
Setelah merapikan penampilannya agar terlihat seperti semula. Akhirnya Galexia mampu bernafas lega. Dia melakukan ini dengan peralatan sederhana dan dalam jangka waktu yang begitu cepat. Hingga akhirnya, perlahan dia keluar dari kamar mandi. Matanya tanpa sengaja menatap pintu bilik yang tadi dimasuki oleh mantan mertuanya. Masib tertutup, itu pertanda bila masih ada orang di dalam. Namun, siapa itu, Sia tak mau memikirkannya.
Dia memilih segera keluar dan menatap wajah kedua anaknya dengan perasaan gundah. Senyuman Mars dan Venus begitu terlihat hingga memancing bibirnya untuk ikut tertawa dalam kebahagiaan mereka.
"Kenapa Mama lama sekali?" tanya Venus menatap mamanya yang baru saja duduk di sampingnya.
"Maafkan Mama ya, Nak. Tadi perut Mama gak nyaman," jawab Sia sambil menatap putri kecilnya.
Venus mengangguk. Lalu dia kembali memakan kue tart miliknya dengan lahap. Sedangkan Mars, pria kecil itu beda dari kembarannya. Mata tajamnya meneliti penampilan sang Mama. Ada yang berbeda dan begitu terlihat hingga memancing rasa penasarannya.
"Kenapa rambut Mama berbeda? Sepertinya tadi bukan seperti itu?" tanya Mars dengan menatap penuh curiga.
Sia tertegun. Dia mendadak gugup dan menelan ludahnya paksa. Pikirannya pada Galaksi ternyata melupakan jika dirinya memiliki anak yang begitu memiliki ingatan tajam dan peka dengan keadaan. Hingga pasti Mars akan menyadari perubahan sekecil apapun.
Perlahan Sia menetralkan degup jantungnya. Dia balas menatap putranya dan mengangguk. "Tadi Mama gerah dan iket rambut dulu di kamar mandi."
"Gerah?" ulang Mars hingga membuat Sia mengiyakan.
"Jadi saat Mama lepas ikatannya, rambutnya berantakan. Alhasil Mama benerin dulu, Sayang," ucapnya penuh keyakinan.
Sungguh Sia berkata dengan benar bukan? Rambutnya memang berantakan tapi alasannya saja yang berbeda. Entah apa yang akan terjadi, bila kedua anaknya melihat apa yang dilakukan Pandora terhadapnya.
Mars menganggukkan kepalanya seakan dia percaya dengan penjelasan Sia. Hingga membuat pria kecil itu kembali memakan cemilannya. Hal itu tentu membuat jantung Sia bernafas lega. Dia menghela nafas lelah ketika mampu meyakinkan putranya bahwa dirinya baik-baiknya, hingga Sia tak menyadari jika semua tingkah lakunya diperhatikan oleh seseorang yang berada di dekatnya.
****
Sedangkan ditempat yang sama tapi di ruangan berbeda. Seorang perempuan masih dengan setia di dalam kamar mandi. Dia masih mentralkan emosinya yang berapi-api. Sungguh pertemuannya dengan Galexia menjadi ketakutan dalam dirinya sendiri.
Sebuah rahasia yang dia sembunyikan selama ini, kembali membuatnya takut setengah mati. Dia tak mau rencana yang sudah dilakukan hampir 6 tahun akan hancur karena kedatangan mantan menantunya. Itu tak boleh terjadi, dan dia akan melenyapkan siapapun yang akan merusak segala rencananya.
Sejak tadi, tubuhnya bergerak gelisah memang. Ke kanan dan ke kiri sambil memikirkan apa yang akan dia lakukan selanjutnya. Jika dia berada di negara ini, dia tak akan bisa mengontrol semuanya. Pekerjaan dan perusahaan yang lumayan jauh, tentu membuat Pandora tak bisa selalu ada di dekat putranya. Hingga karena hal ini, dia tak boleh lengah.
Galaksi, putranya tak boleh bertemu dengan Sia. Dia harus menjauhkan mereka apapun keadaannya. Pandora tak mau memiliki menantu yang miskin dan rendahan. Itu pasti akan menggores harga diri dan keluarganya. Sungguh isi di kepalanya hanya tahta tanpa memikirkan kebahagiaan putranya selama ini.
