
Sedangkan di tempat Cressida berada. Saat Galexia baru saja pergi meninggalkannya. Wanita itu mulai masuk ke dalam kamar kedua orang tuanya. Matanya menatap sekeliling dan segera menyalakan lampu yang ada disana.
Akhirnya ruangan yang semula gelap menjadi terang benderang. Dia menatap sekeliling dan ruangan itu masih tertata begitu rapi. Hanya saja, banyak sekali debu dan sarang laba-laba yang memenuhi ruang kamar tersebut.
Cressida menghela nafas pelan, lalu dia mulai masuk semakin dalam. Matanya menatap awas ke sekeliling. Meneliti sudut tiap sudut ruangan yang baru pertama kali dia masuki. Sebuah ranjang tempat tidur, lemari besar dan cermin rias masih terlihat begitu bagus. Dia berjalan ke arah jendela lalu membuka tirai itu dengan sekali tarikan.
Akhirnya ruangan itu semakin terang. Matanya bisa menatap taman yang ada di samping rumahnya. Hingga saat matanya tanpa sengaja melihat sosok Galexia disana, dirinya baru menyadari tujuannya apa. Segera Cressida meletakkan tasnya di atas ranjang, lalu dia mulai mendekati lemari yang terdapat banyak laci disana.
"Semoga apa yang kucari benar-benar ada disini," kata Cressida sambil membuka satu per satu laci yang ada disana.
Dia membukanya dengan cepat. Bahkan mulai dari lemari sampai nakas samping ranjang semua kosong. Lalu matanya menatap cermin rias, dia mencari disana juga tak ada apapun. Hingga harapannya tinggal satu, yaitu lemari pakaian.
Cressida segera membuka lemari berpintu tiga itu. Satu per satu dia buka dan mencari apa ada sesuatu disana. Hingga saat membuka pintu bagian tengah. Matanya menangkap sebuah laci kecil disana. Jantungnya tentu berdegup kencang. Dia mulai menghela nafas pelan dan menarik laci tersebut.
Terbuka.
Sebuah kotak kecil coklat dengan pita merah terlihat oleh manik matanya. Dia segera mengambil kotak itu dan membawanya ke arah ranjang. Tanpa sungkan dia segera mendudukkan dirinya dan membawa kotak itu di pangkuannya.
Dia bolak balik kotak itu. Lalu menggoyang goyangkan isinya. Terdengar suara suatu benda yang ada di dalamnya. Hingga tanpa kata, dia segera menarik pita merah itu sampai terlepas dan membuka kotak yang entah apa isinya.
"Kunci?" gumam Cress dengan kening berkerut.
Tak ada apa-apa lagi disana. Hanya sebuah kunci yang semakin membuat tanda tanya besar dalam kepalanya. Tanpa kata, Cressida kembali berdiri, dia mencari ada apalagi di lemari tersebut hingga tak ada apapun.
Semua tempat kosong. Tak ada benda yang menjadi petunjuk dari kunci yang dia punya. Bahkan kasur tempat tidur dia angkat takut ada kotak atau apa di bawahnya. Namun, masih sama. Tak ada apapun disana.
Hingga Cressida mulai memijat dahinya. Dia menatap ruangan itu dengan pikiran yang berkecamuk. Kepalanya dipaksa berpikir dan mencari apa yang berhubungan dengan kunci itu.
"Mama dan Papa gak mungkin memiliki kunci ini, jika tak ada tempat kuncinya," gumam Cressida meyakinkan diri.
Hingga tanpa sengaja, tatapannya tertuju pada sebuah lukisan yang ada tepat di atas ranjang. Lukisan yang menggambarkan dua buah mobil tertabrak dan banyak ceceran darah disana.
Pemandangan menyeramkan itu tentu membuat bulu kuduk Cressida merinding. Dia merasa takut dan membuatnya berpikir untuk menurunkannya. Toh mungkin, setelah ini dia akan tinggal disini jika berkunjung ke Indonesia. Dengan santai, dia berjalan mendekati lukisan itu.
Meneliti objek gambar yang tak menarik di matanya, lalu mulai menyentuh bagian ujung kanan paling bawah.
"Aww." Bersamaan dengan erangan sakit dari Cressida.
Tiba-tiba suara suatu benda bergerak membuatnya mendongak. Matanya membulat dengan bibir menganga tak percaya melihat pemandangan di depannya ini.
Lukisan yang hendak diturunkan ternyata bisa membelah menjadi dua. Cressida benar-benar terkejut bukan main. Bahkan dirinya sampai menutup mulutnya saat tiba-tiba muncul sebuah kotak berwarna merah dan hitam dari tengah-tengah lukisan yang membelah.
"Bagaimana mungkin?" katanya tak percaya.
