The Billionaire Twin'S Baby

The Billionaire Twin'S Baby
Janda Muda VS Perjaka Tua




Suasana Bandara Soekarno Hatta terlihat begitu ramai di siang hari. Banyak lalu lalang para pengunjung yang baru datang dan ingin berangkat. Ada juga para keluarga yang menunggu sanak saudaranya datang dengan duduk berjajar di kursi tunggu. Hingga sebuah mobil baru saja sampai dan terparkir rapi di depan Bandara. Lalu tak lama, keluarlah sosok si kembar yang memakai pakaian santai dengan tangan saling membawa rubik masing-masing.


"Mama, Nenek sudah datang?" tanya Venus dengan mendongakkan kepalanya. 


"Kalau sesuai dengan jadwal dari Om Riksa. Sebentar lagi Nenek akan keluar," sahut Sia yang langsung mendapatkan anggukan kepala dari si kembar.


Kali ini mereka hanya datang bertiga saja karena kondisi Galaksi baru bisa berjalan. Mereka langsung masuk dan menunggu di area yang langsung bisa menjangkau para pengunjung datang. Ibu dari dua anak itu, memegang kedua tangan Mars dan Venus di kanan kirinya. Mereka sungguh sudah tak sabar untuk berjumpa dan memeluk wanita yang begitu berharga dalam hidupnya.


Ya, Sia begitu menganggap Mama Alya adalah malaikat yang dikirimkan oleh Tuhan. Ketika dia sendirian, Mama Alya mampu menerimanya dengan tangan terbuka. Membantu merawat dirinya yang saat itu hamil, menyayanginya seperti putri kandungnya sendiri dan menjadi penguat ketika dia melahirkan si kembar. 


Kedatangan Mama Alya sungguh dia anggap sebagai pengganti mamanya yang tak pernah ia tahu wajahnya. Seakan Tuhan benar-benar belum memberikan dia kesempatan untuk merasakan kehidupan sebagai seorang anak.


Dirinya menangis dalam hati. Genggaman tangannya dia eratkan di kedua tangan putra putrinya. Matanya terpejam dengan bulir air mata yang tumpah.


Jika boleh aku meminta, ambil nyawaku setelah kedua anakku mengerti dengan keadaan, Tuhan. Aku tak mau mereka sepertiku, tak tahu dan tak mengenal kedua orang tuanya, batin Sia berharap.  


"Mama itu Nenek!" teriak Venus yang membuat lamunan Sia buyar.


Dia membuka mata dan menghapus air matanya dengan cepat. Senyumnya mengembang saat melihat sosok pahlawan dirinya berjarak beberapa meter darinya. Galexia spontan melambaikan tangannya yang langsung disambut oleh Mama Alya.


"Cucuku," kata Mama Alya ketika Mars dan Venus berlari ke arahnya.


Dua anak kembar itu memeluk kaki ibu dari Riksa. Mereka terlihat begitu bahagia dengan pertemuan ini. Kedekatan keduanya memang begitu rekat. Bahkan mereka sangat menyayangi Mama Alya seperti menyayangi Galexia jika ditanya oleh siapapun. 


"Nenek lama, 'kan, disini?" kata Mars menarik tangan Mama Alya.


Mama Alya tersenyum. Dia mengangguk dan membuat Venus melompat kegirangan.


"Holee, ada Nenek disini nemenin Venus sama Abang main," katanya dengan wajah begitu bahagia.


Mama Alya beralih. Dia menatap sosok wanita kuat dan muda di depannya ini. Wajah wanita yang dicintai anaknya itu terlihat lebih bersinar. Bahkan tubuhnya sedikit berisi yang menandakan jika Galexia pasti bahagia ada disini.


"Selamat datang, Ma," sambut Sia sambil memeluk Mama Alya dengan erat.


"Terima kasih sudah mau menjemput Mama, Nak," ucap Mama Alya yang membuat pelukan keduanya terlepas.


Sia menggeleng, dia mencium tangan Mama Alya dan menaruhnya di kedua sisi wajahnya. "Kami senang jemput Mama disini. Bahkan si kembar sangat bahagia, ketika Riksa bilang Mama akan tinggal disini untuk sementara waktu." 


"Iya, Sayang. Mama ada urusan disini sampai waktu yang tak bisa ditentukan," kata Mama Alya yang membuat Sia mengerutkan keningnya. 


