The Billionaire Twin'S Baby

The Billionaire Twin'S Baby
Jari Nakal




Setelah Galaksi berpakaian lengkap. Galexia mulai membuka pintunya. Pemandangan pertama yang dia lihat adalah kedua anaknya  berdiri disana. Bisa dia lihat keadaan putrinya begitu kacau. Hidungnya memerah dengan mata begitu bengkak karena terlalu banyak menangis. Tak sampai hati, Sia langsung menurunkan tubuhnya dan meraih anaknya dalam pelukan.


"Ustt ini Mama, Sayang." 


"Abang jahat. Venus mau ke kamal Mama tapi Abang gak kasih izin," adu Venus dengan nafas masih sesenggal.


"Iya. Maafin Abang ya, Sayang," bujuk Sia sambil merapikan rambut putrinya.


Tak lama Galaksi keluar dan menyusul istri sekaligus anaknya yang berdiri di depan kamar. 


"Kenapa Princess Papa menangis?" Tanya Galaksi dengan lembut. 


Perlahan dia meraih tubuh putrinya itu dan menggendongnya penuh sayang. Galaksi benar-benar merasa bersalah ketika hampir mengabaikan keadaan anaknya. Apalagi melihat wajah Venus yang kemerahan membuatnya berpikir jika anaknya menangis terlalu lama.


"Tubuh adek udah lumayan loh. Papa aja udah gak sanggup mau gendong," canda Galaksi agar putrinya tak bersedih. "Itu pertanda kalau Adek udah besar. Ayo senyum, Princess Papa." 


"Gak mau. Papa sama Mama jahat." 


"Papa sama Mama gak jahat," bela Galaksi.


"Papa sama Mama tidul beldua tapi gak ajak Venus sama Abang." 


"Loh." Galaksi memutar otaknya. Dia mencari ide agar putrinya tidak salah paham.


Dirinya tak mau anaknya berpikir yang tidak-tidak. Meski sebelumnya memang benar bila dirinya ingin menguasai istrinya malam ini. Toh memang sudah sejak lama dia menunggu malam ini. Malam dimana ia bisa bersama istrinya, bergumul berdua dan melepaskan sesuatu yang selalu mereka tahan selama ini.


"Papa sama Mama barusan masih mandi dan beres-beres," ucap Sia sekenanya. 


"Benelan?" 


"Iyah, Princess. Beneran," sahut Galaksi ikut meyakinkan. 


"Tapi buka pintunya kok lama?" 


"Itu anuu…" Galexia hampir melupakan jika kedua anaknya adalah anak yang kritis. Mereka tak akan menerima jawaban atau alasan recehan jika masih tak diterima oleh pikiran keduanya.


"Tadi Mama sama Papa masih ganti baju. Mangkanya lama buka pintu." 


"Oh." Kepala mungil itu mengangguk-angguk. "Jadi belum tidul?" 


"Belum, Sayang."


"Belalti sekalang ayo tidul, Ma," ajak Venus meronta dalam pelukan Galaksi.


Senyum pria itu mengambang. Galaksi berpikir anaknya berontak ingin turun karena sudah mengantuk dan ingin tidur di kamaranya. Dengan pelan dia menurunkan sang putri dan menggenggam tangannya berniat mengantar anak-anaknya ke kamar mereka. 


"Ayo Papa antar."


"Gak usah. Venus bisa jalan sendili." Setelah mengatakan itu. Tanpa berkata apapun, Venus berjalan masuk ke kamar Galexia. 


Tanpa dosa gadis kecil itu melenggang meninggalkan ketiga orang yang masih berdiri di depan pintu.


"Kok tidur…." 


"Ayo, Mama. Venus mau peluk Mama!" Teriak Venus dari dalam kamar.


Pria itu baru tersadar akan maksud putrinya. Di menatap istrinya dan menggelengkan kepalanya.


"Sayang," rengek Galaksi dengan wajah cemberut.


Jika seperti ini Galexia hanya bisa menghela nafas berat. Dirinya sendiri tak tahu bagaimana menghadapi tingkah putrinya yang manja dan rengekan suami tersayangnya ini. 


Apa tega dirinya mengusir anaknya sendiri? 


Bahkan melihat gelagat Venus, Galexia sudah tahu jika anaknya ingin tidur bersama dirinya dan Galaksi.


"Papa udah besar. Jangan merengek terus!" Celetuk Mars yang sejak tadi diam.


Mendengar itu tentu membuat mulut Galaksi menganga. Dia tak percaya putranya tak ada di pihaknya. Bahkan lihatlah sekarang!


Dengan manis putranya menggenggam tangan Galexia dan membawanya masuk ke kamar.


