
Jam menunjukan pukul 5:30 sore, satu persatu pegawai sudah menjnggalkan kantor, terkecuali Ara. Di hari pertamanya ia harus lembur, merekap data rapat barusan dan yang lebih mencengangkan ia harus menerjemahkan 4 proposal yang di ajukan kolega asing Kevan.
Gerry melihat wajah kesal Ara hanya menahan tawa gelinya. Ara melirik Gerry.
Gerry dan Ara terpaut usia tidak terlalu jauh, Gerry berusia 26 tahun.
Gerry duduk di sebelah Ara memberikan sebuah biskuit cokelat ukuran jumbo di atas meja. Ara yang sedang sibuk berkutat dengan Laptopnya tak kuasa menoleh ke Arah Gerry.
“Untuk mu, tadi siang kau makan sedikit, harusnya sekarang kau lapar"
“Woah, kau baik sekali"
Ara meraih biskuit itu dan memakannya. Wajah Ara tiba-tiba berseri, biskuit itu begitu enak. Gerry melihat perubahan wajah Ara ia ikut tersenyum.
“Kau suka?"
“Ger, ini enak, tentu saja suka, terimakasih” Gerry mengangguk.
“Bekerja dengan dia jangan banyak ambil hati, sebenarnya dia bos yang baik"
Mendengar itu, Ara menoleh menatap Gerry, Ara hanya tertawa sinis.
“Pulanglah, tak perlu menungguku"
“Hemm, baiklah, take care Ra"
Ara mengangguk dan tersenyum.
Ponsel Ara berbunyi, seketika mata Ara memandang ponsel di hadapannya. Sebuah pesan masuk, dari Kevan.
“Belum selesai?"
“Belum, masih banyak"
“Selesaikan di rumah, ini sudah malam"
“Oke"
Ara bernapas lega, akhirnya ia bisa kembali ke rumahnya, setelah membereskan file yang ingin ia bawa. Ia mulai beranjak dari tempat duduknya. Sekali lagi ponselnya berbunyi.
“Mau kemana kau? siapa yang mengizinkanmu pulang?"
Ara mengerutkan keningnya
“Apa maksudnya manusia ini? bukankah dia yang memintaku meneruskan file ini di rumah?” batinnya.
“Siapa yang suruh kamu pulang? tugasmu belum selesai"
Seru Kevan berbicara di belakang kepala Ara, Ara sontak terkejut. Ia menoleh ke belakang kepalanya, Kevan berdiri di depan pintu menatapnya tajam. Di kantor tidak ada siapapun kecuali mereka.
“Kau yang bilang untuk meneruskan pekerjaan di rumah, lalu apa masalahnya jika aku pulang?"
“Aku memintamu mengerjakannya di rumah, aku tak bilang kau boleh pulang"
“Hah? lalu aku harus apa sekarang?"
“Ikut aku!!"
Kevan meraih tangan Ara menuju mobilnya, batinnya tak tenang, mau di bawa kemana dirinya sekarang. Kevan menatap lurus kedepan, Ara bingung. Beberapa saat kemudian, mereka sampai di sebuah rumah mewah di kompleks perumahan mewah di kota itu.
“Turun"
“Kau, kenapa kau bawa aku kesini?"
“Ini pekerjaanmu selanjutnya!"
Mata Ara terbelalak, ia seketika menyilangkan tangannya menutupi dadanya, Kevan seperti menangkap apa yang di pikirkan Ara. Ia memandang Ara dengan tajam beberapa saat. Ara semakin salah tingkah. Kevan tersenyum dan mencubit pipi Ara gemas.
“Apa yang kau pikirkan? kau pikir aku akan memakanmu? jangan mimpi, turun dan buatkan aku makan malam"
Kemudia Kevan melepaskan cubitan di pipi Ara, membuka tuas pintu dan melangkah masuk ke rumah.
Untuk seukurang direktur perusahaan besar, rumah Kevan terlihat seperti rumah hantu, dari luar seperti tak ada tanda-tanda kehidupan.
Ara melangkahkan kakinya turun dari mobil, ia memperhatikan setiap sudut rumah Kevan. Seperti tidak ada siapapun menyambutnya, tidak seperti yang selalu di ceritakan di dalam novel yang pemeran utama akan di sambut hangat oleh banyak pelayan tapi sepertinya di dunia Kevan hal itu tidak ada, di sini tidak ada yang menyambut Kevan sama sekali.
Melihat Ara hanya terdiam di samping mobilnya, Kevan setengah berteriak memanggil Ara. Ara tersadar dari lamunannya kemudian langkahnya terayun menyusul Kevan.
Saat Ara memasuki rumah Kevan, Kevan menoleh ke Arah Ara, tangannya menunjuk ke Arah dapur.
“Masaklah disana, aku pergi mandi dulu"
Mendengar perkataan terakhir Kevan, Ara tiba-tiba merinding. Pikiran kotor masuk ke otaknya, di dalam novel sebelum melakukan hal-hal tak senonoh, si pria akan mandi terlebih dulu, tubuh Ara merinding hebat dan bertanya-tanya apakah benar Kevan semesum itu? berkali-kali Ara menggelengkan kepalanya, menepiskan pikirannya tak semudah itu. Ia terus menyibukan diri dengan pisau dan bahan makanan di hadapannya. Berusaha keras secepat mungkin menyelesaikan tugas ini dan meninggalkan rumah itu.
Setengah jam berlalu, Ara hampir menyelesaikan masakannya, ia terlaku fokus sampai tak menyadari seorang wanita berdiri di sampingnya. Seketika Ara menoleh ketika ia sadar, sebuah senyuman lembut menyapa Ara. Ara berpikir keras, siapa wanita di sampingnya ini.
