The Billionaire Twin'S Baby

The Billionaire Twin'S Baby
Kejujuran Galaksi




Sinar matahari mulai kembali menyapa. Embun pagi yang membasahi dedaunan semakin membuat mereka terlihat berkilauan ketika terkena sinar matahari. Udara yang masih segar tentu menjadi waktu terbaik untuk menikmati bersihnya oksigen di Jakarta. 


Waktu-waktu seperti ini tentu menjadi hal langkah di kota yang begitu padat. Segarnya udara, suara jangkrik dan tak ada polusi udara merupakan suatu hal yang sangat sulit didapatkan di kota yang besar seperti Jakarta.


Di sebuah rumah, terlihat beberapa orang mulai berkeliaran. Banyak pelayan yang juga sudah terlihat sibuk di waktu libur seperti ini. Rumah yang biasanya diisi santai dan bermalas-malasan, saat ini terlihat berbeda. 


Semua orang sudah bersiap rapi dengan pakaiannya. Mereka kali ini akan mengantarkan keluarga Jericho untuk kembali ke rumah mereka yang dulu. Rumah penuh kenangan yang diambil haknya secara paksa oleh Atlas dan sekarang bisa kembali menjadi milik mereka lagi.


"Apa semua sudah siap?" Tanya Galaksi saat dia baru saja sampai di lantai bawah.


"Sudah," sahut Galexia sambil meletakkan satu koper miliknya.


Lalu di belakangnya, muncul beberapa pelayan yang membawa koper-koper milik si kembar dan yang lainnya. Hal itu tentu menarik perhatian Rhea dan Jericho yang sudah sejak tadi ada disana.


"Kenapa kalian ikut Ayah dan Ibu pulang?" Tanya Rhea pada putri pertamanya.


Galexia terdiam. Dia melirik Galaksi yang ada di sebelahnya. Sejujurnya keduanya sudah sepakat untuk mengatakan kebenaran tentang mereka berdua pada kedua orang tua Sia. Namun, entah kenapa ketika ditanya langsung seperti ini, rasa gugup dan takut menghinggapi mereka.


"Itu, Bu," sahut Sia dengan kebingungan.


"Kenapa?" 


"Sebenarnya ada yang ingin Galaksi sampaikan pada Ibu dan Ayah." Akhirnya Galaksi bersuara. 


Pria itu tak mau hubungan keduanya menjadi jalan kebohongan pada orang tua Sia. Galaksi tak mau dianggap pengecut. Dia akan berkata jujur tentang masa lalunya bersama Sia dan akan memperjuangkan wanita itu lagi.


Mungkin Galaksi sudah menyiapkan semuanya. Batin dan resiko apa yang akan dia dapatkan ketika dirinya sudah berkata jujur pada orang tua Sia. Jalan terburuk dari mereka, hubungan keduanya tak akan direstui dan Galaksi sudah menyiapkan akan hal-hal itu jika benar-benar terjadi. 


Orang tua mana yang mau anaknya dikatakan ******. Orang tua mana yang masih mau menyerahkan anaknya pada pria yang sudah menceraikan putrinya ketika hamil. Pasti mereka akan berpikiran dua kali ketika hal itu terjadi dan Galaksi sudah tentu siap menerima apapun yang akan menimpanya.


Jericho dan Rhea saling berpandangan. Mereka menatap putri dan pria yang dia tahu sebagai ayah dari kedua cucunya.


"Apa yang ingin kamu sampaikan, Galaksi?" Tanya Jericho dengan tegas.


Galaksi masih diam. Dia mencoba bersikap tenang dan mulai menyiapkan perkataan pertama yang akan dia katakan pada calon mertuanya.


"Galaksi?" 


"Sebelumnya maafin Galaksi, Ayah, Ibu. Sebenarnya…." 


"Kak," sela Sia dengan spontan.


Dia memegang lengan Galaksi dan menatapnya penuh harap. Sungguh Sia tak mau orang tuanya akan berpikiran buruk tentang Galaksi atau lebih parahnya akan memisahkan keduanya. 


"Percayalah padaku, Sia," pinta Galaksi dengan wajah tenang.


Namun, siapa yang tahu jika jantung pria itu berdebar kencang. Bahkan dirinya berusaha mentralkan ekspresi wajahnya agar ibu dari kedua anaknya tak ikut khawatir.


"Sebenarnya Galaksi dan Galexia sudah bercerai, Ayah."


"Apa!" Jericho tersentak kaget.


Dia menatap tak percaya ke arah keduanya. Namun, sebisa mungkin pria paruh baya tersebut bersikap tenang. Pikiran jernihnya masih berpikir utama. Dia tak boleh bersikap gegabah sebelum mengerti semuanya.


"Kalian bohong, 'kan?" tanya Rhea bersuara.


