
Disaat yang bersamaan, seorang perempuan kecil berjalan keluar menyusul mama dan abangnya. Kepalanya celingukan dengan tangan yang memegang es krim pemberian Riksa. Matanya menatap sekitar dan mencoba mencari sosok yang dicarinya.
Wajahnya berubah senang dan dia segera menuju sang mama yang sedang berdiri di dekat sebuah pintu ruang rawat.
"Mama!" teriaknya hingga membuat perhatian orang disekitar mereka tertuju padanya.
Galexia tersentak kaget. Sesaat kemudian pandangannya bertemu pandang dengan Galaksi dan Mars yang ternyata sama terkejutnya dengan suara si kecil Venus.
Tanpa kata, Sia segera menghampiri putrinya dan mengabaikan tangannya yang sakit. "Ayo kita pergi!"
"Tapi Abang kemana, Mama?" tanya Venus dengan menatap mata Sia.
"Abang…" jeda Sia hingga seruan dari belakangnya membuat tubuhnya mematung.
"Itu, Abang!" tunjuknya pada pria kecil yang berjalan ke arahnya.
Segera Venus berlari dan memeluk saudara kembarnya itu. Kasih sayang yang selalu diajarkan Sia pada keduanya, tentu membuat Mars dan Venus jarang sekali bertengkar. Keduanya seakan begitu paham untuk saling berbagi dan membantu sesuai ajaran mamanya.
"Abang dalimana?" tanya Venus setelah pelukan mereka terlepas.
"Abang dari…"
"Loh, Om?" pekik Venus terkejut dengan kehadiran pria yang ternyata ayah kandungnya.
"Halo, Princess. Apa kabar?" tanya Galaksi sambil berjongkok di hadapan putrinya.
Venus masih terdiam. Bahkan dirinya masih tak tahu harus melakukan apa. Ini adalah pertemuan mereka setelah mengetahui kenyataan jika dalam tubuh ketiganya mengalir darah yang sama.
Bahagia, senang, sedih dan rindu bercampur menjadi satu. Namun, bayang-bayang bagaimana dulu, ketika sang Mama berjuang untuk hidupnya, membuat Venus tersadar dari keinginannya.
Dia tak membenci Galaksi tapi dirinya kecewa. Kenapa saat pertemuan pertama mereka dia tak mengenali si kembar?
Itulah yang selalu ada dalam otak kecilnya hingga Venus memilih berpaling dan memeluk kaki sang mama.
Galaksi menatap sendu ke arah penolakan Venus. Bahkan wajahnya tak sebahagia tadi. Gadis mungil itu lebih memilih menyembunyikan rupa cantiknya di balik kaki sang mama daripada rasa egoisnya mengambil alih.
Tentu Venus ingin memeluk Galaksi. Apalagi ketika dia tahu jika pria itu adalah ayahnya. Perasaan yang dulu begitu dia inginkan, ternyata tak semudah itu dia lakukan. Disini bukan hanya keinginannya saja yang harus dipikirkan, melainkan apakah mamanya nyaman dengan adanya pria yang ternyata berstatus mantan suaminya itu atau tidak.
"Apa Om tak mendapatkan pelukanmu, Princess?" kata Galaksi dengan suara lemahnya.
Venus menggelengkan kepalanya hingga tak lama suara isak tangis mulai terdengar. Hal itu tentu membuat Sia begitu panik. Dia segera mengangkat tubuh sang anak meski harus kerepotan dengan adanya infus di tangannya.
"Kenapa, Sayang? Apa yang Venus rasakan?" tanya Sia lembut dengan merapikan rambut sang putri.
Venus hanya diam. Bahkan dia lebih memilih menyembunyikan kepalanya di pundak sang Mama daripada harus melihat wajah kecewa Galaksi kepadanya.
Tak ada percakapan apapun lagi. Bahkan Sia tak tahu harus mengatakan apa. Ini terlalu cepat menurutnya, tapi untuk menutupi semuanya dirinya tak sanggup. Sudah cukup penderitaan kedua anaknya selama ini. Bahkan melihat bagaimana Mars yang memeluk Galaksi dengan erat, membuat Sia yakin jika ada sesuatu yang disembunyikan oleh si kembar.
Hingga saat pikiran Sia semakin berkecamuk. Suara Mars yang mengambil alih membuat atensi kedua orang dewasa menatap ke arahnya.
"Apa kalian seegois itu?" tanya Mars dengan wajah datarnya.
"Apa maksud kamu, Nak?" tanya Sia pelan sambil mendekat ke arah putranya.
"Apa kalian akan menyembunyikan hal besar itu dari kami berdua?" tanyanya dengan menatap wajah Galaksi dan Sia bergantian.
