The Billionaire Twin'S Baby

The Billionaire Twin'S Baby
Pengakuan Pandora




Suara salam yang baru saja terdengar, membuat perhatian Sia dan Riksa beralih. Senyumnya mengembang saat melihat kehadiran kedua buah hatinya di sini. Sia rentangkan kedua tangannya yang membuat Mars serta Venus berlari ke arah ranjang. Mereka berdua segera memeluk tubuh mama yang sangat dirindukan. Pelukan erat itu begitu terasa hingga membuat Sia mengerutkan keningnya.


Sebagai seorang ibu, dia bisa merasakan perasaan aneh dengan perilaku kedua anaknya. Seakan ada sesuatu yang mempengaruhi emosi si kembar hingga keduanya begitu lama menumpahkan kerinduan dalam sebuah pelukan.


"Ada apa, Nak?" tanya Sia dengan mengelus kepala Mars dan Venus begitu lembut.


Keduanya sama-sama menggeleng. Seakan mereka tak ingin berbagi dengan sesuatu yang masih membuat Mars dan Venus begitu terkejut. Emosi dan mental seorang anak berumur 6 tahun tentu tak menentu. Keduanya juga dituntut berpikir lebih dewasa dari umurnya sejak dulu. Hidup tanpa kehadiran sosok ayah, tentu membuat Mars dan Venus hanya belajar dari sosok mamanya saja.


Padahal emosi seorang anak, pembentukan mentalnya dan perkembangan dalam dirinya, seharusnya dilihat dan ditemani oleh kedua orang tuanya. Namun, mau bagaimana lagi. Takdir seakan belum berpihak pada si kembar hingga membuat mereka belum pernah merasakan kasih sayang sosok seorang ayah.


Pelukan itu terlepas. Sia menangkup kedua wajah anaknya dan menatapnya secara bergantian. 


"Ada apa, hm? Kenapa kalian terlihat murung?" Betul bukan jika hati seorang ibu itu memiliki ikatan batin yang kuat dengan anaknya.


Keresahan yang dialami oleh Mars dan Venus tentu dapat dirasakan oleh Sia. Hingga membuat ibu dari si kembar itu bisa tahu tanpa bertanya.


"Tidak apa-apa, Mama," sahut Mars mengambil alih.


Akhirnya Sia mengangguk. Lalu dia mengalihkan perhatiannya pada sosok wanita paruh baya yang selalu menjaga kedua anaknya dengan suka rela.


"Terima kasih, Ma. Sudah mau menjaga si kembar sendiri. Maaf karena Sia selalu merepotkan, Mama," kata Sia penuh sungkan.


Mama Alya tersenyum. Dia meletakkan kotak makanan dan paper bag berisi pakaian lalu berjalan mendekati ranjang.


"Mama gak merasa direpotkan. Apalagi si kembar tak pernah membuat Mama kerepotan." Apa yang dikatakan Mama Alya memang benar.


Mars dan Venus adalah anak yang mudah diatur. Bahkan keduanya mudah sekali di nasehati. Hingga hal itu tentu membuat Mama Alya tak ada kata capek untuk menjaga anak-anak Sia. 


Sia mengangguk. Lalu Mama Alya meraih kotak makanan yang ia bawa dan membukanya.


"Kamu sudah makan, Nak?" tanya Mama Alya pada Sia.


"Belum, Ma. Dia sudah ada makanan rumah sakit tapi tak dimakan," celetuk Riksa menjawab.


Sia melototkan matanya ke arah sang manager. Dia menjadi malu pada Mama Alya untuk mengakui jika makanan yang ada disini begitu hambar. 


"Kenapa gak dimakan?" tanya Mama Alya sambil tersenyum. 


"Rasanya hambar, Ma," sahut Sia dengan malu.


"Baiklah, makanlah ini. Mama bawakan khusus untukmu," lirihnya hingga membuat mata Sia berbinar. 


"Punyaku mana, Ma?" tanya Riksa sambil pura-pura cemberut. "Masak anak sendiri ditelantarkan begini," adunya dengan wajah memelas.


Sia dan Mama Alya tertawa. Dia segera meraih kotak makan yang lain lalu memberikan kepada putra satu-satunya. Segera Riksa membawa kotak tersebut ke sofa yang ada disana dan mengajak Mars serta Venus untuk mengikutinya.


Setelah si kembar duduk di sofa bersama Riksa. Mama Alya mendaratkan tubuhnya di atas ranjang. Dia menatap Sia yang makan begitu lahap dan tak merasa kesulitan walau tangannya di infus. 


"Jalanan gak macet, Ma?" tanya Sia sambil mengunyah makanannya sedikit demi sedikit.


"Nggak, Sayang," sahut Mama Alya sambil merapikan nasi yang ada di sudut bibir Sia. "Mama juga sebenarnya datang dari tadi, tapi Mama ke kamar mandi dulu dan menyuruh anak-anak untuk datang kesini sendirian." 


Jantung Sia seakan berhenti berdetak. Tubuhnya mematung dengan lidah yang terasa kelu. Dirinya merasa limbung dengan pikiran yang tidak-tidak. Spontan matanya menatap kedua anaknya yang sedang bermain ponsel milik Riksa. Ketakutan dalam dirinya bergitu terlihat hingga membuat Mama Alya keheranan.


