The Billionaire Twin'S Baby

The Billionaire Twin'S Baby
Aksi Mars Venus




Galaksi tercengang bahkan dirinya tak tahu harus menjawab apa. Sungguh pikirannya berkelana memikirkan apa yang baru saja dia dengar dari mulut mantan istrinya. Apakah selama ini mamanya tahu tentang dirinya dan Sia?


Terlalu banyak berpikir dan mendapatkan banyak kebenaran, membuat kepala Galaksi berdenyut. Pria itu memegang dahinya yang terluka hingga membuat Leo dan Riksa yang menatapnya khawatir.


"Lo kenapa, Lak?" tanya Leo sambil berjongkok di depan kursi roda Galaksi.


"Kepala gue sakit," sahut Galaksi dengan mata terpejam sambil menahan sakit yang semakin terasa.


"Ya, 'kan? Gue bilang apa. Lo sih paksa gue kesini," gerutu Leo sambil beranjak berdiri. "Gue anter Galaksi dulu ya, Sia," pamitnya yang dijawab anggukan oleh Sia. 


Sungguh tak ada rasa khawatir pada Galaksi sedikitpun. Wajah Sia masih datar-datar saja dan seakan tak peduli dengan mantan suaminya. Hingga pintu ruangan itu tertutup meninggalkan Riksa dan Sia berdua di sana. 


Riksa hanya bisa menghela nafas berat. Lalu dia meminta Sia untuk beristirahat. Namun, bukannya menurut, Sia malah menatap managernya itu.


"Kenapa?" tanya Riksa dengan kening berkerut. 


"Apa aku jadi manusia jahat?" tanya Sia menatap ke arah Riksa.


Riksa tersenyum. Ternyata perempuan di depannya ini tetap sama. Wanita itu masih mengutamakan perasaannya dan tak tega dengan seseorang. Dia berjalan mendekat ke arahnya dan duduk di depan Sia. 


"Kau sudah melakukan yang terbaik, Sia. Kau memaafkannya dengan ikhlas. Memberitahukan kebenaran kepadanya dan memberikan kesempatan Tuan Galaksi untuk tahu jika dia sudah menjadi sosok ayah dari si kembar," kata Riksa dengan merapikan rambut Sia. "Kau sudah menjadi manusia yang terbaik." 


Sia tersenyum. Dia selalu merasa nyaman setelah bercerita keluh kesahnya dengan Riksa. Namun, tak ada perasaan apapun selain perasaan adik pada kakaknya. Dia sudah menganggap Riksa seperti kakaknya sendiri. Perhatian Riksa, jiwa pengertiannya semakin membuat Sia merasa seperti adik yang begitu disayangi. Tanpa dia tahu, jika apa yang dirasakan oleh Riksa berbeda dengannya.


Pertemuan yang tak sengaja, kebersamaannya selama ini meninggalkan rasa cinta yang mendalam di hati Riksa hingga membuat pria itu begitu menyayangi wanita di depannya ini. Namun, untuk mengakui perasaannya Riksa tak berani mengatakannya. Dia takut jika hubungan mereka akan berakhir hanya karena sebuah rasa yang muncul di antara mereka. 


****


Sedangkan di sebuah bangunan yang terlihat begitu familiar. Terlihat sepasang anak kembar sedang duduk bersama di sofa ruang tamu dengan ditemani seorang wanita paruh baya yang tak lain adalah Mama Alya.


Mars dan Venus, keduanya duduk dengan mainan di tangannya masing-masing. Si putri cantik yang sedang asyik dengan boneka dan alat make upnya. Sedangkan Mars, pria kecil itu hanya diam menatap rubik di tangannya.


Pikirannya masih berkelana pada kejadian kemarin. Ditambah dia khawatir akan kondisi mamanya, membuat Mars tak bisa tidur semalam. Perdebatan antara mamanya dengan pria yang sering ditemui mereka, membuatnya penasaran. Rencana sudah Mars pikirkan hingga membuatnya bertekad mengajak sang adik untuk menuntaskan rasa penasarannya itu.


"Abang kenapa diem telus?" tanya Venus saat menyadari Mars hanya menatap rubik di tangannya.


Mars menoleh. Pria itu ingin menjawab pertanyaan sang adik. Namun, sebelum itu dia melihat Mama Alya yang sepertinya tak mendengar ucapan Venus. Hingga membuat Mars memilih mendekatkan bibirnya dengan telinga sang adik. 


"Ikut Abang ke kamar yuk! Abang mau kasih tau sesuatu sama kamu," bisik Mars yang langsung diacungi jempol oleh Venus.


Kedua anak kecil itu turun dari sofa, hingga membuat perhatian Mama Alya tertuju pada mereka berdua. 


"Mau kemana?" tanya Mama Alya dengan lembut.


"Kita mau main ke kamal, Nenek," sahut Venus dengan suara cadelnya.


"Oke. Kalau ada apa-apa bilang sama Nenek, 'yah?" 


"Siapp!" Keduanya lantas berlalu meninggalkan Mama Alya sendirian. Tanpa sepengetahuan siapapun, Mars dan Venus saling bertos ria karena berhasil lepas dari perhatian mama dari Riksa.


