
Akhirnya Cressida mulai memutar gagang pintu itu lalu mendorongnya. Namun, tak berhasil. Pintu itu ternyata dikunci dan membuat hatinya diliputi rasa kekecewaan yang tinggi. Namun, saat Cress masih asik berdiri disana.
Suara perempuan yang tadi dia tinggal kembali terdengar. Spontan kepalanya menoleh dan melihat Sia sudah ada didekatnya.
"Ada apa?" tanya Sia dengan wajah penasaran.
"Pintunya dikunci, Kak," sahut Cress membuat Sia menoleh.
Dia mencoba gagang pintu itu dan berbuat seperti yang dilakukan Cressida. Hingga tiba-tiba terlihat seorang pengawal berbadan besar yang langsung dipanggil oleh Sia.
"Iya, Nyonya?"
"Tolong bukakan pintu ini, 'bisa? Kami sangat membutuhkan ruangan ini," kata Sia meminta tolong.
"Bisa, Nyonya," sahut pengawal tersebut.
Sia mengajak Cressida sedikit menjauh dari sana. Dia melihat pengawal itu mulai mengambil ancang-ancang untuk mendobrak pintu tua itu. Sampai percobaan ketiga, akhirnya pintu itu berhasil dibuka dan menimbulkan debu-debu bertebaran dan membuat Galexia tak berhenti untuk bersin-bersin.
"Kamu baik-baik saja, Kak?"
Sia mulai merasakan sesak nafas. Dia tak henti-hentinya bersin-bersin yang membuat hidungnya kembali memerah. Dengan sangat terpaksa, akhirnya dia pamit pada Cressida untuk keluar dari sana. Menurutnya saat ini dia membutuhkan udara segar hingga membuatnya segera berlalu dan meninggalkan Cressida bersama anak buahnya.
Saat kakinya baru saja menyentuh lantai teras rumah. Sia segera menghirup udara sore yang begitu menenangkan. Wajahnya mulai memerah karena terlalu banyak bersin. Hingga akhirnya setelah berulang kali mencoba menarik nafas dan menghembuskannya, bersin itu perlahan berkurang. Dadanya juga tak lagi sesak dan membuatnya begitu bersyukur.
Setelah dirinya merasa tenang. Galexia mulai melihat sekitar, hingga tatapannya tertuju pada taman samping rumah yang terlihat begitu cantik. Ada sebuah kolam bekas ikan yang airnya sudah kotor dan tak terurus. Dengan bunga-bunga yang sudah tak terawat ada disana.
Rasa keingintahuannya membuat langkah kaki Sia mulai menjelajahi area itu. Melihat beberapa tanaman yang mungkin menarik perhatiannya. Sampai tanpa sadar, langkah Sia terus membawanya ke belakang rumah. Terlalu asyik melihat pot-pot kecil berjejer membuat Sia tak menyadari jika ada di bagian paling belakang rumah ini.
Sampai saat angin tiba-tiba terasa di kulitnya, membuat wanita itu tersadar. Sia menatap sekeliling dan entah kenapa bulu kuduknya tiba-tiba merinding. Namun, saat matanya tak sengaja menatap beberapa polisi yang berkeliaran. Sia mencoba menepis rasa takut itu dan mulai menelusuri sebuah tempat yang dulunya menjadi kebun.
Itu hanya tebakan Sia saja, karena ada banyak bekas gundukan tanah dengan beberapa tanaman mati di atasnya dan membuatnya berpikiran seperti itu. Hingga saat dirinya hendak meneruskan langkahnya, tanpa sengaja mata Sia menatap sebuah pondok kecil yang ada di belakang rumah.
Rasa penasarannya semakin kuat hingga membuatnya terus mendekati pondok tersebut. Sampai tiba-tiba suara pria dari belakang menghentikan gerakannya.
"Anda hendak kemana, Nyonya?" tanya seorang polisi yang ternyata membuntuti Sia.
"Saya ingin ke pondok itu, Pak. Bisa temani saya?" tanya Sia dengan tenang.
"Tentu saja."
Akhirnya Sia bersama tiga orang polisi menuju tempat yang dicurigai oleh ibu si kembar. Dengan langkah pasti dan tanpa rasa takut, Sia segera berjalan ke arah pintu yang terlihat begitu rapuh. Sedangkan tiga polisi tadi, mulai berpencar di sekeliling tempat itu untuk mengecek keamanan.
Saat dirinya sudah ada di depan pintu. Segera Sia membukanya dengan pelan. Pintu itu terbuka dengan mudah yang membuat wajah ibu si kembar begitu bahagia. Dengan sekali melangkah, pintu itu sudah terbuka lebar dan menampilkan sebuah ruangan yang sepertinya menjadi tempat barang.
