The Billionaire Twin'S Baby

The Billionaire Twin'S Baby
Sosok Tersembunyi




Sejak kepulangan mereka dari Bandara. Galexia mengurung diri di kamar Galaksi. Dia memeluk dua benda yang ditemukan itu sambil terduduk di dekat ranjang. Kakinya ditekuk dan memeluknya sambil menatap jam tangan yang dipakai oleh Galaksi saat berangkat.


Matanya berkaca-kaca mengingat bagaimana calon suaminya itu meminta dipakaikan jam tangan tersebut. Dia juga begitu ingat, bagaimana Galaksi meminta tolong untuk mengambilkan jam yang cocok untuk dirinya. 


"Kamu yakin ingin aku yang memilihkannya?" tanya Sia sambil mengintip ke arah Galaksi yang sedang merapikan pakaiannya.


"Tentu saja, Siaku. Pilihkan jam yang menurutmu cocok denganku," kata Galaksi sambil memberikan kedipan manja.


Galexia tergelak lalu tanpa kata, dia mulai berjalan mendekati lemari tempat koleksi jam milik Galaksi yang bernilai ratusan juta. Matanya menatap berbinar, jam yang begitu modis dan elegan begitu menarik untuknya. Sia mulai bingung dalam memilih, bahkan tanpa dia tahu, jika Galaksi sudah ada di belakang tubuhnya. Hingga sebuah lilitan tangan di perutnya membuat Sia terjingkat kaget. 


"Apa yang Kakak lakukan?" cicit Sia dengan degup jantung tak karuan.


"Aku hanya ingin menemani calon istriku," kata Galaksi sambil meletakkan dagunya di pundak Sia.


Ibu dari si kembar mencoba menelan ludahnya paksa. Dia begitu gugup dan tangannya mulai gemetaran.


"Kenapa diam?" tanya Galaksi melirik calon istrinya itu. "Apa tak ada yang cocok untukku?" 


"Ehhh." Sia merasa kikuk.


Dia spontan menatap deretan jam itu kembali hingga matanya menangkap sebuah jam tangan yang begitu banyak kenangan darinya. Ya jam tangan itu adalah hadiah dari Sia saat mereka akan menikah.


Dengan senyuman Sia mulai mengambilnya dan menatap wajah Galaksi yang begitu dekat dengannya.


"Kamu memang yang terbaik, Sayang." Galaksi menghadiahi sebuah kecupan singkat di pipi Sia.


Hingga lamunan itu buyar dengan tetesan air mata yang semakin mengalir deras. Sia menutup mulutnya dengan kedua tangannya saat isak tangis semakin kencang. Sungguh firasatnya yang gelisah ternyata karena kejadian ini. 


"Kamu bohong, Kak. Kamu bohong!" seru Sia dengan hati yang tak terima. "Kamu pergi ninggalin aku dan anak-anak. Kamu pergi!" 


Sia menangis dan meratapi nasib. Mempertanyakan takdir yang selalu membuatnya bercanda. Seakan Tuhan tak pernah membuat hidupnya bahagia walau hanya sekejap. Baru saja dia ingin merajut mimpi yang pernah terputus, ternyata Tuhan sudah menghempaskan segala mimpinya.


Hingga perlahan Sia merebahkan dirinya di lantai. Tubuhnya melengkung seperti bayi dengan tangan ia letakkan di depan wajahnya. Air matanya terus menetes dengan isak tangis yang masih terdengar.


Tak jauh dari sana, Cressida yang baru saja masuk dengan membawa nampan berisi makanan hanya bisa mematung. Tubuhnya terasa kaku untuk berjalan mendekat. Air matanya bahkan menetes melihat sosok kakak kandungnya begitu rapuh. Bahkan tangisan begitu menyayat hati membuat air matanya tak segan untuk ikut keluar.


Tak sanggup untuk meneruskan niatnya. Cressida memilih berbalik, dia keluar dari kamar dan menutup pintu itu begitu perlahan. Hingga saat dirinya berhasil keluar, tatapan semua keluarga menuntut menunggu jawaban.


Cressida hanya mampu menggeleng. Lalu dia menerobos semua orang dan berjalan menuju ruang tamu. Setelah nampan itu dia letakkan. Tak lama dia mulai menangis. Mengingat bagaimana keadaan saudaranya itu. 


"Kenapa, Cress?" 


"Ada apa, Sayang?" 


Semua orang saling mendekat. Mereka menatap bingung ke arah orang yang dikenal sebagai calon istri dari Riksa. Tak ada yang tahu jika Cressida adalah adik kandung Sia karena mereka berdua tak sempat untuk mengatakannya. 


Perempuan muda itu mulai terisak. Dia mencoba menghalau air mata yang terus menetes.


"Aku gak sanggup liat Kak Sia, Ma, Tante. Maaf," ucap Cress dengan pelan.


