
"Mia, apa yang terjadi?" Seru Denis sambil mendorong ranjang pasien masuk ke dalam ER. Ia tidak menyadari Ara dan Daniel pun ada di belakang mereka.
"Peter tiba-tiba tidak sadarkan diri setelah sesak nafas dan nyeri dada, Dok"p
Setelah melakukan pemeriksaan oleh Denis, Peter di pindah ke ruang ICU. Setelah menunggu beberapa lama, akhirnya Denis keluar dari ER. Ara buru-buru bangun dari duduknya dan menghampiri Denis.
"Kak, bagaimana kondisi kakek? apa dia baik-baik saja? tidak terjadi apa-apa kan?" Denis di hujani banyak pertanyaan membuat Denis justru tertawa kecil sambil mengacak rambut Ara, Daniel yang berada di belakang Ara pun segera menarik lengan Ara untuk mundur. Ara menepiskan tangannya dan menoleh kesal pada Daniel. Daniel mengabaikan tatapan kesal Ara.
"Katakan saja bagaimana keadaan Peter?" ujar Daniel pada Denis sangat ketus.
" Dia baik-baik saja, hanya butuh istirahat,"
" Ara, kau sudah makan?" tanya Denis. Ara segera menggelengkan kepalanya.
"Ayo, temani aku makan"
"Hemm, maafkan aku kak, dia..." Ara menoleh pada Daniel, "Dia, berhutang penjelasan padaku, jadi aku akan menagih janjinya dulu" sambungnya.
Denis melirik Daniel yang sedang tersenyum sinis kearahnya, senyumnya lebih tepat seperti sebuah ejekan.
"Oke pergilah"
Sebenarnya Daniel sedikit terkejut dengan apa yang di katakan Ara. Dia bahkan baru saja ingin menyela ucapannya jika ia menyetujui tawaran Denis, siapa sangka wanita ini justru malah mengajaknya keluar untuk bicara.
"Ayo!"
Ara kemudian mencubit kecil lengan kemeja Daniel dan membawa Daniel pergi meninggalkan Denis.
"Ara seandainya kau tau, tak sulit membuatku bahagia, hanya dengan menolak ajakan pria lain saja aku sudah senang"
Daniel menoleh tersenyum pada Ara, ia berbalik menarik tangan Ara setelah memindahkan cubitan tangan Ara masuk ke dalam genggamannya, "Ayo!"
***
🎼IBut I know I have a fickle heart and a bitterness
And a wandering eye, and a heaviness in my head
But don't you remember, don't you remember?
The reason you loved me before
Baby please remember me once more
Oh, I gave you the space so you could breathe
I kept my distance so you would be free
In hope that you find the missing piece
To bring you back to me🎼
Sebuah lagu dari Adele- don't you remember, menemani makan malam Ara dan Daniel. Awalnya Ara hanya ingin mencari tempat untuk berbicara empat mata dengan Daniel, namun Daniel memaksa Ara untuk makan malam karena khawatir penyakit lambung Ara kambuh.
Ara merasa tak nyaman dan salah tingkah.
"Daniel, jangan hanya menatapku seperti itu, sebaiknya mulailah menjelaskan apa yang perlu kau jelaskan"
Ara bertanya tanpa menatap Daniel, ia hanya sibuk memotong daging steak di atas piring.
"Kalau begitu mulailah bertanya hal apa yang ingin kau tau lebih dulu"
"Kenapa kau meninggalkanku saat aku hamil?"
"Aku tidak meninggalkanmu dan aku tidak tahu kau hamil"
"Bagaimana bisa kau tidak tahu istrimu hamil? kau sibuk dengan wanita itu kah?"
Ara menghentikan gerakan pisaunya dan setengah kasar meletakkannya di atas piring. Matanya beralih menatap Daniel dengan sangat dingin.Sedangkan Daniel yang mendengar ucapan Ara, ia menghentikan irisan pisaunya, mengarahkan pandangannya pada Ara sebentar, kemudian melanjutkannya gerakan tangannya lagi.
"Satu-satunya wanita yang bisa membuat pikiranku sibuk itu hanya kamu dan mana mungkin aku mengetahui kehamilanmu setelah kau dengan berani meminum obat pencegah kehamilan waktu itu, kita bahkan bertengkar hebat karena kau meminum obat itu" ujar Daniel yang kemudian meletakkan pisau dan garpunya.