"Sudahlah, Kak. Hanya malam ini, Kakak mengalah dengan anak-anak." 


Jika seperti ini. Galaksi kalah telak. Dengan wajah cemberut dia menutup pintu dan berjalan ke arah ranjang. Istrinya itu sedang menata bantal dan formasi tidurnya. Tiba-tiba ide pintar terlintas di pikiran Galaksi saat putrinya sudah merebahkan dirinya di tengah-tengah.


Dia melihat istrinya juga menyusul Venus hingga gadis mungil itu tidur di samping kiri istrinya. Saat hanya ada Mars dan dirinya yang masih berdiri di tepi ranjang. Perlahan Galaksi bergerak ke sisi ranjang.


"Loh Kakak ngapain disini?" Tanya Galexia heran saat suaminya berjalan ke arahnya.


"Sebagai seorang pria. Aku harus jagain kamu, 'kan? Kalau jatuh gimana?" 


"Terus Abang gimana?" Tanya Galexia dengan bingung dan menatap putranya yang mulai naik ke atas ranjang.


"Abang juga pria. Jadi dia tidur di pinggir adek sambil jagain biar gak jatuh." 


"Apa!" Mata Galexia membulat. Dia tak menyangka jika suaminya berkata seperti itu. 


"Tapi…" 


"Gak ada tapi-tapian. Ayo tidur!" 


Galaksi tak mendengar apapun. Dia sudah naik ke atas ranjang dan tidur tepat di samping istrinya. Dirinya tentu tak mau jauh-jauh dari Galexia. Kehadiran dua buntutnya itu benar-benar membuat miliknya masih harus berpuasa.


"Mama," cicit Venus dengan pelan.


"Iya, Sayang?" Perhatian Galexia beralih. Dia memiringkan tubuhnya dan menatap putrinya itu. 


"Peluk, Adek." 


"Oke. Selamat tidur, Adek. Selamat tidur, Abang." 


"Selamat tidul, Mama." 


Dengan sayang Galexia mengelus kepala Mars dan Venus secara bergantian. Jujur seharian ini dia mengabaikan kedua anaknya itu. Namun, mau bagaimana lagi. Dirinya juga tak bisa meninggalkan acara atau suaminya sendirian. Bagaimanapun hari ini adalah hari yang sama dinanti oleh kedua anaknya. 


Hari dimana papa dan mamanya bersatu kembali. Hari dimana mereka akan tinggal bersama dan bercanda bersama tanpa penghalang apapun. Saat Galexia melamun. Dia dikejutkan dengan sebuah pelukan lembut di perutnya.


"Kak," bisik Sia saat dia merasakan hembusan lembut di tengkuk lehernya.


"Hmm." 


"Jangan macam-macam, Kak. Ada anak-anak!" Ancam Sia mengingatkan.  


"Aku tak macam-macam, Sayang. Hanya satu macam saja cukup," ucap Galaksi di telinga Sia.


Wanita itu benar-benar menahan nafas. Apalagi ketika dia merasakan sapuan lembut lidah tak bertulang di tengkuk lehernya. Hal ini benar-benar membuat tubuhnya merinding bukan main.


Apalagi bersamaan dengan itu. Sia bisa merasakan jika tangan suaminya mengusap pahanya lalu perlahan merambat naik ke atas.


"Kak," cicit Sia dengan mata terpejam.


Galaksi benar-benar bisa membuatnya melayang ke langit ke tujuh. Sentuhannya masih tetap sama seperti dulu. Mampu membuatnya gila dan candu. Hingga saat jari itu menerobos masuk ke sarang madu. Galexia dengan spontan mencengkram tangan suaminya. 


Ini benar-benar gila. Ada kedua anaknya tapi jari suaminya sudah begitu nakal. Galexia tak mampu menolak. Apalagi ketika suaminya mulai menggerakkan jarinya keluar masuk hal itu semakin membuatnya tak berdaya. 


"Kak!" Jerit Sia tertahan saat dia melepaskan segala kenikmatan di tubuhnya.


Ini luar biasa. 


Benar-benar pengalaman gila sekaligus liar. Nafasnya terengah-engah dengan keringat membasahi dahinya. Hingga tak lama dia merasakan kecupan lembut di pipinya bersamaan tangan nakal itu kembali memeluk perutnya dengan erat.


"Itu hanya pemanasan, Sayang. Selamat tidur." 


~Bersambung~


Gimana pemanasannya?


ketar ketir gak?


Jujur aku sendiri bingung nulisnya. Udah lama gak nulis beginian. MP aku skip aja yah. Gimana?


Aku minta like sama komentarnya. Mau minta jawaban, mau kasih MP apa nggak. Kalau mau apa nulisnya di grup chat aja yah. Takut kena banned ama NT hahaha.