
Seakan keduanya masih merasa shock dengan apa yang mereka lihat saat ini.
"Kakak, mereka…."
Keduanya kembali menoleh ke arah sepasang pria dan wanita yang memasuki ruang sidang dengan bergandengan tangan. Penampilan keduanya tentu begitu sederhana, dengan beberapa luka di wajah dan tangan membuat siapapun yang melihatnya pasti merasa kasihan.
Begitupun dengan dua orang kakak beradik yang matanya sudah meneteskan air mata. Mereka tak menyangka jika sosok yang begitu diharapkan masih ada disini. Bernafas dan terlihat sehat walau badannya tak segemuk di foto.
"Mama, Papa…." Galexia dan Cressida hendak berjalan.
Namun, pihak kepolisian tentu tak mengizinkan siapapun mendekati para saksi. Namun, tatapan keempatnya saling bertemu dan dibalas senyuman oleh sepasang suami istri tersebut
Dua saksi itu terus berjalan ke arah kursi yang disediakan. Wajah keduanya tentu semakin membuat Atlas dan pengacaranya merasa lemas. Keduanya terlihat begitu gugup dan bingung untuk mengatakan apapun lagi. Seakan kedatangan keduanya begitu membuat posisi Atlas tak aman.
Salah satu dari mereka mulai berjalan menuju sisi yang lain. Mereka sama-sama masuk ke sebuah pagar yang hampir mirip seperti milik Atlas. Bedanya disana tak ada pintu yang dikunci.
Majelis hakim tentu menatap berkas yang diberikan oleh jaksa penuntut pihak Galaksi. Dia membaca dokumen identitas diri dua orang itu dengan cepat dan mencocokkan foto mereka dengan bukti dokumen yang ada. Jaksa penuntut mulai berjalan ke arah bukti saksi yang dimiliki. Dia mendekati pria yang masih terlihat bugar walau bekas luka masih ada disana.
"Dengan Saudara, Jericho. Apa benar jika selama ini Anda dan sang istri disekap oleh Tuan Atlas?" kata Jaksa penuntut pada saksi matanya.
"Benar."
"Bohong, Pak! Dia berbohong!" seru Atlas tak terima.
"Harap Anda tenang, Saudara Atlas," kata Majelis Hakim mengetuk palunya. "Lanjutkan!"
"Saat itu bukankah Anda baru saja kehilangan kedua putri, Anda?" tanya Jaksa penuntut pada Jericho.
"Benar. Saat itu saya dan istri sedang dalam keadaan tak baik. Kami baru saja kehilangan kedua anak kami secara bersamaan," kata Jericho dengan mata terus menatap ke arah Galexia dan Cressida. "Karena kehilangan mereka, istriku hampir gila. Jadi untuk melupakan segala kesedihannya, saya mencoba mengajaknya liburan."
"Tapi bukannya Anda berlibur, melainkan Anda diculik saat di tengah perjalanan. Apa betul?"
"Betul." Jericho menganggukkan kepalanya.
Jaksa penuntut Galaksi kembali berjalan ke arah Atlas. Dia menatap pria itu dengan tajam.
"Saudara Atlas, di waktu yang sama saat kejadian penculikan Tuan Jericho dan Nona Rhea, saat itu posisi Anda ada dijalan yang sama dengan mereka. Betul?"
"Tidak."
"Apa Anda ingin mengelak?" seru Jaksa penuntut dengan tegas.
"Saya tidak mengelak, tapi memang saya tidak ada disana."
"Saya memiliki bukti jika Anda ada ditempat yang sama dengan lokasi kejadian mereka." Jaksa penuntut memberikan sebuah map berisi rekaman cctv jalan, serta plat mobil yang digunakan Atlas.
Pria itu benar-benar tak bisa berkutik. Dirinya diserang dengan bukti kuat. Apalagi kehadiran Jericho dan Rhea, tentu semakin membuat mulutnya tak bisa berkilah. Setelah meminta penjelasan Jericho, pria itu kembali duduk di kursi tepat samping istrinya. Namun, sebelum itu, dia menatap kedua putrinya yang sama-sama menatapnya.
Ya, Jericho dan Rhea sudah tahu jika kedua putrinya yang hilang yaitu Galexia dan Cressida. Berkat kerja keras Tim Orion, mereka bisa berada disini. Bertemu dengan kedua anaknya yang sudah besar setelah begitu lama berpisah.
Setelah Jericho duduk dengan tenang, Jaksa penuntut kembali menghadirkan seorang bukti saksi milik Galaksi. Seorang perempuan dengan kepala yang ditutup memasuki ruang sidang dengan diapit oleh polisi kanan kirinya. Tentu hal itu membuat Atlas begitu penasaran. Dia terus meneliti penampilannya hingga wanita itu memasuki pagar yang tadi dipakai oleh Jericho.