Tubuh keduanya mematung. Lidah terasa kelu untuk menjawab. Bahkan nafas Sia dan Galaksi terasa sesak ketika menyadari raut wajah sang putra yang begitu menyedihkan.
"Selama ini aku dan Venus menekan semuanya berdua. Kami menutupi segalanya dari Mama sampai Mama bisa menceritakan semua hal tentangnya pada kita. Tapi…" jedanya dengan nafas naik turun.
Sepertinya emosi Mars sudah berada di ujung tanduk. Bahkan ketika dia baru merasakan pelukan seorang ayah kepadanya, emosinya sebagai bocah umur 6 tahun semakin tak terkendali. Biasanya dia adalah anak yang paling tenang daripada kembarannya. Namun, kembali lagi, bagaimanapun sosok ayah mereka, pasti ada setitik harapan seorang anak ingin mendapatkan kasih sayang ayah yang tak pernah ia dapatkan sejak kecil.
"Tapi sampai kita mendengarnya sendiri, Mama ataupun Anda, Om…" tunjuknya pada Galaksi, "tak ada yang menjelaskan apapun pada kami."
Sia menangis. Bahkan perempuan itu tak percaya dengan sikap putranya. Apakah selama ini kedua anaknya benar-benar menahan keinginan mereka hanya karena menjaga perasaannya. Jika seperti ini, tentu seorang Sia merasa kecewa pada dirinya sendiri.
"Maafkan Mama, Nak. Mama...Mama…" ucap Sia terbata dengan air mata yang terus mengalir.
"Mama belum siap?" ucapnya sampai mampu membungkam mulut Sia.
"Sampai kapan Mama siap mengatakan jika dia…" seru Mars dengan wajah merah padam dan tangan menunjuk Galaksi, "adalah Papa kandungku dan Venus."
Sakit?
Tentu saja. Bahkan Galaksi tak percaya jika putranya masih mau menganggapnya sebagai seorang ayah. Apalagi setelah insiden menyakitkan itu, dirinya tak percaya jika anak-anaknya masih mau menerima dirinya.
"Mars."
"Diam," seru Mars dengan menghapus setitik air mata yang mengalir dari ujung matanya.
"Aku bukannya membela dia, Ma. Tapi tak ada setitik harapan Mama untuk memberitahu aku dan Venus tentang siapa ayah kami berdua?" tanya Mars menatap Sia. "Kami hanya ingin tahu siapa sosoknya, Ma. Setidaknya kami bisa menceritakan pada guru dan teman-teman kami kalau Mars dan Venus masih memiliki sosok ayah walaupun terpisah."
Ya tuhan, sejahat itukah aku sebagai seorang ibu? Batin Sia yang semakin menyalahkan dirinya sendiri.
Dia baru menyadari jika kedua anaknya hanya ingin mendengar kisah tentang ayah kandungnya. Sia sadar betul, jika sikapnya sampai si kembar berumur sebesar ini, sedikitpun dia tak pernah menceritakan tentang Galaksi.
Sia hanya masih belum siap. Walau kejadian itu terjadi enam tahun yang lalu, tapi sikap dan perkataan Galaksi masih jelas dipikirannya. Ditambah rasa trauma yang ada dalam dirinya, membuat Sia lupa akan perasaan kedua anaknya.
"Maafkan Mama, Nak. Maafkan Mama yang begitu egois. Mama menyesal," lirih Sia dengan menjatuhkan bobot tubuhnya agar dia bisa sejajar dengan anaknya.
Mars hanya diam. Pria kecil itu mengepalkan tangannya dengan perasaan lega. Keinginan yang selama ini dipendam olehnya, akhirnya bisa dia curahkan meski harus setega itu pada Mamanya.
Mars hanya ingin Mamanya tahu jika dia masih memiliki kedua orang anak yang ingin tahu ayah mereka. Mars hanya ingin membuat Mamanya sadar, meski perpisahan terjadi diantara dia dan Galaksi. Namun, sebagai seorang ibu dia berhak memberi tahu dan menceritakan sosok Galaksi pada mereka.
Tak mau semakin menyakiti hati Mamanya. Mars memilih berlari, dia meninggalkan mama, adik dan Galaksi yang memanggilnya terus menerus.
"Mars tak berniat memaafkan dia yang sudah menghina, Mama. Tapi Mars dan Venus berhak tahu siapa ayah kami berdua."
~Bersambung~
Ya Tuhan, Mars. Maafkan aku yang membuat takdirmu sekejam ini.
Apa salah kalau Mars berikap seperti ini?
Jangan lupa klik like, komen dan vote ya sebagai apresiasi karya si kembar.
Tembus 250 like aku update lagi! Yok Gas!