“Kau pasti sekretaris Kevan yang baru ya?"
“Pasti Kevan yang meminta mu memasak di sini? maaf begitu menyusahkanmu"
“Hehe.. Tidak apa"
Ara tersenyum canggung,
“Aku Sisil, tunangan Kevan, siapa namamu?"
Tunangan??Mendengar kata tunangan, Ara sempat terkejut. Tentu saja Ia punya tunangan Tapi ini akan memudahkannya setidaknya Kevan tak mungkin bermain hati dengannya. Ia memiliki tunangan yang sangat cantik dan lembut, seharusnya ia tak berpaling.
“Saya Ara, nona"
“Tak perlu canggung seperti itu, panggil aku Sisil juga boleh, aku tak suka di panggil nona"
“Ba..baik"
Tak berapa lama, Kevan menuruni tangga dan mendekati tubuh Sisil, tangannya ia lingkarkan di pinggang Sisil. Mata Ara tergelitik melihat tangan Kevan yang melingkar di pinggang Sisil. Sisil tersenyum pada Kevan.
“Kenapa kau di sini? kau harus banyak istirahat, ayo duduk"
“Sayang, kau berlebihan"
“Sttt, ikuti saja apa mauku, oke?"
Kevan membawa Sisil duduk di meja makan, begitu lembut, terlihat perhatiannya untuk gadis itu, perlakuan Kevan pada Sisil benar-benar bebeda 180° dengan yang Ara lihat seharian ini, begitu mencengangkan, senyum sinis Ara melengkung lebar.
“Ya setidaknya aku terselamatkan, Kevan terlihat sangat mencintai tunangannya, memudahkan pekerjaanku” batin Ara.
Setelah membawa tubuh Sisil duduk, Kevan mendekati Ara.
“Sudah belum?"
Mata Kevan menatap basakan yang Ara masak.
“Sebentar lagi"
“Hmm baunya enak, sepertinya enak"
Ara mengabaikan perkataan Kevan, ia hanya menghela napasnya, bertanya-tanya sebenarnya pekerjaan macam apa ini, kenapa juga ia harus memasak untuk bosnya, ini keterlaluan.
“Kau begitu kaya, kenapa tak sanggup membayar pembantu?"
Kevan yang sedang mencicipi salah satu makanan, tangannya terhenti dan menoleh memandang Ara dengan tatapan sinis.
“Menurutmu untuk apa aku menggajimu begitu besar???? masak yang cepat, aku dan Sisil sudah lapar"
Seru Kevan sambil melangkah pergi, Ara mendengus kesal. Ia kembali fokus pada masakannya selama beberapa menit. Setelah selesai, Ara meletakannya di meja makan. Mata Sisil terlihat begitu senang dan menatap Ara.
“Wah, kau benar-benar berbakat”Seru Sisil tersenyum pada Ara, Kevan tersenyum sinis dan menyela Sisil
“Dia harus berbakat, jika tidak maka sia-sia aku membayarnya mahal"
Awalnya Ara begitu senang mendengar pujian Sisil, namun saat Kevan membuka mulutnya bagaikan larva panas membakar semua keindahan di hatinya. Ia hanya bisa mengerutkan keningnya dan melemparkan ribuan pisau tajam melalui matanya yang sinis. Kevan menyadari tatapan Ara, sekali lagi hanya tersenyum sinis.
“Tugasku selesai, kalian silahkan makan, aku pulang dulu"
Hendak melangkahkan kakinya pergi, ayunan langkahnya tertahan. Sisil memanggilnya dan memintanya tinggal, kevin sempat mencegah Sisil, namun Sisil bersikeras meminta Ara tinggal, namun Ara tak bisa lebih lama lagi melihat wajah Kevan, ia pun menolak permintaan Sisil dengan lembut. Sisil akhirnya melunak dan membiarkan Ara pergi. Baru sampai depan pintu, suara Kevan memanggil seperti Guntur, jantung Ara seperti mau copot.
“Ra”Ara kemudian menoleh ke belakang.
“Jangan lupa, setiap pagi kau harus datang untuk membuatkan sarapan kami, jam 7 tidak boleh terlambat"
Wajah Ara di balut awan hitam dengan guntur menyambar-nyambar, makian dan cacian terus bergema dari hatinya, benar-benar bos semena-mena, percuma saja ia menaikan gaji Ara, ternyata tugasnya begitu berat. Bahkan gaji 3x lipat tak cukup untuk membayar semua pekerjaannya. Apalagi saat ia teringat harus cepat menerjemahkan file di tangannya, rasanya Ara ingin mati di tempat saat ini.
Melihat wajah Ara yang hitam menahan marah, Kevan tertawa geli.
“Ingat. Tidak ada penolakan!!!"
Tanpa menjawab Ara membalikan tubuhnya dan menuju pintu keluar. Langkahnya terhenti karena sekali lagi mendengar suara Kevan memanggil.
“Ara!!"
Dengan langkah berat Ara membalikan tubuhnya menatap Kevan
“Apa lagi?”Ara menhan muntahan emosi dari mulutnya
“Jangan lupa tutup pintu"
Ara mendengus kesal.
“Baik tuan Direktur Kevan Wingsley yang terhormat"
Mendengar itu Kevan tertawa geli. Jika ada sebuah pistol di tangan Ara, Ara ingin sekali membunuh pria di hadapannya itu. Tanpa rasa bersalah Kevan dan Sisil kembali menikmati makan malam mereka. Tak ada lagi kata-kata cacian yang pantas untuk di lemparkan pada Kevan saat ini.
“Aku harus cepat menemukan cincin itu dan pergi, tak terbayangkan terus berada di sini seperti ini, huh"