Namun, tatapannya kembali terarah pada kotak itu. Lalu dia melihat kunci yang ada di tangannya. Bergantian hingga dirinya semakin yakin jika kotak itulah yang mungkin cocok dengan kunci ini.
Dengan sekali gerakan. Cressida menaiki ranjang itu lalu mengambil kotak tersebut. Jantungnya semakin berdegup kencang. Bahkan dia merasa susah untuk menelan ludahnya karena takut. Takut jika apa yang ada di dalam kotak ini tak sesuai dengan ekspektasinya.
Akhirnya dia mulai mendudukkan dirinya lagi dengan membenarkan kunci itu lalu memanjatkan doa. Semoga benda ini benar-benar cocok dengan kotak misterius yang dia temukan.
Klik.
Cressida menahan nafas. Dia tak menyangka jika kunci itu benar-benar bisa membuka kotak ini. Dia mulai menarik nafas begitu dalam lalu mulai membuka kotak itu dengan pelan.
"Apa ini?" gumam Cress saat kotak itu sudah terbuka.
Dia mengambil sesuatu berbentuk kertas lalu mengeluarkan semua isinya ke atas ranjang.
"Foto?"
"Ini fotoku saat kecil, 'kan?" ucapnya pada dirinya sendiri. "Kenapa bisa ada disini?"
Dengan iseng dia melihat ke belakang foto itu dan melihat namanya ada disana.
Cressida 3 tahun.
Dia kembali menatap ke foto yang lain. Hingga dia begitu penasaran dengan satu foto keluarga bahagia. Seorang pria dan wanita seperti sepasang suami istri dan dua orang anak.
"Apa ini orang tua dan kakak kandungku?" Cressida membalikkan foto itu. Namun, tak ada tulisan disana.
Dia segera mencari foto yang lain lagi. Mengobrak abrik satu persatu hingga akhirnya pandangannya tertuju pada foto seorang gadis kecil, bermata coklat dengan senyuman begitu manis.
Dia mulai meraih foto itu dengan jantung berdegup kencang. Lalu mulai membawanya lebih dekat hingga dia bisa melihat wajah asli wanita yang diyakini dirinya sebagai kakak kandungnya. Hingga tanpa menunda, dia akhirnya membalikkan foto itu sampai sebuah nama yang dia kenal kemarin tertulis di sana.
Galexia, anak perempuanku yang pertama dan kakak kandung Cressida kecilku.
"Gak mungkin," tolaknya sambil menggelengkan kepala.
Hingga bersamaan dengan itu suara pintu yang terbuka keras membuat Cressida mendongak. Dia menatap manik mata yang memiliki warna seperti dirinya dengan mata berkaca-kaca.
Dia baru tahu, dirinya baru sadar jika wajah anak kecil yang ada di foto itu, sama dengan wajah Galexia. Matanya berkaca-kaca dia baru sadar jika wanita yang baik hati dan mampu menepis ketakutannya itu ternyata saudaranya sendiri.
Saudara yang terpisah olehnya sejak kecil. Saudara yang begitu dia rindukan keberadaannya hingga baru kali ini bisa dia lihat dan dia tatap secara nyata.
"Kakak."
"Adikku."
Akhirnya dua orang itu saling melangkah bersamaan. Mereka saling bergegas untuk mendekat dan kemudian jatuh ke pelukan erat. Sebuah pelukan yang begitu mereka merindukan, sebuah pelukan yang tak pernah mereka rasakan.
"Kamu...kamu…." kata Galexia terbata.
Cressida mengangguk. "Aku adikmu, Kak."
Namun, belum sempat mereka melepaskan rindu. Sebuah notif masuk ke dalam ponsel Galexia dan membuat mereka harus melepaskan satu dengan yang lain.
Ibu dari si kembar itu mulai meraih ponselnya dan menggeser layar itu. Sampai sebuah pesan masuk dari nomor tak dikenal terlihat disana.
0822347×××××:
Kau sudah mengabaikan ancamannya. Lihatlah! Apa yang akan terjadi dengan calon suamimu.
Galexia membelalakkan matanya. Pikirannya mendadak kacau sampai dia merasa udara di sekitar terasa mencekik. Hingga suara panggilan membuatnya kembali tersadar. Dia segera meraih panggilan itu saat nama Mama Pandora ada disana.
"Ya, Ma?"
"Pesawat yang ditumpangi Galaksi mengalami kecelakaan, Nak."
~Bersambung~
Kaboorr mau ngilang aku tuh! hahaha.
Catat: Gak ada adegan jebakan perangsang atau apa loh yah. hahaha.
Jangan lupa klik like, komen dan vote biar aku semangat ngetiknya.
Tembus 250 like, aku update!