Tanpa ragu, Sia mulai memasuki ruangan. Namun, sebelum itu, dirinya menutup hidung dengan salah satu tangannya dan memakai tangan kanan untuk mengibaskan sarang laba-laba yang memenuhi ruangan sempit itu.
Pandangan matanya mengedar. Ruangan itu memang tak luas, hingga mata Sia mampu menjangkau ruangan tersebut. Hingga sebuah rak buku besar menarik perhatiannya. Dirinya mulai melangkah lebih dekat dan melihat beberapa buku masih ada disana.
"Sepertinya buku-buku ini dikoleksi oleh pecinta buku novel fantasy," gumamnya saat melihat beberapa novel-novel fantasy disana.
Hingga tanpa sengaja, matanya menatap sebuah album dengan warna pita merah diatasnya. Warna yang mencolok di sekitar warna-warna hitam membuat Sia begitu penasaran. Hingga akhirnya dia meletakkan buku tadi di tempatnya dan menuju buku berpita merah itu.
Dengan sekali tarikan akhirnya Sia berhasil mengambil buku itu. Namun, ternyata nasib buruk menimpanya. Bersamaan dengan itu, beberapa buku mulai berjatuhan dan membuat debu mulai berkibaran dan dirinya kembali bersin-bersin.
"Anda baik-baik saja, Nyonya?" kata polisi yang tadi menyapanya.
"Ti...dak," kata Sia terbata.
"Lebih baik Anda keluar dulu, Nyonya."
Galexia menurut. Dia akhirnya mulai keluar sambil membawa benda yang ia yakini buku itu dalam dekapannya.
Dirinya sampai berjongkok. Menenangkan hidungnya yang terasa gatal dengan nafas begitu sesak. Sampai hampir sepuluh menit dia berjongkok, akhirnya salah satu polisi memberikan sebotol aqua kepadanya.
"Itu masih bersegel, Nyonya," kata salah satu polisi itu menjelaskan.
Mereka takut dicurigai memberikan minuman bekas. Padahal itu murni masih baru dan bersegel. Tanpa kata Sia mulai meminum air itu hingga tandas setengahnya. Dia merasa tenggorokannya lebih lega dan hidungnya sudah tak se-gatal tadi.
Nafasnya juga tak seberat lagi. Dia mulai merasa tenang hingga matanya menatap sesuatu yang ada di pangkuannya. Dirinya baru menyadari jika benda yang dia anggap buku ada dalam dekapannya. Hingga akhirnya Sia mulai beranjak berdiri. Menjauh dari gubuk itu hingga menemukan sebuah kursi yang ada di bagian taman samping rumah.
Dirinya mulai mendudukkan tubuhnya disana. Meletakkan tas yang ia bawa di atas pangkuannya. Lalu mulai menatap benda yang dia ambil dari pondok tersebut.
"Bukan buku," gumam Sia saat dirinya baru meneliti benda itu.
Perlahan dia melepaskan pita merah yang membalut benda berbentuk buku itu. Lalu mulai membukanya dengan perlahan. Entah kenapa, jantungnya semakin berdebar kencang. Dia merasa ada sesuatu yang akan terjadi tapi tak tahu apa. Hingga akhirnya sampul depan itu terbuka dan memperlihatkan sebuah potret foto keluarga bahagia.
Ternyata Sia baru menyadari jika benda yang dia ambil adalah sebuah album lama. Rasa penasarannya semakin tinggi hingga membuatnya kembali membalik halaman album itu. Tak ada yang istimewa memang, hanya potret sepasang suami istri dengan dua orang anak yang bisa ditebak jika salah satu dari mereka masih berumur 3 tahun. Sedangkan yang satunya, masih ada dalam gendongan sang ibu.
"Keluarga bahagia," kata Sia dengan hati yang tiba-tiba menghangat.
Melihat bagaimana wajah sepasang suami istri yang saling tersenyum dan memperlihatkan keromantisannya. Membuat bibirnya juga tertarik untuk melengkung ke atas. Hingga saat album itu hendak mencapai bagian akhirnya.
Tiba-tiba Sia membelalakkan matanya. Dia menatap tak percaya ke arah potret foto yang ada di bagian akhirnya. Sebuah foto yang begitu membuatnya terkejut hingga dia merasakan udara di sekitarnya mulai terasa habis.
"Kenapa ada fotoku disini?"
~Bersambung~
Ada yang udah bisa nebak, 'kan?
Hayooo?
Jangan lupa klik like, komen dan vote yah untuk apresiasi karya ini. Aku mau ngetik lagi biar nanti bisa up lagi.
Yok mangat likenya"