
Pintu kaca itu perlahan didorong hingga terbuka lebar. Pertama kali masuk, aroma buah mulai tercium di hidung keluarga kecil itu. Galexia, wanita itu memejamkan matanya sesaat. Menikmati aroma yang begitu menenangkan sekaligus sangat ia sukai.
"Mama lumahnya bagus," ucap Venus dengan berlari masuk.
Anak perempuan pasangan Galexia dan Galaksi mulai berlari lebih dalam. Dia berkeliling dengan semangat dan melewati beberapa pelayan yang terlihat sibuk memasukkan barang-barang.
"Jangan lari-lari, Adek. Nanti jatuh!" Teriak Galexia saat melihat putrinya tak kenal lelah.
"Biarkan, Sayang. Dia sedang bahagia dengan rumah barunya," kata Galaksi sambil mengelus kepala istrinya dengan sayang.
"Ayo, Nak! Kenapa diam disini?" Tanya Galaksi sambil meraih tangan putra pertamanya.
"Apa kamar Abang bakalan satu ruangan sama Adek?" Tanyanya dengan kaki melangkah mengikuti sang mama.
"Nggak. Bukankah Abang pernah bilang sama Papa, jika ingin kamar sendiri?"
Spontan Mars mengangguk. Dirinya memang meminta pada papanya untuk berpisah kamar dengan sang adik. Bukannya dia tak sayang pada Venus tetapi Mars mengatakan jika dia ingin adiknya berani tidur sendiri tanpa dirinya.
"Ayo kita lihat kamar, Abang!" Ajak Galaksi yang langsung disanggupi oleh putranya. "Aku anter Abang ke kamar ya, Sayang."
Galexia yang saat itu masih berbicara pada beberapa pelayan langsung mengacungkan jempolnya. Ibu dari si kembar itu terlihat sedang memberikan instruksi untuk pelayan di rumah barunya ini.
Kembali pada sosok anak dan ayah itu. Perlahan langkah kaki mereka berhenti di sebuah pintu kamar berwarna hitam. Galaksi memutar kunci tersebut lalu membukanya.
Sebuah ruangan dengan cat tembok berwarna hitam putih begitu mendominasi. Aura kamar untuk seorang laki-laki tentu sangat melekat. Ditambah beberapa barang yang ada disana, semuanya berdominasi hitam putih.
Wajah Mars masih datar tapi kaki kecilnya melangkah. Memutari kamar tersebut dengan mata begitu jeli memeriksa setiap sudut kamar itu sampai ke kamar mandi.
"Bagaimana?" Tanya Galaksi penuh harap.
Sejujurnya dalam hati ayah dari si kembar itu sangat penasaran. Dia begitu menunggu apa yang ingin diucapkan putranya. Semua yang ada di kamar ini, benar-benar sesuai dengan keinginan Mars saat mereka masih ada di Indonesia. Galaksi benar-benar mewujudkan kamar yang sangat diinginkan putra pertamanya.
"Mars suka, Papa. Terima kasih," ucapnya dengan memberikan senyuman tipis di bibirnya.
Entah kenapa melihat senyuman tipis putranya sangat membahagiakan hati Galaksi. Senyuman yang jarang sekali diperlihatkan kini bisa dinikmati. Putranya ini benar-benar duplikat dirinya. Dia akan bersikap dingin diluar dan berusaha hangat di dekat keluarganya.
"Semoga kamu betah disini ya, Sayang. Papa akan keluar dan membawa adikmu ke kamar," pamit Galaksi yang langsung berjalan meninggalkan putranya di kamar sendirian.
Mata itu mengedar. Melihat beberapa pelayan sedang keluar masuk untuk memasukkan barang-barang dan membersihkan rumah itu. Tujuan Galaksi saat ini hanya satu, keberadaan anak dan istrinya. Kemana dua wanita cantiknya itu?
Tak tampak batang hidungnya. Namun, pria itu tetap mencari tanpa lelah. Dia berkeliling dari depan hingga mencoba mencari di sisi belakang rumah ini.
"Kemana mereka?" Tanya Galaksi dengan mata terus menatap jeli sekitarnya.
Hingga samar-samar, telinganya menatap suara yang sangat ia kenal sedang tertawa cekikikan. Suara itu semakin kencang dan membuat Galaksi lebih cepat melangkah ke sumber suara.
Disana, di bagian kolam renang. Terlihat dua wanita berbeda usia sedang bermain air dengan begitu bahagia. Tawa bahagia tanpa beban, membuat kedua sudut bibir Galaksi ikut tertarik ke atas.
