
Setelah melewati sidang pertama yang begitu panjang dan melelahkan. Akhirnya mereka semua mulai memasuki mobil masing-masing. Galexia dan Cressida berada di dalam mobil yang sama dengan Mama Pandora dan Mama Alya. Sedangkan kedua orang tuanya berada dalam mobil yang sama dengan Orion.
Entah kenapa dua orang kakak beradik itu merasa menjadi sosok yang malu dan tak tahu harus melakukan apa. Keduanya merasa canggung pada sosok kedua orang tuanya ini. Mungkin karena lamanya mereka berpisah, membuat keempatnya berada dalam rasa kecanggungan.
Namun, jujur di dasar hatinya yang terdalam, baik Galexia maupun Cressida merasa bahagia. Bahagia saat keluarga yang keduanya idam-idamkan ternyata masih ada. Sosok penting dalam hidupnya ternyata masih hidup dan membuat mereka bisa bertemu dan berjumpa lagi.
Sungguh semua ini tak pernah ada dalam pikiran keduanya. Karena menurut mereka, kehadiran satu dengan yang lain saja sudah cukup untuk mengobati segala lara di waktu sendirian. Namun, sekarang ternyata mereka semakin utuh. Utuh dalam keluarga dengan keberadaan kedua orang tuanya.
Perlahan, mobil yang membawa mereka semua mulai memasuki halaman rumah Galaksi. Dari pintu utama, terlihat sosok dua anak kecil yang berlari dengan semangat. Galexia tersenyum, dia bahagia melihat kedua anaknya datang menyambutnya.
"Mama!" teriak keduanya saat pintu mobil baru saja dibuka.
Galexia langsung turun dari mobil. Lalu dia berjalan ke arah dua anaknya dan mensejajarkan tubuhnya. Dia merengkuh dua tubuh mungil yang dulunya menjadi penyemangat. Tubuh mungil yang menemani kesendiriannya kini ternyata sudah sebesar ini.
"Kenapa lama sekali?" tanya Venus dengan wajah cemberut.
Bocah kecil itu memang sudah ingin ikut sejak pagi. Namun, Galexia menolak dan meminta kedua anaknya menunggu di rumah karena gedung pengadilan tak baik untuk mereka.
"Maafkan Mama, 'yah? Sidangnya memang baru selesai," bujuk Sia mengusap kedua sisi wajah Mars dan Venus.
Kedua anak itu mengangguk. Lalu mata keduanya mendongak dan menatap sepasang suami istri yang berdiri tak jauh darinya.
"Mama siapa meleka?" tanya Venus menatap Jericho dan Rhea penuh tanda tanya.
Sebelum Galexia membuka suara. Jericho, sosok ayah kandung ibu dari si kembar berjalan mendekat. Dia menatap sosok anak kecil perempuan yang begitu mirip putrinya dulu. Ya, wajah Venus memang lebih mendekati wajah Galexia kecil. Hingga hal itu tentu membuat Jericho dengan mudah mengenali jika pasti di depannya ini adalah kedua cucunya.
"Kakek siapa?" tanya Mars dengan memegang tangan sang adik.
Galexia kebingungan. Namun, dia tak boleh hanya diam. Semua ini harus dijelaskan pada kedua anaknya agar mereka mengerti jika didepannya ini adalah kakek dan nenek kandungnya dari pihak sang mama.
"Ini Kakek, Sayang. Kakek dari Mama," kata Sia ambigu.
"Jadi Mama punya Ayah?" tanya Venus dengan polosnya.
Galexia spontan mengangguk.
"Bukan hanya ayah, Mama Galexia juga punya Ibu," ujar suara dari belakang tubuh Jericho yang ternyata Rhea.
Wanita paruh baya tersebut menatap kedua cucunya dengan mata berkaca-kaca. Ternyata waktu sudah terlalu lama mereka habiskan untuk perpisahan. Sampai putri pertamanya saja sudah memiliki dua orang anak yang begitu tampan dan cantik.
"Nenek?"
"Ya, Sayang. Ini Nenek," kata Rhea dengan bahagia. "Bolehkah Kakek dan Nenek mendapatkan pelukan?"
Mars dan Venus saling tatap. Setelah itu mereka melihat ke arah sang Mama seakan meminta jawaban. Galexia tersenyum tapi kepalanya mengangguk untuk memberikan jawaban kepada dua orang anaknya itu.
Mendapatkan izin, Mars dan Venus langsung memeluk tubuh Jericho dan Rhea bergantian. Dua orang itu tentu merasa bahagia. Bahagia ketika bisa dipertemukan lagi dengan anak dan cucunya oleh Tuhan.
Seakan Tuhan masih memberikan keduanya kesempatan untuk kedua paruh baya tersebut menikmati hari senja dengan cucu dan kedua anaknya. Sungguh berkah Tuhan yang tak bisa digantikan oleh apapun.
"Lebih baik Ayah dan Ibu masuk ke dalam. Pasti kalian capek, 'kan?" kata Sia dengan mulut yang masih terasa kaku untuk memanggil kedua orang tuanya dengan panggil ayah dan ibu.
Namun, berbeda dengan Jericho dan Rhea. Dua wajah paruh baya tersebut begitu bahagia. Mereka mengangguk lalu mulai beranjak berdiri.
