The Billionaire Twin'S Baby

The Billionaire Twin'S Baby
Pandora Kena Karma Kecil




Tak lama setelah Galaksi mematikan ponselnya. Suara dari pintu yang terbuka membuatnya mau tak mau membalikkan tubuhnya.


"Ngapain Mama kesini lagi?" tanya Galaksi dengan wajah marah.


"Ingat, Galak! Mama ini mamamu. Kau harus menurut sama, Mama," ucap Pandora dengan penampilan yang lebih baik dari tadi.


Sepertinya perempuan tua itu pergi untuk merapikan dress dan make upnya dikamar mandi. Hingga bekas pertengkaran mereka tadi mulai tak terlihat dalam diri Pandora. 


Galaksi menatap Pandora tajam. Dia mendekati tubuh Mamanya lalu menunjuk wajah yang sudah tak ia kenali lagi.


Mamanya yang dulu adalah orang yang lemah lembut. Jangankan membentak orang, marah kepada dirinya saja, tak pernah. Namun, sekarang semua itu seakan berubah dengan drastis. Tak ada kelembutan lagi dalam dirinya mamanya, yang ada hanya menuntut, uang dan status sosial. Galaksi seakan melihat orang lain dalam rupa mamanya.


"Mama memang ibu kandungku, tapi jika Mama berani menghina anak kandungku. Aku bisa pastikan Mama tak akan pernah mendapatkan uang sepeserpun dari Galaksi," ancamnya tak main-main.


"Kau tak bisa melakukan itu pada Mama, Galaksi!" 


"Aku bisa. Aku berhak melakukan semua itu!" seru Galaksi marah. "Jangan pernah lupa, jika semua warisan papa jatuh ditangan Galaksi, Ma." 


Pandora begitu marah. Tangannya mengepal kuat hingga akhirnya ia melayangkan sebuah tamparan keras di pipi sang putra.


"Dasar anak durhaka!" 


Galaksi terdiam. Dia merasakan panas dan nyeri di bagian pipinya. Namun, dia tak peduli dengan rasa sakit itu. Di kepalanya hanya ada bayang-bayang sang anak yang dihina mamanya sendiri dan Galaksi merasa tak terima.


Galaksi memalingkan wajahnya. Dia menatap wajah Pandora yang memerah karena terlalu emosi. "Mama boleh tampar aku, tapi ingat! Jangan sentuh mereka atau aku…" jedanya dengan menatap Pandora tajam.


"Yang akan membalas perbuatan Mama langsung dari tanganku sendiri." Setelah mengatakan itu Galaksi langsung keluar dari ruangannya. Dirinya tak mau menginap di rumah sakit lagi karena masih banyak yang harus dia selesaikan.


Sudah cukup dia beristirahat disini. Sudah cukup selama ini dia diam. Lalu sekarang, ia tak akan menjadi anak kucing lagi. Galaksi menyadari saat ini dirinya tak sendirian. Ada anak yang harus dilindungi dari mamanya sendiri. Dia baru menyadari jika kebencian mamanya pada sang mantan istri, masih ada dan sampai melebar ke anak-anaknya. Hal itu, tentu tak akan pernah dia izinkan untuk terjadi lagi, selama dirinya hidup.


****


Di sisi lain, Venus yang berjalan di belakang Galexia pun mulai menunjukkan jahilnya. Gadis kecil itu malah bersembunyi di balik dinding saat melihat mamanya tak sadar akan dirinya. Matanya mengedar ke sekeliling dan melihat suasana di sana masih aman.


"Aku balas kau, Nenek Peyot," ucapnya diiringi tawa cekikikan. 


Langkah kaki kecilnya ia ayunkan menuju sebuah ruangan. Tempat yang diyakini Venus jika perempuan tua itu berada disana. Matanya sambil menatap sekitar dengan langkah kaki ia buat sepelan mungkin agar tak terdengar siapapun. 


Samar-samar, dia mendengar suara orang berdebat. Wajahnya menunjukkan raut tak suka ketika perdebatan itu semakin kencang di telinganya. 


"Nenek peyot itu, setelah membentak Mama, sekalang malah-malah sama Papa Venus," ujarnya dengan mencebikkan bibirnya. 


Dirinya bersembunyi di balik pintu, menunggu keadaan aman terkendali hingga dia bisa melaksanakan rencananya. 


"Setelah ini aku jamin, Nenek Peyot bakalan kapok," lirihnya diiringi suara cekikikan.


Perlahan Venus semakin memepetkan tubuhnya pada pintu saat mendengar tak ada lagi perdebatan disana. Hingga mata kecilnya menyembul sedikit dan melihat sosok Galaksi sudah keluar dari sana. 


