The Billionaire Twin'S Baby

The Billionaire Twin'S Baby
Rumah Lama Cressida




Akhirnya semua orang kembali berkumpul di ruang tamu. Mereka semua sudah siap dengan pakaian yang akan digunakan sesuai tujuannya. Namun, dari sekian banyak manusia disana, ada seorang perempuan yang terlihat begitu kacau.


Wajahnya menunjukkan kekhawatiran yang besar pada ayah dari kedua anaknya. Padahal dirinya mengakui, jika ini bukanlah penerbangan yang pertama untuk Galaksi. Namun, entah kenapa perasaannya sangat khawatir hingga membuatnya tak melepas genggaman tangan itu sedikitpun.


Para pengawal dan polisi mulai berdatangan sesuai perintah Galaksi. Mereka akan dibagi menjadi dua kubu nanti. Satu kubu akan menjaga, Mama Pandora, Mars, Venus dan Orion. Sedangkan kubu yang lain, akan ikut dalam penjagaan ke rumah lama Cressida. Sebenarnya Galaksi tak tenang saat Orion tak bisa ikut serta ke dalam kubu Galexia. Namun, menyadari kesehatan pria paruh baya tersebut, membuat Galaksi tak mau bersikap egois.


Akhirnya sore itu, Galaksi harus berpisah untuk sekian kalinya dengan anak dan ibu dari kedua anaknya. Dirinya memiliki janji untuk segera membereskan segala kekacauan dan kembali pulang untuk menikahi wanita pujaannya. Sungguh Galaksi bahagia ketika Sia sudah tak menutupi sikap manja dan menuntutnya seperti dulu. Dia seakan sudah begitu terbuka dan kembali menjadi Galexia yang sama seperti dulu.


"Papa berangkat yah. Ingat! Jangan buat Mama kerepotan dengan tingkah kalian, mengerti?" 


"Siap, Papa." Kedua anak itu memberikan salam hormat kepada sang papa. Kemudian, keduanya meraih punggung tangan Galaksi dan menciumnya secara bergantian.


"Hati-hati, Papa," ucap Mars dan Venus bersamaan.


"Sampai disana, Papa wajib menelepon kami, oke?" 


"Of course, Honey." 


Setelah berpamitan dan mencium kedua anaknya. Galaksi mulai berjalan ke arah sang istri. Dia menatap wajah cantik yang terlihat begitu kacau dengan air mata yang menetes di kedua matanya. 


"Seharusnya kamu mengantarkan kepergianku dengan senyuman. Bukan nangis kek gini, Sayang," godanya dengan mata dikedipkan manja.


Bukannya terhibur, Galexia malah semakin meneteskan air matanya dan tanpa malu, dia segera memeluk tubuh Galaksi dengan erat. Sungguh firasatnya begitu kuat dan jika boleh, dia lebih memilih menarik tubuh mantan suaminya untuk masuk ke dalam dan mengunci dari luar. Namun, itu semua tak mungkin dia lakukan karena tanggung jawab Galaksi begitu besar. 


Dia bukan hanya mencari nafkah untuk dirinya sendiri. Melainkan banyak orang yang bergantung pada agencynya dan memenuhi nafkahnya dari perusahaannya itu.  


"Kalau kamu nangis terus. Aku jadi gak tega buat ninggalin kamu sama anak-anak," kata Galaksi dengan wajah yang dipenuhi kebingungan.


Jujur dirinya juga seakan memikul beban berat. Disaat dirinya ingin berada di dekat anak-anak dan calon istrinya, ternyata Tuhan memberikan ujian kepadanya. Seakan mereka sedang diuji akan kekuatan keduanya sebelum mereka kembali membina rumah tangga. 


Galexia mulai menghela nafas panjang. Dia menarik nafas begitu kuat dan dihembuskannya. Hingga perlahan dirinya mulai tenang dan melepaskan pelukan keduanya.


"Aku janji bakalan cepat pulang dan akan menikahimu langsung," kata Galaksi yakin sambil menghapus air mata Galexia.


"Aku pegang janjimu. Kalau Kakak melanggar, aku akan menikah dengan pria lain!" ancamnya dengan tegas.


Galaksi tersenyum. Dia bahagia bisa melihat calon istrinya tak menangis lagi. Hingga akhirnya dia menghadiahi sebuah kecupan di dahi Sia dan membuat tatapan semua orang iri akan keromantisan mereka.


Akhirnya setelah drama panjang itu, Galexia mulai bisa melepas sang mantan suami. Dia mulai melambaikan tangannya saat mobil hitam itu membawa tubuh pria yang dicintai dirinya untuk bekerja.


