
Perasaan Sia mulai tenang. Bahkan tak ada lagi ketakutan dalam dirinya. Hingga tak lama, pertanyaan yang sedari tadi berputar dalam otaknya kembali berputar hingga membuatnya spontan menatap Riksa.
Pria itu tersentak kaget dengan gerakan Sia yang tiba-tiba. Bahkan Riksa mengerutkan keningnya saat melihat ada sesuatu yang berbeda dari raut wajah teman kerjanya itu.
"Kenapa, Sia?" tanya Riksa aneh.
Bukankah permasalahannya sudah selesai, tapi kenapa wajah Sia kembali tegang.
"Bolehkah aku bertanya sesuatu padamu?"
"Tentu saja. Apa yang ingin kau tanyakan?" tanya Riksa dengan wajah tenang.
Sia merogoh tas yang masih menggantung lekat di pundaknya. Lalu, dia mengambil benda pipih miliknya dan mengotak-atiknya sebentar. Dia harus memastikan apa yang dikatakan oleh Leo tadi, dan kunci utamanya ada pada managernya ini.
"Aku mohon kau jawab jujur pertanyaanku," mohon Sia yang membuat Riksa semakin heran.
Sia menyodorkan ponselnya yang langsung diterima oleh Riksa. Pria itu menatap layar hidup yang menampilkan sosok beberapa hari yang lalu baru ditemuinya.
"Tuan Galaksi."
Tubuh Sia menegang. Bahkan perempuan itu spontan menoleh saat kata itu yang keluar dari bibir Sia. Rasa penasaran yang semakin besar membuatnya ingin mengorek semakin dalam apa yang sudah terlewati dari dirinya.
"Kau mengenalnya?" tanya Sia dengan menatap lekat wajah Riksa.
"Tentu saja. Waktu itu aku berbincang dengannya saat di Mall bersama si kembar. Lalu yang kedua, ketika Mars dan Venus pemotretan di galeri dan entah Tuan Galaksi darimana tiba-tiba di muncul di antara kami."
Degupan Jantung Sia berdetak kencang. Lidahnya terasa kelu hanya untuk bertanya ataupun mengeluarkan suara. Sungguh dirinya tak menyangka jika yang dikatakan Leo itu benar. Dia pikir tadi sahabatnya hanya bercanda. Namun, ternyata itu semua nyata.
Takdir Tuhan benar-benar ada dan mereka tak ada yang tahu bagaimana bisa terjadi. Hal itulah yang berputar di otak Sia. Setelah sekian lama mereka tak berjumpa. Lalu sekarang, tiba-tiba Tuhan mempertemukan mereka tanpa sadar. Namun, Sia bersyukur karena keduanya tak saling mengenal.
"Ada apa, Sia? Kau mengenal Tuan Galaksi?" tanya Riksa yang menatap aneh ke arah Sia.
Dia bisa melihat wajah wanita di depannya ini seperti ada suatu hal yang dipikirkan. Bahkan wajah Sia yang tadinya sedikit lebih tenang terlihat kembali cemas.
Sia berulang kali menghembuskan nafas berat. Sepertinya untuk kali ini dia harus bercerita. Dirinya tak bisa menyembunyikan apapun lagi karena ini menyangkut kedua anaknya.
"Galaksi adalah ayah kandung Mars dan Venus."
"Apa!" Mata Riksa terbelalak kaget. Bahkan wajahnya terlihat sekali jika dia terkejut setengah.
Jujur tak pernah menyangka jika pria yang begitu ingin tahu identitas si kembar adalah ayah kandungnya. Apakah Galaksi yang saat itu bertanya kepadanya, mungkin merasa curiga.
Riksa menatap Galexia. Lalu dia menepuk pundaknya hingga membuat tatapan mata Sia kembali ke arahnya.
"Kenapa?"
"Aku baru sadar, Sia. Apakah Tuan Galaksi sudah tahu jika kembar adalah anaknya?" tanya Riksa yang mengingat pertanyaan Galaksi.
"Apa maksudmu?"
"Waktu itu Tuan Galaksi bertanya kepadaku apakah Mars dan Venus benar anak-anakku," ujar Riksa dengan menatap mata Sia.
"Lalu kau menjawab apa?"
"Ya aku jawab tentu saja. Si kembar 'kan memang anakku? Akta kelahirannya saja namaku yang tertera?" ujarnya hingga membuat Sia menimpuk kepala Riksa.
"Untung saja mereka punya ayah yang tampan macam aku. Jadi si kembar tak merasa kecewa 'kan?"
"Cih!" keduanya bercanda sebentar. Menghilangkan ketegangan yang menyelimuti hatinya sejak tadi.
