The Billionaire Twin'S Baby

The Billionaire Twin'S Baby
Setelah Sekian Lama




Di sebuah ruang kamar yang luas terlihat seorang perempuan terikat di atas ranjang. Pakaiannya yang seksi sudah berganti dengan sebuah pakaian yang pantas. Wajahnya yang semula dipenuhi make up tebal, sudah terhapus dengan sempurna. 


Dari sisi ranjang, terlihat seorang pria berpakaian hitam tengah membawa seember air. Mereka semua sudah berkumpul dan menunggu sang wanita sadar dari tidur panjangnya. Sekali gerakan, air dalam ember itu terkena wajah dan tubuh sang wanita. Spontan dia terbangun dengan nafas tersenggal. 


"Dimana aku," gumamnya dengan menatap sekitar.


Matanya masih buram karena terkena siraman air. Hingga tak lama, perlahan wajah orang-orang disana terlihat jelas. 


"Galaksi," kata Alula dengan tubuh gemetaran.


Dia menatap sekitar. Bibirnya menelan ludahnya paksa. Saat dia hendak menarik tangannya, Alula baru menyadari jika kaki dan tangannya diikat kuat.


"Lepaskan!" serunya menatap Galaksi tajam. "Lepaskan aku, Bodoh!" 


Nafas Galaksi memburu. Dia segera mendatangi wanita itu dan mencekik lehernya hingga nafas Alula mulai sesak.


"Mati kau, ******!" seru Galaksi dengan mata yang sudah menggelap. "Kau penyebab semua penderitaanku." 


Alula tertawa tanpa suara. Dia menatap Galaksi yang begitu kuat mencekiknya. Lehernya terasa sakit tapi dia sudah tak peduli dengan nyawanya. Senyumnya mengejek seakan sedang menertawakan kebodohan pria di depannya ini.


"Jangan, Galaksi! Jangan!" seru suara perempuan yang begitu dia kenali membuat Galaksi tersadar. 


Spontan Sia menjauhkan tubuh Galaksi yang nafasnya masih memburu. Dia begitu ketakutan saat melihat bagaimana mantan suaminya jika sudah begitu marah. "Kau bisa membunuhnya." 


Galexia sedikit bernafas lega. Setidaknya adegan tadi tak membuat mantan suaminya menjadi seorang pembunuh. Dirinya yang sejak tadi sibuk menemani kedua anaknya di bawah, membuat Sia tak tahu apa yang dilakukan Galaksi, Leo dan Bu Na di atas. Namun, mendengar panggilan Bu Na yang panik, membuat Galexia dan Orion segera bangkit dan menyusul mereka ke kamar.


"Seharusnya kau mendukungku, Sia. Dia yang sudah menghancurkan pernikahan kita," seru Galaksi menatap mantan istrinya.


Sia menggelengkan kepalanya pelan. Kemudian dia mendekati ranjang dan menatap wajah Alula yang terlihat masih mengatur nafasnya. 


"Aku tak menyangka jika Tante sudah menipu semua orang," kata Sia dengan pelan.


Jika sedekat ini, mantan istri Galaksi bisa melihat dengan jelas wajah Alula yang jelas. Make up yang dihapus membuatnya tahu perbedaan wajah Pandora palsu dan Pandora asli. 


"Kau terkecoh bukan?" tanya Alula dengan tersenyum menghina. "Bahkan aku bisa membuat Galaksi menendangmu dari hidupnya!" 


"Ya. Tipuan Tante begitu sempurna," sahut Galexia dengan cepat. 


"Tentu saja. Aku bukan wanita sepertimu. Wanita rendahan yang mampu dibodohi dengan mudah." 


"Kau!" teriak Galaksi dengan tangan terkepal.  


Dirinya begitu murka mendengar mantan istrinya dihina oleh Alula. Dengan cepat, dia segera mendekati ranjang wanita itu. Namun, saat dirinya hendak memberikan tamparan, Leo dan Sia sudah berada di samping kanan dan kiri tubuhnya. Dia memegang tangan Galaksi dengan kuat agar tak terjadi perlakuan tindak kekerasan lagi.


"Hahaha. Lihatlah! Kau seperti boneka hidup saat ini," seru Alula memancing. 


Hingga tawa Alula mulai melemah saat melihat tubuh Orion mendekati dirinya. Matanya membulat penuh dengan wajah ketakutan yang mendalam.


"Bagaimana mungkin?" serunya ketakutan. "Kau sudah mati, 'bukan?" 


Orion tersenyum miring. Dia lebih memilih duduk disamping wanita itu dan menatap wajahnya dengan pandangan yang sulit diartikan. 


"Aku bangkit dari kubur, Lula. Apa kabar?" 


Alula mematung. Dirinya benar-benar menatap Orion dengan teliti. Sungguh dia tak menyangka jika pria itu tahu tentang nama aslinya. 


"Bagaimana mungkin?" tanyanya tak percaya.


Sejak dulu Alula selalu takut dengan sosok Orion. Pria dengan keberanian dan kecerdasan dalam berpikirnya, membuat dia menjadi salah satu alasan Alula tak bisa memasuki rumah Galaksi dan Altair dengan mudah.