"Aku harus melakukan sesuatu. Aku harus membuat rencana agar Galaksi tak akan menemukan wanita itu," ucapnya pada dirinya sendiri. "Selama ini aku berhasil menutupi keberadaan Sia dari pencarian Galaksi. Aku menyewa orang dan menjadikannya sebagai anak buah anakku sendiri. Dan aku? Bisa mengendalikannya sekaligus."
"Jangan harap kau bisa menemukannya, Nak. Dia adalah wanita tak sederajat dengan kita, dan Mama akan berbuat apapun agar kau tak akan kembali dengan wanita rendahan seperti dia," kata Pandora dengan tekad yang kuat.
Dia sudah berjanji untuk melakukan segala cara. Apapun itu, yang penting Galexia tak boleh berada di samping anaknya lagi. Sudah cukup dulu dia terpaksa menerimanya sebagai menantu, dan sekarang dia tak mau lagi. Pandora segera menata riasannya, lalu meraih tasnya kemudian keluar dari kamar mandi. Matanya mengedar dan menyadari jika bilik-bilik kamar mandi kosong. Itu menjadi tanda jika mantan menantunya itu sudah pergi.
Pandora berdecih, dia tak pernah menyangka jika akan bertemu dengan Sia di kamar mandi. Hingga membuat moodnya hancur dan ingin segera pulang untuk menyusun rencana. Tak mau menunda lagi, dia segera keluar dari kamar mandi. Matanya menatap sekeliling untuk mencari sosok yang mungkin masih ada di sana.
Hingga tiba-tiba, matanya menangkap sesuatu. Sosok yang dia kira sudah pulang ternyata masih ada. Namun, perlahan perhatiannya teralihkan. Dia menatap dua orang anak yang sedang asyik mengunyah makanan dengan kepala tertunduk.
Tak ada hal menarik, saat Pandora hendak berjalan. Seketika tubuhnya mematung tatkala mata tuanya menatap sosok anak kecil yang menyerupai Galaksi. Wajah sekaligus garisnya begitu mirip hingga pikirannya kembali melayang pada kejadian enam tahun yang lalu.
Apakah dia mempertahankan kehamilannya? Tanya Pandora dengan mata menatap lekat ke arah Sia dan kedua anaknya.
Sungguh ini diluar ekspetasi Pandora. Dia berpikir jika dulu Sia pasti akan mengugurkan keduanya. Namun, ternyata praduganya salah. Wanita itu mampu menerima dan mempertahankan anak itu meskipun sudah bercerai.
Hingga tak lama, saat Sia mendongakkan kepalanya. Tanpa sengaja pandangannya tertuju pada sosok Pandora yang berdiri tak jauh dari mejanya. Tapi itu bukanlah hal yang dia takutnya, melainkan mata mantan mertuanya itu tertuju pada Venus dan Mars. Hingga membuat Sia tersadar jika wanita itu sudah melihat dan mengetahui keberadaan anak-anaknya.
Sampai dengan Pandora menatap kembali ke arah Sia. Dia menatapnya tajam lalu menunjuk keberadaan si kembar dengan bengis. Lalu, dia membuat gerakan pistol menembak sebelum berlalu dari sana. Meninggalkan ketakutan dalam diri menantunya adalah salah satu tujuannya. Tanpa dia sadari, jika sedari tadi ada sosok yang begitu mengenalnya sedang melihat apa yang dia lakukan sedari tadi.
"Aku akan menjadi orang pertama yang akan menyingkirkan siapapun yang merusak semua rencanaku," gumamnya dengan langkah yang dia ayun menuju mobilnya.
Pandora segera masuk ke dalam lalu mengendarainya dengan cepat.
"Aku harus segera memerintahkan orang untuk mengikuti Sia selama berada di sini. Aku yakin dia ingin kembali kepada putraku untuk meminta status kedua anaknya," kata Pandora sambil mencekram setir kemudi. "Jangan pernah bermimpi, Sia. Kau tak akan bisa kembali pada Galaksi."
~Bersambung~
Dasar nenek tua lampir.
Wahahaha jujur aku baca komentar kalian di bab sebelumnya bikin imun naik. Bacanya sambil ngakak loh bisa bikin orang kesel berjamaah.
Sia itu masih shock, masih kaget ketemu si nenek lampir. Bayangin aja terakhir ketemu 6 tahun yang lalu dan ternyata tingkahnya masih sama aja. Nanti bakalan ada part dimana Sia mulai berubah kok. Sabar yah, aku itu suka bikin kalian emosi.
Jangan lupa like lagi, tembus 200 aku update lagi. Hahaha. Yok gass