The Billionaire Twin'S Baby

The Billionaire Twin'S Baby
Sadboy




Setelah mengatakan itu, Sia akhirnya masuk ke ruangan Galaksi tanpa menoleh ke belakang kembali. Dia meninggalkan sosok Inggrid yang masih memegang pipinya dengan wajah bengis. Giginya gemelatuk menahan amarah akan sikap wanita yang berani-beraninya mengambil apa yang menjadi miliknya. Tangannya terkepal kuat, dia bersumpah akan membalaskan dendam pada Sia jika waktunya sudah tiba. 


Inggrid mulai meninggalkan rumah sakit dengan nafas yang memburu. Dia tak memperdulikan pipinya yang memerah dengan darah di sudut bibirnya yang menandakan jika tamparan itu begitu kuat. Dirinya sudah berada di ambang batas, dan ia meyakini jika bisa merebut Galaksi dari sisi wanita murahan itu. 


"Tunggu saja pembalasanku, Sia. Jangan panggil aku Inggrid! Jika aku tak bisa mengambil apa yang seharusnya menjadi milikku." 


****


Sedangkan di dalam ruang rawat Galaksi. Kehadiran Sia yang begitu cepat tentu mencuri perhatian pria yang tengah berbaring nyaman di atas ranjang pasien. Dia tertidur dengan posisi menyamping karena menurutnya jika seperti ini lukanya tak akan sakit. Dibelakangnya tentu ada sebuah guling sebagai sandaran agar dia tak merasa lelah jika dalam posisi ini. 


"Kemana dia?" tanya Galaksi menatap wajah mantan istrinya yang terlihat aneh.


"Untuk apa mencarinya?" ketus Sia dengan tatapan tajam.


Galaksi merasa merinding. Bahkan ditatap seperti itu membuatnya hanya bisa menelan ludahnya paksa. Dalam hati, dia melihat sosok sang istri yang sepertinya menahan amarah. Bahkan mendengar nafasnya yang memburu membuat Galaksi tahu jika Sia sedang tak baik-baik saja.


"Aku hanya penasaran saja," sahut Galaksi setenang mungkin.


"Kalau kamu ingin mencarinya. Susul aja dia, sana!" seru Sia dengan wajah yang cemberut.


Ah entah kenapa ibu dari Mars dan Venus merasa moodnya menjadi buruk. Kedatangan Inggrid seakan menjadi faktor utama dirinya begitu emosi. Apalagi mendengar hinaan dari bibirnya tentu membuat amarah Sia selalu terpancing. Namun, sungguh dirinya tak menyesal sudah menampar Inggrid.


Sia benar-benar merasa puas telah membalas ucapan wanita yang menghinanya sejak di restaurant New York. Menurutnya, wanita seperti Inggrid memang harus diberikan pelajaran. Agar sewaktu-waktu bibirnya bisa lebih hati-hati ketika berkata. 


"Aku hanya bertanya saja dan tak berniat mencarinya."  Setelah mengatakan itu, Galaksi memilih memejamkan matanya.


Dia tak mau membuat Sia semakin marah kepadanya. Meski Galaksi tak tahu apa penyebabnya. Namun, berpacaran dengan Sia tentu membuatnya paham jika wanita itu sedang dalam emosi yang tak stabil.


Akhirnya Sia hanya bisa menghela nafas berat. Dia memilih duduk di sofa sambil memijit dahinya yang berdenyut. Sungguh rasanya ia baru memiliki kekuatan untuk melawan wanita seperti Inggrid. Dirinya sudah bertekad akan menjaga hak milik anak-anaknya dan menjauhkan dari hama apapun yang ingin merusak dan mengambilnya. 


"Aku harus ada di samping Galaksi. Aku tak mau anak-anakku yang turun tangan sendiri sedangkan diriku hanya bisa diam," gumam Sia sambil memejamkan matanya dengan punggung menyadar di sofa. 


Dirinya memilih memejamkan mata dan mengikuti sang mantan suami yang sudah terlelap. Sia merasa membutuhkan tidur untuk menyegarkan otaknya. Kejadian selama beberapa hari ini, tentu membuat jam istirahatnya berkurang dan berantakan. Hingga saat ini, ketika dia menemukan sofa yang begitu empuk dan nyaman, dengan cepat membuat matanya terpejam dan mulai mengarungi alam mimpi.


****


Sedangkan di Negara New York. Terdapat seorang pria tampan yang baru saja selesai mengerjakan laporan cafenya sendiri. Dia adalah Antariksa, pria muda dan mapan dengan banyak cafe bercabang di Negara Indonesia dan New York, terlihat begitu lelah. 


