The Billionaire Twin'S Baby

The Billionaire Twin'S Baby
Pria Misterius




Suara pintu yang terbuka keras tentu mengejutkan semua orang. Mereka spontan menatap siapa sosok yang berani datang tanpa tahu sopan santun. Saat melihat jika dia adalah Star. Tentu Galaksi mengerutkan keningnya. Dia begitu tahu sifat asistennya ini. Dia yakin jika ada sesuatu yang terjadi disini, hingga membuat Star terlihat begitu kalang kabut.


"Ada apa, Star?" tanya Galaksi dengan menatap pria itu lekat.


"Nyonya Pandora pergi, Tuan," kata Star dengan nafasnya yang naik turun.


Sungguh pria tampan yang bekerja di bawah Galaksi itu berlari sekencang mungkin. Dirinya yang baru saja selesai mengantar ketiga detektif untuk beristirahat di rumahnya, dibuat terkejut dengan berita mendadak ini. Asisten rumah tangga di rumah Galaksi yang selama ini menjadi mata-mata untuk Star, memberitahu kabar jika Pandora mengemasi pakaiannya dan segera keluar dari rumah.


Hal itu tentu membuatnya segera mencari tahu. Semua Jadwal penerbangan dengan deretan nama hari ini menjadi sasarannya. Hingga dalam sekejap, Star sudah menemukan tujuan kepergian ibu dari majikannya itu.


"Kemana?" sentak Galaksi dengan wajah tak sabaran. 


"Indonesia."


Tubuh Galaksi menegang. Bahkan terlalu paniknya, dia hendak melepaskan infus yang melekat di punggung tangannya dengan kasar. Namun, dua tangan mungil yang mencegah, membuat Galaksi tersadar akan apa yang akan diperbuat.


"Ada Pak Doktel disini, Om. Jadi jangan dicabut," ancam Venus dengan menggerakkan telunjuknya ke kanan dan ke kiri sebagai bentuk protes tak mengizinkan Galaksi mencabut sembarang.


Kedua sudut bibir Galaksi membentuk sebuah lengkungan. Dia baru menyadari perhatian putri kecilnya. Walau sikap kedua anaknya masih jauh dia jangkau, tapi melihat sikap Venus yang sekarang, membuat Galaksi tahu jika putrinya takut terjadi sesuatu kepadanya.


Akhirnya setelah melewati drama panjang dengan sang dokter. Galaksi diizinkan pulang dengan paksa. Apalagi, Star mengatakan sebuah alasan jika mamanya sekarat hingga hal itu berhasil membuat mereka semua bisa keluar dari rumah sakit.


"Kalian selesaikan semua pekerjaan disini. Biar aku, Star dan Orion yang akan membereskan semuanya," kata Galaksi saat membukakan pintu mobil untuk Sia. 


Beberapa menit yang lalu, Galaksi meminta Sia menghubungi Riksa untuk menyusulnya. Pria itu tak berharap lebih jika mantan istrinya akan ikut ke Indonesia. Dia tak mau merepotkan Sia kembali. Apalagi dengan status mereka yang seperti ini, membuat Galaksi tahu jika masih ada jarak di antara mereka. 


"Aku...aku…." Galexia bingung. Wanita itu menatap Galaksi dan dua anak kembarnya bergantian.


Disudut hatinya yang terdalam, ingin sekali Sia menepis rasa kekhawatiran itu. Dia memang belum mencintai pria itu lagi. Bahkan masih memiliki rasa takut jika berhadapan dengannya. Namun, mengingat kedua anaknya, hal itu membuatnya Sia berpikir ulang. Dia hanya ingin memastikan jika mantan suaminya itu akan baik-baik saja dan bisa bertemu dengan kedua anaknya kembali.


Galexia tahu, meski Mars dan Venus belum menunjukkan rasa ketertarikan pada Galaksi. Namun, di dasar hatinya yang terdalam, keduanya pasti sama-sama khawatir dengan keadaan ayahnya. Hingga mau tak mau, Galexia akhirnya memilih mensejajarkan tubuhnya. Dia menatap kedua anaknya bergantian dan mengelus pipi mereka dengan lembut.


"Apa kalian ingin ikut, Papa?" tanya Sia dengan pelan.


Pertanyaan sederhana yang keluar dari mulut mantan istrinya, tentu membuat mata Galaksi berkaca-kaca. Dia tak menyangka jika Sia bisa memanggilnya dengan panggilan itu di hadapan kedua anaknya. 


Mars dan Venus saling berpandangan. Hingga keduanya saling menautkan kedua tangan dengan disusul anggukan kepala yang menandakan jika mereka ingin ikut Galaksi kembali ke Indonesia.


