The Billionaire Twin'S Baby

The Billionaire Twin'S Baby
Sah!




Di tempat lain, lebih tepatnya di kamar tempat Galexia di rias. Wanita itu sedang berdiri di depan cermin yang memantulkan dirinya. Dia tak percaya jika hari ini akan datang lagi di kehidupannya.


Jika mengingat bagaimana perjuangannya dulu, dia tak pernah membayangkan akan kembali bersama dengan pria yang pernah menjadi luka di hatinya. Namun, ternyata Tuhan masih berbaik hati kepadanya. Mempertemukan dirinya kembali dengan Galaksi, menyelesaikan masalah yang dulu pernah terjadi, hingga memberikan kesempatan untuk pria yang masih bertahta di hatinya.


"Nak." 


Sia spontan menoleh. Disana, di ambang pintu kamar dia melihat kedua orang tuanya berdiri dengan mata berkaca-kaca. Hal itu tentu tak bisa dijabarkan oleh Sia sendiri. Tanpa kata, dia berbalik lalu berjalan ke arah mereka dengan tak sabaran. 


"Ayah, Ibu," panggil Sia saat melihat kedua tangan sang ayah terbuka.


Tanpa bertanya lagi. Sia langsung masuk ke dalam pelukan Jericho. Pelukan seorang ayah yang selalu mampu menenangkan hatinya. 


"Eh, kenapa menangis?" tanya Rhea sambil mengelus puncak kepala putrinya.


"Sia bahagia, Bu. Sia bahagia karena ada Ibu dan Ayah di hari pernikahan Sia," kata Sia dengan air mata mengalir.


Dia masih setia di dalam pelukan sang ayah. Bahkan Sia bisa merasakan elusan lembut di punggungnya yang terbalut gaun pengantin. 


"Jangan menangis. Nanti make up kamu luntur loh," canda Jericho sambil melepaskan pelukannya.


"Biarin aja, Yah. Nanti Sia minta sama periasnya lagi juga bisa," ujarnya dengan wajah memberengut.


Jericho terkekeh. Dia menganggukkan kepalanya sambil menatap putrinya dari atas sampai bawah.


"Ada apa, Yah?" 


"Putri Ayah sangat cantik. Bahkan lebih cantik daripada Ibu," kata Jericho dengan jujur.


"Ayah," rengek Sia dengan mata yang kembali berkaca-kaca. 


"Ayah serius, Nak."


"Jangan membuat Sia menangis lagi, Yah," ancam Rhea sambil memberi cubitan kecil di pinggang sang suami.


"Lihatlah. Nak. Ibumu KDRT pada Ayah," goda Jericho yang berhasil membuat putri dan istrinya kembali tertawa.


Saat mereka semua asyik bercanda. Tiba-tiba pintu kembali terbuka dan muncullah Cressida dengan gaun tak kalah cantik dari sang Kakak. 


"Ternyata Ayah dan Ibu ada disini," kata Cressida sambil menatap kakaknya penuh kekaguman. "Kakak sangat cantik." 


Galexia tersenyum. Dia menatap sang adik lalu meraihnya tubuhnya ke dalam pelukan. "Kamu juga cantik." 


Cressida mengangguk. Namun, tak lama dia baru mengingat tujuannya kemari hingga membuatnya melepas pelukan hangat itu.


"Cress hampir lupa. Keluarga Kak Galak sudah sampai, Ayah." 


"Oh iya, Nak. Ayah dan Ibu akan turun. Kalian berdua diamlah disini sampai waktunya tiba." 


****


"Sudah siap, Tuan?" 


Pria paruh baya yang memakai baju batik, lengan panjang serta celana kain hitam panjang ditambah dengan peci hitam yang bertengger di kepalanya tersenyum tipis saat mendapat anggukan jawaban dari Galaksi. Jika sudah seperti ini, itu pertanda bahwa ijab kabul akan segera dilaksanakan.


"Bismillahirrahmanirrahim." 


Penghulu mulai membuka pembicaraan. Seketika ruangan yang dihias begitu indah itu mendadak hening. Aura khidmat begitu terasa kuat. Galaksi sendiri sudah duduk berhadapan dengan penghulu dan Jericho, ayah dari calon istrinya itu. 


Perlahan suasana semakin mengharu biru ketika Jericho mengikuti arahan dari pak penghulu dan bergantian dengan calon menantunya. Galaksi mulai menarik nafas begitu dalam sebelum menjawabnya dengan mantap.


"Saya terima nikah dan kawinnya, Galexia binti Jericho dengan mas kawin tersebut dibayar tunai!" 


"Bagaimana para saksi, sah?"


"Sah!"


Air mata haru menetes dari kedua manik mata Galaksi dan membuat pria itu menangis. Dia meneteskan air mata bukan karena bersedih, melainkan perasaannya begitu bahagia sekaligus lega. Akhirnya kini dirinya telah sah menjadi suami dari, Galexia. 


