya bingung. 


"Kenapa?" 


Tangan Galexia menunjuk dua kursi depan. Dia mengatakan tanpa suara jika ada asisten dan supir di dalam mobil mereka.


"Anggap mereka tidak ada. Toh Star tidak akan merasa iri," ucap Galaksi bodo amat.


Pria yang disebut namanya itu, hanya mampu mengelus dadanya. Dia mungkin tak dianggap bukan manusia oleh tuannya. Padahal sejujurnya dari tadi, hati Star menjerit.


Jujur pria yang umurnya sudah cukup untuk menikah itu, sedang tak dekat dengan siapapun. Dia benar-benar masih sendiri dan hanya fokus dengan pekerjaannya.


Aku juga ingin merasakan pelukan seorang kekasih, tapi pekerjaan ini benar-benar membuatku menjadi jomblo sejati, batin Star menjerit sambil melihat ke depan. 


Perlahan mobil mulai memasuki sebuah jalanan yang kanan kirinya dipenuhi rumah bergaya Amerika. Jalanan yang bersih, pepohonan di pinggir jalan serta kerapihan deretan rumah seakan memanjakan mata semua orang yang melihat. Hingga supir mulai membelokkan mobilnya dan menjauh dari jalan raya. 


Terlihat dari jauh. Tiga buah rumah bergaya American Contemporary Hause sangat menarik perhatian. Rumah dengan banyaknya kaca itu sangat begitu indah. Satu persatu mobil memasuki tempat parkir di tiap rumah tersebut. 


Galexia turun. Wanita itu sampai menatap tak berkedip rumah di depannya. Benar-benar rumah impian yang sangat dia inginkan. 


"Apa kamu suka?" tanya Galaksi sambil memeluk istrinya dari belakang.


"Sangat, Kak. Aku sangat menyukai rumah ini," sahut Sia dengan mata berkaca-kaca. 


"Syukurlah. Semoga kamu betah disini dan membangun rumah tangga kita bersama-sama." 


"Pasti, Kak. Pasti." 


Keterkejutan tak hanya dirasakan oleh Galexia. Cressida dan kedua orang tua Galexia benar-benar tak percaya dengan rumah yang akan mereka tinggali. 


Rumah itu benar-benar besar dan luas. Apalagi jika dilihat dari modelnya saja, Jericho bisa menebak jika nilai dari rumah ini sangat fantastis. Akhirnya mereka berjalan menuju rumah yang berada di tengah. 


Rumah yang akan menjadi tempat tinggal putri pertamanya. Jericho bersama istrinya melangkah. Dia mendekati anak dan menantunya yang masih setia berdiri di depan sana. 


"Galaksi," panggil Jericho pada sang menantu. 


"Ya, Ayah." 


"Rumah ini terlalu besar, Nak. Ayah dan Ibu…." 


"Tolong terima rumah ini, Ayah. Anggap saja sebagai hadiah karena sudah mau menerima Galaksi menjadi menantu ayah dan ibu lagi." 


"Iya, Ayah. Galexia berharap semoga Ayah dan Ibu betah tinggal disini bersama kami," kata Sia ikut berbicara.


Mata Jericho berkaca-kaca. Dia sungguh bersyukur putrinya mendapatkan sosok suami yang begitu baik. Walau masa lalu mereka begitu buruk. Namun, kedewasaan dan perubahan Galaksi sudah menjadi tanda jika pria itu benar-benar telah berubah.


"Ayah dan Ibu pasti betah, Nak. Apalagi bisa dekat dengan putri-putri Ayah," jeda Jericho lalu menatap menantunya. "Ayah doakan semoga rejekimu lancar, Nak."


~Bersambung~


Aku juga mau, Bang. Satu aja kasih ke aku rumahnya ntar aku tinggal terbang, hahaha.


Akhirnya bisa update dua bab. Jangan lupa klik like, komen dan vote yah. Biar author semangat ngetik lagi.