
Riksa kebingungan. Pria itu menatap wanita yang sudah tak sadarkan diri bersandar di kursi penumpang. Tangannya tentu masih terdapat muntahan wanita itu yang membuat emosinya tak karuan. Dia berdecak kesal dan memilih keluar sambil membawa sebotol air minum.
Saat dirinya sudah ada di luar dan membersihkan tangannya dari bekas muntahan. Tiba-tiba terdapat tiga orang gadis berpakaian seksi menghampiri dirinya dengan wajah begitu bingung.
"Ada apa?" tanya Riksa menatap tiga wanita itu yang terlihat ragu untuk bertanya kepadanya.
"Apakah Anda melihat teman saya? Dia perempuan, rambutnya diurai lalu berlari ke arah sini?" tanya wanita yang memakai lipstik begitu merah.
Riksa tercengang. Dia begitu hafal betul jika yang sedang dicari oleh wanita di depannya ini adalah perempuan yang sedang tak sadarkan diri di dalam mobilnya.
"Aku tidak melihatnya," sahut Riksa memutuskan.
Dengan sekali lihat, tentu saja Riksa bisa menilai jika tiga wanita di depannya bukan wanita baik-baik. Pakaiannya yang terbuka dan terlalu seksi sekaligus bau alkohol yang menyengat tapi ketiganya masih sadar. Membuat Riksa menyadari jika apa yang dikatakan wanita itu benar.
Sepeninggal wanita-wanita itu. Riksa akhirnya memasuki mobilnya kembali. Dia menghela nafas lelah saat melihat posisi wanita itu yang tak nyaman. Dengan segala kemanusiaan, akhirnya Riksa membenarkan tidur wanita itu, memposisikan kursinya dan memberikan jaket yang ia gunakan untuk menutupi pahanya.
Setelah semuanya selesai. Perlahan Riksa mengendarai mobilnya. Dia merasa bingung harus membawa wanita itu kemana. Kenal saja tidak, nama saja tak tahu. Lalu Riksa harus mengantarnya kemana?
Melihat waktu yang hampir pagi, akhirnya dia memilih membawa wanita itu ke apartemen miliknya. Jika dia kembali ke rumah, bisa dipastikan Mama Alya akan memberondong dirinya dengan segala ocehan nasehat seorang ibu. Dirinya belum siap untuk mendengarkan itu, dan ditambah adanya wanita tak dikenal, membuatnya memilih untuk tidur di unit miliknya.
Setelah menyetir dengan kecepatan tinggi. Akhirnya mobil Riksa sampai dengan selamat. Pria itu menatap ke samping dan melihat posisi wanita itu yang tak nyaman. Dia berpikir keras, keduanya tak pernah dekat dan dirinya akan merasa menjadi pria kurang ajar jika mengangkat tubuhnya tanpa pamit. Akhirnya dia memilih mengguncang bahu wanita itu agar dia terbangun.
"Hey...hey, bangun!" kata Riksa yang terus menggoyangkan bahunya.
Hingga ketiga kalinya perlahan mata itu sedikit terbuka. Riksa bisa menebak jika wanita itu baru kali ini meminum minuman beralkohol. Tanpa menunda dan takut dia tertidur lagi, akhirnya Riksa segera turun. Dia memapah tubuh wanita itu dan berjalan menuju unit apartemennya.
Meski dengan susah payah dan penuh perjuangan. Akhirnya Riksa sampai di depan pintu kamarnya.
"Berdiri yang tegak, aku ingin membuka pintu dulu," seru Riksa dengan tangan mulai mengambil card kamarnya.
Setelah menempelkan card itu, tiba-tiba tubuh wanita itu miring dan hampir terjatuh jika tak Riksa tangkap. Wajah keduanya berdekatan. Riksa bisa melihat wajah wanita yang dia tolong. Ternyata dibalik rupa yang tertutup rambut, terdapat wajah yang sangat cantik.
Hidungnya yang mancung, kulit wajahnya yang mulus dan bulu matanya begitu lentik, membuat jantung Riksa berdebar kencang. Apalagi ketika tatapannya tertuju pada bibir berwarna pink kemerahan, rasanya dia ingin mengecupnya walau sebentar. Namun, segera Riksa menepis pikiran mesumnya yang entah datang dari mana dan dia segera membawa wanita itu masuk dan menutup pintu itu dengan kakinya.
Tanpa kata dia perlahan meletakkan tubuh wanita itu di atas ranjang. Saat dia berusaha meraih selimut untuk menutupi tubuhnya, tiba-tiba wanita itu bergerak. Dia memiringkan tubuhnya sampai membuat rok pendek yang dia gunakan terangkat ke atas.
Riksa merasakan sesak nafas. Tangannya tiba-tiba berkeringat dingin dengan ludah yang ia telan begitu paksa. Sungguh pemandangan ini adalah untuk pertama kalinya dia lihat. Seumur hidup, dia tak pernah berdekatan atau berpacaran dengan seorang wanita. Bahkan bisa dibilang cinta pertamanya adalah Galexia.
Tapi jika disuguhkan penampakan seperti ini. Sesuatu dibalik dirinya ada yang bergerak gelisah. Dirinya juga pria normal yang memiliki hasrat besar. Jika begini Riksa seakan ada dijurang batas yang sama-sama mematikan.
