
"Malam peltama itu apa, Ma? Kenapa Mama sama Tante bilang sakit? Apa Mama sama Tante bakalan pelang sama Papa dan Om Liksa?"
Seketika pandangan keduanya terpaku. Mereka baru menyadari sosok kecil yang terbangun di antara keduanya. Terlalu asyik berbicara ternyata mampu membuat Galexia dan Cressida lupa jika Venus ada disana.
"Mama," rengek Venus dengan tangan mengusap matanya.
"Ehh iya, Sayang," sahut Galexia gelagapan.
"Malam peltama itu apa, Mama? Kenapa ada peltamanya?" tanyanya dengan tubuh yang mulai duduk. "Bukannya tiap hali Mama sama Tante tau waktu malam?"
Galexia dan Cressida kebingungan. Keduanya sungguh dibuat kalang kabut atas pertanyaan bocah berumur 6 tahun. Sungguh mereka merutuki kecerobohan yang sungguh amat menyesatkan ini.
Galexia mulai berpikir keras. Dia tahu betul sikap anaknya jika sudah penasaran. Venus dan Mars akan terus bertanya jika sudah mendapatkan jawaban. Hingga akhirnya dirinya harus mulai memikirkan sebuah jawaban yang pas untuk putri kesayangannya ini.
"Malam pertama itu…."
"Malam pertama itu malam buat Om sama Tante kalau sudah menikah, Sayang," sela Cressida dengan cepat.
"Maksud Tante apa?" tanya Venus tak paham.
Kening bocah kecil itu mengkerut. Dia seakan mencerna perkataan dari wanita di depannya ini.
"Itu," ujar Cress dengan garuk-garuk kepala.
"Udah biar Kakak yang jawab," sungut Galexia kesal.
Ibu dari si kembar terlihat kesal. Dia merasa jawaban sang adik akan semakin membuat kepala putrinya dipenuhi pikiran-pikiran yang absurd.
"Malam pertama itu, malam saat Mama, Papa, Abang sama Adek bisa bersama. Jadi keluarga yang utuh," kata Galexia dengan senyum tersemat di kedua sudut bibirnya.
"Jadi malam peltama itu malam ketika mama sama papa udah tinggal satu lumah sama Abang dan Adik?"
"Ya benar, Sayang," sahut Galexia cepat.
Kepala Venus mengangguk-angguk. Seakan bocah kecil itu begitu memahami apa yang dimaksud mamanya. Hingga saat dirinya tak lagi bertanya, Galexia segera menyuruh anaknya kembali berbaring. Dia mengatakan jika tubuhnya masih harus rebahan untuk memberikan sensasi pada kulit yang belum dibersihkan.
Setelah tubuh mungil itu telungkup. Galexia menatap Cressida yang juga tengah menatapnya.
"Jangan bahas hal mesum lagi di depan Venus," sungut Sia dengan berbisik. "Nanti kalau dia tanya hal yang lebih aneh, kita juga susah."
Cressida mengangguk pasrah. Dia hanya bisa menurut karena selama tinggal disini, Cress sendiri bisa melihat bagaimana aktif dan cerdasnya kedua ponakannya itu. Sungguh kepintaran yang dimiliki Venus dan Mars bukan seperti anak 6 tahun pada umumnya.
Namun, di dasar hatinya yang terdalam. Cressida merasa bangga akan sosok kakaknya. Disaat dia sendirian dan tanpa kehadiran suami, Galexia bisa mendidik kedua anaknya dengan baik. Mengajarkan mereka bagaimana sopan pada yang lebih tua, bersikap dan bertutur kata yang baik, serta otak yang selalu aktif dan berkembang.
Hingga sekilas pertanyaan tersemat dalam pikirannya.
Mungkinkah anakku dan Riksa nanti seperti mereka?
Namun, secepat kilat Cressida menggelengkan kepalanya. Dia berusaha membuang pikiran yang menurutnya begitu aneh. Tapi tetap saja, semua yang dia lihat pasti terselip dalam ingatannya dan dicerna dengan baik.
Setidaknya jika mereka tak cerdas, tapi semoga anakku dan Riksa menjadi anak yang pintar.
****
Di Rumah Galaksi.
Entah sudah berapa lama pria tampan itu tertidur. Namun, dirinya mulai merasa ada sesuatu yang mengganggu tidurnya. Sebuah tiupan di telinganya membuat tangannya spontan menggosok daun telinganya dengan kuat.
Setelah rasa geli itu hilang, dia kembali menikmati tidurnya tanpa mengindahkan decakan malas seorang pria yang tak kalah tampan di dekatnya. Dia menggembungkan pipinya saat usahanya untuk mengganggu sahabatnya tidur itu gagal.