"Lalu bagaimana setelah ini?" tanya Sia saat keheningan kembali menyapa. "Aku yakin dia belum tahu jika mereka anak-anaknya."
"Aku juga berpikir begitu. Jika Tuan Galaksi tahu, maka dia sudah mencarimu."
Sia mengangguk. Dia membenarkan ucapan Riksa kali ini. Jika Galaksi mengetahui semuanya, sudah pasti sejak lama dia mencari dirinya atau mengambil Mars dan Venus. Namun, kenyataannya sampai detik ini pria itu tak melakukan apa-apa bukan.
"Tapi aku khawatir, Riksa."
"Apa yang kau khawatirkan?"
"Bagaimana jika dia meminta hak asuh kembar? Bagaimana jika dia menjauhkanku dari Mars dan Venus? Aku tak mau itu terjadi." Riksa dapat melihat kekhawatiran di wajah Sia.
Pria itu paham apa yang dirasakan oleh Sia. Siapapun pasti memiliki ketakutan seperti Sia jika ada di posisinya.
Perlahan Riksa menggenggam tangannya. Memberikan kehangatan dan menyalurkan ketenangan agar wanita yang menjadi pemilik hatinya itu menjadi tenang.
"Percayalah kepadaku, Sia! Aku akan ada dibelakangmu untuk membantu dan menjaga Mars dan Venus bersama-sama."
****
Di tempat lain, di sebuah rumah besar dan mewah. Terlihat seorang perempuan yang baru saja masuk dengan menjinjing tas mahalnya. Wajahnya terlihat kusut dengan gurat penuh kekhawatiran. Sepanjang jalan, tak henti-hentinya dia berpikir hingga membuatnya sampai lebih lama dari biasanya.
Tujuannya saat ini hanya satu yaitu kamar sang putra. Kamar yang jarang sekali dia masuki itu begitu mengundang rasa penasaran. Menaiki tangga satu persatu, dirinya menatap sekeliling.
Waktu yang sudah menunjuk tengah malam tentu saja membuat semua orang sudah terlelap. Bahkan hanya ada kesunyian dan ketukan sepatunya dengan lantai yang terdengar menggema.
Sebelum membuka pintu kamar, dirinya menghembuskan nafas berat. Mendorongnya perlahan hingga dirinya melihat ruangan yang sedikit temaram. Pandora, ibu dari Galaksi itu masuk dengan begitu pelan tanpa menimbulkan suara. Menatap ke arah ranjang, dia melihat putranya sedang tertidur dengan posisi terlentang.
Pandora mendekat, dia menatap anaknya hingga pandangannya tertuju dengan apa yang dipeluk oleh Galaksi. Dengan perlahan, dia mendudukkan dirinya di atas ranjang. Mengambil sebuah benda persegi yang berada dalam pelukannya. Hingga tak sampai satu menit, akhirnya benda itu terlepas dan langsung dibalik oleh Pandora.
Nafasnya tercekat, saat matanya menatap sebuah potret seorang wanita yang beberapa jam lalu dia temui. Tangannya mencekram kuat pinggiran benda yang ternyata adalah pigura. Nafasnya naik turun dengan wajah merah padam karena amarah. Sungguh ibu dari Galaksi itu tak menyangka putranya menyimpan potret mantan istrinya itu, karena selama ini yang Pandora tahu, putranya itu sudah menghapus dan melupakan segala hal tentang mantan istrinya.
"Jangan harap kau bisa menemuinya lagi, Nak. Mama akan berusaha menjauhkan kalian berdua," ucap Pandora dengan keji lalu dia mengembalikan potret itu di pelukan sang putra.
Dia membenarkan selimut Galaksi lalu keluar dari kamarnya dengan sejuta rencana yang sudah berputar diotak liciknya. Dirinya tak boleh mengalah lagi, dan Pandora berjanji akan melakukan segala cara untuk membuat anaknya terlepas dari jeratan wanita murahan tersebut.
"Mama akan segera menikahkanmu dengan Inggrid, agar dia tak bisa mendekatimu lagi."
~Bersambung~
Emang Pandora ini otaknya makin menjadi aja. Inget umur jan makin gila entar stress loh.
Terima kasih kalian semua. Sungguh pembaca si kembar kompak banget. Baca komentar bikin mood banget belum lagi kalau udah kesel sama tokoh yang kubuat. Aku bacanya ampek ngikik-ngikik.
Jangan lupa tekan like dan komentar yah sebagai tanda apresiasi kalian sama karya aku. Terima kasih juga buat yang vote poin koin yah. Sungguh luar biasa.