
Mobil yang digunakan untuk menjemput Mama Alya, akhirnya mulai memasuki halaman Rumah Galaksi. Sia terpaksa menerima bantuan mantan suaminya untuk membawa Mama Alya dan Cressida tinggal disini. Menurut Galaksi, dirinya tak mau jauh dari Sia dan kedua anaknya, hingga membuatnya mengizinkan ibu dari lawan hatinya itu untuk tinggal disini.
Saat semua orang mulai turun dari mobil, terlihat Galaksi baru saja keluar dengan tongkat untuk menyangga tubuhnya. Sebenarnya dia sudah tak membutuhkan tongkat itu, tapi mengingat ancaman mantan istrinya, membuat dirinya menurut akan perintah baginda ratu.
"Ayo masuk, Ma," kata Sia sambil menutup pintu mobil. "Biarkan pelayan yang membawa barang-barang Mama ke dalam.
Mama Alya tersenyum kemudian dia menarik tangan Cressida yang sejak tadi hanya diam. Keduanya berjalan mendekati posisi Galaksi yang sudah dikerubungi oleh kedua anaknya.
"Selamat datang, Nyo…."
"Panggil saja Ibu, Nak," sela Mama Alya dengan tersenyum.
Hati Galaksi menghangat. Dia tak menyangka di pertemuan pertama mereka, ibu dari lawan hatinya ini begitu baik. Hingga pria itu pun mengangguk menuruti permintaan dari Mama Alya.
"Semoga Ibu betah tinggal disini," kata Galaksi sambil menggandeng tangan putrinya.
"Tentu saja. Apalagi disini ada dua cucu Ibu yang begitu menggemaskan," kata Mama Alya sambil menatap si kembar yang mengacungkan jempol ke arah dirinya.
Galaksi beralih. Dia menatap wanita muda yang berdiri di samping Mama Alya. Saat pandangannya menatap lekat, tiba-tiba Galaksi seperti menahan nafas. Dia merasa kesulitan untuk menelan ludahnya saat matanya menatap wajah wanita itu yang begitu mirip dengan wanita yang dicintainya.
Galaksi menoleh. Dia melihat sang mantan istri yang sedang menatapnya juga. Pikirannya berpikir dengan mata menatap bergantian ke arah dua wajah yang memiliki kesamaan.
"Ada apa, Kak?" Tanya Sia yang melihat wajah mantan suaminya seperti kebingungan.
"Eh nggak apa-apa." Galaksi menggeleng. Lalu dia kembali menatap wajah Cressida yang sepertinya tidak nyaman.
"Saya Galaksi, papa dari si kembar. Semoga Anda betah tinggal disini," kata Galaksi yang sudah tak fokus dengan pertanyaannya.
Jika tak menatapnya hanya sebentar, pasti tak akan terlihat jika keduanya mirip. Namun, jika menatapnya lekat dan bergantian, kesamaan itu pasti terlihat sangat jelas.
Hingga pemikiran ayah dari si kembar itu buyar, ketika mantan istrinya membawa dia dan tamunya untuk masuk. Sepanjang langkah kakinya masuk ke dalam rumah, pikiran Galaksi terus berpikir. Dirinya merasa ada sesuatu yang mengusik hatinya hingga membuatnya ingin mencari tahu.
"Mama ingin istirahat langsung atau bersantai di ruang tamu dulu?" Tawar Sia saat mereka sudah berada di dalam rumah.
"Kayaknya Mama sama calon menantu Mama butuh istirahat, Nak. Benar, 'kan, sayang?" Tanya Mama Alya ke arah Cressida.
"Ah iya, Ma," sahut Cressida yang masih begitu kaku untuk memanggil Mama Alya dengan panggilan Mama.
Terlihat dari dirinya yang selalu salah memanggil antara Mama dan Tante. Namun, hal itu tak pernah menjadi perdebatan untuk Mama Alya.
"Ayo Sia antar ke kamar."
****
Setelah kepergian Sia. Mama Alya dan Cressida menatap kamar yang begitu besar. Keduanya melihat dan meneliti sisi tiap sisi kamar yang begitu luas. Hingga Mama Alya yang sudah sangat lelah, segera meletakkan tasnya diatas ranjang dan mendudukkan dirinya di sana.
"Kamu yakin mau sekamar sama, Mama?" Tanya Mama Alya memastikan.
Tadi Sia sudah menawarkan agar keduanya tidur dengan kamar terpisah. Namun, Cressida yang masih takut akan kejadian Carina dan Castor membuatnya tak mau sendirian.
"Nggak, Ma. Aku masih merasa takut jika ingat kematian Mama dan Papaku," lirihnya sambil mendudukkan dirinya di sofa.
"Baiklah. Cepat mandi, Nak. Lalu istirahat!" Kata Mama Alya penuh perhatian.