Akhirnya dia kembali memutar otaknya. Berusaha berpikir bagaimana caranya sahabatnya itu bangun. Hingga tanpa sengaja, matanya melihat sebuah gelas berisi air putih di meja tamu. Pikiran jahilnya mulai muncul dan dengan sekali gerakan gelas kaca itu berpindah di tangannya.
Mampus, Lo! Gue yakin bakal bangun entar lagi, gerutunya pelan dengan senyuman mengejek.
Pria yang sejak tadi terlelap mulai terbangun. Matanya terbuka dengan nafas memburu. Hal itu tentu mengundang tawa sosok yang merupakan biang dari kejadian itu. Tawanya begitu kencang sampai membuat sosok yang baru saja terbangun spontan menoleh.
"Leo!" serunya dengan nada sedikit keras.
"Bangun, 'kan, Lo?" sungut Leo dengan tepuk tangan.
"Jadi yang nyiram gue itu, Elo?"
Leo mengangguk. Pria itu mulai menjauh saat Galaksi mulai beranjak dari tidurnya. Wajah pria tampan itu basah karena cipratan airnya tadi. Namun, raut wajah tak enak tentu bisa dia lihat.
"Lo, 'kan bisa bangunin gue pakek cara lain, Gila!"
"Kelamaan. Lo kalau tidur kayak kebo!" seru Leo tak mau kalah.
"Ck, dasar!"
Galaksi menyerah. Pria itu selalu mengalah pada sahabatnya ini. Entah kenapa sejak dulu dirinya tak bisa marah pada Leo. Mungkin karena selama persahabatan mereka, Leo adalah sosok yang paling ada untuknya.
Disaat dia terpuruk, Leo yang ada menemaninya. Disaat Galaksi jatuh, Leo lah yang membantunya bangkit. Hingga hal itulah, yang membuat Galaksi sangat menyayangi Leo seperti saudara kandungnya sendiri.
"Kapan Lo dateng?" tanya Galaksi dengan tangan mulai mengusap bekas air yang masih ada di wajahnya.
"Barusan," sahut Leo dengan mendudukkan dirinya di depan kursi yang diduduki Galaksi. "Tapi bukannya gue disambut, malah ditinggal tidur."
"Ck." Galaksi mendelikkan matanya. "Lo aja dateng gak bilang-bilang. Gitu nyalahin gue," jawab Galaksi dengan ketus.
"Iya-iya. Namanya aja gue mau kasih kejutan."
"Kejutan yang berujung basahin muka gue?" sela Galaksi yang langsung dihadiahi cengiran lebar di wajah Leo.
"Sorry, sorry. Inget mau nikah, gak boleh marah. Entar cepet tua, Lo!"
"Bodo! Gue tua ada calon bini. Lah, Elo?" seru Galaksi dengan nada mengejek. "Udah umur makin tua, jomblo lagi. Derita banget sih!"
"Ah njinggg. Pen gue tabok tu mulut!"
Galaksi tertawa puas. Dia selalu bisa menang melawan ocehan sahabatnya itu. Menurutnya untuk membalas Leo bukanlah dengan kekuatan otot. Melainkan hanya dengan ocehan yang sama-sama absurd sudah pasti membuat sahabatnya itu bungkam.
Namun, sepertinya pria yang baru saja datang dari New York itu memiliki seribu satu kata dalam pikirannya. Saat ini dirinya tak kehabisan kata-kata. Seakan dia memiliki balasan yang pas untuk sahabatnya itu.
"Lo yakin mau nikah, Lak?" tanya Leo saat sahabatnya sudah berhenti tertawa.
"Yakin lah. Emang Lo kira gue bakal batalin gitu?"
"Bukan sih. Tapi…." jedanya dengan mimik muka serius.
"Tapi apa?" sahut Galaksi yang tak kalah kepo.
"Senjata punya Lo masih berfungsi, 'kan? Sudah bertahun-tahun gak ada lawan mainnya, gue takut tu senjata malah gak aktif lagi pas lo rujuk sama Sia."
"Apa!"
~Bersambung~
Wahahaha mungkin punya babang galak udah karatan, Le. Dah gak berfungai hahaha.
Maaf ya kemarin aku gak update. Hari Kamis itu aku Vaksin dan malamnya aku langsung demam, sakit kepala, pusing dan mual. Alhasil jumat pagi aku gak sanggup ngetik.
Makasih yang udah mau ngertiin keadaan aku. Aku selalu kasih info di intagram aku. Follow @ini_jblack
Jangan lupa klik like, komen dan vote yah. Semoga aku bisa rajin update mulai besok. Kalau ada Typo komen yah, belum kurevisi bab ini.