
"Atlas, kakak kandung Altair, saudara kembarnya."
"Apa!" Mata Mama Pandora membulat penuh.
Seketika ingatannya kembali berputar saat sang suami, Altair mengatakan tentang kebenaran darinya. Kebenaran seperti yang dikatakan pria di depannya ini.
Saat itu, Altair mengajak Pandora bertemu. Pria tampan itu mengatakan jika ada sesuatu yang ingin dia katakan pada Pandora. Katanya ini perihal keluarga dan dirinya. Awalnya ibu dari Galaksi itu, berpikir jika Altair berselingkuh, tetapi ternyata itu semua salah.
"Ada apa, Sayang?" tanya Pandora saat melihat raut wajah ragu pada calon suaminya.
Altair menghembuskan nafas berat. Dia mencoba menenangkan pikirannya yang berkecamuk. Sungguh Pandora bisa melihat dengan jelas bagaimana ekspresi calon suaminya itu.
"Sebenarnya aku memiliki saudara kembar. Dia bernama Atlas," kata Altair dengan memegang jari jemari calon istrinya.
Sontak perkataan Altair yang mengejutkan membuat tubuh Pandora mematung. Wanita itu menatap tak percaya ke arah calon suaminya dengan ekspresi begitu bingung.
"Kalau kamu kembar. Dimana kembaranmu?"
"Pergi," kata Altair dengan wajah sendu. "Dia diusir dari rumah karena suka mabuk dan tidur dengan wanita liar."
Mulut Pandora menganga lebar. Dia tak menyangka jika sosok itu kembali hadir saat ini. Sosok yang suaminya katakan jika Atlas adalah orang yang suka menghamburkan uang dan foya-foya itu, berdiri dengan tegas di depannya.
"Apa kau mengingatku?" tebak Atlas dengan senyum smirk.
Pandora menoleh. Dia menatap pria di depannya ini dengan ekspresi yang tak dapat diartikan. Pikirannya terus berkecamuk.
Kenapa baru sekarang Atlas muncul dan hadir kembali?
Kenapa pria itu datang disaat tak ada para pria disana?
Hingga pikiran-pikiran buruk terus berputar di kepala Pandora.
"Apa aku tak diizinkan untuk duduk? Ah kau begitu tak sopan, Adik ipar," kata Atlas menerobos bersama para bodyguardnya.
"Anda jangan kurang sopan, Tuan Atlas. Ini rumah saya dan Anda tidak diizinkan masuk!" seru Pandora begitu marah.
Atlas tak menggubris. Pria itu dengan seenaknya berlalu dan menuju sofa yang ada disana. Namun, pandangannya tiba-tiba tertuju pada dua anak kembar yang masih duduk dengan tenang.
"Halo, Cucuku," kata Atlas dengan seringai lebarnya.
"Halo, Kakek," sahut Mars dan Venus bergantian dengan suara tenangnya.
"Kalian pasti anak dari Galaksi?"
"Tentu saja, Kek. Wajah kami bukankah sama dengan Papa Galak?" Bukannya menjawab, si kembar malah balik bertanya.
"Ya. Kalian begitu mirip dengannya. Bolehkan Kakek duduk di antara kalian?"
Mars dan Venus saling pandang. Mereka pun mengangguk dan mulai sedikit berjarak. Hal itu tentu membuat Atlas begitu senang. Senang melihat sikap penurut dari dua anak itu.
"Tunggu!" cegah Sia dengan spontan.
Atlas lekas menoleh. Dia melihat seorang gadis cantik yang datang mendekat ke arah si kembar.
"Ayo sama, Mama. Biar Kakek bisa duduk dengan tenang."
Entah kenapa sejak kedatangan Atlas. Perasaan Sia tak enak. Dia merasa aura pria paruh baya tersebut tak bersahabat. Bahkan dari senyumnya saja, Sia bisa melihat ada makna tersembunyi di dalamnya.
"Aku tidak keberatan jika Cucuku duduk bersamaku, Sia."
Spontan semua orang menoleh. Mereka tak menyangka jika Atlas tahu tentang nama dari ibu si kembar. Bahkan ini adalah pertemuan mereka, tapi darimana pria itu tahu.
Sia masih berusaha tenang. Dia berbalik dan menatap Atlas yang menunggu jawabannya.
"Sepertinya Anda sudah mengenal betul nama keluarga kami, Tuan Atlas?" tanya Sia dengan tatapan tajamnya.
Wajah Atlas terlihat gugup. Namun, itu semua bisa ditangkap oleh penglihatan Sia.
"Tentu saja. Bukankah kau istri dari anak adikku?" kata Atlas berkilah.
