The Billionaire Twin'S Baby

The Billionaire Twin'S Baby
Galexia VS Riksa




 


"Antarkan aku pulang!" pinta Sia dengan melepaskan tangannya dari tubuh Leo.


Perempuan dengan dua anak kembar tersebut terlihat linglung. Kabar yang dikatakan oleh Leo barusan cukup membuat mentalnya terguncang. Sia berlalu dengan sempoyongan seperti orang mabuk hingga tubuhnya hampir terjatuh. Namun, dengan sigap Leo menopangnya dan menatap iba ke arah sahabatnya.


"Maafkan aku, Sia. Aku baru bisa mengatakan semuanya padamu sekarang," kata Leo penuh penyesalan.


"Tolong antarkan aku pulang!" Hanya kata itulah yang muncul dari bibir Sia.


Sepanjang perjalanan, tak ada pembicaraan di dalam mobil. Sia benar-benar hanya menatap kosong ke depan dengan pikiran yang sudah berkecamuk. Banyak hal luar biasa yang dia temukan dan dia dengar hari ini. Hal itu, tentu membuat jiwanya yang masih butuh kesembuhan semakin sakit.


Hingga tanpa sadar, air mata mengalir dari sudut mata Sia. Bayang-bayang wajah Mars dan Venus semakin menimbulkan banyak ketakutan dalam dirinya.


Mantan mertuanya sudah bertemu dengan si kembar. Namun, ancaman yang dia berikan juga membahayakan nyawa Mars dan Venus. Lalu sekarang, ternyata mantan suami yang sekaligus ayah kandung si kembar ternyata sudah bertemu dengan anak-anaknya. Sungguh takdir Tuhan begitu luar biasa. Tak ada yang bisa menebak kapan dan dimana.


Setelah hampir setengah jam berada di jalan. Sia segera turun dari mobil Leo tanpa mengatakan sepatah kata pun. Dia hanya ingin segera bertemu kedua anaknya. Memeluk dan menjaga dari cengkraman orang-orang yang sudah menyakitinya di masa lalu. 


"Sia!" Leo menarik tangan Sia yang berjalan dengan tatapan kosong. "Maafkan aku." 


"Biarkan aku masuk, Le. Aku lelah." Sia melepaskan tangan Leo lalu dia segera masuk ke dalam rumah.


Untung saja, Sia diberikan kunci cadangan oleh Riksa beberapa hari yang lalu. Jadi dia tak perlu mengganggu orang-orang yang sedang beristirahat. 


Setelah pintu rumah tertutup. Sia menyandarkan tubuhnya pada pintu. Menenangkan jiwanya yang masih terguncang dengan diiringi helaan nafas berat. 


Mengingat tujuannya kemana. Sia segera berlalu dengan cepat. Melangkahkan kakinya ke arah kamar si kembar yang menjadi tempat tidur mereka selama tinggal disini.


Pelan, Sia membuka pintu tersebut. Mendorongnya hingga terlihat dua anak mungil sedang tidur di atas ranjang yang sama. Matanya berkaca-kaca dengan diiringi isakan tangis. Kehadiran Mars dan Venus adalah sebuah anugerah. Membesarkan mereka dengan jerih payahnya sendiri adalah sebuah kebanggaan. Namun, bagaimana jika Galaksi tahu bahwa mereka adalah anak-anaknya.


Bagaimana jika Galaksi mengambilnya?


Menjauhkan dari hidup Sia selama-lamanya. Tentu hal itu pasti membuat Sia semakin gila. Hingga tanpa sadar dirinya menjatuhkan bobot tubuhnya di atas ranjang. Matanya menatap kedua anaknya yang tidur dengan nyamn. Hingga pandangannya tertuju pada Venus. Gadis kecilnya yang ia bentak untuk pertama kalinya. 


"Maafkan Mama, Sayang." Sia mengelus kepala putrinya dengan sayang. Lalu dia menjatuhkan kecupan lembut di kepalanya. 


"Mama tak akan membiarkan dia mengambil kalian. Mama akan menjaga dan mempertahankan Mars dan Venus agar selalu bersama Mama." Tekad Sia begitu yakin.


Dia tak mau mengalah. Dia berjanji akan membuat kedua anaknya selalu di sampingnya. Tak ada yang boleh merebut mereka, karena keduanya adalah harta yang begitu berharga untuk Sia selama 6 tahun ini.


"Aku harus pergi dari sini. Aku harus membawa mereka jauh dari jangkauan Galaksi." 


Akhirnya Sia sudah mengambil keputusan. Dia akan kembali ke negaranya dan membawa si kembar bersamanya. Tak akan pernah dia injakkan kakinya lagi kesini. Sia masih takut dan belum siap untuk bertemu mantan suaminya. Hingga pilihan inilah yang dia ambil. 


Sebelum itu, Sia harus membereskan segalanya. Dia keluar dari kamar kembar dan langsung berhadapan dengan Riksa yang ternyata sudah berdiri di depan kamar.