Galexia hanya mampu menunduk. Dia tak mau menatap wajah kedua orang tua yang diyakini marah kepadanya. Dirinya tak mau melihat raut kecewa dari mereka berdua. Dirinya belum siap dan merasa tak sanggup.


Plakk!


Sebuah tamparan keras jatuh di pipi kanan Galaksi. Diiringi dengan air mata menetes dari pipi Rhea. Wanita yang baru bertemu dengan kedua putrinya tak menyangka ketika mendengar kenyataan itu. 


Kenyataan pahit putri pertamanya yang begitu menyakitkan. Sebagai seorang ibu tentu Rhea tak terima akan sikap Galaksi. Apalagi mengingat anaknya harus melewati itu semua sendirian membuat hatinya semakin sakit


"Ibu!" cegah Jericho dan Sia bersamaan. 


Semua yang ada disana tentu hanya bisa diam. Apalagi Pandora, wanita yang merupakan ibu kandung Galaksi hanya bisa mematung menatap putranya yang mencoba meraih hati kedua calon mertuanya. Pandora hanya ingin melihat bagaimana perjuangan putranya itu. Meminta maaf ketika sudah menyakiti dan mendapatkan hati dan kepercayaan mereka kembali.


Sedangkan Riksa, Cressida dan Alya perlahan pergi dari sana. Mereka tak mau membuat Galaksi malu atau tak nyaman ketika mengatakan semuanya. 


"Kami tunggu di depan, Sia," kata Riksa pelan di dekat Sia.


Pria itu segera membawakan barang calon istrinya dan segera keluar dari sana. Setelah kepergian Riksa. Rhea mengambil tasnya juga dan menarik tangan putri pertamanya.


"Ayo kita pulang ke rumah kita, Nak," ajak Rhea dengan lembut.


"Ibu," cegah Jericho yang langsung disela oleh Rhea dengan mata penuh air matanya.


"Apa Ayah masih sanggup menerima pria yang sudah menceraikan anak kita saat hamil dan tanpa kehadiran kita berdua?" sentak Rhea langsung yang membuat Jericho bungkam.


"Ayo!" Rhea menarik tangan Sia, tanpa mengindahkan tatapan ibu dari si kembar yang terlihat begitu berat.


Wanita itu menatap Galaksi dengan mata berkaca-kaca. Dirinya seakan berat untuk meninggalkan pria yang merupakan ayah kandung dari kedua anaknya.


"Ibu." 


"Ayo!" Rhea terus menarik hingga membuat Sia mau tak mau mengikuti langkah ibunya. 


Meninggalkan Galaksi yang juga sedang menatapnya dalam diam. Pria itu benar-benar tak tahu harus melakukan apa. Hingga tubuh Sia lenyap di balik pintu dan membuat Jericho hanya bisa menghela nafas berat.


Jika sudah begini, Jericho tak bisa melakukan apapun. Pria itu begitu tahu bagaimana sikap istrinya. Apapun alasannya, jika menyangkut Sia dan Cressida, Rhea pasti berada di garda terdepan.


Akhirnya pria itu mulai berjalan mendekati pria yang masih menatap ke arah pintu masuk. Dia tepuk pundaknya hingga wajah lesu itu menatap kepadanya. 


"Ayah." 


"Tenanglah, Nak. Semuanya akan baik-baik saja," sahut Jericho dengan tenang.


"Tapi apa Ayah benar-benar memaafkanku?" tanya Galaksi dengan wajah begitu muram. 


Jericho menarik nafasnya begitu dalam. Dia menatap manik mata pria tampan di depannya ini. Dari wajahnya saja, Jericho bisa melihat tatapan penyesalan dari pria itu.


"Ayah mana yang tega mendengar kisah putrinya yang sepahit itu, Nak? Tapi Ayah paham, pasti ada alasan dibalik apa yang sudah terjadi," kata Jericho dengan bijak. 


"Sekali lagi maafkan aku, Ayah. Maafkan kebodohanku yang dulu. Aku benar-benar menyesal telah meninggalkan istri dan kedua anakku." 


"Ayah sudah memaafkanmu, Nak. Tenanglah, serahkan urusan Ibu pada, Ayah," kata Jericho dengan yakin. "Tugasmu hanya satu sekarang, buktikan pada Ayah dan Ibu, bahwa kamu benar-benar yang terbaik untuk putriku dan dua cucuku."


~Bersambung~


Maaf baru update yah, aku baru sanggup ngetik. Dari semalem perut sama pinggangku sakit. Kupaksa ngetik pun dari pagi gak bisa.


Aku benar-benar minta maaf cuma bisa update sebab doang. Semoga kalian gak kecewa sama aku. Aku takut mengecewakan kalian semua.


Mohon maaf dan terima kasih.