"Sepertinya Anda tahu betul dengan keluarga kami, Tuan?" jeda Sia dengan senyum penuh maksud. "Bukankah ini pertemuan pertama kita? Bahkan kita juga belum berkenalan, tapi Anda sudah tahu betul tentang nama saya dan keluarga ini. Apa selama ini Anda memantau kami dari jauh?"
Skakmat!
Seringai Sia lebih lebar. Pikirannya menebak jika munculnya kembaran dari papa mertuanya itu ada maksud tertentu. Dari gerak gerik dan tebakannya, Sia bisa tahu jika selama ini Atlas pasti memata-matai mereka.
"Kenapa Anda gugup, Tuan? Apa yang saya ucapkan, 'benar?" kata Sia sambil terkekeh. "Tenanglah. Jika itu tak benar, Anda tak perlu setegang itu. Toh saya hanya menebak, 'bukan?"
"Hahaha iya. Kau memiliki Selera humor yang bagus, Sia."
"Terima kasih. Silahkan duduk!"
Atlas beranjak duduk. Lalu dia mulai menatap satu per satu orang yang ada disana.
"Dimana, Orion?"
Kening Sia berkerut. Dirinya semakin curiga terhadap pria di depannya ini.
"Beliau sedang ada urusan di luar."
Sia saling bertatapan dengan Mama Pandora. Dua wanita itu seakan saling mengirim kode tanpa orang lain tahu. Hingga tatapan keduanya terputus saat Sia harus membawa kedua anaknya tetap berada di sisinya.
"Kalau boleh tahu tujuan Anda kesini ada apa, Tuan?" tanya Pandora sambil duduk di sofa single.
Semua orang hanya bisa melihat dan mendengarkan. Bahkan Sia dan si kembar memilih berdiri di belakang tubuh Mama Pandora.
"Ah ternyata adik iparku begitu to the point sekali," kata Atlas sambil menyandarkan punggungnya.
"Ya, tentu saja. Saya tipe orang yang tak suka menerima tamu orang asing."
"Kau!" sungut Atlas menatap geram. "Aku bukan orang asing, Pandora. Ingat! Aku pewaris tunggal kekayaan Altair."
Mama Pandora tersenyum dalam hati. Dia berhasil memancing pria itu tanpa sepengetahuannya. Jujur ibu dari Galaksi memang sengaja memancing emosi saudara suaminya agar tahu apa maksud tujuannya.
"Apa maksud, Anda?" kata Pandora menatapnya lekat.
"Jangan pura-pura bodoh kau, Adik ipar!" serunya dengan kedua tangan terkepal. "Suamimu sudah lama mati dan anakmu, baru saja terjatuh dari pesawat dan tak ditemukan. Jadi, pewaris harta sesungguhnya jatuh kepadaku, 'bukan?"
Nafas Pandora menderu. Dia tak menyangka jika lidah pria paruh baya di depannya ini begitu pedas. Bahkan wajahnya yang begitu menyebalkan semakin membuat ibu dari Galaksi ingin sekali menendangnya.
"Jangan bermimpi, Tuan. Semua harta itu milik anakku!"
"Kau yakin?" jeda Atlas menatap seorang pria berpakaian jas. "Berikan itu padanya!"
Sebuah map berwarna biru diberikan pada Mama Pandora. Wanita itu segera menerimanya dan membuka dengan cepat. Tentu semua itu tak luput dari Galexia dan si kembar. Mereka juga ikut merapat untuk melihat isinya.
"Bagaimana mungkin?" kata Pandora tak percaya.
Berkas itu adalah isi dari semua harta Altair dan Galaksi jatuh kepada Atlas. Bahkan tanda tangan dua orang itu terpampang disana.
"Kau sudah melihat, 'bukan? Aku lah pewaris tahta yang sesungguhnya," seru Atlas dengan diiringi tawa menggelegar. "Jadi rumah ini adalah rumahku dan kalian menumpang padaku!"
"Anda menipu kami! Jangan harap saya akan percaya kepada, Anda! Silahkan Anda pergi dari rumah saya!" usir Pandora sambil beranjak berdiri.
"Kau sungguh tak punya malu, Pandora," ucap Atlas penuh kebencian. "Usir mereka semua!"
Sebuah titah itu tentu langsung dilaksanakan oleh para bodyguard. Mereka semua segera berjalan mendekat ke arah perusuh rumah tuannya. Hingga saat para pria bertubuh tegap hendak menyentuh tangan mereka. Sebuah teriakan dari pintu utama membuat mereka menghentikan aksinya.
"Berhenti!"
~Bersambung~
Dasar udah tuir juga mikir harta terus! Minta digeplak emang, 'kan?
Kira-kira itu yang dateng dan teriak berhenti siapa yah?
Yok jangan lupa klik like, komen dan vote ya sebagai tanda apresiasi karya kalian disini.
Tembus 250 like aku update lagi.