"Tenang, Papa. Walau Venus belum maafin Papa tapi Venus bakalan bales sikap nakal Nenek peyot," ujarnya dengan keluar dari persembunyiannya. 


Mata Venus melihat kesana kemari, lalu dia mengintip ke dalam ruangan dan melihat Pandora melangkah menuju kamar mandi yang ada disana. Dirinya tersenyum, kemudian saat Venus hendak memasuki ruang rawat Galaksi, dari lorong terlihat seorang yang bertugas membersihkan kamar pasien sedang mendorong perlengkapan pel dan sapu. Matanya seketika berbinar saat melihat botol sabun yang ada disana. 


Dengan otak pintarnya, Venus mulai berjalan ke arah orang tersebut dengan santai. Saat tubuh mungilnya hampir sampai, pria yang mengenakan pakaian seperti OB itu masuk ke salah satu ruang rawat dengan membawa sapu. Venus menatap berbinar hingga dengan cepat tangan mungilnya menyambar botol itu lalu membawanya kabur.


Saat melihat musuhnya belum keluar dari kamar mandi. Venus segera berjalan memasuki ruangan luas itu. Dia membuka penutup botol, lalu menuang isinya tepat di depan pintu kamar mandi.


Mendekatkan daun telinganya pada pintu, Venus bisa mendengar suara air dan dia yakin jika Pandora akan segera keluar.


Dengan cepat, Venus berjalan dengan santai. Dia melangkah menuju ke arah tas mahal Pandora hingga suara pintu kamar mandi terbuka.


"Ngapain kau kesini, Bocah tengil?" serunya marah berdiri di daun pintu kamar mandi belum keluar. 


Venus berbalik. Dia menyembunyikan botol itu dibalik punggung mungilnya dengan senyuman misterius.


"Hola, Nenek Peyot. Venus kesini kalena kangen sama, Nenek," ucapnya dengan wajah imut.


"Jangan asal bicara kau!" ketusnya marah. "Kenapa kau kesini, 'hah?" 


"Aku kesini ingin…" jedanya dan mengulurkan tangan kirinya untuk meraih tas mahal itu. 


Dengan berani, Venus menjatuhkan tas itu dan menginjaknya dengan puas.


"Kau!" 


Pandora begitu marah hingga dengan terburu-buru dia menginjakkan kakinya di lantai depan pintu. Belum sampai dia melangkah, kakinya sudah mulai oleng dan dia menyadari jika lantai itu begitu licin. 


"Akhhh!" teriaknya dengan diiringi pantatnya yang mendarat sempurna di lantai.


"Hahahahaha." Tawa Venus pecah. Bahkan dia mengangkat tangannya ke atas merayakan keberhasilannya. 


"Nenek peyot kalah, Nenek peyot kalah," ejeknya menggoyangkan pinggulnya ke kanan dan ke kiri. 


Bahkan tanpa dosa dia memperlihatkan botol sabun itu di hadapan Pandora.


"Dasar, Bocah tengil! Ini semua ulahmu!" serunya dengan emosi meledak-ledak.


Saat dirinya mencoba berdiri, dia terjatuh lagi dan merasakan pergelangan kakinya sakit. Sungguh Pandora begitu kesal setengah mati. Kakinya yang dibalut heels tinggi tentu membuatnya kesulitan berjalan di lantai yang basah dan licin itu.


"Lasain, wlekkk!" Venus menjulurkan lidahnya lalu dia berjalan dengan melompat kecil dan dia melambaikan tangan sebagai salam perpisahan.


"Dada, Nenek. Sampai jumpa lagi." 


Setelah mengatakan itu. Venus keluar dari sana, dia berjalan ke arah pria yang bertugas membersihkan kamar. Wajahnya seperti kebingungan hingga saat matanya menangkap sosok Venus. Seketika dia mengerutkan keningnya.  


"Ada apa?" tanyanya menggunakan bahasa inggris.


Tanpa bicara, Venus menyerahkan botol itu lalu pergi dari sana. Perasaannya bahagia setelah membalaskan dendamnya karena jengah dengan ulah nenek peyot. Sungguh dirinya kesal dan belum puas jika hanya menggigit, hingga dia mendapatkan rencana ini dan membalasnya sendirian.


"Jangan halap bisa melawan Venus, Nenek peyot." 


~Bersambung~


Hahaha pinter kamu, Nak. Lanjutkan usilmu. Emak bakalan dukung.


Kapok sekarang mah masih tangan sama pantat yang sakit. Nanti aku buat mentalnya yang kena, haha.


Maaf baru update yah, aku baru selesai ngurusin rumah dan ngurusin bocil yang beberapa hari ini rewel.


Jangan lupa tekan like, komen dan vote untuk apresiasi karya ini


Tembus 250 like dan komen banyak aku update lagi! yok gas!