The Billionaire Twin'S Baby

The Billionaire Twin'S Baby
Tania Minder




Suasana ruang rawat Mars mulai dipadati banyak orang. Semua keluarga langsung berkumpul di rumah sakit setelah diizinkan oleh Galaksi. Awalnya pria itu melarang. Menurutnya, keluarga tak perlu ke rumah sakit karena bisa menjenguk di rumah. Namun, lagi-lagi, jiwa-jiwa seorang kakek, nenek, tante dan om pasti akan merasa khawatir.


"Mana yang sakit, Jagoan?" kata Riksa yang sedang duduk di samping ranjang Mars.


"Tidak ada, Om."


"Kamu yakin." tanya Riksa dengan alis terangkat.


"Yakin."


"Kepalanya sakit tapi karena ada Tania, dia malu mengatakannya," bisik Sia yang posisinya berada di belakang Riksa.


Pria itu terkekeh. Dia mengelus kepala Mars dengan sayang dan membuat bocah itu merasa risih. 


"Kenapa menjauh? Kamu gak mau dielus kepalanya?" 


"Bukan begitu, Om," jawab Mars tak enak hati.


Sebenarnya dia suka diperhatikan oleh Riksa. Bahkan pria itu sudah merawatnya sejak dia masih bayi. Namun, keberadaan Tania yang duduk di dekatnya membuat Mars merasa malu. 


"Iya iya. Om tahu kok. Ponakan Om ini udah besar," sindir Riksa dengan wajah cemberut. "Udah tau cinta-cintaan kayaknya, aduh." 


Riksa mengaduh. Pria itu mengelus kepalanya yang mendapatkan pukulan dari ibu si kembar.


"Kalau ngomong sembarangan!" 


"Emang bener, 'kan? Gak bapaknya, gak anaknya sama aja." 


"Ya jelas, Bodoh! Ih." Galexia kembali memukul kepala pria itu.


Dia benar-benar kesal saat Riksa begitu jelas mengatakan tentang cinta di hadapan anak-anaknya. Sejak tadi dia dan Galaksi saja menahan untuk tak bicara. Meski keduanya melihat secara langsung bagaimana putranya berubah menjadi pahlawan untuk Titania. 


"Sayang," rengek Riksa menatap istrinya. "Kakakmu ini melakukan KDRT."


"Hee, Tukiyem! Sembarangan kalau bicara!" 


Cressida hanya menggelengkan kepalanya. Tak ada rasa cemburu lagi di hatinya saat melihat interaksi antara kakak dan suaminya itu. Dia berani percaya pada Riksa seutuhnya. Wanita itu benar-benar yakin jika di hati suaminya hanya ada namanya seorang. 


Bergantian, Riksa dan Cressida duduk di sofa. Lalu Jericho, Rhea, Pandora dan Orion mulai mendekati ranjang. Wajah yang paling terlihat sedih adalah dua orang nenek itu. Mereka bahkan berusaha mendekati Mars yang tersenyum ke arah mereka secara bergantian. 


"Cucu Nenek baik-baik aja, 'kan?" 


Mars mengangguk. "Jangan menangis, Nek. Mars kuat!" 


Rhea mengangguk. Dia menghapus air mata yang tanpa sengaja menetes agar tak terlihat sedih di depan cucunya. 


"Lain kali, panggil Nenek kalau mau apa-apa. Oke? Jangan lakukan sendiri yah!" 


"Tapi…"


"Gak ada tapi-tapian. Mars mau bikin Kakek sama Nenek khawatir?" 


Mars spontan menggeleng. Jujur anak dari pasangan Galaksi dan Galexia merasa bahagia. Sejak pernikahan kedua orang tuanya, dia merasa begitu disayangi di keluarganya. 


Tak ada persaingan antara dia dan Venus. Kedua kakek neneknya. Mama dan papanya. Om dan Tantenya sangat berlaku adil pada mereka berdua. Hingga hal itulah yang selalu membuat Mars bersyukur dengan hadirnya Galaksi di kehidupan mereka lagi. 


Mereka tak lagi bekerja.


Mereka tak lagi menyanyi kesana kemari, menerima job model sampai malam. Jadwal yang tak menentu dan tak harus homeschooling. Mars benar-benar merasa cukup dengan semua takdir yang Allah berikan kepadanya. 


Tanpa mereka sadari, ada sepasang manik mata yang menatap sendu ke arah mereka. Melihat bagaimana kehangatan sebuah keluarga, melihat bagaimana khawatirnya seorang kakek, nenek pada cucunya. Melihat bagaimana seorang Papa yang selalu ada untuk anaknya semakin membuat matanya berkaca-kaca.


Titania hanyalah seorang bocah yang umurnya hampir 6 tahun. Di dalam hatinya juga ada rasa ingin dan cemburu dalam waktu bersamaan. Ketika dia membayangkan kehidupan nyata, broken home, Papa yang suka memukul, Mama yang selalu menangis. Tentu membuatnya harus menjadi dewasa sebelum waktunya.  


