
Tanpa sadar, ponsel yang digenggamnya jatuh dan pecah. Namun, suara itu tetap tak membuat perhatian Riksa beralih. Pria itu masih berdiri mematung seakan tak percaya dengan kabar yang diberikan oleh Venus. Sungguh hatinya merasa hancur tak berkeping jika itu semua benar-benar akan terjadi.
Dia masih duduk dengan tenang. Pandangannya kosong ke depan dengan pikiran yang melanglang buana. Sungguh seorang Antariksa terlihat semakin kacau saat ini. Selain fisiknya yang lelah, ternyata hati dan perasaannya pun tak kalah lelah.
Semua harapan yang dia impikan bersama Sia ternyata harus berhenti di titik ini. Mimpi yang sudah dia pikirkan dan bayangkan, ternyata tak akan bisa diwujudkan. Itu semua akan menjadi sebuah kenangan. Kenangan manis yang belum sempat diwujudkan oleh dirinya harus kandas di tengah jalan.
Riksa perlahan beranjak berdiri, berjalan keluar menuju teras cafe dan memandang langit malam di New York. Hempasan angin yang begitu menusuk tulang, indahnya bintang yang bertaburan, tetap tak membuat hati Riksa membaik. Dirinya merasa membutuhkan sebuah hiburan untuk melupakan sakit hatinya ini. Akhirnya dia memilih masuk dan melihat ponselnya yang jatuh.
Rusak!
Menyadari ponsel itu tak bisa digunakan. Pria dengan kemeja yang sudah dilipat di atas lengan memilih membawa ponsel kerjanya. Sebenarnya dia memang memiliki dua ponsel. Namun, yang satu khusus untuk pekerjaan. Tapi jika begini, ya dengan terpaksa Riksa membawanya.
Segera dia keluar dan memasuki kendaraan roda empat miliknya, untuk menuju sebuah club yang menjadi andalannya. Selama beberapa tahun di negara yang bebas, tentu club adalah suatu tempat penghilang lelah dalam pikirannya. Meminum minuman yang tersedia, melihat banyaknya orang berjoget ria, menjadi sebuah hiburan untuk Riksa.
Kakinya menekan pedal gas agar lebih cepat. Tangannya mencengkeram setir kemudi dengan diiringi setitik air mata menetes di sudut matanya. Hatinya benar-benar sakit dan ini terlalu menyakitkan. Hingga membuat pria sebaik dan sesabar Riksa harus menangis hanya karena seorang wanita.
"Semoga kau bahagia, Sia. Aku kirimkan doa terbaik untukmu dan anak-anak," lirihnya sambil menghapus air mata yang sudah menetes.
****
Baru saja kakinya melangkah masuk. Suara hingar bingar khas klub malam sudah terdengar. Lampu-lampu disko tentu berkelap-kelip kesana kemari. Dibawahnya, banyak para manusia yang sudah datang memenuhi area ini.
Ada yang sibuk meliuk-liukkan tubuhnya. Ada yang duduk dengan menikmati minumannya. Ada yang bermain dan mengobrol dengan temannya. Semua manusia tentu ada disini. Begitupun dengan sosok Riksa. Pria itu langsung berjalan menuju seorang bartender.
Bartender yang memiliki wajah tampan itu, merupakan kenalan Riksa selama dia ada disini. Lambaian tangan diberikan olehnya saat melihat sosok Riksa mulai mendekati meja kerjanya.
"Sudah lama sekali kau tak kesini?" tanyanya sambil menuang minuman.
"Ya. Kau tau, 'kan? Seberapa sibuknya aku, Archer?" canda Riksa yang mengundang tawa pria itu.
"Ya ya. Kau pria workaholic memang. Aku salut padamu."
Akhirnya candaan receh itu, mampu membuat tawa Riksa kembali terlihat. Walau terlihat dipaksakan tapi setidaknya hatinya tak sekacau tadi.
"Minuman untukmu, Tuan." Archer memberikan sebuah gelas berisi minuman di hadapan Riksa yang langsung dibalas kerlingan mata oleh pria itu.
Lalu setelahnya, dia kembali sibuk melayani orang yang meminta minum dan meninggalkan Riksa sendirian yang sedang memegang gelas miliknya. Tangannya mencengkeram benda kaca itu sambil mengangkatnya dan menggerakkan isinya ke kanan dan ke kiri.