Ia sandarkan punggungnya di kursi kerjanya lalu membuka kancing kemaja paling atas. Helaan nafas berat begitu terdengar yang menandakan jika Riksa benar-benar lelah dengan pekerjaannya.


Hampir satu minggu dia tak mengabari si kembar sejak kepulangan mereka di Indonesia. Ada rasa rindu yang menerpa membuatnya memilih menghubungi keduanya. Sebelum itu, dirinya menatap jam dinding yang menandakan waktu sudah menjelang tengah malam dan berarti jika di Indonesia sudah pagi hari.


Segera dia meraih ponselnya dan mencari nomor kontak wanita yang masih menduduki hatinya. Tanpa menunda apapun, melupakan rasa lelahnya karena rindu, segera dia menekan panggilan itu. Menunggu dering ponsel yang terus berdengung hingga suara operator yang muncul. 


Kening Riksa berkerut. Dia menatap ponselnya lagi dan melakukan panggilan pada nomor yang sama. Namun, kali ini berbeda dengan sebelumnya. Di deringan ke dua, panggilan itu diangkat dengan diikuti suara dua bocah yang begitu dia rindukan.


"Selamat pagi cintanya Om Riksa," katanya dengan diiringi senyuman lebar.


"Selamat pagi, Om Liksa," sahut suara cempreng nan cadel yang begitu dia rindukan dari seberang telefon.


"Apa kabar Princess?" 


"Pinces baik-baik saja, Om. Om Liksa sendili, apa kabal?" 


"Om Riksa gak baik-baik saja," sahut Riksa dengan suara yang dibuat selemah mungkin.


"Iya. Om Riksa sakit karena kangen banget sama kalian berdua," ucapnya hingga terdengar suara tawa dari Venus.


Suara cadelnya tentu menjadi obat dari kelelahan pria yang selama satu minggu ini begitu sibuk. Pembukaan cabang cafenya lagi, tentu membuatnya kalang kabut. Hingga dia melupakan kabar Mars dan Venus yang jauh disana. 


"Mars kangen juga sama, Om," seru suara pria kecil yang sejak tadi diam. 


"Cepat kembali kesini yah!" ujar Riksa dengan semangat. "Nanti Om ajak jalan-jalan lagi." 


"Siap, Om." 


"Mama kemana?" tanya Riksa mencari suara perempuan yang begitu dia rindukan. 


"Mama di rumah sakit, Om," sahut Mars membuat Riksa panik.


"Siapa yang sakit? Apa Mama Sia?" tanyanya beruntun.


"Bukan, Om. Mama sehat kok," sahut Mars dengan cepat.


"Lalu siapa?" tanyanya Riksa mulai tenang.


"Papa Galaksi."


Uhh ada yang sakit tapi bukan luka. Ada yang patah tapi bukan tulang. Ada yang tersayat tapi bukan jari. Sebuah kata bermakna besar membuat pikiran Riksa termenung. Seakan dirinya dihantam kenyataan pahit tentang identitas si kembar. 


"Papa Galaksi?" 


"Iya, Om. Abang sama Adek udah sepakat buat maafin Papa," kata Venus terdengar ceria.


Wajah yang awalnya bahagia perlahan kusut. Dia termenung meratapi nasibnya yang sudah sejak lama menahan perasaan terdapat ibu dari dua anak di seberang telepon ini. Entah kenapa hatinya tak tenang dan takut menerima kenyataan jika apa yang dia pikirkan menjadi kenyataan. 


Dirinya belum sanggup untuk patah hati lagi. Namun, mengakui perasaannya pun, Riksa tak memiliki keberanian. Dirinya takut kehilangan sosok Sia dari hidupnya. Dirinya juga takut jika hubungan keduanya rusak karena sebuah perasaan. Hingga ya inilah pilihannya. Memendam dan menyimpan perasaannya sendirian.


"Om?" panggil Venus yang membuat lamunan Riksa tersadar.


"Hmm?" 


"Venus punya kabal bahagia loh," ucapnya dengan nada begitu bahagia.


"Bagi-bagi sama Om Riksa dong," bujuknya berusaha menutupi kesedihannya.


"Tapi jangan bilang siapa-siapa dulu yah," kata Venus begitu heboh.


"Siap," sahut Riksa dengan penasaran.


"Mama Sia udah mau menelima Papa Galaksi, Om. Mama sama Papa bakalan tinggal satu lumah setelah meleka menikah." 


~Bersambung~


Ya Tuhan, Venus jujur amat yak. Dia gak tau aja, karena ceritanya itu bakalan jadi hari patah hati buat sadboy kita ehh~~


Huhuhu hastag #SADBOY_DITINGGALNIKAH


Jangan lupa klik like, komen dan vote ya buat apresiasi karya kalian di novel ini.


Tembus 250 like lagi, aku update~~