"Kami ikut, Mama," jawab keduanya bersamaan.


Akhirnya senyum Galaksi begitu lebar. Dia seakan mendapatkan semangat lagi dengan kehadiran Sia dan si kembar. Dirinya seakan mendapatkan kekuatan dalam dirinya lagi, dan membuatnya sanggup untuk melakukan semua ini demi kebaikan semua orang.


"Katakan pada bawahan kita, Star. Tangkap dia di bandara!" 


"Baik, Tuan." 


****


Sedangkan di tempat lain, tapi di negara yang masih sama. Seorang perempuan tengah berusaha mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi. Dia begitu kebingungan hingga membuatnya memilih menghubungi sosok yang selama ini ada dibelakang layar. 


Setelah memikirkan semuanya semalam. Akhirnya Alula memilih melarikan diri. Dia tak mau semuanya terbongkar dan dirinya ditangkap. Perempuan itu takut berada dibalik jeruji besi sendirian. Dirinya tak mau hidupnya ia habiskan hanya dengan meratapi nasibnya di penjara.


"Tuan sudah menunggu Anda sejak tadi, Nyonya."


Alula mengangguk. Dia segera melewati gerbang itu dan memarkirkan mobilnya tepat di depan pintu utama. Tanpa menunda lagi, perempuan dengan pakaian seksi itu melangkahkan kakinya masuk, hingga pandangannya tertuju pada sosok yang duduk membelakanginya.


Hanya melihat sosoknya dari belakang, sudah membuat Alula tahu siapa dia. Tanpa menunda, dia melangkahkan kakinya cepat dan melingkarkan tangannya di leher pria itu dengan posisi memeluknya dari belakang. 


"Hai, Sayang," bisiknya sambil meniup telinga pria itu. 


"Kau selalu membuatku tegang saat di dekatmu, Lula," katanya seperti sebuah bisikan.


Alula tersenyum miring. Kekhawatiran yang tadinya merayap, segera dia tepis saat melihat perlakuan pria itu. Tanpa malu, dia mengitari sofa itu dan duduk dipangkuan sang pria. 


Saat sang pria hendak mendekatkan bibirnya. Alula menggeleng, dia menjauhkan wajah pria itu hingga tubuhnya kembali duduk dengan tegak.


"Why?" tanya Pria itu dengan menatap tajam.


"Bantu aku! Dia sudah tahu jika aku bukan ibu kandungnya," ucap Alula dengan mata dipenuhi ketakutan.


Pria itu tersenyum miring. Dia mengelus paha Alula yang terekspos dan membuat gerakan abstar yang mengundang wanita itu mendesah.


"Tanpa kau minta aku pasti membantumu," kata pria itu dengan tenang. "Kau ingin ke Indonesia, 'bukan?" 


"Bagaimana kau tahu?" 


"Tentu saja aku tahu, Sayang. Bukankah kita sudah lama menjalin hubungan? Isi hatimu pasti bisa ku tebak."


Alula tertawa. Namun, tak ayal dia menganggukkan kepalanya. Tanpa menunda, wanita itu memberikan kecupan hangat di bibirnya sebagai hadiah kecil.


"Anak buahku akan menjemputmu di bandara. Berhati-hatilah." Alula segera menegakkan tubuhnya.


"Kau selalu bisa diandalkan, Cinta. Terima kasih," kata wanita itu dengan merapikan dress mininya. 


Alula segera meraih tas yang dia bawa dan melambaikan tangan sebagai bentuk salam perpisahan. "Aku pergi."


Pria itu mengangguk, "Jangan lupa! Temui anak buahku!" 


Alula segera melangkahkan kakinya meninggalkan pria itu sendirian. Membiarkan dia melihat kepergiannya tanpa tahu apa yang ada di pikiran pria itu sekarang. Hingga mobil yang membawa Alula sudah tak terlihat. Pria itu menepuk tangan dan membuat dua orang pria yang sejak tadi bersembunyi mulai keluar dan mendekat ke arahnya.


"Setelah ketemu, habisi dia! Aku tak mau ada serangga yang akan menghancurkan rencana kita." 


~Bersambung~


Star mah datangnya keburu. Pembaca jadi penasaran, 'kan! Pandora asli masih idup apa nggak. Dasar!


Tapi yang ditemui Alula juga bikin penasaran, 'kan? Bikin rumit emang, tapi nanti bakalan ketahuan kok.


Selamat pagi, jangan lupa klik like, komen dan vote untuk apresiasi si kembar yah.


Tembus 250 like, aku update lagi!