
Keesokan harinya, akhirnya Dokter mengizinkan Galaksi pulang. Dengan syarat dia akan datang dua kali dalam seminggu untuk terapi kedua kakinya dan sisanya, dia akan berlatih sendiri di rumahnya.
Dengan penuh perhatian, Galexia membantu mantan suaminya duduk di atas kursi roda. Lalu dia segera bergerak membantu Mama Pandora untuk merapikan semuanya. Memasukkan semua pakaian Galaksi ke koper kecil dan memberikannya pada Om Orion dan Bu Na yang ikut menjemput anak dari majikannya itu.
"Sudah beres?" tanya Sia pada dua anaknya yang sejak tadi hanya duduk diam sambil melihat semua orang berlalu lalang.
"Sudah, Mama," sahut Venus sambil berusaha turun.
"Ayo kita pulang!" ajaknya pada kedua anaknya dan mereka semua mulai meninggalkan rumah sakit.
Di sepanjang perjalanan menuju ke rumah, tak henti-hentinya Galaksi menyandarkan kepalanya di pundak Sia. Mencari celah perhatian wanita itu hingga membuat Mama Pandora dan kedua anaknya geleng-geleng kepala.
"Papa sepelti adek bayi ya, Oma!" adu Venus pada Pandora.
"Ya begitulah, Nak. Papamu itu pintar mencari kesempatan dalam kesempitan."
"Mama," rengek Galaksi membuat Pandora tertawa.
"Ternyata sikap manjamu masih ada, Nak. Mama bahkan sudah lupa bagaimana dulu kamu merengek meminta apapun pada Mama dan Papa," lirih Pandora dengan tersenyum kecut.
Dia menatap keluar jendela. Ingatannya kembali berputar saat dirinya masih ada diantara Altair dan Galaksi. Kehidupan rumah tangga yang begitu sempurna tentu dirasakan ketiganya. Bagaimana setiap pagi, Pandora menyiapkan sarapan dan memasaknya sendiri. Lalu mengurus anak dan suaminya tanpa bantuan orang lain. Semua itu dia lakukan sendirian tanpa meminta bantuan pelayan karena dia begitu menikmati tugas seorang ibu rumah tangga.
Namun, ternyata kebahagiaan itu tak berlangsung lama. Kehidupan sebagai seorang ibu darinya direnggut oleh Alula. Hingga membuatnya hanya bisa menatap dari jauh bertahun-tahun lamanya. Sampai tanpa sadar air matanya menetes saat mengingat itu semua. Hingga perlahan sebuah sapuan tangan membuatnya tersadar.
Dia menoleh dan melihat jika kedua cucunya memandang dirinya dengan lekat.
"Oma menangis?" tanya Mars yang membuat perhatian semua orang ke arah Pandora.
Wanita paruh baya itu tersenyum lalu dia menghapus sisa-sisa air mata di pipinya agar tak semakin membuat semua orang ikut sedih seperti dirinya.
"Hmm." Pandora mengangguk. Lalu dia mengelus pipi kedua cucunya dengan lembut. "Oma hanya rindu pada, Opa."
Jantung Galaksi berdebar kencang. Bahkan tanpa sadar dia menjauhkan dirinya dari tubuh Sia dan memandang wajah mamanya yang begitu muram.
"Maafkan aku, Mama. Aku tak bisa menjaga Papa disaat Mama tak ada," kata Galaksi menatap mamanya penuh penyesalan.
Pandora menggeleng. Dia mengelus tangan anaknya sambil memberikan senyuman yang terbaik.
"Ini semua bukan salahmu, Nak. Kamu sudah begitu baik menjaga Papa selama Mama dan Om Orion pergi," kata Pandora yakin. "Terima kasih, selalu ada di samping Papa saat Mama tak ada."
Akhirnya pembicaraan mereka berakhir ketika mobil mulai memasuki halaman rumah. Mama Pandora menggeleng ketika melihat putranya masih terlihat begitu sedih.
"Galaksi, putra Mama yang terbaik. Mama bangga sama kamu, Nak."
Setelah mengatakan itu, akhirnya wajah Galaksi perlahan berbinar. Dia membalas anggukan sang Mama dan memberikan sebuah senyuman di bibirnya.
"Ayo, Kak," kata Sia setelah kursi roda itu siap digunakan.
Perlahan Galaksi menggeser tubuhnya. Dia merangkul pundak istrinya hingga tubuhnya bisa duduk dengan sempurna di kursi roda. Lalu Sia mendorong dengan pelan memasuki rumah mereka. Di belakang tentu diikuti oleh si kembar, Mama Pandora, Orion dan Bu Na.