Namun, Cressida yang dilanda rasa penasaran tinggi. Dia memilih untuk berjalan mendekati Mama Alya. Lalu duduk di atas ranjang dan saling berhadapan.
"Bolehkah Cress tanya sesuatu, Ma?" Tanyanya dengan wajah serius.
Kening Mama Alya berkerut. Dia melihat wajah wanita muda di depannya ini tak seperti keberangkatan mereka tadi. Saat ini, wajah Cress seperti banyak pikiran. Bahkan wanita seperti tertekan yang membuat Mama Alya mengangguk.
Dia menggenggam tangan calon menantunya dan mengelusnya dengan lembut. "Ada apa, Nak?"
Sungguh sebenarnya dia merasa malu untuk menyatakan rasa penasarannya ini. Namun, Cress sadar, dia tak boleh menduga-duga. Dirinya harus menanyakan secara langsung tanpa menunggu lama agar tak terjadi kesalahpahaman.
Sedangkan Mama Alya, yang mendengar pertanyaan calon menantunya itu terkekeh. Dia mulai menebak jika pasti Cressida cemburu akan kejadian di mobil tadi. Namun, ini tak boleh terjadi. Mama Alya harus bisa memberikan pengertian pada Cress, jika kehadiran Sia dan si kembar di hidupnya begitu berarti untuk mereka.
"Bukan, Sayang. Kenapa kamu berpikiran seperti itu?" Tanya Mama Alya dengan tenang.
"Aku merasa sikap Riksa berbeda ketika bersama Sia, Ma. Apalagi si kembar yang begitu lengket sama, Mama."
Akhirnya hati Cressida sedikit lebih tenang. Dirinya bernafas lega bisa mengutarakan kegelisahan hatinya. Hingga dirinya tinggal menunggu jawaban. Jawaban yang entah akan membuat hatinya membaik atau makin memburuk.
"Galexia bukan mantan istri, Riksa," kata Mama Alya dengan tegas. "Dia hanya salah satu bagian wanita terkuat di dunia ini yang dipertemukan oleh Tuhan dengan anak Mama saat Sia ada di titik terendah."
Kening Cressida berkerut. Seakan dirinya tak memahami penjelasan calon mertuanya ini.
"Begini, Nak." Mama Alya akhirnya mulai menceritakan perjalanan kisah Sia dan Riksa saat bertemu. Dia menceritakan hal itu bukan untuk membongkar aib, melainkan dirinya tak mau ada kesalahpahaman antara Cressida dengan ibu dari si kembar.
Menurutnya, menghindari adalah jalan terbaik daripada terlambat, karena sejatinya hidup keduanya memang begitu rekat. Jadi, harus diberikan pengertian dulu sebelum ada sesuatu yang tak diinginkan akan terjadi.
"Jadi tadi itu…."
"Ya. Itu mantan suami Sia, Sayang. Mereka juga akan kembali rujuk dalam waktu dekat."
Entah kenapa penjelasan Mama Alya seperti angin segar. Dia merasa beban dalam pikirannya terangkat dan membuatnya bisa bernafas lega.
"Mama tebak kamu cemburu, 'kan?
Cressida tertawa kecil. Dia menggaruk kepalanya yang tak gatal karena ketahuan oleh calon mertuanya.
"Percayalah sama Mama, Nak. Riksa tetap akan memilihmu dan menjadikanmu ratu di rumahnya."
****
Di ruang tamu, Galexia sedang meletakkan cemilan yang kemarin dia buat sendiri untuk Mama Alya. Ketika dirinya asyik dengan kegiatannya. Tiba-tiba datanglah seorang satpam dengan membawa sebuah kotak kardus menuju ke arahnya.
"Ada apa, Pak?" tanya Sia menegakkan tubuhnya.
"Ini ada paket untuk, Nona," kata satpam sambil menyodorkan pada calon istri majikannya.
Kening Sia berkerut. Namun, dia menerima paket itu dan melihat tak ada nama pengirim disana.
"Siapa yang mengantarkannya kesani, Pak?" tanya Sia curiga.
"Kurir, Non."
Akhirnya Sia menyuruh satpam itu pergi. Setelah itu dia membawa kotak kardus itu dan mendudukkan dirinya di sofa. Dengan pelan dia mulai melepaskan selotip kardus itu sampai berhasil.
Entah kenapa jantungnya begitu berdebar. Perlahan dia segera membuka kardus itu hingga isi di dalam kotak misterius itu terlihat begitu jelas.
"Akhhhhhh!"
~Bersambung~
Kira-kira isinya apa yah?
Kepo kan? sama loh aku aja gak tau nih. Haha.
Jangan lupa like, komen dan vote yah. Sebagai apresiasi kalian sama novel ini.
Insya allah aku mau adain give away buat novel ini di akhir bulan.
Tembus 250 like, aku up lagi!