Mama Alya dan Pandora saling tatap. Mereka menghela nafas berat seakan mengerti apa yang dilihat oleh Cressida. Akhirnya keduanya duduk mengapit wanita muda itu dan mengelus punggungnya.


"Biarkan Sia tenang dulu, Nak. Mama yakin dia wanita kuat," kata Pandora yakin.


Cressida hanya mampu mengangguk. Dalam hati, dia hanya mampu berharap jika waktu bisa mengobati kesakitan saudaranya itu. Karena bagaimanapun, kematian tak ada yang bisa menebak. Tak ada yang bisa mencegah dan tak ada yang mampu memperkirakannya. 


Tanpa mereka sadari. Ada tiga pasang mata saling menatap. Ketiganya seakan saling memberikan kode yang hanya bisa dibaca oleh mereka. Namun, sebuah gelengan sebagai tanda akhir membuat mereka tetap memilih diam.


****


Apalagi ketika nama Galaksi ada dalam list kecelakaan pesawat yang ditayangkan dalam stasiun televisi. Membuat mereka yakin jika Galaksi benar-benar meninggal dalam kejadian tersebut.


Hari ketujuh semua keluarga mulai sedikit menerima keadaan. Namun, tidak dengan Sia. Tubuh perempuan itu semakin terlihat kurus. Bahkan wajahnya tirus dan kusam. Pandangannya sering kosong karena dia benar-benar belum terima dengan kejadian yang menimpa calon suaminya itu.


"Mama," panggil Venus yang berada di samping Sia.


Mata wanita itu menoleh. Dia menatap putrinya yang beberapa hari ini ia campakkan. Sia benar-benar merasa ada di titik terendah. Sampai dia baru menyadari jika dirinya masih memiliki dua orang anak yang butuh supportnya.


"Maafkan Mama, Sayang." Sia spontan mencium kedua pipi bulat putrinya.


Lalu dia memeluk anak-anaknya yang selalu ada disampingnya walau tak dia gubris. Semua orang tentu tanpa sadar ikut menangis. Mereka melihat bagaimana Sia yang terus meminta maaf dan menyadari sikapnya yang keterlaluan. 


"Mama jangan menangis lagi. Venus yakin Papa pasti pulang," kata bocah cadel imut dengan tatapan begitu yakin.


Sia mengangguk. Dia masih berharap semoga apa yang dikatakan putrinya benar-benar ada. Toh sampai detik ini jasad Galaksi belum ditemukan. Hal itu menjadi harapan jika calon suaminya itu pasti masih hidup. 


Saat semua orang masih hanyut akan perilaku si kembar pada sang Mama. Tiba-tiba suara gaduh dari luar membuat mereka semua spontan menatap ke arah pintu.


Terlihat suara satpam yang seperti melarang seseorang masuk dan berdebat dengan yang lain.


"Anda tunggu dulu, Tuan. Saya akan menyampaikan kedatangan Anda pada, Nyonya."


"Minggir!" Satpam itu didorong kuat oleh salah satu bodyguard. 


Hingga tubuh tua itu terjatuh dan membuat Pandora yang melihatnya begitu geram. Sungguh orang laknat dan kejamlah, yang tak bisa berperilaku baik pada orang tua menurutnya.


"Siapa, Anda?" Akhirnya Mama Pandora beranjak berdiri.


Dia berjalan ke arah pintu utama yang sudah dipenuhi oleh seorang pria berpakaian jas begitu rapi dengan para bodyguardnya. Pria itu tersenyum miring. Dia menatap Pandora dari atas sampai bawah hingga membuat ibu dari Galaksi seperti ditelanjangi.


"Jaga tatapan Anda, Tuan!" seru Pandora menunjuk pria tersebut. 


"Usttt." Pria itu menurunkan tangan Pandora. Dia menyipitkan mata dengan senyum penuh arti ke arah ibu dari Galaksi. "Jangan mengancamku, Pandora. Kau tak tahu siapa aku?" 


"Siapa, Anda?" Pandora masih bersikap sopan. 


Namun, tunggu dulu. Dia meneliti manik mata pria itu hingga membuat jantungnya berdegup kencang. Tatapan itu seperti mengingatkan dirinya pada seseorang. Seseorang yang begitu dia cintai selama hidupnya. 


"Perkenalkan namaku…." jedanya sambil menarik tangan Pandora mengajaknya bersalaman.


"Atlas, kakak kandung Altair, saudara kembarnya."


~Bersambung~


Huwoook siapa dia? siapa hayooo?


Wehh udah update yah. Mau bobok aku tuhh.


Terima kasih yang udah like, komen dan vote koin, poin, vocher. Aku sayang kalian.


Mau update lagi? yuk tembus 250 like aku up.


Thankyuu yang udah vote koin.