"Kenapa, Nak. Apa Mama melakukan kesalahan?" Sia menggeleng lalu dia menatap Mama Alya dengan pikiran begitu berat. "Apa Mama benar-benar datang dari tadi?" 


"Iya, Sayang. Mungkin setengah jam yang lalu." 


Ya Tuhan, apakah si kembar melihat keberadaan Galaksi? Batin Sia dengan pikiran yang kalut.


Sedangkan di ruangan yang lain atau lebih tepatnya kamar rawat Galaksi. Seorang perempuan dengan dandanan berkelas baru saja masuk. Pakaian dan tas yang digunakan tentu saja begitu mahal dan menandakan jika dia bukan dari keluarga sembarangan. 


Dirinya tersenyum saat matanya menangkap sosok sang anak sedang tidur dengan lelap. Lalu dengan pelan, perempuan tersebut meletakkan tas mahalnya di sofa yang tersedia. Namun, Galaksi yang tidurnya tak nyenyak, tentu merasa terganggu dengan suara ketukan heels. Matanya perlahan terbuka hingga dirinya melihat keberadaan sang mama. 


"Apa Mama membangunkanmu?" tanya Pandora pelan dan mendekati anaknya.


Galaksi hanya diam. Pikirannya masih begitu mengingat apa yang dikatakan oleh Sia tadi siang. Seakan kalimat itu menjadi salah satu alasan dirinya semakin tak bisa tidur. 


"Ada apa, Nak?" tanya Pandora saat melihat raut wajah Galaksi yang tak bersahabat. 


Pria dengan pakaian pasien itu mulai mendudukkan dirinya. Amarahnya begitu memuncak saat mengetahui jika mamanya ternyata dalang dari semua kepahitan hidupnya selama 6 tahun ini. 


Tanpa memperdulikan apapun, Galaksi mencabut infus yang tertusuk di punggung tangannya. Dia mengabaikan darah yang keluar terus menerus dan memilih menjatuhkan kedua kakinya untuk turun. 


Tentu apa yang dilakukan putranya membuat Pandora begitu shock. Bahkan perempuan itu begitu panik hingga memegang tubuh Galaksi yang hendak berjalan. 


"Apa yang kau lakukan, Galak?" sentak Pandora dengan marah. "Kau sudah gila. Lihat ulahmu itu membuat kekacauan seperti ini!" 


Galaksi tak peduli akan ucapan Pandora. Yang ada diotaknya hanya bagaimana dia bisa mendapatkan jawaban dari Mamanya ini. Sungguh dia tak menyangka jika sosok yang begitu dia hormati adalah salah satu penyebab dirinya tak bahagia. 


Dengan kasar, Galaksi mencengkram tangan Pandora dengan kuat, hingga gerakan yang begitu tiba-tiba itu membuat wanita paruh baya itu begitu terkejut.


"Apa yang kau lakukan, Galak? Ini sakit," serunya dengan kilatan marah di matanya.


Galaksi mendekatkan wajahnya. Kedua mata itu saling bertatapan dengan aura yang begitu mencekam.


"Ini semua tak sebanding dengan apa yang Galaksi rasakan selama ini, Ma!" 


"Apa maksudmu?" tanya Pandora dengan bingung.


"Jangan menutupi semuanya, Ma. Galaksi sudah tahu apa yang sebenarnya terjadi," serunya dengan semakin menguatkan cengkraman tangannya. 


Mata Pandora membola. Wajahnya diliputi kegugupan. Namun, sebisa mungkin dia menutupi semua itu dengan memasang wajah lugunya. 


"Mama tak mengerti apa yang kau bahas, Galak." Kilahnya yang membuat amarah Galaksi semakin membara.


"Mama sudah tahu, bukan? Jika anak-anak Sia adalah anak kandung Galaksi?" 


Degup jantung Pandora berpacu cepat. Bahkan wajahnya langsung memucat saat mendengar perkataan putranya. Dia tak menyangka jika Galaksi sudah tahu tentang anak kembar itu dan Pandora yakin jika semua ini pasti ulah wanita rendahan. 


"Jawab, Ma! Jawab!" teriak Galaksi di depan wajah Pandora. "Mama sudah tahu, 'kan?" 


Melihat kemarahan Galaksi yang baru kali ini dia lihat, tentu membuat tubuh Pandora bergetar kuat. Dia merasa takut dengan ekspresi yang ditunjukkan anaknya saat ini. 


Sepertinya jika dirinya berbohong pun tak akan selamat. Apalagi dirinya takut akan kehilangan semua dan rencana yang selama ini dia susun akan hancur hanya karena masalah ini. Hingga akhirnya, dengan berat hati Pandora mengangguk. Dia mengakui jika dirinya tahu bila anak-anak Sia adalah anak kandung Galaksi.


"Bagaimana bisa, Ma? Bagaimana bisa Mama tahu? Apa yang sebenarnya terjadi di malam itu?" 


~Bersambung~


Sukurin, haha. Biangmu bakalan terbuka satu persatu. Selamat datang di kehancuran mak lampir, haha.


Bab selanjutnya flashback oke. Biar yang penasaran tanya kok bisa Galaksi sama Galexia malam pertamanya pas kejadian mabuk sih? Kan katanya sama-sama cinta. Jawabannya ada di next bab.


Jangan lupa klik like dan komen yang banyak yah. Hal kecil itu saja sudah sangat berarti buat apresiasi karya si kembar.


Tes like ah. Tembus 250 like. Aku update lagi. Yok Gas!