****


"Selamat, Kak. Semoga pernikahan Kakak selalu dilindungi oleh Tuhan," kata Cressida sambil memeluk kakaknya yang menangis haru.


"Aamiin. Terima kasih, Sayang." 


Tak ada yang mampu menjabarkan bagaimana perasaan Galexia kali ini. Ibu dari Mars dan Venus itu benar-benar bahagia. Dia menarik nafasnya begitu dalam lalu mulai beranjak berdiri.


"Sudah siap bertemu pujaan hati?" Tanya Cressida sambil mengulurkan tangannya. 


Galexia mengangguk. Perlahan pintu kamar terbuka dan muncullah sosok anak kecil yang memakai pakaian begitu mirip dengannya.


"Mama." 


"Oh anak Mama." Galexia mengembangkan senyumnya. Dia menatap ke arah anaknya yang begitu lucu dengan riasan tipis di wajah mungilnya.


"Ayo kita temui Papa." 


Akhirnya perlahan pengantin perempuan keluar. Dia berjalan menuju tempat dimana suaminya berada. Dari jauh, dia bisa melihat bagaimana Galaksi berdiri gagah di sana. Disampingnya, terdapat putra kecilnya yang memakai pakaian yang sama dengan papanya.


Senyum terpancar jelas di wajahnya. Dia menatap sekeliling dan banyak sanak saudara yang datang. Bahkan, teman Galexia pun melambaikan tangan untuk memperlihatkan padanya bahwa dirinya datang. Dia hanya mampu membalas dengan senyuman dan kembali berjalan ke arah sang suami.


Sungguh banyak pasang mata yang menatap kagum akan kecantikan Galexia. Gaun putih yang begitu memperlihatkan lekuk tubuhnya semakin menambah kesan seksi dan kecantikan dari seorang istri dari Galaksi. 


Tak henti-hentinya dia mengucapkan syukur. Setiap langkah kaki yang membawanya ke arah sang suami, semakin membuat jantungnya berdebar kencang. Hingga tepat di depan pria yang sudah menjadi suaminya. Galexia bisa melihat seberapa tampan Galaksi saat ini.


Degupan jantung dapat dirasakan oleh keduanya. Hanya berjarak beberapa senti baik Galexia maupun Galaksi saling memandangi penuh kagum. Bahkan ibu dari si kembar hanya mampu mematung, dia sangat terpesona akan ketampanan lelaki yang baru saja menjadi suaminya itu. 


"Melamun hmm?" 


Galexia membulatkan matanya tapi dia mencoba mengatur nafas dan menghilangkan kegugupan pada dirinya. Berada di jarak seperti ini, ternyata mampu membuat hatinya tak tenang. Jantungnya pun semakin berdebar kencang.


Segera gadis itu menggeleng dan memberikan senyum manis pada pria yang sudah menjadi suaminya itu. Galexia mengaitkan tangannya pada lengan sang suami, dan kemudian keduanya berjalan menuju altar pernikahan. 


Duduk berhadapan dengan Ayah dan penghulu. Sepasang pengantin itu mulai menjalani perintah dari sang penghulu. Mulai dari tanda tangan pada buku nikah dan nasehat kecil darinya.


Galexia beralih menatap sang ayah. Jericho hanya diam sambil menatap ke arahnya. Istri dari Galaksi itu, bisa melihat mata sang ayah memerah menahan air mata yang ingin menetes.


"Ayah," ucapnya pelan dengan mata berkaca-kaca. 


"Jangan menangis, Sayang. Ini hari bahagiamu." Jericho beralih menatap sosok yang saat ini akan menggantikan dirinya dalam menjaga dan menyayangi putri tunggalnya itu.


"Tolong jaga putriku dengan baik. Jika suatu saat nanti, kamu sudah tak menginginkannya, tolong kembalikan dia padaku. Aku sendiri masih sanggup dan siap untuk menjaganya." 


"Iya, Ayah. Tapi, untuk mengembalikannya, itu tak akan mungkin. Aku akan membuktikan bahwa aku sangat mencintai Galexia dan akan membahagiakannya."


~Bersambung~


Huaa haloo geyss. Akhirnya aku nongol lagi membawa pengantin baru loh ini. Hayoo amplop e jangan lupa sing okeh yahh. Poin, koin, vocher aku tampung loh.


Hehehe ada yang kangen aku gak?


Sebulan lebih loh aku menghilang dari peradapan nulis menulis. Aku gak pindah kemana-mana. Emang sibuk sama real life. Tapi alhamdulillah mulai hari ini aku kembali dengan membawa cerita ini dan cerita baru lagi loh.


Ada yang kepo ora? aku bawa cerita opo?



Nah tak wei covernya dulu oke. catat tanggalnya!


Publish tanggal 1 Desember di Noveltoon.