"Ayo masuk! Mama dan Tante akan bersiap dan segera berangkat," kata Sia membawa kedua anaknya masuk ke dalam rumah.


****


Setelah mengatur semua orang yang akan tinggal dan ikut. Akhirnya Sia memutuskan jika dirinya dan Cressida yang akan ke rumah gadis muda itu. Sedangkan Mama Alya, Pandora, Mars, Venus dan Om Orion akan berjaga di rumah. 


Menurut calon istri Galaksi, Mama Alya tak lagi kuat untuk diajak dalam hal berbahaya seperti ini. Dia takut jika terjadi sesuatu hingga membuat Riksa yang ada di New York, akan merasa kecewa.


Akhirnya tiga mobil hitam dan tiga mobil polisi mulai meninggalkan halaman rumah Galaksi. Mereka langsung menuju ke alamat yang disebutkan oleh Cressida saat tadi berkumpul di rumah. Jarak tempuh antara rumah Galaksi ke rumah Cressida yang lama hampir satu jam lebih. Hingga hal itu tentu digunakan oleh mereka untuk beristirahat. 


Tapi tak lama mata itu Sia paksa untuk tertidur. Dirinya tak mau kelelahan atau merasa mengantuk sebelum apa yang mereka cari akan didapatnya. 


Akhirnya perjalanan yang memakan waktu lumayan lama berakhir. Enam buah mobil mulai memasuki sebuah rumah dengan pekarangan yang luas. Terlihat sebuah rumah sederhana yang tak terawat. Banyak debu dan sampah daun yang berceceran di halaman dan teras rumah.


Hingga saat mobil itu mulai berhenti. Semua orang mulai turun. Galexia menatap rumah itu dengan cermat dan mengikuti langkah kaki Cressida yang berjalan ke pintu masuk rumah tersebut.


"Apa kamu menyimpan kuncinya?" tanya Sia menatap gadis muda itu.


"Ya. Berkat seringnya aku belajar di luar. Kunci ini sejak dulu ada padaku," kata Cressida sambil tersenyum. 


Perlahan gadis muda itu memasukkan kunci miliknya lalu memutar ganggang itu dan mendorongnya hingga terbuka dan menampilkan sebuah ruangan yang terlihat begitu kotor.


Pemandangan pertama yang Sia lihat adalah ruang tamu minimalis. Kursi-kursi yang tertutupi kain putih serta banyaknya sarang laba-laba disana. Perlahan tangan Cressida meraba sesuatu di dinding hingga ruangan yang awalnya petang mulai terlihat cerah. 


"Masuklah, Kak. Maaf jika rumahku begitu kecil," kata Cress tak enak hati.


"Santai saja, Cress. Dulu aku juga tinggal di tempat seperti ini." Galexia tersenyum, lalu dia mulai menjejakkan kakinya ke dalam.


Namun, sebelum itu, dia mulai melihat ke luar dan menatap para pengawal dan polisi yang mulai berpencar mengitari rumah ini.


"Bolehkah kami masuk?" kata pengawal Galaksi pada Sia. 


Sebelum menjawab, ibu dari si kembar itu menatap Cressida meminta jawaban yang langsung di angguki kepala oleh wanita itu. Akhirnya lima pengawal mulai masuk dan mengecek semua kondisi yang ada di dalam rumah.


"Aku akan ke kamar orang tuaku dulu, Kak," pamit Cressida pada Sia.


Wanita muda itu berjalan dengan hati berdebar. Dia memanjatkan doa dan berharap semoga kali ini Tuhan berbaik hati kepadanya. Matanya mulai bisa menatap sebuah pintu kamar yang dulu ditempati orang tuanya. 


Dia menghela nafas pelan sebelum membuka ruangan yang sejak dulu tak pernah dimasuki oleh Cressida. Hatinya kembali dia mantapkan dan dirinya yakin di dalam sana, Cressida akan mendapatkan semua pertanyaan yang masih abu-abu dalam benaknya.


"Aku sangat berharap padamu, Tuhan. Semoga apa yang kucari ada di dalam sini." 


~Bersambung~


Kira-kira ada adegan ektrim gak yah di rumah ini?


Udah gitu si bocil kembar di rumah bareng orang dah sepuh-sepuh, belum lagi Galaksi mua terbang?


Astaga, makin mumet kepalaku, hahaha.


Efek pertama bikin novel pertama, tapi aku jujur seneng dengan komentar kalian.


Mau up lagi gak?


Btw bab selanjutnya udah kuketika dengan judul "Bukti Foto Mengejutkan"


Kepo gak? kepo gak? kutebak pasti kepo haha.


Tembus 250 aku update lagi!