Namun, mendapat sebuah informasi jika Orion ditugaskan ke luar kota, membuatnya segera melaksanakan rencananya. Tanpa ia tahu, jika pria di depannya ini, bukan pria sembarangan. Posisinya yang selalu disembunyikan oleh Altair, tentu membuatnya bisa melakukan segala hal di luar sana. 


"Semua hal itu tak ada yang tak mungkin, jika kita pandai merencanakannya. Bukan begitu, Lula?" tanya Orion menatap Alula yang begitu ketakutan pada dirinya.


"Apa maksudmu?" serunya dengan tubuh gemetaran. 


Alula terbelalak lebar. Dirinya merasa sesak nafas dengan pandangan tak menentu. Wajahnya menunjukkan kepanikan ketika melihat Orion mengatakan itu dengan mudah di hadapan semua orang.


"Aku...aku…." 


"Kau ingin berkilah, 'bukan?" sela Orion dengan mengelus kepala wanita itu. "Aku bahkan tahu bagaimana kau menjambak rambut Nyonya Pandora dan berteriak di hadapannya." 


"Kau pendusta!" seru Alula menggeleng.


"Tutup mulutmu, ******! Kau yang pendusta," seru Galaksi menunjuk Alula.


Tawa Alula begitu pecah. Dia merasa lucu dengan perkataan Galaksi yang baru saja dia dengar.


"Kau saja yang terlalu bodoh!" 


"Jangan terlalu banyak tertawa, Lula," sela Orion dengan senyum misterius. "Orang yang banyak tertawa, biasanya akan menangis setelahnya." 


Alula terdiam. Dia menatap wajah Orion yang sepertinya sedang menutupi sesuatu.


"Apa yang kau rencanakan?" tanya Alula menatap Orion tajam.


"Oh daya tebakmu masih begitu lancar rupanya." 


Orion beranjak berdiri. Dia segera meraih ponselnya dan mendekatkan benda pipih itu di telinganya.


"Masuklah!" 


Hanya satu kata memang. Namun, mampu membuat semua orang yang ada di sana begitu penasaran. Terutama Galaksi, entah kenapa jantung pria itu berdetak begitu kencang. Dia merasa ada sesuatu yang tak diketahui dirinya dari Orion. 


"Siapa, Om?" tanya Galaksi pada Orion.


"Seseorang," sahutnya ambigu.


Semua orang di ruangan ini menunggu dengan cemas. Bahkan baik Galexia, dia merasa penasaran dengan sosok siapa lagi yang akan mereka temui. Semua kejadian yang sudah Sia lewati, tentu membuat tubuhnya lelah. Jam tidurnya yang berantakan tentu membuat matanya seperti panda. Namun, hal itu tak menjadikannya alasan untuk menjadi wanita lemah. 


Hingga tak lama terdengar suara heels dengan lantai. Suara ketukan itu semakin lama semakin mendekat. Hingga tak lama, pintu yang semula tertutup perlahan terbuka dan muncullah sosok perempuan dengan masker dan kacamata menutupi wajahnya.


Alula menatap wanita itu dengan tajam. Dia meneliti seluruh penampilannya hingga kacamata yang sejak tadi bertengger menutupi bentuk mata wanita itu, mulai terlepas. Hingga tatapan mata itu kembali berpandangan dan membuat Alula menggeleng tak percaya. 


"Gak mungkin." Alula berteriak histeris. Dia menggelengkan kepalanya kuat tak percaya dengan kenyataan di depannya.


"Siapa dia, Om?" seru Galaksi tak sabaran pada sosok perempuan yang begitu tertutup itu.


Perempuan dengan pakaian jaket hitam, celana jeans dan rambut diurai mulai membalikkan tubuhnya. Mereka saling berhadapan hingga pandangan Galaksi jatuh tepat di manik mata wanita itu.


Lama berpandangan hingga Galaksi bisa melihat air mata mulai mengalir di kedua sudut matanya. Rasa penasarannya semakin tinggi, sampai wanita itu mulai melepaskan masker dari wajahnya. Sedikit terbuka, semakin membuat jantung Galaksi berdegup kencang. Hingga akhirnya masker itu terlepas sempurna dari wajahnya. Menampilkan wajah yang sejak tadi bersembunyi di balik masker hitam yang dipakai.


Dada Galaksi terasa sesak. Bahkan nafasnya tersengal-sengal dengan kedua mata yang mulai berkaca-kaca. Dia merasa ini seperti mimpi. Mimpi yang membuatnya ingin sekali tidur dan tak ingin terbangun lagi. 


"Mama."


~Bersambung~


Loh udah bisa nebak, 'kan?


Masak belum ketebak sih!


Aku baru bangun tidur dan ternyata dah tembus. Langsung update deh~~


Jangan lupa like, komen dan vote sebagai bentu apresiasi untuk novel si kembar.


Mau update lagi gak??


Serius aku tanya. Kalau mau komen dan like!


250 like lagi, aku update!