The Billionaire Twin'S Baby

The Billionaire Twin'S Baby
Janji Mars




Setelah melakukan segala rangkaian pemeriksaan dari rontgen kepala dan punggung. Akhirnya Galexia dan Galaksi bisa bernafas lega. Dokter mengatakan jika putra mereka hanya syok sehingga membuatnya tak sadarkan diri.


Jujur sejak tadi, Galexia tak henti-hentinya mengelus kepala putranya. Dia takut ya sangat teramat takut jika terjadi sesuatu pada putranya itu. Mars bukan hanya sosok putra pertama untuknya, melainkan dia adalah penyemangat dirinya ketika kehidupan mereka masih bertiga saja. Belum ada Galaksi, hanya dia, Mars dan Venus. 


"Jangan khawatir lagi. Keadaan putra kita baik-baik saja," kata Galaksi kesekian kalinya.


Galexia menghela nafas berat. Dia menganggukkan kepalanya dan memaksakan tersenyum. 


"Aku hanya takut, Kak," lirihnya dengan mata berkaca-kaca. 


"Aku tau, Sayang. Sudah jangan menangis terus. Bisa-bisa Venus akan memarahiku jika kamu terus menangis." 


Galexia terkekeh. Dia menghapus air matanya yang mengalir karena tertawa dengan ocehan suaminya itu. Namun, yang dikatakan Galaksi memang benar. Tadi putrinya itu sudah marah-marah pada papanya karena melihat Sia menangis.


Akhirnya Galaksi mengajak Sia untuk duduk di sofa. Disana terlihat putrinya yang sedang bermain bersama Tania. Ya, putri dari Flora tak mau diajak pulang.


Gadis kecil itu mengatakan jika dia ingin menemani Mars sampai sembuh. Awalnya Flora menolak. Namun, Sia yang meyakinkan jika Tania akan baik-baik saja bersamanya akhirnya mengizinkan.


"Papa lihat! Gambalnya Tania bagus," kata Venus menunjuk buku gambar milik gadis kecil di sampingnya.


Galaksi menoleh. Dia mendudukkan dirinya di samping sang putri dan melihat gambar milik Tania. 


"Ya, bagus," sahut Galaksi sambil mengangguk. "Punya Adek mana?" 


Venus menggeleng. "Gambal Adek jelek. Jadi Adek minta tolong Tania." 


"Kenapa minta tolong? Venus bisa menggambar sendiri. Ayo Papa ajarin!" ajak Galaksi sambil meraih pensil warna yang ada di antara Tania dan Venus.


"Memang Papa bisa gambal?" tanya Venus dengan mata polosnya.


"Tentu saja. Papamu ini sangat pintar. Tanyakan pada Mama bagaimana pintarnya Papa," kata Galaksi dengan bangga.


"Benelan, Ma?" 


"Bener, Sayang. Papa pandai. Jadi Venus belajar sama Papa. Okey?" 


"Okey." 


Akhirnya Venus mulai mengambil pensil warna yang sejak tadi dia abaikan. Gadis kecil itu melihat bagaimana Papanya yang menggoreskan Warna tanpa keluar garis. Matanya mulai dia tajamkan. Tangannya dia coba gerakkan di atas kertas bergambar itu walau terkesan kaku.


Putri dari pasangan Galexia dan Galaksi benar-benar berusaha. Walau gambarnya tak bisa sebagus papanya. Namun, usaha Venus membuat Sia begitu bangga.


Putrinya memang lebih suka bagian fashion. Bergaya di depan kamera daripada berbaur dengan pekerjaan seperti ini.


"Selesai," kata Venus setelah goresan terakhir sudah dibubuhkan. 


Sebuah gambar pemandangan gunung akhirnya selesai diwarnai. Walau terkesan tidak rapi, setidaknya Venus sudah mau belajar sedikit demi sedikit.


"Punya aku bagus, 'kan, Tania?" 


"Bagus," sahut Tania dengan memberikan jempolnya.


"Tapi punya Tania lebih bagus," kata Venus dengan wajah memberengut.


"Kan Venus baru belajar. Jadi wajar kalau gambarnya masih kurang," kata Tania dengan menatap dua gambar miliknya dan Venus. "Nanti kalau Abang Venus sembuh, kita mewarnai bersama. Bagaimana?" 


"Mau." Wajah Venus begitu bersemangat. 


Senyuman gadis itu membuat Galaksi dan Galexia sama-sama tersenyum. Mereka tak menyangka jika putri mereka tak pantang menyerah. Dia mau belajar untuk menghasilkan karya yang bagus, dan itu tentu membuat Sia dan Galaksi benar-benar bersyukur. 


***


"Apa kepala Abang sakit?" tanya Tania saat duduk di atas ranjang.


Saat ini, dua gadis kecil itu sedang duduk di atas ranjang pasien milik Mars. Mereka sedang melihat bagaimana Mars yang disuapi oleh Galexia dengan penuh perhatian.