Jaksa penuntut memberikan berkas identitas saksi kedua pada Majelis Hakim. Lalu dia berbalik dan berjalan menuju ke arah wanita tersebut.
"Silahkan dibuka tutup kepala, Anda," kata Jaksa penuntut.
Perlahan tangan itu mengangkat tutup kepala itu. Sampai rambutnya mulai dikibaskan hingga terlihatlah wajah wanita keturunan bule disana.
"Dasar pengkhianat!" seru Atlas dengan mata memerah.
"Saudari, Inggrid. Apa betul jika Anda adalah putri kandung, Tuan Atlas?" tanya Jaksa penuntut.
"Betul."
"Apakah selama ini Anda terlibat akan kejahatan yang dilakukan oleh ayah Anda sendiri?"
"Tidak!"
"Kau!" seru Atlas begitu marah.
"Diharap, Saudara Atlas untuk tenang!" peringat Hakim Ketua.
"Lalu bukti ini mengatakan jika Anda ikut serta dalam penculikan putra putri Nyonya Galexia dan Tuan Galaksi."
Jaksa penuntut memberikan bukti itu. Dia tersenyum miring saat bisa menjalankan tugasnya dengan baik. Kliennya mengatakan jika mereka harus menghukum siapapun yang terlibat.
"Apa maksud, Anda?" tanya Inggrid dengan keringat dingin mulai membasahi kedua telapak tangannya.
"Bukankah penculikan yang dialami kedua anak kandung Tuan Galaksi adalah atas perintah, Anda? Serta penembakan yang terjadi di punggung Tuan Galaksi juga karena anak buah yang diperintah oleh Anda. Betul?"
"Tidak. Semua itu salah! Fitnah!" seru Inggrid begitu marah.
Kedua polisi yang ada di belakangnya tentu sudah siap untuk mengamankan Inggrid. Mereka juga sudah diberitahu akan kasus penangkap putri dari Atlas tersebut.
"Semua sudah ada bukti di tangan Majelis Hakim, Nona. Anda benar-benar yang menjadi pesuruh dari para penjahat itu."
"Tidak! Semua itu bohong!" seru Inggrid mulai marah.
Dua polisi spontan langsung memegangi tangannya. Tubuh wanita itu meronta dengan emosi yang begitu meluap.
"Kurang ajar kau, Galaksi! Kau mengkhianatiku! Kau mengatakan hanya menjadikanku sebagai bukti. Awas kau, Galaksi! Awas!" teriak Inggrid sampai tubuh wanita itu keluar dari ruang sidang.
Galexia tentu saja terkejut. Bahkan wanita itu masih mengingat dan mendengar apa yang dikatakan oleh Inggrid. Pikirannya dibuat bertanya-tanya. Namun, saat matanya menangkap kedua tubuh orang tuanya, dia mencoba menepis pikiran itu sejenak dan lebih fokus pada kondisi ayah dan ibunya.
Hakim ketua mulai meminta Jaksa penuntut kembali ke kursinya. Melihat kondisi yang mulai tak stabil membuat mereka harus segera mengakhiri sidang ini.
"Sidang hari ini sudah cukup untuk hari ini. Selanjutnya sidang akan dilanjutkan minggu depan sekaligus putusan!" ucap Hakim ketua dengan lantang lalu diiringi ketukan palu tiga kali sebagai tanda berakhirnya sidang hari ini.
Akhirnya semua orang mulai keluar meninggalkan ruang sidang. Namun, di depan pintu sidang, Jericho, Rhea, Galexia, Cressida, Pengacara Atlas, serta Atlas saling bertemu.
Tatapan mereka begitu memancarkan kebencian. Apalagi Galexia, wanita itu begitu murka saat mendengar jika kedua anaknya dan calon suaminya celaka karena perbuatan ayah dan anak.
"Aku jamin kau akan membusuk di penjara, Atlas! Kau akan menghabiskan umurmu di penjara atau hukuman mati menantimu," ucap Jericho dengan tegas.
"Hahaha. Kau tak akan bisa menyingkirkanku, Jer! Aku akan mengambil apa yang seharusnya menjadi milikku," sahut Atlas dengan seringai licik.
"Lebih baik pikirkan saja riwayatmu minggu depan, Tuan. Masih ada satu bukti lagi yang akan membuatmu mendekam di penjara!" seru Orion dengan senyum miringnya.
~Bersambung~
Hayoo yuhuuu~~
Noh yang kemarin kepo haha. Kejawab gak yah?
Bukti apa lagi yah, hahaha.
Apa ada yang terkejut dengan identitas si Inggrid? Semoga kalian bisa bobok nyenyak malam ini. 3 bab. untuk hari ini.
Jangan lupa klik like, komen dan vote