Melihat bagaimana istrinya itu bermain, bercanda tawa tanpa memikirkan apapun. Membuat Galaksi bertekad akan terus berusaha keras untuk membahagiakan keluarga kecilnya. Dia juga ingin berbicara tentang pekerjaan istrinya itu. Galaksi ingin Galexia hanya mengurus dirinya dan dua hatinya tanpa bekerja lagi.
"Papa!" Teriak Venus saat melihat sosok papanya yang hanya berdiri menatap ke arahnya.
Spontan teriakan itu membuat Galaksi dan Galexia saling menoleh. Kedua mata itu saling beradu sampai tangan Sia melambai meminta Galaksi untuk mendekat.
"Ayo lenang, Papa!" Ajak Venus dengan tubuh yang hanya berbalut pakaian dalam dan celana pendek.
Gadis kecil itu berdiam di pinggiran dengan tangan berpegangan seakan takut untuk lebih ke tengah. Entah darimana, ide jahil terlintas di otak Galaksi.
Pria itu mendekati sang putri kemudian mulai melepas sepatu yang membalut kedua kakinya. Setelah itu, Galaksi mulai memasuki kolam renang dan membiarkan celananya basah.
"Kak bajunya?" Tanya Sia yang sejak tadi hanya duduk di pinggiran.
"Nanti juga dicuci, Sayang."
"Wah Papa hebat!" Teriak Venus dengan bertepuk tangan.
"Terima kasih, Princess," sahut Galaksi lalu mencium pipi sang putri.
Awalnya tak ada kejadian apapun. Sampai sekali gerakan, Galaksi menarik tubuh anaknya hingga berjarak dari pinggiran kolam.
"Aghhh, Papa!" Teriak Venus ketakutan.
Tubuh bocah kecil itu begitu tegang. Bahkan wajahnya sangat panik dengan tangan mencengkram kuat lengan Galaksi seakan takut dilepaskan.
"Papa….Papa." Venus mengiba.
"Jangan takut. Papa disini," kata Galaksi menenangkan.
Kepala kecil itu mengangguk. Namun, tetap saja raut wajah ketakutan begitu kentara disana.
"Sekarang gerakkan kaki Venus biar mengambang," pinta Galaksi sambil menatap ke arah istrinya. "Berikan contohnya, Mama."
Galexia spontan terkejut. Namun, dia yang tahu arti tatapan suaminya, mulai menggerakkan kakinya berlawanan arah ke depan dan ke belakang. Gerakan itu tentu diikuti langsung oleh putri mereka. Hingga Venus mulai merasa nyaman.
"Sekarang Papa akan melepas tubuh, Adek."
"No, Papa! Venus takut," rengeknya dengan tangan semakin kuat mencengkram.
"Venus percaya, 'kan, sama Papa?"
"Pelcaya."
"Venus yakin, 'kan, Papa gak bakal ninggalin Venus?"
"Yakin."
"Jadi, lepas tangan Venus pelan-pelan dan gerakkan kakinya sesuai arahan Mama."
Perlahan anak dari Galaksi itu terlihat menenangkan dirinya. Lalu cengkramannya mulai longgar dengan pelan. Diikuti kaki mungilnya terus bergerak sesuai arahan Galexia.
"Dalam hitungan ketiga. Papa bakalan lepas, okey?"
"Okey."
"1...2...3…"
Galaksi mulai melepas tangannya dari tubuh sang putri. Perlahan tubuh Venus mulai bergerak. Gadis kecil itu terus berusaha agar tubuhnya mengambang. Sekali tegukan, kepalanya masuk ke dalam air. Namun, dia tak gentar sedikitpun.
Walau dia telah tenggelam sekali dan hampir tenggelam lagi. Kakinya terus dia gerakkan bersama tangannya. Tubuhnya ia usahakan mengambang hingga itu berhasil.
Ya tubuh mungil itu tak tenggelam lagi. Dia bisa mengambang hingga membuat wajahnya begitu bahagia.
"Venus belhasil, Papa. Venus bisa mengapung."
Galaksi mengangguk. Dia mengacungkan kedua jempolnya dengan perasaan bangga. Dirinya benar-benar salut dengan tekad putrinya itu. Venus benar-benar anak genius yang bisa mengendalikan ketakutannya sendiri agar menjadi bisa.
"Anak Papa hebat! Nanti Papa ajarkan berenang lagi sampai menjadi pintar."
~Bersambung~
Rasanya mau tamatin ini karya kok sedih yah. Padahal nanti bakalan ada cerita season duanya. Bismillah ikhlas yah.
Masih ada beberapa bab ke depan kok tamatnya. Jadi siapkan salam perpisahan hehe. Sambil berdoa ya kali authornya ngundur kan masa tamatnya, hahha.
Jangan lupa klik like, komen dan vote yah. Biar author semangat ngetiknya.