Mars menggeleng. "Tidak sakit." 


"Beneran?" tanya Tania dengan serius.


"Iya." 


"Kenapa Tania celewet?" ucap Venus dengan kening berkerut. 


"Aku hanya penasaran," sahut Tania dengan menatap teman barunya itu.


"Kamu takut sama Abangku?" 


"Nggak," sahut Tania dengan jujur. "Memangnya ngapain Tania takut?" 


"Abang Mars meski gak senyum tapi dia tampan," bisik Tania yang membuat Venus cekikikan.


"Abang jelek." 


"Abang Tampan." 


Bisik-bisik itu tentu masih didengar oleh Sia. Ibu dari si kembar itu hanya bisa menggelengkan kepalanya saat melihat interaksi kedua anak itu. Sungguh dia tak percaya melihat Tania yang kekeh mengatakan putranya itu tampan. 


Namun, kenyataannya memang begitu. Mars sangat mirip dengan Papanya. 11 12 jika dibandingkan. Mirip dengan Mars adalah versi anak-anaknya. 


"Udah, Venus. Usil banget sih!" kata Mars setelah menelan makanannya.


"Lucu aja, Bang. Liat muka Tania jadi 


malu," ucap Venus dengan terkekeh. 


Tania hanya mampu menunduk. Dia merasa malu saat ternyata teman barunya itu hanya bercanda. Hingga tiba-tiba suara pintu yang terbuka dan munculnya Flora membuat Tania bersorak gembira.


"Mama."


"Halo, Sayang. Kamu gak nakal, 'kan?" 


"Nggak, Tante. Tania diem sama Venus." Itu bukan suara Tania. Melainkan Venus yang menyahut terlebih dahulu.


Flora tersenyum. Dia mentoel pipi teman putrinya itu hingga membuat Venus mengaduh. 


"Beneran anak Tante gak nakal?" 


"Nggak." 


"Syukurlah. Tante takut Tania rewel," kata Flora sambil menatap putrinya. 


Bukan tanpa alasan Flora mengatakan itu. Selama ini Titania tak pernah memiliki teman. Bahkan dia tak pernah keluar dari rumah semenjak tahu kelakuan Papanya. Bocah itu seakan lebih menutup diri dari dunia luar dan lebih suka bermain sendirian.


Namun, kehadiran Venus ternyata membuat putrinya berubah. Titania mulai mau berinteraksi lagi dan tersenyum dengan lepas. 


"Makasih ya, Sia."


"Tidak perlu berterima kasih. Aku sudah menganggapmu seperti saudaraku." 


Mata Flora berkaca-kaca. Dia bersyukur dipertemukan dengan orang baik seperti keluarga Galexia. Mereka benar-benar mau berteman dengan Flora yang notabenenya adalah keluarga broken home. 


Bahkan saat Sia sudah melihat dengan mata kepalanya sendiri. Dia tak menjauh sedikitpun. Malahan Sia mengajaknya berteman dan menganggapnya seperti saudara. 


"Aku bersyukur memiliki tetangga sepertimu, Sia. Kamu bahkan tak menjauhi aku meski tau keadaan kami." 


Galexia meletakkan mangkuk makanan putranya. Dia mengelus punggung Flora yang saat ini sedang menangis.


"Aku tau perasaanmu, Flo. Untuk apa aku menjauhimu. Bahkan aku ingin menjagamu dari suamimu yang kejam itu." 


"Jangan. Aku takut dia mengancam keluargamu. Biarkan aku yang mengatasi semua ini, Sia. Kamu cukup bantu aku untuk menjaga Titania. Kamu mau?" 


Mata Flora menatap Galexia dengan penuh harap. Bahkan perempuan itu sampai menggenggam kedua tangan Sia dengan erat.


"Jangan pedulikan keselamatanku, Sia. Cukup jaga anakku. Kamu mau?" 


"Jangan mengatakan hal aneh, Flo. Kamu tak akan pergi kemana-mana, 'kan?"


"Kumohon berjanjilah padaku untuk menjaganya!" 


Entah kenapa Galexia merasa perasaan tak enak. Namun, melihat tatapan Flora yang penuh harap. Tentu membuatnya tak sanggup untuk menolaknya. Apalagi, jika boleh jujur, saat pertama kali melihat Tania. Sia sudah menyayanginya.


Anaknya yang sopan dan lucu. Tentu membuatnya ingin menjaga dan membahagiakan anak itu.


"Biar Mars aja, Tante," celetuk Mars tiba-tiba yang membuat semua wajah menoleh ke arahnya.


"Apa maksud Abang?" tanya Venus dengan cepat.


"Mars janji buat jagain Titania sampai kapanpun.


~Bersambung


Ah Abang mah so sweet, 'kan?


Pen toel pipinya, hihi.


Maaf baru update yah. Semalam aku ketiduran. Gak mau maksa ngetik takut kek kemarinnya salah nama hehe.


Jangan lupa klik like, komen dan vote.