Menatap sekitar, keduanya sedang melihat apakah keadaan aman atau tidak. Saat menyadari tak ada siapapun yang melintas, Mars menarik tangan Venus masuk ke kamar. Mengunci pintu dengan pelan lalu keduanya mulai berhadapan. 


"Ada apa, Bang? Kenapa Abang ajak Venus ke kamal?" tanya Venus dengan keningnya berkerut.


"Kamu masih inget sama pria yang di mall itu?" 


Venus terdiam. Matanya menatap ke atas terlihat berpikir siapa yang dimaksud abangnya ini. Sungguh tingkah putri kecil Galexia ini terlihat begitu menggemaskan. 


"Oh, Venus inget," pekiknya dengan mata berbinar. "Om Galaksi?" 


"Jadi Om Galaksi ada disana kemalin?" 


"Iya." 


"Dia yang buat mama pingsan?" 


"Iya." 


"Jadi abang belpikil, kalau dia yang kita cali selama ini?" 


"Tentu saja." 


"Telus apa lencana, Abang? Abang punya bukti dali mana, kalau dia yang kita cali?" 


Mars kembali membisikkan sesuatu hingga membuat Venus mengangguk antusias. Akhirnya setelah mengatakan semua rencananya pada sang adik. Dua bocah kecil itu keluar dari kamar. Matanya dengan jeli melihat ke sekitar lalu segera berlalu ke arah tangga.


Sebelum naik, Mars menatap punggung Mama Alya yang masih dengan setia duduk di sana. Hingga membuat kesempatan ini digunakan dengan baik oleh dua anak kecil itu. Mereka segera berlari menuju salah satu kamar yang pintunya tertutup rapat. 


"Kamu tunggu disini yah. Kalau ada Nenek cepet ketuk pintu, oke?" 


"Oke." Venus mengacungkan jempolnya. "Abang hati-hati." 


Mars mengangguk. Lalu dengan pelan dia membuka pintu yang tak dikunci tersebut. Tubuhnya yang mungil tentu membuatnya dengan mudah menyelinap. Sedangkan Venus, gadis mungil itu duduk di depan pintu sambil menunggu aksi abangnya di dalam.


Saat pintu kamar ditutup dengan pelan. Mars menatap sekeliling. Ruangan kamar yang didominasi dengan warna putih itu terlihat begitu terang karena sinar matahari. Dengan gerakan cepat, Mars segera bergegas mencari barang yang menjadi tujuannya.


Hingga tanpa sengaja, matanya menatap antusias ke arah ranjang. Laptop yang dia cari ada disana. Tanpa menunda, segera Mars berjalan mendekat dan meraih benda itu agar bisa dijangkau dirinya.


Tangannya yang lincah segera membuka laptop tersebut. Membukanya dan menunggu hingga layar yang awalnya hitam berubah bercahaya. Mata Mars semakin berbinar saat melihat tak ada password disana. Hingga dengan cepat dirinya mengoperasikan benda elektronik tersebut.


Ternyata keahliannya selama ini tak rugi untuk dirinya. Mars merasa ilmu yang diajarkan oleh Mamanya berguna disaat genting seperti ini. Ya, sejak usia Mars 5 tahun, Sia sudah mengajarkan kedua anaknya tentang komputer dan sejenisnya. Hal itu tentu membuat otak kecilnya pandai mengoperasikan benda ini dengan cepat.


Tanpa menunda, Mars segera mengetikkan sesuatu disana. Men scroll layar tersebut hingga matanya menangkap sebuah artikel yang ada di sana. Tubuh kecilnya mematung dengan mata melotot saat mengetahui praduga yang selama ini bersarang di otaknya ternyata sebuah kebenaran. 


"Ternyata memang benar. Dia adalah orang yang selama ini aku dan Venus cari." 


Tanpa Mars sadari, jika Venus yang sedang duduk di luar kamar terlonjak kaget dengan suara panggilan sang Nenek. Spontan gadis mungil itu beranjak berdiri dengan wajah penuh kekhawatiran.


"Kamu ngapain disini, Sayang?" tanya Mama Alya dengan mengelus kepala Venus.


"Venus mencali Abang, Nenek. Venus sedang belmain petak umpet dan abang yang sembunyi," ucapnya penuh keyakinan, "tapi sampai sekalang abang belum ketemu." 


Mama Alya tersenyum. "Terus kenapa kamu disini?"


"Venus udah cali ke semua tempat tapi gak ada. Tinggal kamal Om Liksa aja yang belum."


"Baiklah. Ayo Nenek temani, kita masuk dan menangkapnya bersama-sama." 


~Bersambung~


Haduhh gimana sama nasib si Mars yah. Ketahuan apa gak? 


Terima kasih likenya semua. Kalian luar biasa.


Ngomong-ngomong bab 33 tadi aku update jam 12.51 tapi sampai sore belum ke update gara-gara aplikasinya eror. Alhasil aku langsung hubungi editor dan akhirnya ke up.


Jadi kalau misal likenya udah melebihi dan aku belum update, coba tengok kolom komentar di bab akhir yah. Biasanya aku kasih kabar disana kenapa belum update, atau follow instagram aku ini_jblack.


Jangan lupa tekan like dan komen. Love Sekebon dari si kembar.