Jujur sejak telepon Riksa waktu itu, dia begitu penasaran akan apa yang terjadi. Apalagi ditambah kedatangan mereka yang dadakan dan rumah Riksa di Surabaya, semakin membuat Sia dilanda kebingungan.


"Urusan apa, Ma?" kata Sia dengan wajah ingin tahu.


"Urusan untuk mencari tahu identitas calon menantu Mama." 


Spontan mata Sia beralih. Dia melihat sosok wanita muda yang baru saja muncul dari belakang tubuh Mama Alya. Seorang wanita cantik yang terlihat lebih muda darinya. Sia meneliti wajahnya hingga tatapan keduanya bertemu. 


Jantungnya berdegup kencang. Dia menatap mata coklat itu dengan lekat. Warna bola mata yang begitu mirip dengannya, entah kenapa membuat hati Sia seperti menyelami matanya sendiri. Hingga suara Mama Alya memutuskan tatapan keduanya.


"Sia kenalin. Ini Cressida, calon menantu Mama," kata Mama Alya yang membuat mata Sia menatap tak percaya.


"Cressida," katanya dengan mengulurkan tangan.


"Galexia," sahut Sia dan menerima uluran tangan itu.


"Mama ayo pulang," kata Venus sambil menarik tangan sang Nenek.


Spontan kedua tangan itu terlepas dan membuat Galexia menganggukkan kepalanya. Akhirnya mereka mulai berjalan meninggalkan Bandara dan keluar untuk segera menaiki mobil milik Galaksi.


Setelah semuanya siap, akhirnya sopir mulai menjalankan mobilnya. Kendaraan roda empat itu mulai menyatu dengan lalu lalang kendaraan yang lain.


"Bagaimana penerbangannya, Ma. Lancar?" 


"Lancar, Sayang. Mangkanya kita datangnya gak telat, 'kan?" 


Sia mengangguk. Dia melirik jam tangan miliknya untuk menyamakan apakah waktu yang diberikan oleh managernya itu sesuai.


"Iya, Ma. Tadi Sia sama anak-anak paling nunggu sepuluh menit sebelum Mama keluar," kata Sia sambil menatap wajah sang Mama dari kaca kecil di atasnya.


"Syukurlah. Mama tadi udah takut, kalau kamu nunggu sampai lama banget." 


Galexia tak menyahut lagi. Dirinya malah melirik dan menatap sepasang mata yang ternyata sama-sama memandangnya dari kaca atas tersebut. Entah kenapa keduanya seakan merasa ada sesuatu yang saling menarik di antara mereka. Hingga pandangan itu terputus karena suara ponsel Sia yang berbunyi. 


"Ya?" sahut Sia saat telepon itu baru saja menempel di telinganya.


"Apakah Mama sudah datang?" tanya suara seorang pria yang tak lain adalah Riksa. 


Sia menjauhkan ponselnya sejenak lalu menghidupkan speaker agar suara Riksa didengar oleh Mama Alya.


"Ya. Mama sudah ada di dalam mobil." 


"Riksa?" tanya Mama Alya dengan cepat.


"Tentu, Ma. Siapa lagi anak Mama selain Riksa?" katanya dengan nada kesal.


"Tentu aku lah," sahut Sia dengan bahagia.


"Udah basi lo!" 


"Hmm gitu yah," sahut Galexia pura-pura marah. "Ya udah, Mama gak bakal kupulangin. Biar dia disini, nemenin aku." 


"Hee dasar, Janda muda. Dia mamaku." 


"Hee, Perjaka tua. Salah siapa nantangin?" sahut Sia yang berujung keduanya ledek-ledekan.


Mama Alya hanya mampu tertawa karena pertengkaran Sia dan Riksa sudah menjadi makanannya sejak dulu. Dirinya bersyukur, karena perkenalan yang singkat membuat keduanya bisa sampai di titik ini. 


Sampai semua orang tak menyadari, jika ada sosok perempuan yang merasakan hatinya panas. Tangannya mengepal dengan batin yang menjerit. Entah kenapa rasa cemburu itu kembali muncul disaat yang tidak tepat.


"Siapa sebenarnya wanita ini? Kenapa Riksa memperlakukannya begitu spesial dan begitu jauh dengan perlakuannya padaku?" 


~Bersambung~


Hiyaa ada yang kepanasan, 'kan?


Gimana kalau dia tau Riksa dulu suka sama Sia yah? hmmm


Yey 3 bab hari ini, yuhuu. Dah aku mau lanjut buat sinopsis dulu, hehe.


Jangan lupa tekan like, kecup jauh dari si kembar.