"Kau yang memancing dan kau sendiri yang harus bertanggung jawab."
****
Kembali ke Indonesia.
Saat Sia baru saja terlelap, suara salam dari dua bocah kecil dengan deritan pintu membuat matanya kembali terbuka. Dia perlahan mendudukkan dirinya dengan kepala yang sedikit pusing karena hanya tidur sebentar. Matanya memerah dengan kantung mata yang terlihat dan menandakan jika dirinya kurang tidur.
"Mama," teriak keduanya dengan berlari kecil.
Keduanya bergantian memeluk dan mencium pipi Sia, sebelum berjalan ke arah Galaksi. Sedangkan Mama Pandora, dia segera berlalu mendekati ibu dari cucunya itu dan menghadiahi sebuah kecupan di dahinya.
"Kamu belum tidur, Nak?"
"Jangan bohong, Sayang. Kamu kelihatan banget kalau kurang tidur," ujar Mama Pandora sambil mengelus kepala mantan menantunya.
"Aku mungkin hanya terlalu lelah, Ma. Banyak kejadian buruk yang menimpa kami semenjak Kak Galaksi hadir kembali," kata Sia sambil memijit dahinya lalu menghembuskan nafas lelah. Berusaha melepaskan beban berat yang berputar di pikirannya sejak kemarin.
"Apa kamu menyesal karena Galaksi kembali di antara kalian?"
Spontan Sia menggeleng. Dia mengambil kedua tangan Mama Pandora dan menggenggamnya.
"Aku tak pernah menyesali pertemuan kami, Ma," kata Sia sambil tersenyum. "Seburuk apapun itu, aku percaya jika semua yang terjadi adalah jalan takdir dari Tuhan."
Mama Pandora mengangguk. Dia setuju dengan apa yang dikatakan oleh Sia. Sejauh apapun mereka berpisah, jika sudah takdirnya. Maka mereka akan bertemu lagi. Begitupun sebaliknya, sedekat apapun mereka, jika tak jodoh maka keduanya tak akan pernah bertemu lagi.
"Mama, tadi Om Liksa telepon," celetuk si cadel yang sedang asyik duduk di atas ranjang pasien.
Perhatian Sia spontan beralih. Dia menatap sang anak yang sepertinya akan bercerita panjang lebar. Sedangkan Galaksi, pria yang baru saja terbangun dari tidurnya itu spontan membuka matanya lebar. Telinganya begitu sensitif ketika mendengar sebuah nama yang keluar dari bibir anaknya.
"Terus? Ok Riksa bilang apa aja?" tanya Sia dengan semangat.
Begitulah ibu dari dua anak itu. Dia selalu terlihat antusias ketika putra putrinya bercerita. Seakan dia ingin menjadi pendengar yang baik untuk kedua anaknya.
"Om Liksa bilang kangen sama Abang dan Adek. Telus kita disuluh ke sana lagi, Ma. Kata Om Liksa, kita mau diajakin jalan-jalan."
Sia menatap berbinar. Lalu dia berjalan mendekat dan ikut bergabung duduk di atas ranjang. "Venus gak bilang kalau kita pasti bakalan kesana?"
"Nggak, Ma. Tapi aku kasih kabal bahagia sama Om Liksa," kata Venus dengan antusias.
"Kabar apa?" tanya Sia penasaran.
"Aku bilang kalau Papa akan menikah sama Mama dan kita tinggal selumah."
Wajah Galaksi spontan menyeringai lebar. Dia begitu bahagia dengan apa yang dikatakan oleh anaknya. Dirinya tak menyangka jika putrinya akan mengatakan hal itu pada saingannya.
Ya, Galaksi mendoktrin jika Antariksa adalah lawan hatinya. Melihat bagaimana tatapan pria itu, dia bisa merasakan jika sosok yang menolong mantan istrinya menaruh hati pada Sia. Dari sanalah, dia sudah memberikan tameng pada otaknya, jika dirinya harus menjaga apa yang menjadi miliknya dari pria bernama Riksa.
Sedangkan Sia, perempuan itu membulatkan matanya. Dia menatap tak percaya ke arah putrinya. Sia sungguh terkejut bukan main. Selama ini dirinya bukan tak mengerti, melainkan ia pura-pura bodoh.
Selama kedekatannya dengan Riksa. Sia sudah bisa merasakan perhatian pria itu. Kasih sayangnya pada si kembar dan semua kebaikannya. Namun, dalam hati, Sia tak pernah memiliki perasaan pada Riksa. Wanita itu murni menganggapnya sebagai seorang kakak. Maka dari itu, selama ini Sia selalu berusaha biasa saja. Melupakan tatapan Riksa yang memandangnya penuh puja dan tak memberikan kebaikan berlebih yang bisa membuatnya salah faham.
"Apa yang harus kukatakan pada Riksa. Aku yakin perkataan putriku pasti menyakiti hatinya."
~Bersambung~
Ada yang bisa bayangin kelanjutan di apartemen Abang Riksa gak?
Ada yang bisa bayangin bagaimana Sia jelasin ke Riksa?
Sia sebenarnya tau kalau Riksa suka, tapi karena dia gak bisa membalas perasaan itu. Mangkanya dia diem-diem bae.
Yeyy mau up lagi?
Yuk like, komen dan vote yah. Biar aku semangat ngetiknya.
Tembus 250 like aku up lagi.