"Obat pencegah kehamilan? bagaimana aku bisa meminum obat itu jika aku sedang hamil?"
"Mana ku tahu? seharusnya aku lah yang bertanya seperti itu padamu waktu itu"
"Lalu bagaimana dengan surat cerai dan pertunanganmu dengan wanita itu? kau sudah menikah dan aku hamil, bagaiamana dengan tega kau melayangkan surat cerai padaku?" tanya Ara yang mulai terbawa emosi
"Pertama: aku tak pernah berusaha menceraikanmu, surat cerai dan semua tentang perceraian itu adalah ulah Windy yang dengan sengaja menyabotase ponselku dan mengganti nomormu dengan nomor lain saat aku lalai. Kedua: aku bisa hampir bertunangan dengan wanita lain adalah karena kau memaksa untuk bercerai dan meminta ku menikahi Windy yang pada akhirnya aku tahu bukan kau yang mengirim semua pesan itu, sejak saat itu kita terlalu marah untuk saling bertemu hingga akhirnya aku tahu kau menghilang di perbatasan kota A. 2 tahun aku mencarimu dan salah seorang temanku tak sengaja menemukanmu di kota ini, Ara"
"Jika pesan itu benar-benar dariku, bagaimana bisa kau dengan mudah berpikir dan menyetujui untuk berhubungan bahkan bertunangan dengan wanita lain? aku jadi merasa kau tak benar-benar mencintaiku saat itu, Daniel" Setelah bicara, Ara tiba-tiba bangun dari duduknya dengan wajah kesal. Langkahnya dengan cepat membawanya ke luar restoran.
Daniel tertegun beberapa saat, ia tahu Ara bukanlah wanita bodoh, ia pun kesulitan untuk menjelaskan situasi saat itu pada Ara yang sekarang. Keadaan saat itu tentu saja sangat kompleks, ia menerima pertunangan itu pun karena terlalu emosi pada Ara.
Daniel tersadar dari lamunannya ketika melihat Ara yang sudah berada di ambang pintu keluar, ia segera berlari mengejar wanitanya itu setelah meletakkan beberapa lembar uang di atas meja.
"Ara!!" Teriak Daniel kemudian meraih lengan Ara. Ara menatap Daniel kesal.
"Sudahlah Daniel, aku tak mau mendengar lagi penjelasanmu, lebih baik aku tidak tahu dan terus lupa tentang masalaluku, sepertinya memang itu terlalu pahit untukku hingga sampai sudah selama ini ingatanku tak pernah kembali. Mungkin inilah kesempatan dari Tuhan untuk membuang kenangan buruk masalaluku, jadi pergilah aku tak ingin melihatmu lagi" Air mata Ara tak kuasa terbendung. Entah kenapa ia merasa dirinya di masalalu begitu menyedihkan. Hanya mendengar sebagian dari penjelasan tidak masuk akal Daniel saja sudah terasa sakit, bagaimana jika ia tahu keseluruhan ceritanya.
"Ara, dengarkan aku dulu, kau salah paham, aku....... " Daniel tak kuasa meneruskan kata-katanya ketika suara seorang wanita tiba-tiba terdengar memanggil nama Ara dari kejauhan.
Ara dan Daniel segera menoleh ke asal suara. Mereka melihat dua orang berjalan mendekat, mereka adalah Elly dan Tritan. Ara segera menyeka air matanya.
"Ara!! ternyata kau benar Ara!!" Elly setengah berlari untuk memeluk Ara. Pelukan yang tiba-tiba membuat Ara tertegun beberapa saat Melihat Ara tak bereaksi apa-apa, Elly sedikit khawatir dan melepaskan pelukannya. Ia menatap Ara lekat-lekat, mencoba mencari tahu apa yang sedang di pikirkan Ara saat ini,
"Kenapa dia diam saja? apakah dia masih ingat padaku? pada pengkhianatan itu? benarkah? sebaiknya aku mengujinya terlebih dahulu" Elly bergumam dalam hati, ia dengan cepat merubah wajah khawatirnya dengan sebuah senyuman,
"Ara, aku merindukanmu, kenapa kau diam begitu? apa kau tidak ingat padaku??" Sambung Elly tersenyum.
Butuh waktu beberapa detik untuk Ara bisa menjawab Elly, ia terlalu terkejut.
"E.. Elly, kenapa kau bisa di sini?"
"Tentu saja aku datang untuk bertemu denganmu!!"