"Ayo masuk!" ajak Mama Pandora dengan tersenyum.
Entah kenapa dia merasa bahagia melihat besan dari calon menantunya itu ada di depan matanya. Dia bahagia ketika melihat wajah menantunya tak menunjukkan kesedihan. Bahkan Pandora bersyukur, ketika mengetahui jika kedua orang tua ibu dari si kembar itu masih ada disini dan bisa bertemu dengannya.
"Semoga kalian nyaman tinggal disini," kata Pandora pada kedua orang tua Sia saat mereka sudah ada di ruang tamu.
Jericho dan Rhea tersenyum. Mereka masih begitu bingung dengan orang-orang baru yang mereka temui sekarang.
"Berarti Anda mertua putri kami?" tanya Rhea dengan cepat.
Pandora merasa kebingungan. Wajahnya begitu gugup saat menjawab. Apa yang harus dikatakan olehnya. Putranya saja sudah cerai dengan Galexia dan baru akan menikah lagi. Namun, jika orang tua Sia tahu bagaimana cerita aslinya, apa keduanya masih mau menerima dia dan Galaksi.
"Iya, Ayah. Beliau ini mertua Sia," sahut Sia dengan tersenyum.
Wajah Jericho tersenyum lebar. Dia menyalami tangan Pandora yang terlihat gugup.
"Terima kasih sudah menerima putriku sebagai menantu. Saya sangat berterima kasih pada, Anda," kata Jericho dengan wajah berbinar.
Pandora menelan ludahnya begitu susah. Dia merasa sudah membohongi kedua orang tua calon menantunya itu. Namun, jika melihat kehadiran Mars dan Venus, tentu mereka pasti mengira jika Galaksi dan Galexia masih suami istri.
"Sama-sama. Saya menyayangi Galexia dengan tulus. Saya juga bahagia memiliki dia yang menjadi ibu dari cucu-cucu saya."
Melihat suasana yang mulai tak kondusif. Akhirnya Galexia mengajak kedua orang tuanya menuju ke kamar. Sungguh dia takut semakin membohongi kedua orang tuanya jika tak segera membawa mereka ke kamar.
"Baiklah. Kami istirahat dulu yah. Terima kasih atas tumpangannya ini," kata Rhea dengan memegang tangan Pandora.
"Jangan katakan itu lagi. Bukankah kita berdua adalah keluarga?"
Rhea tersenyum. Dua wanita paruh baya itu saling berpelukan sebelum Galexia dan Cressida mengajak mereka menuju kamar. Tapi Jericho dan Rhea mendekati Orion sebentar sebelum mengikuti kedua putrinya.
"Saya tak tahu harus mengatakan apa lagi pada Anda, Tuan Orion. Terima kasih banyak sudah menyelamatkan kami dan mempertemukan kami dengan kedua putri kami yang sudah lama berpisah," kata Jericho dengan tulus.
"Sama-sama, Tuan. Selamat beristirahat."
Akhirnya mereka mulai berpisah. Galexia dan Cressida mengantarkan kedua orang tuanya ke kamar. Mereka membantu membuka tirai jendela agar lebih terang dan meletakkan barang-barang milik kedua orang tuanya di dekat lemari pakaian.
"Barang-barang Ayah dan Ibu, Sia letakkan disini," kata Sia membuka percakapan.
Jericho dan Rhea hanya diam. Pasangan suami istri itu saling menatap lekat ke arah putrinya. Hal itu tentu membuat Galexia dan Cressida merasa salah tingkah.
"Kenapa Ayah?" tanya Cressida dengan kepala menunduk.
"Apakah kalian tak ingin memeluk Ayah dan Ibu? Apa kalian tak merindukan kami?" kata Rhea dengan mata berkaca-kaca.
Sungguh pasangan suami istri tersebut sangat merindukan kedua anaknya. Namun, melihat kedua putrinya yang canggung, membuat mereka sendirilah yang harus memancing keberanian anak-anaknya itu.
Mata Galexia dan Cressida menoleh. Keduanya berkaca-kaca dan ingin menangis. Bohong jika mereka tak merindukan Jericho dan Rhea. Sudah sejak lama mereka berharap bertemu dengan kedua orang tuanya. Namun, entah kenapa rasa canggung itu tetap ada pada diri mereka saat pertemuan pertama.
Kedua tangan Rhea terbuka. Dirinya ingin memeluk kedua anaknya yang sudah besar. Bahkan air matanya sudah mengalir deras.
"Ibu." Galexia dan Cressida berlari.
Mereka memeluk keduanya dengan erat dan disusul Jericho yang langsung memeluk ketiganya. Akhirnya setelah sekian lama jarak memisahkan, Tuhan masih memberikan kesempatan untuk mereka bertemu. Saling menuntaskan rindu dan membayar segala waktu yang sudah hilang terbuang.
"Jangan tinggalkan kami lagi, Ayah, Ibu," kata Sia di sela-sela isak tangisnya.
"Tentu, Nak. Tak akan!"
"Ayah dan ibu tak akan meninggalkan kalian lagi. Kami berjanji."
~Bersambung~
Ah bikin part gini ini aslinya kesel. Harus terharu sambil nangis, hiss.
Jangan lupa klik like, komen dan vote yah sebagai apresiasi karya si kembar.
tembus 250 like, aku update lagi!