Pikirannya begitu kalut. Dia seakan ingin melupakan masalah ini sejenak. Ditambah, pekerjaannya yang begitu banyak, tentu membuat Riksa berada di titik terendah. Dengan sekali tegukan, dia segera menghabiskan minuman itu dengan begitu lancar. Membiarkan cairan beraroma pekat membasahi tenggorokannya hingga meninggalkan kesan panas dan candu di lidahnya.
Riksa hanya bisa menundukkan kepalanya. Dia meminta sebotol minuman yang sama dengan miliknya tadi, agar lebih leluasa menuang sendiri. Tujuannya datang kesini untuk menghilangkan bayang-bayang Sia. Akan tetapi bukannya menghilang, malah bayangan itu semakin lekat. Senyumannya, wajahnya dan kenangannya terus terbayang di kedua manik mata Riksa yang membuat pria itu semakin meneguk minuman itu sampai kandas.
"Apa kurangku, Sia. Aku sudah baik kepadamu tapi kau masih saja menutup hati untukku," gumamnya sambil melihat sekitar.
Dia mulai terpaku pada beberapa orang yang begitu menikmati alunan musik disko. Tubuhnya yang meliuk tanpa beban, memancing Riksa ingin turun ke sana. Tanpa kata, dia segera berjalan ke kerumunan orang dan mulai bercampur dengan mereka semua.
Bergerak dengan bebas, berteriak serta menghabiskan rasa sakitnya dengan menggerakkan seluruh tubuhnya tentu membuat semua orang seakan lupa dengan waktu yang terus beranjak naik. Hingga hampir tiga puluh menit dia disini, akhirnya Riksa kembali ke kursinya.
"Sepertinya kau sedang sakit hati yah?" tebak Archer saat memberikan minuman baru pada Riksa.
Pria dengan kemeja yang sudah basah itu berdecak. Dia menenggak segelas minuman itu dan langsung menatap Archer seakan menunggu jawaban dari dirinya. "Ya aku baru saja ditolak sebelum menyampaikan perasaanku."
Archer tertawa keras. Dia bertepuk tangan karena tak menyangka jika Riksa yang wajahnya tampan di tolak oleh seorang wanita. Menurutnya, Riksa adalah sosok sempurna dengan pekerjaan yang menjamin dan tentu bisa menarik perhatian banyak wanita. Namun, mendengar kenyataan itu tentu membuatnya begitu tercengang tapi sekaligus lucu.
"Pergi! Kau senang diatas penderitaanku," seru Riksa sambil melempar tutup botol dan mengenai kepala Archer.
Hingga akhirnya, setelah merasa cukup. Riksa langsung keluar dari club. Dia berjalan dengan sedikit sempoyongan menuju mobilnya. Namun, saat dirinya baru saja duduk di kursi kemudi. Pintu penumpang sampingnya terbuka dan masuklah seorang wanita dengan nafas yang begitu memburu. Wanita itu terlihat menghela nafas lega. Dia membenarkan rambutnya hingga baru menyadari keberadaan Riksa yang sedang menatapnya tajam.
"Keluar!" seru Riksa mengusir wanita itu.
Wanita yang tak dikenal langsung berubah panik. Dia menatap keluar jendela kemudian kembali memandang Riksa dan memegang tangannya.
"Kumohon, Tuan. Bantu aku!" rengeknya dengan bau alkohol yang begitu menyengat dari mulutnya.
Saat Riksa hendak menarik tangannya. Tiba-tiba wanita itu menutup mulutnya dan muntah-muntah sampai mengenail celana dan tangan Riksa. Hal itu tentu membuat mata pria itu membulat penuh. Seakan minuman yang dia minum tiba-tiba menguap tatkala melihat wanita yang tak dikenalnya muntah di mobil kesayangannya.
"Dasar merepotkan!" dengus Riksa dengan emosi yang tertahan. "Keluar kau!"
Kepala perempuan itu semakin berdenyut. Namun, sebelum dia kehilangan kesadaran. Wanita itu masih memegang lengan Riksa dan mengatakan kata yang membuat pria baik itu begitu tak tega diantara kemarahannya.
"Bantu aku keluar dari sini. Teman-temanku berniat menjebakku untuk tidur dengan pria lain."
~Bersambung~
Hiyaaaa sabar, Bang. Bantu aja deh kasihan tau cewek keluar malem-malem hahaha.
Cerita ini nanti ada kisah Om Riksa aja yah. Kisahnya Leo sedikit aja soalnya mau kubuatin novel sendiri hehehe. Khusus buat Pria Gemulai.
Jangan lupa klik like, komen dan vote untuk apresiasi karya ini.
Tembus 250 like aku update lagi!
Semalem ketiduran jadi baru ngetik. Maaf