"Aku...aku…" 


"Kita perlu bicara," kata Riksa pelan tapi terdengar ketegasannya.


Sia mengangguk. Lalu dia mengikuti langkah Riksa yang sepertinya melangkah menuju meja makan. Sia memilih mendudukkan dirinya di kursi meja makan. Sedangkan Riksa segera berlalu menuju dapur untuk menyiapkan dua minuman hangat untuk mereka berdua.


Sia menyesap minuman beraroma manis tersebut. Pikirannya sedikit tenang ketika rasa hangat membasahi kerongkongannya. 


"Aku bertemu dengan mantan mertuaku," kata Sia setelah meletakkan cangkir minumannya. "Dia mengancamku dengan taruhan nyawa si kembar." 


Riksa masih diam. Pria itu menyimak apa yang diceritakan oleh Sia dari awal pertemuannya di kamar mandi sampai gerakan Pandora saat melihat ke arahnya di restaurant.


"Kau hanya diam?" tanya Riksa setelah Sia bercerita semuanya.


"Apa lagi yang harus aku lakukan?" tanya Sia menatap Riksa dengan lemah. "Aku baru bertemu masa laluku, disaat rasa traumaku masih melekat. Aku masih shock ketika mantan mertuaku menyerangku." 


"Tapi bukan berarti kau harus diam, Sia," kata Riksa sambil menatap Sia begitu dalam. "Aku tau kau pasti takut untuk memberontak, tapi ini demi keselamatanmu."


"Apa maksudmu?" tanya Sia tak mengerti.


"Kau harus bertindak dan berubah. Dia saja masih berbuat jahat denganmu setelah kau pergi dan cerai dengan anaknya. Jangan biarkan mantan mertuamu semakin menginjak-nginjak harga dirimu," ucap Riksa dengan tegas. "Kau boleh menghargai dan menghormatinya, tapi jika sikapnya memang baik. Namun, mantan mertuamu jauh dari kata itu, dan kau berhak melawan." 


"Melawan?" ulang Sia sambil menatap lekat managernya.


"Ya. Apa kau mau Mars dan Venus berada dalam bahaya?" 


Spontan Sia menggeleng. Sedikitpun dirinya tak akan mengijinkan siapapun bisa mendekati kedua anaknya apalagi mencelakainya. Apapun itu, biarpun nyawanya menjadi taruhan akan Sia berikan.


"Jika kau tak mau mereka dalam bahaya. Lawan mereka, Sia! Lawan siapapun yang menyakitimu. Jangan bersikap lemah kepada mereka. Tunjukkan kau kuat demi kedua anakmu." 


Entah dorongan dari mana. Ucapan Riksa seakan mengobar dalam jiwa Sia. Rasa keibuan dalam dirinya menyelimuti hatinya hingga membuat Sia memiliki tekad untuk melindungi kedua anaknya. 


Benar yang dikatakan Mars kepadanya. Dia tak boleh lemah di hadapan orang yang membencinya. Mungkin selama ini, mertuanya bisa semena-mena kepadanya karena dirinya yang terlalu lembut. Namun, mengingat sikap Pandora kepadanya dan ancamannya tadi. Membuat Sia bertekad dengan dirinya.


Aku harus kuat. Aku harus mampu menjaga kedua anakku. Jika bukan aku yang melindungi mereka, lalu siapa lagi? Batinnya bergejolak.


"Kau benar, Riksa. Selama ini aku diam karena masih menghormatinya. Tapi, dari perkataanmu aku sadar. Jika orang jahat tak akan bisa berubah jika kita tak melawannya." Riksa tersenyum bangga. Dia tak menyangka jika Sia mengerti apa yang dia maksud.


"Ini baru perempuanku yang kuat, yang selama ini aku kenal. Berjuang dan semangat demi si kembar apapun keadaannya." 


Sia mengangguk. Dia menatap wajah Riksa lekat dengan rasa syukur yang mendalam. Ternyata pertemuannya dengan Riksa membawa arti yang begitu besar dalam hidupnya.


"Terima kasih. Terima kasih selalu ada untukku." 


"Aku akan selalu ada disampingmu dan membantumu melawan mereka yang ingin mencelakai si kembar."


~Bersambung~


Nah kan, ini loh yang kumaksud kemarin. Setiap tingkah laku itu, bisa berubah karena alasannya. Seorang ibu bisa lembut dan bisa juga garang karena sebuah alasan yang kuat.


Aku gak mau sikap tokoh aku tiba-tiba berubah karena gak jelas. Aku pengen cerita ini runtut dan membekas pada hati kalian semua.


Oke sekian terima gaji.


Jangan lupa kalau kalian suka, favoritkan karya ini. Klik like dan komentar yang banyak biar author semangat updatenya.


Tembus 200 like aku update lagi. Yok Gas