"Tania," panggil Jericho yang membuat bocah itu menghapus air matanya.


"Ada apa, Nak?" tanya Rhea menatap anak itu dengan lembut. 


Titania yang menunduk menjawab dengan gelengan kepala.


"Cantik." Pandora bersuara. 


Dia mengangkat wajah imut Titania dengan pelan. 


"Tidak apa-apa, Nyonya." 


"Nenek. Panggil Nenek seperti Mars, okey?" 


Mata Tania benar-benar berembun. Anak kecil sepertinya, bisa merasakan mana yang tulus dan mana yang tidak. 


"Iya, Nenek."


Wajah Pandora begitu bahagia. Dia menganggukkan kepalanya lalu memberikan kecupan lembut di dahi anak kecil itu.


"Ada apa ini?" tanya Galexia yang baru saja datang. 


Pasangan suami istri Galexia dan Galaksi baru saja datang dari luar. Keduanya memang izin untuk mencari makan saat keluarganya datang. 


"Hey, kenapa si cantik ini bersedih?" tanya Galexia saat melihat bekas air mata di wajah anak teman barunya. 


"Tidak apa-apa, Tante. Tania hanya bahagia ada di antara keluarga yang harmonis." 


Hati Galexia mencelos. Perempuan itu menatap mata kecil yang menatapnya penuh luka. Ingatan Sia spontan memutar saat kejadian yang tadi dilihatnya secara langsung. 


Sia benar-benar mengerti perasaan Tania sekarang. Melihat papanya sendiri memukul mamanya secara langsung. Telinga kecilnya mendengar makian dan umpatan yang dilontarkan papanya tentu membuat mental anak umur sekecil itu terguncang. 


Galexia memaksakan senyumnya. Dia menangkup kedua sisi wajah Tania lalu menghapus air mata anak itu.


"Tania boleh anggap keluarga Mars, keluarga Tania juga, Nak. Tania juga bisa panggil Kakek, Nenek, Om, Tante seperti Mars dan Venus," kata Sia dengan menahan air mata yang menetes.


Dia segera meraih Tania dalam pelukannya untuk menyembunyikan air mata yang tak dapat ditahan olehnya. "Jangan merasa sendiri. Ada Mama Sia disini. Ada Venus ada Mars dan lainnya."


Tania mengangguk. Bocah itu membalas pelukan Sia tak kalah erat dan membuat mereka yang melihat begitu terharu. Sosok Tania kecil tentu menarik perhatian mereka semua. Sikap sopan santunnya, membuat Pandora dan Rhea begitu nyaman dengannya. 


"Kapan Mars boleh pulang?" tanya Jericho setelah dia mendudukkan dirinya di sofa.


"Besok, Yah," sahut Galaksi.


"Ruang bermain cepat kalian dekor ulang. Jangan terlalu tinggi meletakkan mainan mereka, agar kejadian seperti ini tak terulang kembali," kata Jericho menasehati.


"Iya, Ayah. Sia nanti akan meminta pelayan membereskan semuanya."


"Bagus. Keselamatan anak-anak kalian yang utama. Jangan pikirkan harga mainan atau habis berapa untuk membeli perlengkapan mereka. Yang terpenting itu semua aman saat kalian membelinya." 


Galaksi dan Galexia mengangguk. Keduanya juga tak pernah memikirkan uang apapun jika itu demi kedua buah hatinya. Mereka akan berusaha mencari yang terbaik untuk anak-anaknya.


Tiba-tiba perhatian Galexia beralih saat mendengar sebuah suara memanggilnya.


"Ada apa, Sayang?" kata Galexia saat melihat Tania berjalan ke arahnya.


"Tania boleh pinjem ponsel, Mama Sia?" tanyanya dengan sopan.


"Untuk?" 


"Menelpon Mama Flora." 


"Tentu saja. Kemari." Galexia meraih tubuh putri temannya itu.


Lalu dia segera men scroll kontak telepon dan mencari nomor ponsel Flora. Untung saja dia dan ibu dari Tania sudah bertukar nomor. Hingga hal itu tentu mempermudah komunikasi di antara keduanya. 


Tania dan Galexia menunggu. Suara dering ponsel terus terdengar sampai terganti suara operator. 


"Kemana Mama Flo, Sayang? Kenapa gak diangkat?" tanya Sia dengan heran.


Dia kembali mengulang panggilan itu. Namun, jawaban tetap sama. Flora tak mengangkatnya dan membuat Tania ketakutan.


"Mamaku kenapa, Tante? Kenapa Mama gak angkat telponnya?"


~Bersambung


Kemana ya Mama Flo?


Ada yang mau nebak gak?


Jangan lupa klik like, komen dan vote yah. Biar author semangat ngetiknya.