Sesampainya di kamar tamu, Galexia membantu Galaksi pindah ke ranjang. Lalu dia menyelimuti tubuh sang mantan suami dan diikuti oleh kedua anaknya.
"Nanti malam aku mau tidul sama Mama dan Papa. Boleh?" tanya Venus dengan mata mengerjap lucu.
Sungguh permintaan gadis kecil itu membuat Galaksi dan Galexia saling berpandangan. Seakan permintaan sederhana itu begitu sulit untuk Sia. Bukan karena dirinya tak mau seranjang dengan mantan suaminya, melainkan keduanya belum memiliki ikatan hingga membuat Sia begitu risih.
"Mama…."
"Apa Mama gak mau?" sela Venus dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
"Bukan seperti itu, Sayang." Galexia menghela nafas lelah.
Dia duduk di hadapan putrinya dan menggenggam tangan mungil itu.
"Mama sama Papa belum bisa tidur satu ranjang. Kita belum menikah, Nak. Jadi Mama…."
"Tapi di antala Mama sama Papa, 'kan ada Venus sama Abang?" sela Venus dengan otaknya yang terus berpikir. "Jadi pasti boleh, 'kan, Ma?"
Galexia hanya mampu diam. Dia tak tahu harus mengatakan apa lagi untuk menolak. Sejujurnya dirinya juga tak sanggup melihat putrinya yang merengek seperti ini. Namun, dia sebenarnya malu dengan mantan suaminya itu.
"Kabulkan permintaan anak-anak, Sia. Bukankah kita hanya tidur?" tanya Galaksi dengan mengangkat salah satu alisnya. "Ya mungkin beda lagi kalau di dalam otak kecilmu itu sedang berpikir jika kita…aww."
Sia menghadiahi sebuah cubitan di paha sang mantan suami dengan mata melotot. Perempuan itu benar-benar tak percaya jika Galaksi bisa mengatakan hal itu di hadapan kedua anaknya yang masih kecil.
"Itu mah maunya kamu, Kak," seru Galexia kesal.
"Memang Papa mau apa, Ma?"
Ehhh.
Sia dan Galaksi gelagapan. Keduanya bingung saat melihat tatapan si kembar kepada mereka. Mereka bahkan sampai kesulitan untuk menjawab pada Venus tentang apa yang mereka bahas.
"Papa mau nikah sama Mama secepatnya. Ya itu, kalian setuju?" tanya Galaksi tanpa berpikir.
"Wah. Mau mau, Venus mau, Papa. Abang mau juga, 'kan?" Heboh Venus menatap Abangnya yang sejak tadi diam dengan bermain rubik.
Kepala bocah tampan itu mengangguk. Seakan dia juga ada di barisan Venus untuk mendukung perkataan frontal dari mulut ayah mereka.
"Jangan gila, Kak! Kita...kita…." jeda Sia dengan kebingungan.
Dia tak tahu harus menjelaskan apa pada mantan suami dan kedua anaknya. Dirinya merasa Galaksi semakin gila mengatakan hal itu. Apa dirinya tak sadar jika keadaannya saja masih sakit seperti ini.
"Aku tak gila, Sia. Aku serius, bagaimana jika pernikahan kita dipercepat?"
"Pernikahan itu bukan ajang cepet-cepetan, Kak. Apalagi kondisi Kakak masih sakit begini," ucap Sia memberikan pengertian.
"Aku tau. Aku hanya ingin mengabulkan permintaan kedua anak kita. Apa aku salah?" tanya Galaksi menatap mantan istrinya yang terlihat begitu kebingungan.
"Kamu gak salah, Kak. Tapi kondisi Kakak belum sembuh."
"Baiklah. Kita menikah setelah aku bisa berjalan. Bagaimana?"
Pertanyaan Galaksi tentu seperti tuntutan. Namun, entah kenapa Sia merasakan jantungnya berdegup kencang. Dia juga merasa kupu-kupu terbang di perutnya karena terlalu tak percaya dan bahagia. Dirinya menatap mata biru yang masih memancarkan cinta untuknya seperti dulu. Bahkan di dalamnya bisa Sia lihat jika Galaksi menatapnya penuh harap. Hingga hal itu membuat dirinya menatap keduanya anaknya sebentar dan kembali menatap mantan suaminya.
"Ya. Aku mau."
~Bersambung~
Huaaa ayo tebak, yang nikah duluan siapa nih?
Tim Cabul Cerewet atau Gal-Gal Couple?
Sabar yah, baba mereka pasti gantian, soalnya hubungan keduanya masih berkesinambungan. Jadi harus gantian, hehe.
Jangan lupa klike like, komen dan votenya dong. Kenapa makin lama makin turun yah?
Tapi aku tetep kasih batas 250 like update lagi yah!